Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2015

Red In White

P.S. Author

X: Cerita baru?
A: Yup! Red in White, cerita super pendek dan agak-agak lebay ini author persembahkan untuk para ANH.
X: Dalam rangka?
A: Umm... dalam rangka merayakan anniv ANH yang udah lewat. (telat banget). Cocoknya sih dalam rangka mengumpulkan anak2 ANH. Author kangen nih jujur, kangen ANH sama kangen ALVIA nya juga.
X: Bagus gak ceritanya?
A: Entahlah. Coba dibaca. Semoga suka sih :p Ohya, bagi yang jago edit coba kira-kira kasih ilustrasi buat cerpen Red in White ini dong.
Salam kangen dari author {()}


***

Malam bertabur bintang, sepertinya ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan malam ini. Malam di mana banyak bintang papan atas tanah air yang hadir dengan penampilan terbaiknya, adalah malam penghargaan bagi para insan perfilman Indonesia. Aktor, aktris, maupun para pembuat film papan atas tentu tidak melewatkan malam yang penuh dengan antisipasi apresiasi ini. Berdiri di atas panggung menerima tropi penghargaan memang menjadi tujuan, tetapi datang untuk mengapresiasi film Indonesia adalah yang utama.
Semakin malam semakin ramai. Satu persatu para undangan mulai menampakkan diri mereka. Berjalan dengan penuh percaya diri seraya menebar senyum. Dan bagian red carpet selalu menjadi yang sayang untuk dilewatkan. Tetapi tidak untuk aktris satu ini, Sivia Magneficia Daraja. Sebenarnya Ia lebih memilih untuk langsung menuju tempat berlangsungnya acara. Hanya saja, sekian banyak para pemburu berita atau cameraman yang meneriaki namanya, meminta untuk memberi pose dan senyum terbaiknya. Apa yang bisa dilakukannya selain menurut dan mencoba megembangkan senyum. Kemudian hujanan kilatan cahaya kamera nyaris membuatnya pusing.

Seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan bagian red carpet ini. Karena gaun Prada biru gelap telah membungkus tubuhnya dengan sempurna, memamerkan lembut, putih kulit pundaknya. Belum lagi bagian belakang gaun itu yang berpotongan cukup rendah, sehingga memamerkan kulit punggungnya yang berkemilauan. Tidak ada perlakuan istimewa pada tatanan rambut, hanya dibiarkan terurai bebas dan dibentuk bergelombang di ujungnya. Katakan saja Ia berlebihan, sebab malam ini Ia hanyalah menjadi salah satu nominee aktris pendamping terbaik, akan tetapi Ia mengenakan gaun dari salah satu brand langganan bintang Hollywood. Gaun Prada yang Ia kenakan saat ini adalah di luar scenario. Gaun ini begitu saja tiba di kamarnya, dikirim oleh Papinya langsung dari NYC. Dennis Daraja adalah Papi kebanggaannya yang kebetulan kini bertugas di negeri Paman Sam sebagai Diplomat. 

"Beautiful."

Sivia menoleh untuk memastikan bahwa apakah kata itu ditujukan untuknya. Benar. Ada Gabriel tau-tau sudah berdiri agak dekat dengannya. Lelaki itu sangat tampan dengan setelan abu-abu gelapnya. Rambutnya disisir rapi mengkilat. Gabriel Stevenson adalah salah satu nominee untuk actor terbaik. Mereka terlibat dalam satu judul film yang sama yang membawa mereka ke nominasi ini.

"Thanks." 

"Mungkin kita bisa membuat sedikit gossip. Agar mereka puas."

Setelah berbicara begitu, Gabriel sudah dengan santai menenggerkan sebelah tangannya pada pinggang Sivia, membuat gadis itu terkesiap sesaat. Lalu kilatan cahaya kamera kembali menyerbu, memanggil-manggil nama mereka agar tepat menoleh ke arah kamera.

"Enough. Can we go?"

Ya Tuhan! Sivia berusaha agar tidak tampak terlalu bahagia. Ia memang mengagumi Gabriel. Lelaki itu sungguh mumpuni dalam dunia acting. Beruntunglah Febby yang menjadi lawan mainnya kemarin. 

"Yes. Please."

Sesaat mereka baru akan beranjak menuju tempat utama acara, John Digit, sutradara yang sedang naik daun dengan dua film yang masuk ke jajaran nominasi, memanggilnya.

"Sivia."

"Oom John."

"Just John."

"Ok then, John." Sivia tertawa pada laki-laki paruh baya yang masih berjiwa muda itu.

"Selamat untuk nominasinya."

"Thanks. Even Gabriel is greater. Best leading actor.

"I know. Well done, Gab."

"Still learning." Gabriel menjawab dengan senyum rendah hatinya. Bagaimana Sivia tidak semakin mengagumi actor satu ini!

"Well, I wanna talk to you later, Via."

"About what?"

"Later. After party, ok? It's essential."

"Oke."

Dengan begitu, John berpamit terlebih dulu ke tempat utama acara.

"I have a good feeling for it."

Sivia menoleh ke Gabriel, mengernyit. "About that talk?"

"About that talk."

"I don't think so. I-"

Ucapannya terpotong ketika Ia mendengar suara heboh dari arena red carpet. Sebenarnya tanpa Ia menoleh pun Ia sudah tau bahwa itu pasti Pricilla Cassania. Tapi Ia tetap menoleh untuk memuaskan rasa ingin taunya. Benar ada Pricilla dengan gaun merah hebohnya sedang berpose dan tersenyum kelewat sumringah ke para pemburu gambar. Dan Sivia menyadari bahwa gadis itu tidak sendiri. Di sebelahnya ada lelaki yang, well, harus Ia akui memang sangat sangat tampan, menggunakan setelan hitam dengan dasi bercorak abu-abu. Pricilla adalah salah satu nominee aktris terbaik yang disinyalir pasti akan menang. Sementara lelaki itu, Alvin Janson adalah pesaing Gabriel di nominasi actor terbaik. 

"Via?"

Sivia mengembalikan perhatiannya kembali ke Gabriel. "Ya?"

"Kita ke dalam sekarang?"

"Oke."

Sebelum benar-benar beranjak, Sivia menoleh sekali lagi. Dan entah bagaimana pandangannya dengan Alvin bertemu di titik yang Ia rasa menjadi pusat antara mereka.


***


Malam beranjak malam tetapi semangat party masih menggelora di setiap sudut ballroom mewah ini. Sebuah acara after party yang rutin diselenggarakan setelah acara penghargaan bergengsi bagi insan perfilman digelar sebelumnya. Ada beberapa undangan yang masih betah mengikuti acara ini, adapula yang sudah langsung pamit. Mereka berbaur saling bertegur sapa untuk mengucapkan selamat bagi para pemenang. Seperti misalnya Sivia Magneficia. Ia memeluk hangat Eloise Ify, memberinya selamat karena memenangkan nominasi aktris pendamping, yang membuatnya harus puas hanya menjadi salah satu nominee nya. 

"Congratulation. You made it."

"Thanks." Mereka belum lama saling mengenal. Tapi karena memiliki beberapa kesamaan, Sivia merasa akan cepat cocok dengan Ify. 

"Selamat Ify." Seorang lelaki dengan jas abu-abu gelapnya ikut bergabung memberikan cheers nya pada Ify. Gabriel Stevenson! Sama seperti dirinya, Gabriel harus berpuas hanya menjadi nominee. Karena gelar actor terbaik telah disabet seseorang.

"Gabriel! Thank you." Gabriel memeluk Ify dengan santai. Sivia baru tahu belakangan ini kalau rupanya mereka adalah sepupu.

"You know what, kalian berdua nominee favorit ku. Menang kalah nggak pengaruh!"

"Yeah! The best couple made it!" Sivia dan Ify tak bisa menahan tawa melihat tingkah Gabriel yang mencibir dan memutar bola matanya bosan. Kemudian menunjuk pada arah jarum jam 4, dimana terdapat best couple yang dimaksud. Pricilla Casania dan Alvin Janson. Mereka memboyong penghargaan aktris dan actor terbaik. Well, memang Sivia akui mereka hebat. Kemistri sebagai sepasang kekasih di film terasa benar-benar nyata. Tetapi lama-lama Ia merasa muak.

Mendengar pemberitaan mereka berdua selama ini sudah memuakkan sekali. Mereka dikabarkan mengalami cinta lokasi. Tetapi ketika diwawancara Pricilla seolah menutup-nutupi tapi seolah mengiyakan. Menyebalkan tidak sih?! Apa salahnya memberitahu berita yang ada dan acara TV tidak melulu diisi dengan penampakannya yang -err- berlebihan. Sementara Alvin dengan tampang sok cool-nya hanya memberi jawaban netral. Yang salah sebenarnya pada media yang terlalu berlebihan atau pada dirinya yang memang sentiment dengan apapun yang berhubungan dengan Pricilla.

"Shoot!" Umpat Sivia sepelan mungkin. Ketika tanpa diantisipasinya Pricilla berjalan mendekat dan melewatinya dengan sedikit menyenggol. Ia melihat Ify sudah siap mengeluarkan cakarnya. Ini yang tak Ia pahami. Nampaknya ada sesuatu tak kasat mata yang membuat Pricilla juga sentiment padanya. Baiklah catat! Sivia tidak akan sentiment kalau saja Pricilla tidak memulai!

"Calm down." Agak tersentak Sivia merasakan gerakan lembut pada lengannya yang terbuka. Gabriel menyentuhnya. Sebuah sentuhan penenangan yang membuatnya salah tingkah. "Thanks".

"Dia agaknya sentiment, Vi. Kamu mengenakan Prada. Ya Tuhan, Prada! Aku boleh katakan kalau penampilanmu satu-satunya yang menyainginya."

"Mengalahkannya kalau menurutku." Tukas Gabriel dengan senyum menawannya.

Sivia jadi tersipu.

"Dan membuat kekasih hatinya itu mampu berpaling." Ify terkikik.

"Kekasih hati? Siapa-"

"Here you are."

Sivia menoleh saat mendengar suara John Digit. John adalah salah satu sutradara yang memiliki pengaruh besar dalam perfilman Indonesia. Lelaki hampir paruh baya itu beberapa kali berhasil memenangkan penghargaan tapi tidak untuk tahun ini. 

"John." Ia beserta Ify dan Gabriel kompak menyapa balik. 

"By the way, congratulation my dear Ify!"

"Thank you John." Ify memeluk John dengan sopan. "Mungkin bisa invite aku di next project? Udah dapet award loh ini." Ify menertawai keterpercayaan dirinya sendiri. Sivia, Gabriel, dan John jadi ikut tertawa.

"Let's see."

Sivia yakin kalau tidak sedang di pesta, Ify pasti sudah melonjak kegirangan atas ucapan John yang nampaknya memberi harapan terbuka itu. 

"Sivia, masih inget pembicaraan kita tadi?" John beralih menatap Sivia, memulai pembicaraan seriusnya, membuat Gabriel dan Ify ikut mendengar dengan penasaran.

"Inget. Jadi...?"

"Bener kata Ify, I have a next project. Adaptasi novelnya mbak Santhy Christi. I personally invite you to join the audition for the leading actress."

Sivia menahan nafasnya sesaat, meyakinkan sekali lagi pendengarannya. "Me?"

"You!"

"Wouw." Ify melebarkan matanya heboh. 

"I told you." Timpal Gabriel menyatakan kebenaran firasatnya.

"Tapi itu novel best-seller bukan, John? Apa yakin kalau aku-". Sivia masih butuh diyakinkan. Ia tau bahwa ada novel Santhy Christi yang sedang ramai dibicarakan, Red in White. 

"I am. Aku rasa bahkan enggak usah ada audisi buat kamu. If you will, you are in."

"What?!" Ify menyuarakan keterkejutannya atas ucapan John. Ia sendiri masih sulit menemukan akal sehatnya. Jadi ini talk yang dimaksud essential oleh John tadi.

"Gimana?"

Tentu saja Sivia tidak akan melewatkan kesempatan ini! Entah kenapa Ia yakin dengan project ini. Di-sutradarai John Digit atas adaptasi novelnya Santhy Christi! Sesuatu baik pasti telah Ia lakukan karena karmanya Ia terima sekarang. 

"Say yes, Vi." Desak Ify dengan semangat. Sementara Gabriel memberinya sebuah senyuman penyemangat.

"Oke. I'm in."

John menaikkan alisnya merasa puas. "Aku tau kamu enggak nolak."

"I hope I won't disappoint you."

"You won't."

"John, I wonder kenapa kamu nggak nawarin ini ke the winner?" Tanya Ify setengah berbisik menunjuk Pricilla -yang asik bercengkrama dengan artis-artis lain- dengan dagunya

"I prefer something new, something hidden beautifully." 

"You come to the right person." Tambah Gabriel yang entah bagaimana membuat Sivia merasakan panas di pipinya.

"But I do with another winner."

Sivia kembali memusatkan perhatiannya pada John menanyakan maksud ucapannya. "What is that mean?"

Bukannya menjawab John malah melambaikan tangannya tinggi-tinggi, meletakkan pandangannya ke arah belakang Sivia. Sivia menoleh penasaran. Oh rupanya John melambaikan tangannya pada lelaki yang menjadi bintang malam ini, Alvin Janson. Dan lelaki itu, dengan sebelah tangannya di dalam saku celana sementara tangan satunya lagi memegang gelas kaca dengan sangat elegan, berjalan mendekat ke tampat di mana Sivia dan yang lainnya berdiri.

"John." Ucap Alvin. Sesaat Ia melempar pandangan menyapa pada Ify, Gabriel, juga Sivia sendiri, dan mencoba menarik senyum simpel.

"Alvin, we're talking about the project, you know. Dan aku sudah mendapat lawan main kamu nanti."

Wait, what?!!

"Sivia, ini Alvin lawan main kamu di project nanti. Dan Alvin, ini Sivia."

Sivia belum pulih dari keterkejutannya sehingga membiarkan tangan Alvin itu menggantung menunggu uluran perkenalannya disambut.

"Sivia." Dan tanpa ada yang tahu bahwa Sivia sedang berusaha menepis getar rasa aneh yang menyenangkan saat tangan mereka berjabat.

"Alvin." Mereka berjabat untuk sekian detik. Dan dengan nakal Alvin melirik leher indah Sivia yang terpampang mulus berhiaskan sebuah kalung emas putih.

Kalau tidak Gabriel yang berdeham, Alvin pasti tidak akan melepaskan pandangannya. Dan tiba-tiba saja Sivia merasa gatal pada lehernya.

"Aku sudah membuat kalender kerja untuk project Red in White ini. Minggu depan kita meeting. Aku boleh saja tidak membawa pulang apapun malam ini, tapi ku pastikan tahun depan aku memborongnya bersama kalian." Tukas John penuh ambisi. "Mohon kerjasamanya."

John mengajak Sivia, Alvin, Gabriel, juga Ify untuk cheers bersama. "Gab, Ify, datanglah saat audisi. Aku berjanji ini akan jadi project yang menyenangkan." Kalau John sudah punya tekad, pasti selalu ada jalan.
Kemudian mereka terlibat obrolan ringan sebelum John undur diri menemui rekannya yang lain. Begitupun Gabriel dan Ify yang disapa oleh Mario, salah satu penyanyi pria solo profesional. Mario memutuskan mengajak Gabriel dan Ify mmengobrol secara pribadi untuk meminta mereka membintangi salah satu video musiknya.

Menyisakan Sivia dengan Alvin. Berdua. 

"Aku tidak mengerti kenapa John harus mengajak Gabriel dalam projectnya juga. Dia masih harus melatih aktingnya, kurasa."

"Maksudmu?" 

"Lupakan."

Dan entah bagaimana, Sivia menjadi sedikit tersulut emosinya. Nada bicara Alvin tadi sangat kurang ajar. Seolah meremahkan Gabriel. Sementara Sivia mengidolakan Gabriel. Ya Tuhan! Ia harus membela Gabriel.
Baru Ia akan mengeluarkan apa pendapatnya, tanpa permisi, tahu-tahu Alvin beranjak menjauh dari sisinya. Menyadari itu, Sivia berusaha mengejarnya meski tetap dengan langkah berhati-hati mengingat Ia masih mengenakan gaunnya yang anggun ini.

Punggung Alvin semakin terlihat setelah Ia agak mempercepat langkahnya dengan semangat berkobar untuk sedikit memberi pelajaran pada Alvin. Rupanya Alvin keluar ballroom. Ia melihat lelaki itu menuruni tangga yang menghubungkan ruang pesta tadi dengan taman hotel. Lelaki itu sedang menyesap minuman berwarna merah pekat pada gelas kacanya.

"Maaf sebelumnya, tapi aku tidak terima tentang pendapatmu mengenai Gabriel tadi."

Seketika Alvin berbalik. Pandangan tenang dan tajamnya langsung menghunus mata hitam bening Sivia. 

"Kamu repot-repot mengikutiku kemari hanya untuk mengucapkan pembelaan untuk Gabriel." Tukas Alvin tidak habis pikir. Kemudian tertawa remeh. Meletakkan gelas dalam genggamannya pada meja kecil di dekatnya, lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Karena aku mengidolakannya."

"Aku tahu." Perlahan Alvin mendekatinya. "Dan karena itu aku tidak suka dia ikut project John."

"Maksudmu?"

"Aku khawatir kemistri kita tidak terbentuk kalau lawan mainku justru mengidolakan pemain lainnya."

"Bukankah kamu si aktor terbaik? Kenapa harus khawatir tentang hal remeh itu? Lagi pula aku profesional." Suara Sivia menghilang di ujung kalimat. Tangan Alvin yang tahu-tahu sudah mendarat di punggungnya yang terbuka membuatnya dikejutkan oleh sesuatu yang aneh. Sialnya, Sivia baru sadar kalau Alvin sudah berada terlalu dekat dengannya. Di depannya. Tanpa sekat. Kecuali kalau udara malam dapat dikatagorikan sebagai sekat.

Dan kata-kata Alvin yang meluncur selanjutnya, dengan lembut membelai telinganya. Membuatnya lupa untuk berpijak.

"Tadi, ketika kamu turun dari mobil, berjalan menuju red carpet, tertimpa cahaya kamera, aku memutuskan bahwa kamu harus menjadi pemeran utama terbaik tahun berikutnya, bersamaku, di project John."
Sivia membasahi bibirnya dan tenggorokannya yang serasa mengering. "Ya." Jawabnya impulsif dengan suara serak. Alvin menghipnotisnya.

"Kita akan bekerja sama."

"Ya."

Dari jarak sedekat ini, Sivia dapat melihat senyum tipis Alvin tersungging. Dan mata lelaki itu berpijar, nakal.

"Ada baiknya jika membangun kemistri sejak dini." 

Setelahnya, Sivia merasakan kecap anggur merah pada bibirnya. Dan itu bukan berasal dari minumannya langsung. Itu bibir lembut Alvin yang menempel pada miliknya, yang kemudian bergerak lembut. Ciuman yang sangat sopan. Pikir Sivia.

Alvin melepas ciumannya ketika tangannya sendiri sudah mulai gatal membelai punggung Sivia. Jangan sampai lepas control.

"Sepertinya aku tidak perlu khawatir soal kemistri lagi." Gumamnya dengan suara serak. Ciuman mereka benar-benar mempengaruhinya.

"Apa kamu selalu melakukan ini dengan lawan mainmu sebelumnya?" Tanya Sivia. Jemarinya reflex bergerak mengusap bibir Alvin yang mencuri warna lipstiknya, membersihkannya. 

"Tidak."

"Pricilla?"

"Tidak."

Dan Sivia tidak tahu harus menanggapi apalagi. Kenyataan bahwa Alvin adalah si actor terbaik, yang memungkinkan Ia sedang ber-akting di hadapannya kini membuatnya tidak terlalu berharap.

What? Berharap?!

"Oh shoot. Ada wartawan Alvin." Ujarnya kemudian ketika merasakan ada kilatan lampu kamera menerpa mereka. Ia berusaha membenarkan posisinya.

"Tetap diam."

"What? No. Bisa muncul gossip besok."

"Itu pekerjaan mereka."

"Kamu akan lelah untuk pura-pura tidak menanggapi gossip lagi, seperti gossipmu dengan Pricilla kemarin-kemarin."

"Aku akan menanggapinya kali ini. Dan aku tidak akan menyangkal."

Kemudian bibir Alvin kembali menemukan bibirnya.

_____


"Mereka bahkan belum on-screen." Ujar John.
 
"Mereka bahkan baru berkenalan secara resmi." Sambung Ify.

"Tapi aku tahu, Alvin tidak melepas pandangannya dari Sivia sejak acara ini dimulai." Gabriel berkomentar.

"Aku jadi optimis dan tidak sabar pada project Red in White ini." Tandas John.

Mereka bertiga sedang mengintip sepotong adegan antara dua calon pemeran utama Red in White nanti. Well. A good rehearsal.




Regards,

Love & beloved's author

Rabu, 28 Mei 2014

Aku? Takdirmu!

FF Special #3asANH
[Karya: Desmira Feri S]



Sivia terkejut ketika dirinya tahu-tahu terbangun di sebuah kamar mewah yang sama sekali tak dikenalinya. Sebuah kamar besar bergaya Eropa dengan warna putih gading yang mendominasi. Dindingnya terbuat dari beton tebal. Pintunya lebar dan tinggi, cukup untuk memasukkan seekor jerapah. Lantainya terbuat dari marmer. Ada satu jendela besar dan panjang di belakang ranjang tempat Sivia tidur. Dan ketika Sivia melongok keluar jendela itu, jantungnya hampir saja lepas. Kalau-kalau Sivia lupa ini sebuah rumah, dia mungkin akan berfikir dia sedang ada di sebuah pesawat yang sedang terbang. Sivia hampir tidak bisa melihat rumah-rumah di bawah sana saking tingginya bangunan ini.
Dan, oh, tunggu. Gaun yang melekat di tubuhnya! Dia tidak pernah merasa punya gaun tidur seindah dan senyaman ini. Yah, dia memang seorang putri, tapi sungguh, semua gaun tidurnya sudah membuat dia bosan. Tapi ini? Punya siapa? Dan yang paling penting, SIAPA YANG MENGGANTI BAJUNYA DENGAN GAUN TIDUR INI?
Sivia sedang mencoba untuk tidak berfikiran buruk ketika pintu kamar yang besar dan tinggi itu terbuka. Sesosok manusia masuk dengan selusin penjaga dan pelayan rumah di belakangnya. Sivia tidak bisa mengenalinya. Dia memakai jubah hitam lengkap dengan penutup kepala. Setengah wajahnya tertutup slayer hitam. Otomatis Sivia cuma bisa melihat matanya.
Tidak mungkin! Mata itu...
“Ternyata lo udah bangun? Gimana tidurnya? Kebo banget, sih, lo jadi cewek?” sesosok manusia yang ternyata cowok itu duduk di sebuah kursi tepat di depan ranjang Sivia.
Dia lalu menjentikkan jarinya, dan setengah lusin pelayan rumah yang dia bawa mendekati ranjang Sivia. Pelayan pertama, mengikat rambut Sivia yang terurai sampai ke punggung. Pelayan kedua, menggulung lengan baju Sivia sebatas siku. Pelayan ketiga menyingkap selimut dari badan Sivia. Pelayan keempat, menaruh meja makan lipat di depan Sivia. Pelayan kelima, menaruh makanan dan minuman ke meja itu. Dan yang terakhir, menyerahkan sendok dan garpu ke Sivia sambil mempersilahkannya makan.
Sivia sampai pusing melihat pertunjukkan di depannya. Please, di istananya saja, dia tidak pernah dilayani seberlebihan ini.
“Lo siapa?” Akhirnya, bisa juga Sivia bersuara setelah sejak tadi bengong di depan orang-orang asing ini.
“Gue?...” cowok itu menunjuk dirinya sendiri, “takdir lo.”
“Ha?”
Cowok itu mendekat ke arah Sivia sambil lagi-lagi menjentikkan jarinya. Selusin pelayan dan penjaga itu kemudian keluar dan menutup pintu kamar. Oh, tidak...
“Lo nggak ngerti apa itu takdir? Oke. I’m your destiny. Ngerti?”
Sivia menggeleng. Dan tiba-tiba saja cowok itu tertawa keras sampai duduk terbungkuk-bungkuk di depan Sivia. Apanya yang lucu coba?
“Lo lucu banget, sih. Gue boleh ya, nyium lo?”
Hei, hei, hei. Apa-apaan, sih, ini cowok. Sembarangan saja dia bilang begitu. Dia nggak tahu sedang berhadapan dengan siapa rupanya. Asal dia tahu, Sivia itu seorang putri, princess.
PRINCESS!
Mana boleh dicium sama sembarang cowok.
“Lo kalo ngomong jangan sembarangan, ya. Lo nggak tahu siapa gue?”
“Tahu kok, makanya gue berani ngomong gitu.”
“Maksud lo?”
“Ya karena lo takdir gue, makanya gue boleh nyium lo. Boleh, ya?” Cowok itu semakin mendekat, kedua matanya mengerling lucu. Sivia merangsek mundur. Merapat ke sandaran tempat tidur.
“Heh. Jangan sembarangan, ya, lo. Gue jago karate tahu.”
“Sama, gue juga. Nggak cuman karate, sih. Gue juga bisa silat, taekwondo, judo, kungfu. Sumo juga bisa. Kapan-kapan kita battle mau?”
Sableng ini cowok.
“Lo siapa, sih? Gue lagi dimana? Kenapa gue bisa disini? Kemana orang tua gue?”
Mata cowok itu tiba-tiba meredup. Tapi sedetik kemudian kembali bersinar. Bukan saat yang tepat, pikirnya.
“Mending sekarang lo makan.” Cowok itu menyodorkan meja makannya.
“Nggak mau. Gue nggak mau makan sebelum lo ngasih tahu siapa lo.”
Cowok itu mengangguk-angguk, sok mikir. “Lo beneran mau tahu siapa gue?”
Sivia mengangguk.
“Lo beneran mau lihat wajah gue?”
Sivia mengangguk lagi. Mulai kesal.
“Tapi gue nggak tanggung jawab, ya, kalo habis itu lo tiba-tiba naksir atau bahkan tergila-gila sama gue?”
Sivia mengangguk lagi.
Sambil pengen muntah.
“Oke, kalo itu yang lo mau.”
Dalam satu tarikan, cowok itu melepas penutup kepala dan slayernya. Giliran Sivia yang tiba-tiba kaku melihat wajah cowok di depannya. Wajah cowok itu bersinar. Benar-benar bersinar. Yah, Sivia lupa kalau matahari pagi di luar sana sedang naik dan cahayanya masuk ke jendela di belakangnya.
Tapi bukan itu yang membuat Sivia diam. Bukan itu. Tapi wajah itu. Wajah itu, Sivia pernah melihatnya. Tapi, dimana dan kapannya, Sivia sama sekali lupa.
“Kan. Apa gue bilang. Lo pasti jadi diem gitu gara-gara naksir mendadak lihat wajah gue. Iya, kan?”
Ingin rasanya Sivia nonjok wajah cowok itu. Tapi, sekarang tangannya benar-benar tidak bisa digerakkan. Lagian, Sivia bukan princess yang sekejam itu sama orang lain. Apalagi orang lain itu tampan, saaaaaangat tampan.
Tapi, ketampanan cowok ini beda. Dia, seperti bayi berukuran besar. Wajahnya lonjong, dengan kulit putih bersih dan hidung mancung. Kedua matanya berwarna biru, mengingatkan Sivia akan laut yang sangat tenang. Dan ketika kau melihat wajahnya yang lucu itu, pasti rasanya pengen nyubit. Kayak Sivia sekarang. Bukan nyubit, sih, tapi nonjok.
“Gue..., pernah lihat lo.” Terbata, Sivia menatap lurus-lurus wajah cowok itu. Sambil berusaha mengumpulkan memorinya tentang wajah yang familier ini.
Cowok itu menjentikkan jarinya lagi sambil tersenyum. “Tepat sekali. Gue seneng lo masih inget gue.”
“Memangnya kita pernah ketemu?”
“Bukan pernah, tapi sering.”
“Tapiii, kenapa gue sama sekali nggak inget? Dimana kita pernah ketemu?”
Cowok itu tersenyum lembut sambil meraih tangan Sivia dan menaruhnya di atas meja. Sivia diam dengan perlakuan cowok itu. Semua ini masih membuatnya bingung. Dan dia sama sekali tidak bisa berfikir jernih.
“Mending sekarang lo makan dulu. Abis itu, gue bakalan ceritain semuanya, ya?”
“Tapi, Alvin, sebenernya apa yang terjadi sama gue?”
Cowok itu terkejut. Dia menatap Sivia sambil tersenyum lebar. “Gue nggak nyangka lo inget nama gue. Gue seneng banget.”
“Ah...” giliran Sivia yang terkejut dengan dirinya sendiri. Ngomong apa dia tadi? Dan kenapa dia bisa tahu nama cowok ini?
“Kok..., gue tahu nama lo? Lo tadi belom ngasih tahu gue, kan? Kenapa...”
Suara Sivia mendadak hilang ketika sesendok penuh nasi masuk ke mulutnya. Cowok itu nyengir. “Lo makan dulu aja. Nanya-nanyanya ntar. Oke?”
Sivia merengut.
***
Sivia menghampiri Alvin yang tengah berdiri di pembatas balkon kamar. Tadi dia dipaksa makan sama Alvin. Dan setelahnya, dia harus mandi dengan ditunggui oleh setengah lusin pelayan perempuan Alvin di depan pintu kamar mandi. Waktu ganti bajupun, pelayan-pelayan itu sama sekali tidak mau pergi. Sivia jadi tahu kalau pelayan-pelayan itulah yang mengganti bajunya dengan gaun tidur yang indah itu. Syukurlah!
Sivia mengamati Alvin dari belakang. Punggung itu, kenapa Sivia begitu familier? Dan kenapa Sivia bisa merasakan kalau punggung kokoh itu pernah melindunginya? Sebenarnya ada apa? Alvin itu siapa?
“Sivia, udah selesai?” Alvin menatap Sivia yang sedang melamun. Sivia tersenyum kecil sambil mendekati Alvin. Dia harus mendapat penjelasan sekarang juga.
“Emang, ya, takdir nggak pernah salah.” Alvin tersenyum lembut sambil menyapukan punggung jari telunjuknya di pipi Sivia. Kaget, Sivia mundur selangkah.
“Maksud lo?”
“Gue tampan, dan gue punya takdir secantik lo. Takdir emang selalu bener, kan?”
Cuih.
Sivia nggak butuh takdir-takdir itu. Sivia cuma butuh penjelasan.
“Gue butuh penjelasan sekarang juga. Gue pengen pulang dan ketemu orang tua gue. Dimana mereka, Alvin?”
Alvin duduk di sofa panjang di depan pintu balkon. “Duduk sini, Sivia.”
Sivia nurut. Duduk menghadap Alvin sambil memeluk lutut. Alvin tahu-tahu tersenyum melihat Sivia. “Kenapa senyum-senyum?”
“Gue jadi inget waktu pertama kali nemuin lo.”
“Oh ya?”
Alvin mengangguk. “Sivia, sebelum gue jelasin semuanya ke lo, gue mau nanya sama lo. Lo bener-bener nggak inget siapa gue?”
Sivia menggeleng. Alvin menarik nafas. “Tapi kenapa lo inget nama gue?”
“Nggak tahu, reflek aja nyebut nama lo tadi.”
Alvin tersenyum lagi. “Mungkin itulah yang namanya takdir.”
Aaah, Alvin ini. Dari tadi ngomongnya takdiiiiiir terus. Sivia itu nggak butuh takdir-takdiran, Sivia cuma butuh penjelasan. PENJELASAN!
“Karena semuanya emang berawal dari takdir, Sivia, kenapa lo bisa disini.” Ujar Alvin, seperti tahu apa yang sedang Sivia pikirkan.
“Iya-iya, takdir. Oke, gue ngerti. Sekarang lo jelasin semuanya!” Sivia memilih mengalah. Dia tidak mau tonjok-tonjokkan sama Alvin hanya gara-gara debat masalah takdir.
“Lo bener-bener nggak inget pertama kali kita ketemu?”
Sivia menggeleng pelan. Sungguh, dia tidak ingat apa-apa sekarang. Selain dia adalah seorang putri dari sebuah polis. Dan dia masih punya orang tua lengkap yang sekarang entah dimana.
“Berarti sihir dari Polis Barat memang benar.”
“Sihir? Polis Barat?” Sivia makin bingung. Selain takdir, kenapa Alvin menggunakan kata-kata yang sama sekali tidak Sivia pahami?
“Polis Barat menggunakan salah satu sihir terlarang untuk menghilangkan ingatan lo, Sivia. Supaya polis kita tidak bisa bersatu.”
“Jelasin dari awal, Alvin! Gue sama sekali nggak ngerti.”
“Begini. Polis kita, ditakdirkan untuk bersatu lewat kita...,”
“Maksudnya “kita”?” Sivia jadi ngeri dengan apa yang akan Alvin jawab. Jangan bilang kalau...
“Iya, kita bakalan mempersatukan polis kedua orang tua kita dengan pernikahan. Kita bakalan nikah.”
“Tapi, Alvin, kenapa gue...”
“Sivia, tolong dengerin gue dulu. Jangan potong omongan gue sebelum gue selesai cerita. Lo boleh nanya apa aja nanti kalau gue udah selesai. Mengerti?”
Sivia mengangguk.
Alvin memulai cerita. “Di dunia kita, sejak dulu seluruh polis dipimpin oleh dua polis lain sisi yang bersatu lewat anak-anaknya. Polis lo, Polis Selatan dan polis gue, Polis Utara mendapat giliran memimpin selama abad ketiga ini. Tapi, Polis Barat, yang selama abad kedua lalu memimpin bersama Polis Timur, nggak pengen kekuasaannya hilang. Mereka pengen terus memimpin, makanya mereka menyihir lo supaya lo kehilangan sebagian ingatan lo. Lo cuma inget kalau lo itu adalah seorang putri dari Polis Selatan. Lo sama sekali nggak tahu apa yang terjadi dengan polis-polis lainnya. Dengan begitu, polis kita nggak akan bersatu dan memimpin polis-polis lainnya.”
“Kenapa gue, Vin?”
“Karena lo bisa melihat masa depan, Vi. Dan mereka tahu. Mereka lalu menghilangkan sebagian ingatan lo, masuk ke alam bawah sadar lo dan mengubah sebagian masa depan polis-polis di dunia kita.”
“Apa yang mereka ubah?”
“Mereka mengubah masa depan dimana kedua polis kita memimpin. Mereka mengubahnya dengan sebuah penyerangan ke polis lo. Saat itulah, gue nemuin lo. Sedang duduk memeluk lutut sambil menangis ketakutan. Waktu itu lo masih kecil, mungkin tujuh tahun.”
Sepuluh tahun lalu. Sivia mencoba mengingat semuanya. Tapi gagal. Malah kepalanya jadi terasa berat.
“Jangan, Sivia. Gue nggak mau lo kesakitan.”
Alvin mengenggam tangan Sivia yang mencengkeram kepalanya. Sakit. Kepala Sivia benar-benar sakit dan berat.
“Sini!”
Alvin menarik Sivia ke sampingnya. Menaruh kepala Sivia ke pundaknya lalu menepuk-nepuk lengannya. Sivia tersenyum kecil. Kenapa rasanya nyaman sekali? Dan kemana rasa sakit yang tadi menyerang kepalanya?
“Gimana cara lo nemuin gue? Dan kenapa gue sama sekali nggak inget siapa lo?”
“Kita emang nggak pernah ketemu secara langsung. Gue masuk ke alam mimpi lo, Sivia. Gue waktu itu sedang jalan-jalan di alam mimpi. Lalu diantara mimpi-mimpi banyak orang, gue melihat lo. Lo lagi nangis ketakutan. Gue menghampiri lo. Dan waktu gue lihat wajah lo, gue langsung tahu kalo lo adalah takdir gue. Tahu-tahu, lo meluk gue sambil nangis...”
“Apa? Gue langsung meluk lo?”
Alvin tersenyum geli mengingatnya. Waktu itu Sivia benar-benar ketakutan. Dan tahu-tahu tubuh Alvin ditubruk Sivia dan dipeluknya. Erat sekali.
“Iya, mana lo peluknya kenceng banget lagi. Gue sampe sesak napas, tahu.” Pelan, Alvin menjitak kepala Sivia. Membuat Sivia merengut.
“Terus, abis itu?”
“Abis itu, gue sering banget masuk alam mimpi lo. Ngajak lo jalan-jalan supaya lo nggak inget terus sama bayangan masa depan polis lo. Lo pernah waktu itu minta gue buat gendong lo di punggung. Tahu nggak? Ternyata kecil-kecil begitu, badan lo tu berat, tahu.”
Sivia merengut lagi. Iya, badan dia memang kecil tapi berisi. Dia memang punya hobi makan, sih.
Ah, pantas saja Sivia seperti pernah memeluk punggung itu. Memang benar. Alvin pernah menggendongnya di punggung.
“Kenapa orang tua gue nggak berusaha ngubah masa depan itu lagi?”
“Nggak semua penduduk polis punya kemampuan itu, Sivia. Hanya ada satu orang yang bisa. Dan sayangnya, orang itu berpihak ke Polis Barat.”
“Apa orang tua gue tahu semua ini?”
“Nggak. Sampai kejadian itu benar-benar terjadi...,”
“Maksud lo?” Perasaan Sivia tiba-tiba takut. Dia menarik kepalanya dan menatap Alvin yang sedang menunduk dan terlihat memikirkan sesuatu.
“Alvin, apa yang terjadi?”
“Kalo lo bisa lihat masa depan, maka gue bisa lihat masa lalu, Sivia. Semuanya.”
“Jadi, lo bisa ceritain semuanya ke gue?”
Alvin menggeleng. “Gue bakalan tunjukkin ke lo semuanya.”
Alvin berdiri lalu menarik tangan Sivia. Dia memeluk pundak Sivia erat-erat. Lalu, tahu-tahu tubuh Sivia serasa melayang di udara. Sekelilingnya berubah. Bukan lagi balkon kamar yang tadi. Tapi Sivia ada di udara di atas istananya sendiri. Istananya yang sedang diserang oleh orang-orang yang tak dia kenali.
Seluruh bangunan istananya hancur. Hanya tinggal menara tempat dia dan kedua orang tuanya tinggal. Lalu tiba-tiba dia sudah berada disana. Menyaksikan kedua orang tuanya bertarung melawan orang-orang asing itu. Lalu dia melihat dirinya sendiri, sedang tertidur di ruangan lainnya yang dia kenali sebagai kamarnya. Lalu tiba-tiba ada Alvin yang datang dari jendela kamarnya dan langsung membawanya keluar. Alvin tiba-tiba terjun dari menara setinggi seratus meter itu dengan Sivia yang tertidur di pundaknya. Dan entah bagaimana caranya, tahu-tahu mereka sudah ada di atas punggung seekor kuda putih.
Lalu keadaan berubah. Mereka ada di luar istana Sivia lagi. Semua bangunannya hancur. Tubuh-tubuh yang mungkin sudah tak bernyawa tergeletak dimana-mana. Tapi orang-orang asing itu masih saja menghancurkan semuanya. Mereka seperti sedang mencari sesuatu. Atau seseorang...
Tepat saat tubuh Sivia limbung karena lemas, semuanya menghilang. Dia berada di balkon kamar rumah Alvin lagi.
“Alvin..., rumah gue...,”
“Tenang, Sivia. Keadaan yang sekarang udah jauh lebih baik. Istana lo sedang dalam proses pemulihan sekarang.” Alvin menahan tubuh Sivia, lalu membimbingnya kembali duduk di sofa.
“Ayah..., Ibu...,”
“Mereka baik-baik aja. Mereka sedang dirawat disini.”
“Gue mau lihat mereka, Alvin. Dimana mereka?” Sivia berontak dari pelukan Alvin. Tapi tubuhnya yang masih lemah karena pemandangan mengerikan yang dia lihat tadi membuatnya kembali terduduk di sofa.
“Mereka baik-baik aja, Sivia. Lo nggak usah khawatir. Ahli pengobatan istana gue melakukan tugasnya dengan baik.”
“Tapi, kenapa orang-orang tadi masih ada di istana gue? Bukankah semuanya udah hancur?”
“Karena mereka belum menemukan yang mereka cari.”
“Apa?”
“Bukan apa, tapi siapa. Mereka nyari lo, Sivia. Dengan membunuh lo, polis kita tidak bisa bersatu dan mereka bisa berkuasa lagi.”
“Jadi, lo udah nylametin gue dan semua polis dari kejahatan Polis Barat?”
“Yaah, bisa dibilang begitu.”
Alvin memutar tubuhnya hingga menghadap Sivia. Dia meraih kedua tangan Sivia dan menggenggamnya. “Sekarang, cuma satu yang bisa lo lakuin agar dunia kita tetap selamat.”
“Apa?”
“Nikah sama gue. Ayo!” Alvin berdiri dan menggandeng Sivia keluar kamar. Sivia terbengong-bengong sampai bingung mau bilang apa.
“Sekarang?”
“Iya. Di depan kedua orang tua kita. Mereka ada dibawah. Mereka pasti seneng lo udah siuman, dan...”
Sivia tidak lagi mendengar apa yang Alvin ucapkan. Yang ada di benaknya sekarang adalah masa remajanya yang akan direnggut oleh Alvin. Oh, come on, dia baru tujuh belas tahun, dan harus menikah di usia segitu? Dengan orang yang baru saja dia temui hari ini (kalau di alam mimpi tidak bisa dibilang bertemu)?
Sivia pasrah. Menatap tangan kanannya yang digenggam Alvin dengan perasaan campur aduk.
END.


P.S.

Polis adalah negara kota di wilayah Yunani. Contoh: Athena, Sparta, dll.

Happy Anniversary

“HAPPY ANNIVERSARRY”

Karya : Aninda Ocha
Cast : Alvin, Sivia, Shilla, Cakka
Genre: Romance,Friendship,Happyend

Sinar matahari masuk melalui celah – celah jendela kamar itu. Sinarnya seakan memaksa seorang gadis cantik yang masih senantiasa menikmati mimpinya. Dan kali ini mata itu terpaksa dibukanya karna silau yang menyapa matanya.
Setelah kesadarannya terkumpul, gadis cantik itu berjalan menuju gorden lalu menyibak kain berwarna ungu itu. Gadis itu juga menggeser jendela kamarnya yang disambut angin sepoi – sepoi pagi ini. “selamat pagi.” Ucapnya senang.
Gadis bernama –Sivia- itu mengambil handphonenya yang tergeletak di kasur. Membaca pesan masuk kemudian tersenyum.
From: My Boo
Sayang... baru bangun pasti ya? :p siap – siap gih, nanti aku jemput jam 8, dandan yang cantik sayang. Morning and I Love You :*
Sivia kemudian mengetik balasannya.
To: My Boo
Kamu tau aja sayang :p haha oke sip, aku tunggu sayang :* I Love You Too {}
-
Sivia yang sudah wangi dan bersih langsung menuruni anak tangga dan senyuman masih tercetak di bibirnya. Sang mama yang memperhatikannya hanya ikut tersenyum. Sudah jadi keseharian melihat Sivia tersenyum setelah bangun tidur.
“selamat pagi mama.” Sivia mencium pipi sang mama yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga itu.
“selamat pagi sayang. Anak mama rapi banget, mau jalan – jalan sama Alvin ya?” goda mama Sivia yang membuat pipi gadis itu memerah karna malu. Alvin dan mamanya sama saja –sama-sama-suka-menggoda-.
“mama masak apa?”
“nasi mawut. Yang pernah kita cobain waktu kita liburan ke Lombok itu, Vi. Yang di puji habis – habisan sama papamu.” Cerocos mama Sivia. Wanita paruh baya itu memang sangat pandai memasak. Masakan apapun yang disukai oleh anak dan suaminya akan ia buatkan khusus untuk keluarga kecilnya itu.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Sivia dan sang mama sama – sama tersenyum. Keduanya berjalan kearah pintu dan benar dugaan mereka. Alvin sudah berdiri di depan pintu.
“pagi tante. Cantik banget pagi ini.” goda Alvin. Sivia tertawa sementara sang mama memukul lengan Alvin pelan.
“kamu kok gombalin tante – tante, Vin.” Mama Sivia mengajak Alvin untuk ikut sarapan bersama.
Alvin duduk di samping Sivia yang sudah melahap makanannya. Alvin tertawa melihat cara makan Sivia seperti anak sd yang tidak mau makanannya diambil orang. “papa kamu mana, Vi?” tanya Alvin.
“papa lagi sakit. Makanya tadi mama bawain nasi sama susu ke dalem kamar.” Jawab Sivia seadanya. Gadis itu masih menikmati sarapan paginya.
Alvin kembali tertawa karna ada makanan yang sedikit belepotan di sudut bibir Sivia. Laki – laki itu mengambil tisu lalu membersihkan bibir Sivia. Gadis itu merasa pipinya sudah memerah saat ini.
“hehe, makasi sayang.”
“sama –sama sayang. Cepet gih habisin makannya, ntar jalanan keburu rame.” Suruh Alvin sambil mengelus rambut hitam Sivia.
-
-
Alvin dan Sivia dalam perjalanan yang entah kemana karna Alvin tidak memberitahu kemana mereka akan pergi. Setiap Sivia tanya, pasti jawabannya Cuma ‘nanti kamu juga tau’ atau ‘udah duduk manis aja’ dan itu cukup bikin Sivia kesal sekarang.
“sayang, jangan ngambek dong.” Bujuk Alvin.
“kamu sih nggak mau kasih tau kita mau kemana.” Sivia menikmati pemandangan luar jendela. Malas banget lihat Alvin saat ini.
“lagi bentar kita sampai kok, nanti kamu bakal tau kita kemana, sayang.”
Tak lama Alvin memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk kekasihnya yang lagi ‘ngambul’ itu. Sivia menatap taman kecil tempat mereka sekarang tanpa berkedip. Taman ini cantik sekali, pikir Sivia. Ada beberapa kertas origami berbentuk burung dan beberapa bunga mawar yang kelopaknya bertaburan di atas rumput membentuk sebuah tulisan.
‘HAPPY 5 MONTH ANNIVERSARY’
“Vin... i-ini...” Sivia menggantungkan kata – katanya. Kesal, sedih dan bahagia yang dirinya rasakan sekarang.
Alvin memeluk Sivia dari belakang. menumpukan dagunya di atas bahu Sivia. “Happy anniversary sayang. Aku harap kamu selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Bisik Alvin.
Sivia menangis haru. “m-makasi sayang. Aku harap kamu juga bakal selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Sivia membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alvin yang lebih tinggi darinya. Menyalurkan semua perasaan yang ia rasakan sekarang.
“i love you, i love you more than you know.” Bisik Alvin lagi sambil mengecup puncak kepala Sivia.
Alvin melepaskan pelukan mereka. Laki – laki itu merogoh saku jaket yang ia gunakan. “ada apa, Vin?” tanya Sivia bingung.
“coba kamu balik badan terus tutup mata kamu.” Suruh Alvin –masih merogoh saku jaketnya- mencari sesuatu yang sudah ia siapkan 3 hari yang lalu.
Sivia menurut kemudian membalikkan badannya membelakangi Alvin lalu menutup matanya. Dalam hati dirinya sudah penasaran dengan kelakuan Alvin sekarang ini. walaupun Alvin sudah sering memberi kejutan untuknya.
Sivia merasa dingin menyapa lehernya. Gadis itu membuka matanya. Mendapati sebuah kalung permata di lehernya. ‘Alvin romantis banget’ batin Sivia yang tidak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
“kamu bikin aku kaya cewek terbahagia di dunia ini, Vin” celetuk Sivia.
“dan aku bakal selalu bikin kamu bahagia tiap harinya, Vi”
-
-
Setelah acara kejutan tadi, Alvin mengajak Sivia ke sebuah caffe yang tidak terlalu jauh dari taman itu. Mereka memilih duduk di sudut caffe tersebut yang dekat dengan jendela.
“mau pesan apa, sayang?”
“chocolate milkshake aja sayang, kamu apa?”
“chocolate milkshake sama cappucino coffe ya mbak.”
Alvin memberi daftar menu tadi kepada pelayan yang melayani mereka. Keduanya menatap keluar jendela yang nampak begitu ramai oleh lalu – lalang kendaraan. Jakarta benar – benar padat, pikir mereka.
Mata Sivia tidak sengaja menangkap seseorang yang berjalan kearah caffe ini, “itu Shilla ‘kan?” ucap Sivia tanpa sadar. Dan benar saja, itu adalah Shilla –sahabatnya-.
TRIINNG!!
Bel berbunyi, pertanda seorang pelanggan baru datang. Sivia segera bangkit dan menghampiri pelanggan itu. “ke caffe kok nggak bilang – bilang.” Sindir Sivia.
Shilla yang masih fokus dengan gadget miliknya mengangkat kepalanya. Mendapati sahabatnya yang manyun dan menatapnya kesal.
“eh, Sivia? Sama siapa kesini? Hehe, gue fikir jam segini lo belum bangun, Vi.” Tawa Shilla.
“lo fikir gue kebo apa! Yaudah yuk nimbrung aja sama gue dan Alvin. Biar tambah rame.” Sivia menarik atau lebih tepatnya –menggeret- Shilla ke tempatnya tadi.
Alvin yang masih bingung dengan tingkah pacarnya tadi tak lama tersenyum melihat Sivia bersama Shilla, “hoy Shil, lama nggak ketemu.” Alvin mengajak Shilla ‘high-five’.
“alah, bilang aja lo kangen sama gue, Vin. Ngomong – ngomong kalian habis darimana?”
“tempat romantis, Shil.” Ucap Sivia. Pipinya tiba – tiba memerah lagi. sementara Alvin mencubit pipi pacarnya itu gemas.
“oh iya, kalian anniv ya sekarang? Ya ampun! Selamat ya!” seru Shilla. Sivia dan Alvin tersenyum kemudian mengucapkan ‘terima-kasih’ bersamaan.
“lo mau pesan apa, Shil? Biar gue yang traktir” tanya Alvin.
“gue cappucino coffe aja.” Jawab Shilla seadanya. Alvin memanggil seorang pelayan dan memesan kembali pesanan yang Shilla minta.
Shilla masih fokus dengan handphonenya. Sedangkan Alvin masih asyik menatap keluar jendela. Lalu Sivia? Gadis itu hanya mencoba untuk tenang sekarang karna sedari tadi gadis itu terus memikirkan pesanan Alvin-Shilla yang sama.
-
“Shil, gimana kuis lo kemaren? Lancar, ‘kan?” tanya Sivia sambil menyeruput chocolate milkshake yang ia pesan.
“yah... lo tau sendiri gimana guru yang satu itu kalau ngajar. Demi apapun gue rasanya pengen pindah dari sekolah itu.” Shilla memanyunkan bibirnya kesal.
“kalau lo sampe pindah sekolah, jangan harap gue mau ngomong sama lo lagi, Shil.” Ujar Sivia. Hanya bercanda sebenarnya. Tapi itu cukup membuat Shilla tersedak karna kopi-nya.
“yaelah, lo gitu aja langsung ngambek. Lo kira gue anak presiden yang bisa pindah ke sekolah mana aja gue mau? Bisa – bisa gue di sekap dalem kamar sama bokap – nyokap gue.”
“yaelah lo gue ngomong gitu aja langsung keselek kopi.” Celetuk Sivia mengikuti gaya bicara Shilla sebelumnya. Shilla hanya tersenyum kecil melihatnya.
Alvin yang hanya diam sedari tadi akhirnya ikut nimbrung dengan kedua gadis cantik itu. Alvin mengeluarkan beberapa candaannya yang cukup membuat suasana seru diantara ketiganya.
“Shil, kapan lo bakal nyusul kita buat pacaran?” tanya Alvin.
Shilla menatap kesal kearah Alvin, “santai aja kali. Yang pacaran juga gue, kenapa jadi lo yang ngebet?”
Alvin tertawa puas menggoda Shilla yang memasang wajah cemberut andalannya. Selalu begitu, pikir Sivia. Jika Alvin dan Shilla bertemu tidak ada habisnya mereka akan bertengkar. Biasanya Alvin akan menggoda Shilla seperti tadi menyebabkan gadis cantik itu akan marah padanya.
“jodohin sama Chakka aja, Vin.” Timpal Sivia.
“tanpa lo jodohin, gue juga lagi deket sama dia, Vi.” Shilla masih memasang wajah kesalnya. Sementara Alvin dan Sivia memasang wajah ‘bodoh’ mereka. Ckck, pasangan yang serasi, pikir Shilla.
Tanpa mereka sadari bahwa salah satu dari mereka tertawa miris dalam hati.
-
-
-
Sivia dan Alvin saling bergandeng-tangan. Keduanya memasuki wilayah koridor sekolah dan berjalan beriringan. Keduanya mendapat kelas yang berbeda. Alvin yang berada satu tingkat di bawah Sivia. Tapi untungnya mereka mengambil jurusan yang sama. Jadi mereka tidak perlu susah – susah untuk bertemu karna ruangan mereka yang bisa dibilang cukup dekat itu.
Kedua orang menyapa mereka sambil tersenyum hangat, “berdua aja, ikut nimbrung dong.” Shilla menggandeng tangan laki – laki yang ada disebelahnya.
“ekhem, yang baru jadian ya. Traktiran boleh kali.” Goda Sivia.
“selamat ya Chakka, Shilla. Langgeng selalu bro.” Timpal Alvin. Shilla dan Chakka saling berpandangan kemudian mengucapkan terima kasih.
“lo berdua serasi.” Kata Alvin merangkul bahu Sivia.
“ah lo, muji pas lagi ada maunya. Tenang aja, ntar gue traktir.” Chakka memukul bahu Alvin setelah itu tertawa ringan.
Chakka adalah sahabat kecil Alvin. Mereka sering menghabiskan waktu bersama jika Alvin tidak sedang ada kencan dengan Sivia. Tapi, tidak jarang juga Alvin mengajak Chakka untuk ikut bersamanya dan Sivia.
Keempat remaja itu berjalan kekelas mereka masing – masing. Shilla dengan Sivia sementara Chakka dengan Alvin.
“kapan lo di tembak, Shil?”
“pulang dari caffe dia langsung ngajak gue ketemuan, eh nggak taunya dia nembak gue.” Shilla mengingat kejadian 2 hari yang lalu dimana Chakka menembak dia di taman kecil dekat caffe itu.
Sivia tersenyum, “semoga lo langgeng ya.”
-
‘Lo cinta sama dia?’
‘kalau gue nggak cinta, terus untuk apa gue jadiin dia pacar gue?’
‘tapi... tapi apa masih ada gue dihati lo?’
‘itu masa lalu. Lo udah lihat sendiri, ‘kan? Gue bahagia sama dia. Dan gue nggak bakal lepasin dia’
‘tapi lo sama dia kan–‘
‘gue harap lo ngerti.’
‘tapi gue suka sama lo! Dan gue mau kita kaya dulu lagi.’
‘lo nggak salah? Gue udah bilang, ‘kan. Gue cinta sama dia dan gue nggak bakal lepasin dia! Lagian lo udah sama yang lain, ‘kan?’
-
-
-
Sivia merebahkan tubuhnya dikasur. Raut wajah sedih, kecewa dan kesal tercetak di wajah cantiknya. Alvin dengan seenak jidatnya membatalkan acara kencan mereka. Padahal sudah semalaman penuh Sivia mempersiapkan pakaian untuk kencan mereka.
Gadis itu meraih ponsel yang di letakkannya di meja nakas,
From: My Boo
Sayang, aku minta maaf banget ya. Aku janji deh besok kita habisin waktu berdua seharian. Sekarang aku lagi sibuk ngurusin tugas sekolah aku.
Sivia melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Tidak ada niat sama sekali untuk membalas sms pacarnya itu. Dan wajahnya kembali kesal karna ponselnya bergetar lagi. pasti Alvin, pikirnya.
From: My Boo
Aku udah nyuruh Chakka kerumah kamu. Kamu jalan – jalan sama dia dulu aja, nggak apa – apa,  ‘kan sayang? I’m really sorry L
What the... pergi dengan Chakka? Hey! Dirinya tidak mau mencari resiko dibilang ‘perusak hubungan orang’ apalagi Chakka pacar Shilla, sahabatnya.
“dia gila atau gimana sih?” kesal Sivia.
Dan benar saja, Chakka mengirim sms ke Sivia. Menyuruh gadis itu untuk siap – siap karna ia dalam perjalanan kerumah Sivia. Damn! Sivia semakin kesal sekarang.
Dengan malas Sivia melangkah ke kamar mandi. membersihkan dirinya setelah itu berdandan seadanya. Mau cantik atau tidak toh tidak penting baginya sekarang.
From: Chakka
Gue depan rumah lo, cepet gih keluar
“bilang permisi atau assalamu’alaikum bisa kali.” Decih Sivia.
-
Sivia menyambut Chakka dengan wajah masamnya. Laki – laki itu menggunakan jaket denim biru tua dengan celana jins berwarna senada. Sok kece, pikir Sivia.
Vi, anak orang emang kece kali!
Sementara Sivia mengenakan kaos merah dengan celana jins berwarna sama seperti Chakka.
“manyun mulu, senyum biar cantik.” Tanpa ba-bi-bu Chakka menarik Sivia keluar rumah. Laki – laki itu mengenakan helm putih di kepala Sivia.
“naik!” suruh Chakka.
“biasa aja kali ngomongnya kan bisa.”
Sivia naik ke atas motor hitam milik Chakka. Setelahnya mereka melesat entah kemana, keduanya juga tidak tahu
-
“hahahaa!!” gelak tawa Sivia semakin keras mendengar lelucon yang dilontarkan Chakka tanpa henti. Keduanya sama – sama tertawa. Tidak peduli dengan tatapan orang – orang yang aneh pada mereka.
Saat ini keduanya duduk sambil memegang es krim di sebuah taman bermain. Entah karna sudah tidak ada tempat atau bagaimana, akhirnya mereka memutuskan untuk kesini.
“aduh Ka! Udah udah udah, lo bikin gue sakit perut jadinya.” Sivia memegang perutnya yang sedikit perih karna terlalu lama tertawa.
“muka lo manis kalau ketawa, Vi.”
DEG!
Sivia terdiam. Gadis itu bahkan tidak berani menatap kearah Chakka. Buru – buru di tepis fikiran aneh yang menghampiri otaknya. ‘inget Vi, dia pacar sahabat lo. Jangan terlalu ge-er. Mungkin itu pujian biasa.’
“lo di puji bukannya bilang makasi atau muji gue balik gitu.” Chakka menyentil jidat Sivia membuat sang empunya meringis.
“sialan lo! Sakit tau! Pengen banget di puji balik? Ntar yang ada Alvin marah sama gue.” Ujar Sivia. Di sendokkan es krim coklat itu kedalam mulutnya.
Suasana hening. Mereka diam dengan fikiran mereka masing masing. Sivia menatap Chakka lama. Ada satu hal yang mengganjal di fikirannya. “lo nggak sibuk, Ka?” tanya Sivia.
“kalau gue sibuk, terus ngapain gue nemenin lo?” jawab Chakka. Sivia menautkan kedua alisnya.
“bukannya lo ada tugas? Alvin aja nggak bisa nemenin gue kencan karna kerjain tugas bu Clara lo tau sendiri kan sama guru itu.”
Chakka menautkan kedua alisnya.
“kelas gue free kok. Lagian tumben banget Alvin mau ngerjain tugas kampusnya. Lo tau sendiri, ‘kan? Pacar lo paling males namanya ngerjain tugas kampus.” Jelas Chakka.
Fikiran aneh mulai berkecamuk di fikiran Sivia. Jadi, kalau tidak mengerjakan tugas kampus, terus apa? Kalau sakit, pasti Alvin akan memberitahunya. “gue jadi curiga.”
“hah?”
-
JDAR!
"Apaan tuh?" Tanya Cakka mendengar suara keras yang berasal dari  halaman rumah Sivia. Cakka langsung berlari mencari asal suara tersebut, di ikuti Sivia di belakangnya.
Cakka mengedarkan pandangannya ke segala arah di halaman rumah Sivia, berusaha mencari asal suara tersebut. Namun hasilnya nihil. Cakka melirik ke arah Sivia yang menggigit ujung bibir bawahnya penuh ketakutan. Mata Sivia pun sudah berkaca-kaca membuat Cakka menyeritkan dahinya heran. Apakah Sivia terluka?
"Via awasss" Teriak Cakka menarik Sivia kala melihat sebuah batu besar yang ingin menghantam kepala gadis itu. Sivia menunduk takut, lalu menatap Cakka yang sedang berlari kecil ke arah batu yang hampir mengenai Sivia tadi. Selalu seperti ini batin Sivia.
-
Yaa, Sebenarnya kejadian ini sudah tidak asing lagi bagi Sivia. Bagaimana tidak? Jika setiap hari dia selalu saja menerima hal-hal aneh.
Seperti mendapatkan tikus mati yang di bungkus di depan jendela kamarnya. Di takuti dengan suara-suara bising horor yang selalu mengusik tidurnya Dan masih banyak hal aneh lainnya yang di terima Sivia. tak jarang juga itu menyakiti dirinya sendiri.
Cakka terkejut bukan main saat melihat batu penuh bercak darah yang tadi hampir saja mengenai kepala Sivia. Bagaimana jika batu itu benar-benar akan mengenai Sivia? Hiih membayangkannya saja Cakka sudah merinding. Di alihkannya tatapannya ke arah gadis itu, wajahnya pucat pasi dan Oh yaampun ini pertama kalinya Cakka melihat penampilan Sivia yang acak-acakkan.
Siapa yang melakukan ini? Apakah ini sudah sering di alami Sivia? Itulah pertanyaan-pertannyan aneh yang berkecamuk di otak Cakka.
Cakka berlari kecil menghampiri Sivia, memegang pundak gadis itu yang bergetar.
"Vi, lo kenapa?" Tanya Cakka. Tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan gadis cantik ini.
Sivia menggelengkan kepalanya, tiba-tiba bibir  nya sulit mengeluarkan kata-kata dan tubuhnya bergetar hebat membuat Cakka semakin khawatir.
"Via lo kenapa?" Tanya Cakka ---lagi. Dan lagi hanya gelengan dari kepala Sivia yang di dapatkannya. Cakka yang memahami mungkin Sivia tidak ingin berbicara kemudian membawa gadis ini ke dalam rumahnya, dan membatalkan acaranya mengajak Sivia pergi.
-
Sudah 3 hari ini Sivia terbaring lemah tak berdaya di balik selimutnya. Sejak peristiwa 'batu bercak merah' itu Sivia didera depresi. Terang saja, ia sudah cukup sakit hati dan tidak tahan lagi mendapatkan hal-hal yang jauh dari pikirannya.
Sivia sudah berusaha mencari tau siapa di balik semua ini namun hasilnya tetap nihil.
Memikirkan itu membuat kepala Sivia tiba-tiba terasa seperti ditindih beton. Matanya sesekali terpejam. Dan yang Sivia rasakan dunia berjungkir balik tak karuan seperti bermain sirkus menertawakan sakitnya. Darahnya seperti terpusat pada kepala. Sakit bukan main dan perutnya sudah di obok-obok. Mual tak karuan. Yaampun ada apa dengannya??
"Via kamu ga apapakan?" Alvin berteriak, berusaha keras agar gadisnya yang sedang terbaring lemah tak berdaya bisa mendengar suaranya. Sivia tersenyum, dalam keadaan sakitpun dia sangat gembira karna mendapatkan perhatian 'khusus' dari Alvin.
Bisa tidak untuk saat ini Sivia lebih memilih sakit dari pada sehat? Alasannya simple, karna ia senang jika Alvin sudah perhatian seperti ini.  Memang sedikit Norak. Tapi...
"Nggapapa Vin, tenang aja"
Alvin menempelkan tangannya di dahi Sivia "Kamu panas banget" Serunya cemas. Sivia melihat semuanya begitu putih. Putih tanpa rasa. Tanpa dimensi.
"Kamu ga masuk  Vin?" Tanya Sivia pelan. Alvin menggelengkan kepalanya dan mengelus puncak kepala Sivia.
"Bisa gitu aku sekolah sementara kamu kaya orang sekarat gini?" Tanya Alvin lembut, dan itu semakin membuat poin Sivia untuk selalu ingin sakit bertambah.
Sivia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, ditambah lagi seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dirinya.
Tapi bagaimanapun itu dia tidak boleh egois. Dia tidak boleh membuat Alvin sangat mengkhawatirkan dirinya sampai tidak mengikuti pelajaran seperti biasanya.

"Makasih yaa" Ucap Sivia tersenyum pada Alvin. Alvin membalasnya. Ada getar hati yang membuat jalinan mereka semakin dekat, semakin aneh dan semakin susah di diskripsikan.
"Masih sakit? Sekarang kamu minum obatnya aja dulu. Abis itu istirahat. Biar cepet sembuh" Khotbah Alvin seperti ibu-ibu. Sivia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Istirahat mulu. Capek tau" Ketusnya membuat Alvin terkekeh geli. Alvin menarik hidung Sivia gemas membuatnya mau tidak mau mendapatkan pelototan dari sang gadis.
"Udah sih sipit mah sipit aja" Ledek Alvin
"Dih berasa belo gtu?" Ucap Sivia menantang. Pasalnya Alvin tidak tahu diri banget. Dia juga sipit tapi ngatain orang sipit. Dasar!
"Biarin. Aku sipit tapi tajam. Ga kaya kamu sipit tapi buta" Ledeknya lagi. Sivia menyeritkan dahinya, heran dan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Alvin barusan.
"Maksudnya Vin?" Tanya Sivia. Alvin menggeleng cepat.
-
3 hari berlalu kini keadaan Sivia makin membaik ditambah lagi penyemangatnya sang pujaan hati Alvin. Namun akhir-akhir ini Alvin sangat sulit untuk dihubungi Sivia mencoba mengerti mungkin Alvin sedang sibuk. Terroran yang sering menimpa Sivia akhir – akhir ini sudah jarang sekali. Syukurlah Sivia dapat bernafas lega
Tiin-
Suara klakson dari luar rumah Sivia.
 Segera Sivia beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu. Dari balik pintu terlihat laki-laki tampan berpostur tinggi tersenyum manis kearahnya Sivia membalasnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah ayunya
Dia Cakka sahabat Alvin sekaligus orang yang suka menemani Sivia jika Alvin sedang tidak dapat diganggu. Cakka hadir karena suruhan Alvin untuk menemaninya.
“Sore Vi” Sapa Cakka. Cakka terlihat tampan dengan jaket merah dan celana panjang yang membalut tubuhnya.
“Sore Cak. Tunggu sebentar ya gue mau ngambil tas dulu”balas Sivia. Cakka hanya mengacungkan jempol
“Vi kalau naek motor ga papa kan. Soalnya gue lagi males pake mobil”Tanya cakka.
“ya gapapa kali. Lo piker gue cewek apa pake motor aja ga mau”balas sivia dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir manisnya. Cakka tertawa sambil mengacak rambut Sivia gemas
Sivia yang mendapat perlakuan seperti itu hanya memanyunkan bibirnya tapi lama kelamaan Sivia menunduk dia teringat dengan Alvin sang kekasih yang selalu memperlakukannya seperti itu namun mengingat kesibukan Alvin. Huh… segera saja Sivia mencegah pikiran negative yang memasuki pikirannya. Dia harus berpikiran positif
Melihat itu Cakka menjadi heran. Cakka melambaikan tanggannya di depan muka Sivia.
“Vi lo kenapa?” Tanya Cakka
“hah.. enggak yaudah yuk kita jalan ntar keburu sore”Ucap Sivia sambil menaiki motor Cakka
“yaudah sok atuh neng. Makan dulu aja yuk laper nih gue belum sempet makan siang hehe”Cengir Cakka mengusap perutnya.
Sivia terkekeh geli melihatnya. “dasar lo ntar kalo lo gak makan kan sakit kasian tau Shillanya” Balas Sivia. Mengingat Shilla, Sivia berpikiran sesuatu
“Eh Cak emang Shilla gak marah lo jalan sama gue gini?”Tanya Sivia. Cakka melihat Sivia melalui kaca spion. “ya gak lah vi dia mah ngerti gue kok” Balas Cakka
-
-
“Vin, aku masih sayang sama kamu”tangis seseorang.
“Tapi shil aku harus gimana? Aku gak mungkin ninggalin Sivia gitu aja”Balas Alvin. Shilla yang tertunduk tadi langsung menatap Alvin dengan tatapan sendu. Alvin memegang tangan Shilla lembut
“Shilla. Sebenernya aku juga masih sayang sama kamu. Tapi gimana? Aku gak mungkin nentang mama shil”Ucap Alvin lembut. Shilla hanya menangis dan tak mampu memendung air mata yang sejak tadi bersarang dimatanya
“Kamu tau aku udah ngejalanin berbagai cara biar aku bisa sama kamu lagi vin. Aku nerror Sivia biar dia mau ngejauhin kamu. Aku gak bisa lepas dari kamu vin” Ucap Shilla. Mendengar itu Alvin jelas sangat kaget dan syok sama apa yang udah dilakukan Shilla terhadap Sivia.
Tangan Alvin terulur dan segera memeluk Shilla. Mereka berdua ditonton banyak orang dengan apa yang mereka lakukan. Jelas mereka heran karena mereka berpelukan dan ceweknya menangis disebuah café mungkin mereka berpikir mereka sedang dilanda masalah. Jelas masalah besar
“Maafin aku shill.oke detik ini aku bakal selalu ada buat kamu dan aku akan berjuang mertahanin kamu dan kita minta restu dari mama aku”Ucap Alvin. Mendengar itu Shilla menangis bahagia karena perjuangannya tidak sia-sia. Kita lihat saja nanti
-
-
Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulit Sivia. Berkali-kali ia membasuh keringat yang berada di keningnya lalu menuruni pipinya, hari itu begitu panas, hanya sesekali angin mendesah perlahan. Sesekali di teguknya air mineral yang sejak tadi ia genggam. Perasaannya tidak enak, ada firasat buruk yang merasuk masuk di dadanya.
Sivia menghela napas sebentar untuk menetralisikan otaknya yang entah memusingkan apa. Ia berjalan santai memasuki cafe yang biasa ia kunjungi.
Tiga sentuhan kecil yang berarti besar. Sandaran bahu yang romantis, pelukan yang manis, dan kecupan yang penuh magis.
Sivia ternganga melihat itu semua. Ada rasa sakit yang pelan-pelan tergores di dadanya. Semakin dalam, semakin panjang, semakin perih. Tak mampu untuk di jelaskan, kecemasan yang sama dan selalu berulang. Berkali-kali Sivia menatap dua orang yang ada di depannya. Saling menggenggam tangan,menatap, berpelukan.
Ia menatap 2 orang itu lagi. Berharap menemukan jawaban dari hatinya yang mulai membuncah dan menggema dengan liarnya. Dan sampai menit demi menit berlalu pun, jawaban masih belum ia dapatkan. Ia hanya mampu menerka-nerka.
Dan dalam terkaannya. Shilla menyukai Alvin. Kekasihnya sekaligus cinta pertamanya.
sejahat itukah Shilla?
Siapa yang harus disalahkan?
Sivia tidak sedang berhalusinasi. Mungkin dia memang suka berhalusinasi, tapi tidak pernah sama sekali ia menghalusinasikan keadaan ini. Sivia terisak oleh banyak pertanyaan yang tak terjawab. Wajah Shilla dan Alvin bergantian bergulat dalam otaknya juga hatinya. Lelah. Banyak teka-teki yang rasa-rasanya sulit untuk dipecahkan. Sivia merasa terbodohi. Melihat peristiwa ini, Sivia menciut, mematung, membisu. Tubuhnya seperti mengecil. Ia seperti berhenti bernapas untuk beberapa detik. Tak percaya pada peristiwa yang benar-benar menyayat hati ini. Inilah jawaban atas kecemasannya, kebingungannya, segalanya.
Maka dengan tubuh yang bergetar ia keluar dari tempat yang mungkin akan menjadi tempat terkutuk di hidupnya. Pergi dengan kepingan hati yang telah hancur karna 2 orang yang berarti dihidupnya.
 “Loh Vi lo kok masih disini kan udah gue suruh masuk tadi”Heran Cakka. Memang tadi Cakka menyuruh Sivia untuk duluan masuk ke Café karna dirinya sedang memarkirkan motornya.
Yang ditanya malah lari dengan air mata yang membanjiri pipinya. Cakka yang kaget karna Sivia berlari begitu saja karna penasaran Cakka masuk ke Café dan melihat apa yang dilihat Sivia
. “astaga vin lo masih aja ngarep sama dia jelas-jelas disini ada wanita yang udah setia sama lo”pikir Cakka
Sivia berjalan menulusuri trotoar dia menangis histeris. Dia menjambak rambutnya sendiri dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
-
-
Besoknya Sivia berangkat sekolah menggunakan mobilnya yang biasanya ia dijemput Alvin. Tapi kali ini dia menolaknya. Sivia masih sakit dengan apa yang dilihatnya kemarin matanya sembab itu menandakan bahwa dia menangis semalaman. Tadi malam pun Sivia tidak dapat menutup matanya. Namun syukur ada Cakka yang bersedia mendengar curhatan dan menghiburnya meskipun melalui telepon.
Sivia berpikir bahwa Cakka pasti merasakan hal yang sama dengannya. Pagi ini Sivia ingin mendapatkan kejelasan dari apa yang dilihatnya kemarin.
Terlihat diujung koridor terlihat wanita cantik berjalan menghampiri Sivia. Dia shilla entah Shilla masih dianggap sahabat atau tidak oleh Sivia.
“Hai Vi. Lo kenapa mata lo kenapa sembab gitu” Tanya Shilla sambil memegang pipi Sivia.
Sivia menatap benci Shilla terang saja langsung ditepisnya tangan Shilla yang berada dipipinya. Shilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatap aneh Sivia. “Loh Vi, lo kenapa sih?”Tanya Shilla

“LO GAK USAH SOK MUNA”tunjuk Sivia tepat di depan wajah Shilla. Shilla kaget ditepisnya halus tangan sivia.
“Lo mau ngerebut Alvin dari gue? HAH?”marah Sivia
“ma.. maksud lo apa? Gue gak ngerti deh”Balas Shilla.
“Alah gak usah sok suci lo. Lo kemaren ngapain berdua sama Alvin di Café hah?”Tanya Sivia. Dia menatap Shilla penuh kebencian ditambah dengan sakit yang bersarang di dadanya. Shilla mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan Sivia. Ternyata kemarin Sivia melihat itu semua. Shilla mengeluarkan senyum evilnya
“Oh jadi lo liat semuanya? Yang harusnya jadi perebut itu lo”tunjuk balik Shilla. Syukur saat mereka berantem ini keadaan koridor sekolah sedang sepi karna memang tempat ini sangat jarang dilalui oleh siswa/siswi tempat inilah yang selalu dikunjungi dua sahabatnya ini karena tempat ini langsung menghadap taman yang membuat Suasana sejuk. Ralat mungkin sekarang panas karna dua mantan sahabat ini maybe.
”Ke.. kenapa gue?”Balas Sivia.
“Iya elo. Sebelum Alvin sama lo dia pernah punya hubungan sama gue tapi karna mama lo minta ke mamanya Alvin buat jodohin lo sama Alvin. Hubungan kita jadi selesai”Balas Shilla getir.
“Tapi kan gue gak tau apa-apa. Kenapa kalian ngelibatin gue hah?”Balas Sivia ikut bergetar. Terlihat dari dua orang wanita ini sama-sama memiliki luka yang tergores.
“Ohya. Jangan lo pikir gue sahabatan sama lo karna gue mau. Ya emang awalnya gue mau lupain dendam gue ini dan mulai suka sama Cakka. Tapi apa?Cakka sukanya sama lo vi,kenapa sih semua orang selalu berpihak sama lo hah?gue sakit”Ucap Shilla keras. Sivia menutup telinganya kencang sambil menangis histeris dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
“Kalo lo gak percaya lo bisa Tanya sama Alvin. Kalo sekarang kita sama-sama mencintai yaudah lo say good bye aja sama hubungan basi lo itu”Ucap Shilla berlalu pergi meninggalkan Sivia yang menangis terjatuh di lantai.
-
-
Siang ini Sivia menyuruh Alvin untuk datang kerumahnya Sivia juga perlu penjelasan dari Alvin.
“Jadi kamu udah denger semua dari Shilla? Iya emang aku dan dia saling mencintai. Soal hubungan kita dan semua rasa sayang aku ke kamu itu Cuma pengen ngebahagiain mama aku aja”
Kata-kata itu terus tergiang dalam pikiran Sivia dia tidak menyangka dengan apa yang ia alami ternyata kata-kata manis dan kejutan kecil untuknya itu hanya palsu pemberian Alvin.
ARRGH!
Sivia melempar semua barang yang ada didepannya. Sudah seminggu sejak kejadian itu Sivia tidak pernah masuk sekolah. Tentang Cakka dan Shilla ternyata itu hanya bagian rencana Shilla untuk membuat Alvin cemburu. Sivia marah tentang pengakuan Cakka untuknya tentang hal itu. Namun berangsur-angsur ia mulai memaafkannya
Untuk Shilla dan Alvin Sivia belum berpikir untuk memaafkan mereka meski mereka belum meminta maaf. Hari-hari Sivia mulai diisi oleh Cakka namun hal itu tidak menghapus tentang Alvin dalam benak dan pikirannya.
-
-
“Sayang aa dong”Ucap Shilla. Saat ini Shilla dan Alvin sedang berada di sebuah Café untuk makan siang.
“Udah Sivia sayang aku kenyang”Ucap Alvin yang sedang memainkan handphonenya. Shilla kaget ia menggigit bibir bawahnya apa ia tidak salah dengar Alvin menyebut nama SIVIA bukan namanya. Shilla takut kalau rasa cinta Alvin sudah berubah bukan lagi untuknya.
“apa vin Sivia?”Tanya Shilla lirih. Alvin menoleh kearah Shilla. “Hah? Maksud aku Shilla sayang”Balas Alvin ia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
“Sayang aku mau ke seberang jalan dulu ya. Aku mau beliin sesuatu buat kamu”Ucap Alvin. Shilla hanya tersenyum tipis lalu mengangguki ucapan Alvin
BRAKS!
“Alviiinn…”
-
-
Dua orang itu Cakka dan Sivia berlari kearah ruang rawat seseorang. Sivia mendengus kesal disaat seperti ini dia harus menggunakan sepatu berhak pendek tapi sama saja menyulitkannya berjalan sampai akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat.
 “gimana keadaan Alvin shil?”Sivia. Shilla menangis dan segera memeluk Sivia. Sivia kaget jujur saja dia masih belum memaafkan Shilla dengan apa yang ia lakukan padanya. Namun dalam keadaan begini ia mencoba melupakannya.
Shilla menyuruh Sivia untuk masuk kedalam melihat keadaan Alvin. Awalnya Sivia ragu namun Sivia mulai mebuka knop pintu dan menutupnya kembali. Di dalam Sivia heran mengapa tidak ada seseorang pun disana. Sivia merasa kalau dia sedang dibohongi
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sivia kenal dengan wangi orang ini dan Sivia yakin sekali. Orang itu menyembunyikan wajahnya di sela-sela rambut Sivia. Sivia mulai membalikan badannya
Ia kaget dan sontak memeluk orang itu yang ternyata Alvin. Sivia menangis sekaligus lega dengan keadaan Alvin namun ada perban kecil yang menghiasi kepalanya.
“Aku seneng kamu ga papa. Kalau boleh aku bakal menjadi orang yang egois. Aku bakalan merjuangin cinta aku sama kamu meskipun aku harus dibilang orang jahat sekalipun”Sivia. Alvin tersenyum mendengar kata-kata Sivia.Alvin melepas pelukannya dan menatap Sivia.
“Kamu ga boleh jadi orang jahat karna kamu adalah malaikatku. Aku milikmu dan kamu milikku”Sivia tersenyum tapi Sivia masih tidak yakin. Alvin yang mengerti mulai menjelaskan
“Aku tau pasti kamu mau nanya kenapa sama shilla kan?. Emang bener aku sama dia pernah punya hubungan tapi mama aku nentang itu semua karna asal-usul keluarga Shilla yang gak jelas. Kakaknya buroanan dan papanya gak tau dimana. Orang tuanya bercerai”Jelas Alvin
Sivia tersentak kaget. Apakah benar itu semua? Sivia merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Shilla saat ini. “Tadi juga Shilla udah ditangkep sama polisi ternyata dia juga terlibat kasus pembunuhan yang dilakukan kakaknya. Sebenernya aku udah lama tau tapi bodohnya aku menutupinya”Lanjut Alvin.
“Apapun yang terjadi sekarang kita jadiin pelajaran. Intinya aku gak mau kehilangan kamu vin”Ucap Sivia memeluk Alvin. Diam-diam Alvin memasang Kalung yang dia beli di leher manis Sivia. Sivia kaget sekaligus tersenyum bahagia.
“Thanks Sob berkat lo gue tau pilihan gue yang tepat. Lo emang sahabat terbaik gue”Alvin menepuk bahu Cakka. Cakka menggangguk dan mengacungkan jempol memang Cakka dan Alvin sempat bertemu dan Cakka memaksa Alvin untuk memilih dua diantara wanita yang benar-benar dicintainya hingga Alvin menemukannya cintanya yang asli
“Pilih cinta sesuai kata hati lo bukan karna ego lo. Cari tau siapakah dia?”-Cakka
Happy Anniversary Alvia


[END]

Sabtu, 22 Februari 2014

Sorry, and Happy Birthday!




Title : Sorry, and Happy Birthday!
Author : Tatang Heriana
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
Twitter : @taherians



 
before...
Happy Birthday My Beloved Idol, Sivia Azizah.
Doanya sama seperti yang lain hehe. sukses terus!!!
#SA17

INI KADO BUAT ULTAH SIVIA DARI GUE :D

check it out!

Sudah hampir dua jam sang hujan turun dengan kompaknya mengguyur bumi. Cukup deras. Namun tetap saja warna langit di atas sana belum juga berniat untuk merubah warnanya menjadi lebih terang. Malahan sekarang warnanya semakin menghitam. Pekat. Memberi tanda kalau hujan akan lebih lama lagi turun ke bumi. Lantas cuaca yang cukup ekstrim tersebut membuat segala aktivitas yang seharusnya terjadi di sore itu terhenti seketika. Tak perduli sepenting apapun aktivitasnya, yang jelas hujan deras di sore hari pada akhir pekan ini sudah berhasil mengurung niat para manusia untuk melakukan kegiatan.

Di dalam sebuah ruangan, seorang gadis remaja duduk di samping sebuah ranjang yang berada di dekat jendela. Kepalanya menunduk dengan kondisi kedua tangan memegang erat kelima jemari milik seorang anak laki-laki yang sedang tidur terlentang tak jauh di depannya dengan hidung yang tertutup oleh alat bantu napas serta selang infus yang juga menempel di tangan kanan laki-laki tersebut. Entah apa yang sedang dilakukan gadis remaja itu, yang pasti semenjak hujan belum turun pun ia sudah melakukan aktivitas yang sama sebelumnya.

Dan perlahan, ia mengangkat pelan kepalanya. Lalu menatap iba wajah pucat seseorang yang tubuhnya terbujur lemah itu.
"Sayang, harus berapa lama lagi aku menunggu kamu membuka mata?" ucapnya lirih dengan suara yang sedikit serak.
"Aku lelah, aku udah gak kuat lagi seperti ini. Karena tanpa kamu, aku bukanlah orang yang kuat. Sayang, aku mohon, buka mata kamu untuk aku." gadis itu kembali menunduk setelah dirasa laki-laki itu belum juga menuruti kemauannya untuk membuka mata. Atau lebih tepatnya bangun dan sadar dari koma yang menjerat tubuhnya selama seminggu ini.
"Aku gak bisa maafin diri aku sendiri kalau sampai ada sesuatu buruk terjadi sama kamu. Aku bener-bener gak bisa maafin!" lalu ia menangis. Bayang-bayang terakhir saat ia bersama laki-laki yang begitu disayanginya tersebut muncul tiba-tiba di benaknya.
"Kamu bodoh, Sivia! Kamu bodoh!!!" rutuknya kemudian sambil mengacak rambut hitamnya berkali-kali.
"Kalau aja waktu itu aku gak maksa kamu buat duel main basket, mungkin kejadiannya gak akan seperti ini. Maafin aku ya, sayang? Maafin aku. Kamu bangun dong, sayang! Apa kamu gak kangen aku? Atau kamu sengaja gak bangun-bangun karena kamu gak suka sama sikap aku yang egois dan childish selama ini? Sayang, jawab dong!" gadis yang mengaku bernama Sivia itu semakin menggenggam erat jemari laki-laki yang sudah lima hari ini tidak bisa mewarnai kehidupannya lagi. Di mana lima hari yang lalu, saat dirinya masih bisa menghabiskan waktu bersama dengan sang kekasih di lapangan basket sekolah, peristiwa yang tak pernah di duga Sivia sebelumnya itu terjadi begitu saja. Dan bahkan sampai sekarang pun, Sivia masih bisa dengan jelasnya mengingat peristiwa tersebut secara rinci.

Saat itu, sepulang latihan cheers, Sivia menghampiri kekasihnya yang sedang duduk sendiri sambil memandangi beberapa temannya berlatih basket di tengah lapangan. Dan dengan pom-pom warna-warni yang dibawanya itu ia gunakan untuk menutup mata laki-laki tersebut dari belakang.
"Aku udah gak mempan lagi dikerjain seperti ini." Sivia menghela napas kemudian. Niat awalnya untuk mengerjai sang kekasih pun gagal total. Lantas ia langsung duduk di samping kekasihnya itu sambil memasang wajah manjanya. Laki-laki itu bernama Alvin. Arkenzie Alvino tepatnya.
"Hmm... kamu siapa ya?" tanya Alvin cukup sinkron dengan ekspresi mukanya yang seakan belum pernah sama sekali melihat Sivia sebelumnya. Sontak membuat gadis yang duduk di dekatnya itu mengernyitkan dahi.
"Ih, apaan sih?! Aku Sivia, pacar kamu!" kemudian Alvin menyipitkan mata sambil meneliti setiap titik pori-pori wajah Sivia.
"Sivia? Pacar aku yang nyebelin itu? Tapi kok beda ya? Perasaan pacar aku itu cantik, kok ini jelek sih?" ledeknya kemudian dengan disertai sebuah tawa kecil. Sivia lantas menggeram mendengarnya, kedua pom-pom yang sejak tadi ia pegang pun dilempar ke arah dada Alvin perlahan. Sebagai balasan atas ledekan Alvin tersebut.
"Nyebelin banget sih jadi orang?!"
"Hehehe. Bodo! Toh lagian suruh siapa tuh muka pakai acara ditekuk segala? Makin jelek aja." dan lagi-lagi Alvin meledek. Namun kali ini hidung Sivia yang menjadi sasaran empuknya.
"Sakit, jeleeeeeekkkkkk!!!" rengek Sivia sambil mencoba melepaskan paksa tangan Alvin dari hidungnya.
"Kamu ini yang sakit, bukan aku."
"Tau ah!"
"Ih, ngambek nih? Aku pergi ah! Mau cari pacar baru." kata Alvin asal. Ternyata meledek Sivia itu sudah menjadi hobi barunya kali ini.
"Ya udah sana cari pacar baru!" timpal Sivia cukup sinis.
"Serius? Gak bakal nyesel?" sedetik, setelah dua pertanyaan dari mulut Alvin tersebut terucap, Sivia langsung sigap mengaitkan tangannya ke tangan Alvin. Berusaha untuk mencegah Alvin bangkit dari duduknya.
"Enak aja mau cari pacar baru! Dapetin pacar kaya kamu itu susah tau?! Masa iya mau dilepasin gitu aja?" ucapnya kemudian. Kontan Alvin langsung tersenyum mendengarnya. Dan entah kenapa rasa bahagia muncul tiba-tiba saat perkataan dari Sivia tadi berhasil mengusik gendang telinganya. Lalu Alvin mengacak pelan poni kekasihnya tanpa berkomentar lagi.

Mereka pun menghening seketika. Gerombolan anak-anak basket yang sedang berebut bola pun menjadi pusat pandangan mereka saat ini.
"Oh iya, kok kamu gak ikut latihan sih?" tanya Sivia yang baru sadar akan sosok Alvin yang seharusnya berada di antara mereka. Sedangkan sekarang Alvin malah asyik duduk-duduk santai di sampingnya.
"Sayang?"
"Iya?"
"Kamu kok gak ikut latihan sama mereka? Kenapa?" sekali lagi Sivia bertanya. Kali ini ia alihkan tatapan matanya ke arah Alvin.
"Oh, gak apa-apa kok, sayang. Aku lagi gak enak badan aja." jawab Alvin kemudian.
"Oh ya? Kamu sakit? Kok tumben sih sakit? Belum makan? Atau semalem abis begadang?" Alvin terkekeh dibuatnya. Pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan Sivia tersebut cukup membuktikan kalau dirinya benar-benar diperhatikan oleh gadis cantik berambut panjang tersebut.
"Mungkin cuma kecapekan doang. Kamu tenang aja ya, gak usah khawatir. Karena seburuk apapun kesehatan sang pangeran, ia akan tetap kuat selama ada permaisuri di sampingnya." ungkap Alvin tulus. Dan itu berhasil membuat Sivia tersenyum dengan tatapan kagum kepadanya.
"Kamu itu bisa aja sih, sayang? Hmm... ya udah kalau gitu, kita main basket berdua yuk? Mumpung mereka pada istirahat." ajak Sivia ketika melihat lapangan yang mulai kosong. Namun tanpa berpikir panjang lagi, Alvin cepat-cepat menggeleng. Mencoba menolak permintaan kekasihnya tersebut.
"Enggak ah, sayang. Aku lagi gak enak badan nih, males gerak."
"Kan cuma main basket sama aku doang? Ya, itung-itung olahraga biar sehat lah. Ayo dong, sayang! Mau ya? Aku pengen banget lho main basket sama kamu, apalagi sampai diajarin. Kan romantis?" Sivia tetap kekeh merayu Alvin walaupun sudah jelas-jelas tadi Alvin menolak.
"Enggak bisa, sayang. Aku..." dan belum juga Alvin selesai bicara, Sivia langsung melepaskan genggaman tangannya dan kembali duduk sambil membelakangi kekasihnya.
"Kamu gitu deh sama aku." seketika Alvin membuang napas gusar. Kalau Sivia sudah bersikap seperti itu, rasanya Alvin tak bisa lagi berbuat banyak. Lantas mau tak mau ia harus menuruti permintaan gadis tercintanya itu.
"Ya udah deh ya udah, aku mau kok. Kamu jangan ngambek ya? Ayo!" ucap Alvin seraya meraih lengan Sivia lembut.
"Nah, gitu dong! Kamu kan pacar aku yang paling baik, paling ganteng, paling sempurna, paling..."
"Paling suka bohong kalau ada maunya." sambung Alvin asal. Lalu mereka tertawa sambil berjalan menuju sebuah bola yang tergeletak begitu saja di bawah tiang ring basket.

Dan tak lama setelah mendapatkan bola tersebut, Sivia langsung berlari menjauh dari Alvin seraya mendribble bola. Meskipun belum terlalu pandai bermain basket, ia tetap menantang Alvin untuk melawannya.
"Ayo maju, sayang! Buktikan kalau kamu adalah kapten tim basket." suruh Sivia sedikit sombong. Sedangkan Alvin hanya bisa tertawa kecil saja melihat tingkah kekasihnya yang cukup dibilang menggemaskan.
"Oke, siapa takut!" lalu ia melangkah mendekat. Mencoba ingin tau sepintar apa kekasihnya menguasai bola basket.
"Ah, segitu doang? Payah!" lagi-lagi Sivia meledek saat Alvin tak berhasil merebut bola dari tangan Sivia. Padahal itu adalah sebuah taktik dari Alvin, mencoba mengalah terlebih dahulu.
"Kamu bisa juga ya main basket? Aku kira bisanya cuma nari-nari aja di pinggir lapangan." kata Alvin walaupun sedang dalam posisi kuda-kuda untuk melawan rivalnya yang berdiri dua langkah di depan.
"Iya dong! Masa iya pacar aku aja yang bisa main basket? Aku juga harus bisa lah." nada percaya diri dari mulut Sivia keluar bersamaan dengan cepatnya ia menerobos tubuh Alvin tanpa Alvin duga. Sontak Alvin langsung menggeleng salut.
"Itu namanya gaya cinta. Hahaha." lanjut Sivia meledek lagi. Dan dirasa sudah cukup untuk Alvin mengalah, kini saatnya Alvin mengeluarkan jurusnya dalam bermain basket.

Sejenak, Alvin melirik sambil tersenyum terlebih dahulu ke arah Sivia sebelum akhirnya ia berlari mengejar bola yang masih memantul di tangan kekasihnya itu. Dan... hup! Tak kurang dari lima detik, bola itu sudah berpindah dari tangan Sivia ke tangan Alvin.
"Ah, ini terlalu mudah." kali ini giliran Alvin yang meledek Sivia. Dan kemudian bola itu ia putarkan di salah satu jarinya. Lalu tersenyum.
"Ih, kok bolanya bisa cepet di tangan kamu sih?"
"Bisa dong! Ini namanya gaya aku cinta kamu. Hahaha." seperti boomerang, semua ledekan yang Sivia ucapkan tadi kepada Alvin, kini balik menyerang dirinya.
"Oke, baru pemanasan." ujar Sivia yakin. Meskipun ia memakai rok cheers yang benar-benar mini, namun Sivia tetap lihai berlari.
"Aih! Gak kena!" kata Alvin sambil memutar tubuhnya saat Sivia hendak merebut bola yang masih berputar di jarinya. Sivia kemudian memutar mata, ternyata gelar kapten basket itu memang pantas diraih seorang Alvin.
"Kayanya tadi ada yang sombong deh, tapi kok sekarang diem ya?" tanya Alvin cukup menyindir. Membuat Sivia geram dan kemudian langsung memeluk Alvin dari belakang dan menggelitiki tubuhnya.
"Hahaha. Geli sayang, geli. Hahaha. Lepasin! Hahaha. Udah dong, udah! Hahaha. Siviiiiaaaaaa!!!" dan bola di jari Alvin pun jatuh seketika. Lantas dengan sigapnya Sivia mengambil bola itu dan berlari menjauhi laki-laki yang kini menggeleng heran.
"Aih! Kamu curang!" teriak Alvin. Sedangkan Sivia hanya menjulurkan lidah sebagai balasan.
"Ish! Udah mulai ngeselin ya sekarang?" lanjutnya pelan. Karena entah kenapa kepalanya mulai terasa pusing serta pandangannya pun sedikit demi sedikit memburam.
"Ayo sini maju! Masa mau nyerah sih? Ah, payah!" tantang Sivia lagi-lagi. Alvin tak langsung merespon. Kini giliran lututnya yang terasa lemas. Dan walaupun ia sudah berusaha untuk menahan, rasa sakit di kepala serta rasa lemas di lututnya semakin memberontak. Lantas Alvin menekuk tubuhnya, mencoba menopang tubuhnya sebisa mungkin dengan posisi kedua tangan menyentuh kedua pahanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sivia mulai curiga dengan tingkah Alvin itu.
"Aku gak apa-apa kok, say..." bruk! Tubuh Alvin pun tumbang seketika.
"Sayang?!" teriak Sivia yang langsung saja membuang bola tak tentu arah dan kemudian berlari mendekati Alvin yang sudah tergeletak di tengah lapang.
"Sayang, kamu kenapa? Bangun dong, sayang! Kamu jangan becanda! Sayang, bangun! Gak lucu tau?! Tolooooonnnggg!!!" Sivia sontak berteriak keras. Alvin ternyata tidak sedang bercanda jika dilihat dari wajahnya yang sangat pucat.
"Toloooooonnnggg!!!" sekali lagi Sivia berteriak meminta tolong. Sampai teman-teman basket Alvin yang mendengar teriakan Sivia pun langsung berlarian ke sumber suara.
"Alvin?! Alvin kenapa, Vi?" tanya salah seorang di antara mereka yang datang.
"Aku gak tau, Alvin pingsan gitu aja pas lagi main basket sama aku." lirih Sivia cukup sendu. Genangan air di sudut matanya pun mulai tampak.
"Ayo bantu angkat Alvin! Kita bawa dia ke UKS." setelah mendapat komando kecil, tubuh Alvin kini diangkat oleh keempat teman basketnya menuju UKS. Tak lupa juga Sivia yang ikut serta memegangi kepala Alvin yang cukup membikin dada sesak jika melihat wajah pucatnya terus-terusan. Lantas ia menarik napas sejenak sebelum mengusap kening Alvin yang berkeringat dingin.
"Kamu yang kuat ya, sayang?" gumamnya pelan.

Klik! Bayangan yang sangat menyedihkan itu bagaikan film yang terhenti begitu saja di pikiran Sivia saat sebuah sentuhan lembut di pundaknya dapat ia rasakan. Sentuhan dari seorang wanita paruh baya yang kini tersenyum ke arah Sivia yang baru saja membuka mata.
"Via, pasti kamu belum makan kan dari tadi siang? Makan dulu gih, sayang? Tante udah beliin makanan tuh di meja. Biar Tante aja yang gantiin Via buat jagain Alvin." ujar wanita itu sangat manis. Karena beliau mulai merasa tidak tega saat melihat gadis yang telah dianggap sebagai bagian dari keluarganya itu sudah tidak lagi memikirkan kesehatannya semenjak Alvin terkena musibah tersebut.
"Via mau di sini aja, Tante. Mau jagain Alvin terus. Toh Via juga masih kenyang kok, Tante. Soalnya sebelum Via ke sini, Via makan dulu di kantin sekolah." tolak Sivia dengan memberi alasan yang cukup logis.
"Tapi itu kan di sekolah sayang, bukan di sini. Ya udah kalau gitu Tante ambilin aja ya makanannya? Biar kamu bisa makan di sini kalau emang gak mau jauh-jauh dari Alvin." ucap wanita itu lagi yang tak lain adalah orang tua Alvin. Yang Sivia panggil dengan sebutan Tante Sonia.
"Gak usah, Tante." sambung Sivia dengan memegang tangan Tante Sonia yang hendak melangkah pergi. Beliau menghela napas kemudian. Mulai sedikit memahami dengan sikap Sivia yang seperti itu.
"Hmm... Via, Tante tau kok gimana perasaan kamu akhir-akhir ini. Kamu sedih kan melihat keadaan Alvin seperti itu? Kamu menyesal, dan bahkan mungkin kamu marah karena merasa kamulah penyebab dari musibah ini. Tapi menurut Tante ini semua udah jalan Tuhan, gak perlu disesali. Apalagi sampai kamu menyiksa diri seperti ini. Nanti kalau kamu sampai sakit, gimana? Siapa yang mau jagain Alvin?" Sivia terdiam mendengarnya. Semua kata-kata Tante Sonia memang benar. Lantas ia tersenyum kecil.
"Tante bener. Kalau Via sampai sakit, nanti Via gak bisa jagain Alvin lagi kan, Tante?" ucap Sivia lirih. Sedangkan saat mendengar itu, Tante Sonia hanya bisa tersenyum sambil mengelus pelan rambut Sivia dengan penuh kasih. Beliau merasa sangat bangga karena ada salah seorang gadis cantik yang begitu menyayangi Alvin melebihi dirinya sendiri selaku orang tuanya.

Lantas Sivia bangkit dari duduknya dan menatap sejenak wajah wanita paruh baya yang selalu tersenyum tulus itu.
"Makasih ya, Tante?" ucapnya tiba-tiba. Tante Sonia tak lantas merespon, beliau hanya mengedipkan matanya lembut sambil kemudian mengangguk.
"Jagain Alvin terus ya, Tante? Via mau makan dulu." lagi-lagi Tante Sonia mengangguk saat gadis cantik itu kembali berkata.
"Maafin Tante ya, Via? Tante terpaksa lakuin ini." dan saat Sivia mulai berjalan keluar, Tante Sonia bergumam sambil terus menatap punggung Sivia yang semakin jauh.

***


Sivia berhenti dari langkahnya, "Ih, lucu! Aku mau dibeliin boneka itu dong, sayang?" pintanya kemudian saat ia melihat sebuah boneka panda super besar berwarna merah muda yang terpajang di salah satu toko boneka yang dilewatinya bersama Alvin.
"Lho? Gimana sih? Tadi katanya minta dibeliin ice cream, kok sekarang jadi boneka? Yang bener yang mana?" tanya Alvin heran. Karena memang baru saja satu menit yang lalu Sivia memaksa Alvin untuk membeli ice cream kesukaannya, tapi sekarang malah sudah berubah permintaannya.
"Ngg... kalau dua-duanya boleh enggak, sayang?" jawab Sivia setelah berpikir cukup lama. Sorot mata mengiba pun tak lupa Sivia tunjukkan di hadapan Alvin. Mungkin hanya hal itulah yang mampu ia lakukan untuk meluluhkan hati seorang Alvin.
"Kamu ini paling bisa ya bikin aku pantang menolak?" tak lama Sivia pun tersenyum saat sebuah cubitan manja mendarat di pipi kanannya. Karena kalau Alvin sudah bilang seperti itu, berarti Alvin mau mengabulkan apa yang tadi Sivia pinta.
"Makasih ya, sayang? Kamu baik deh!"
"Kalau ada maunya aja bilang aku baik, dasar jelek!" tukas Alvin dengan nada bercanda. Sedangkan Sivia langsung mengaitkan tangannya kembali ke tangan Alvin tanpa berniat menimpali tukasan kekasihnya tersebut.

Dan kemudian bayangan itu melenyap kembali di benak Sivia saat sebuah suara mengusik gendang telinganya. Panggilan dari sahabat kecilnya, Ify Clarissa. Gadis yang limabelas menit yang lalu mengajaknya ke kantin. Gadis yang sepuluh menit yang lalu membelikannya sebuah ice cream. Dan ice cream dari gadis tersebutlah yang tadi berhasil membuat Sivia termenung, mengingat kembali masa-masa indah seminggu yang lalu saat ia diberikan ice cream yang sama oleh Alvin. Dan bahkan bukan cuma ice cream yang ia dapat, boneka panda super besar juga dapat ia peluk saat itu.
"Kamu ngelamunin Alvin lagi ya, Vi?" setelah dirasa Sivia sudah cukup sadar dari lamunannya, Ify pun bertanya.
"Ice cream ini ngingetin aku sama Alvin, Fy. Aku kangen sama dia, aku kangen dibeliin ice cream lagi sama dia. Aku kangen," cukup lirih Sivia berkata. Membuat Ify merasa sedikit tak enak hati kepadanya.
"Kamu yang sabar ya, Vi. Karena aku yakin kalau Alvin gak akan tidur lama-lama lagi, dia bakal bangun buat kamu, buat ngasih ice cream itu lagi yang jauh lebih spesial." balas Ify memberi semangat kepada sahabat kecilnya itu. Orang yang tau baik-buruknya Sivia dan juga orang yang paling mengerti Sivia di kehidupan luar selain Alvin.

Lantas Sivia tersenyum begitu Ify mengusap pundaknya. Karena sebelumnya ia juga sudah yakin kalau yang tadi dikatakan Ify tersebut akan terjadi. Walaupun entah itu kapan, tetapi yang jelas Sivia selalu yakin kalau itu akan terjadi. Ya, terjadi.
"Makasih banyak ya, Fy? Kamu memang sahabat aku yang paling baik." ujarnya seraya menyandarkan kepala di bahu Ify.
"Makasih juga ya, Vi? Toh kalaupun saat ini aku yang berada di posisi kamu, mungkin kamu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan ke kamu sekarang. Karena menurut aku, seperti itulah sahabat." kata Ify seraya tangannya memutar-mutar ice cream yang sudah sedikit meleleh.
"Hai semuanya! Lagi pada ngapain nih? Makan ice cream ya? Wuih... bagi aku dong!" sedetik setelah Ify berhenti berbicara, seorang siswa tiba-tiba datang dengan sedikit menyapa dan serta-merta langsung mengambil ice cream yang ada di genggaman Sivia tanpa izin terlebih dahulu. Terkesan tidak sopan sih, namun perilaku seperti itulah yang biasa Sivia dan Ify dapatkan acapkali siswa tersebut menemui mereka. Dan walaupun kadang suka kesal dibuatnya, namun Sivia dan Ify tetap tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena memang seperti itulah ia, mau diapakan lagi?

Siswa itu bernama Cakka, Cakka Raditya, sepupu dari Alvin. Salah satu member tim basket di sekolahnya. Bahkan ia pernah menjabat sebagai kapten tim juga sebelum akhirnya berpindah tangan kepada Alvin.
"Oh iya, menurut kalian berdua aku itu pantes gak sih punya pacar? Kok perasaan di sekolah ini gak ada yang mau ya sama aku? Apalagi sih yang kurang dari aku? Ganteng, iya! Tajir, iya juga! Kurang apalagi coba?" cibir Cakka di tengah-tengah kegiatannya memakan ice cream. Dan itu cukup membuat perasaan Sivia yang tadi sempat sedih pun berubah drastis begitu mendengar Cakka mencibir.
"Satu lagi tuh yang kurang," timpal Sivia sambil memberi kode ke Ify.
"Apa tuh, Vi?"
"KURANG SOPAN!!!" glek! Cakka terpaksa menelan mentah-mentah ice cream yang ada di pangkal tenggorokannya. Dua kata yang keluar dari mulut mereka berhasil membuat Cakka tak bernafsu lagi dengan ice cream yang kini tinggal setengah itu.
"Ya, kalau itu kan cuma berlaku buat kalian berdua doang." respon Cakka setelahnya.
"Tapi kita berdua itu wakil dari semua cewek yang ada di sekolah ini, Cakka! Iya kan, Vi?" lantas Sivia mengangguk. Sangat menyetujui apa yang dibilang Ify barusan.
"Lagian kalau kamu pecicilan kaya gitu, mana ada sih cewek yang mau sama kamu?" kata Sivia. Cakka membuang napas mendengarnya.
"Nyesel deh aku curhat sama kalian berdua. Aih!" lirihnya pasrah. Sedangkan Sivia dan Ify malah terkekeh hebat begitu melihat raut wajah Cakka yang berubah total dari sebelumnya.
"Udah, gak usah dipikirin! Kita berdua cuma bercanda doang kok, Kka."
"Hahaha. Iya, kita cuma bercanda doang kok. Toh bukannya kamu gak laku sih Kka, mungkin karena kamu terlalu pilih-pilih aja kali ya? Padahal sebenernya lumayan banyak juga cewek yang suka sama kamu lho. Iya kan, Vi?" sambung Ify kemudian. Sivia langsung mengangguk.
"Masa sih? Kalian gak lagi bercanda kan?" tanya Cakka memastikan.
"Kali ini kita serius. Buktinya aja tiap kali kamu dan kawan-kawan sparing basket, banyak tuh cewek-cewek yang teriakin nama kamu."
"Terus waktu itu juga ada cewek yang minta tanda tangan kamu ke aku. Inget kan waktu aku minta tanda tangan ke kamu? Nah, itu dari penggemar kamu tau?!" sambung Sivia antusias. Dan kali ini wajah Cakka pun kembali berseri. Seakan ada semangat baru untuk segera mengakhiri masa jomblonya.
"Wuih... ternyata aku banyak penggemarnya juga ya? Aku kira cuma kalian berdua aja yang jadi penggemar setia aku. Hahaha."
"Kaya gak ada idola lain yang lebih baik aja." tukas Sivia dengan nada meledek.
"Bener banget, Vi. Lagian nih ya, kalaupun di dunia ini cuma ada kamu sama kambing doang, aku bakal milih Justin Bieber. Hahaha." sambung Ify mulai ngawur.
"Wuuuuuuhhh!!! Gak nyambung!" timpal Cakka semangat. Sedangkan Sivia hanya menggeleng heran ke arah Ify yang kadang suka disconnection.
"Hahaha." kemudian mereka bertiga tertawa kompak.

Namun semua itu tidak berlaku lama untuk Sivia. Entah kenapa semua peristiwa yang ia alami bersama Alvin sejak empat hari pertama bulan Februari di saat sebelum Alvin koma itu selalu berputar ulang bagaikan sebuah piringan hitam di otak Sivia. Seperti sekarang, ketika telinganya mendengar kata Justin Bieber dari mulut Ify, tiba-tiba otak Sivia kembali memutarkan momen-momen lucu saat ia menonton konser sang idola tersebut.

Dan malam itu, Alvin terduduk lemas di sebuah bangku panjang yang letaknya tak jauh dari gedung yang di mana Justin Bieber mengadakan konser di dalamnya. Cukup melelahkan. Sampai Alvin berusaha memijit-mijit betisnya yang lumayan pegal.
"Kalau bukan karena kamu, mending aku milih diem di rumah daripada mesti duduk di kerumunan orang-orang yang udah kaya kesurupan setan gitu." umpatnya pelan. Dua jam berada di dalam sana cukup membuat Alvin stres karena ulah fanatiknya dari para penggemar Justin Bieber tersebut. Dan itu membuat Alvin sangat tidak nyaman.
"Oh my God, Justiiiiiinnn!!! Gila deh keren banget! Aaaaaahhh!!!" histeris Sivia masih tak percaya kalau tadi dirinya melihat sosok sang idola secara langsung. Bahkan saking histerisnya, ia tidak sedikitpun merespon ocehan Alvin sama sekali.
"Oh iya sayang, tadi si Justin lihatin aku mulu tau?! Tatapannya itu lho? Bikin meleleh! Aaahhh!!! Justin, i love you so much deh!" teriak Sivia semakin histeris. Sungguh tak perduli walaupun banyak orang yang berlalu-lalang di depannya.
"Via, udah deh gak usah berlebihan gitu! Belum tentu si Justin itu mikirin kamu kan? Nah, daripada kamu teriak-teriak gak jelas gitu, mending pijitin aku gih! Kan aku cowok kamu, jauh lebih keren daripada Justin." ujar Alvin asal. Intinya ia sudah mulai jengah dengan Sivia yang terus-terusan memuji idolanya.
"Ih, ngarep! Kerenan Justin ke mana-mana lah!" balas Sivia sedikit membanding-bandingkan.
"Oh, jadi lebih milih Justin nih? Ya udah, pacaran aja sana sama Justin! Aku mau cari cewek lain yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih seksi dari kamu." kata Alvin tak mau kalah. Lalu Sivia terdiam, matanya menatap tajam ke arah Alvin.
"Ish! Enak aja mau cari cewek lain. Kamu itu cuma milik aku. Titik!" cegah Sivia ketus. Membuat Alvin tersenyum meledek seketika.
"Masa sih? Tadi katanya masih kerenan Justin ke mana-mana daripada aku. Tapi kenapa giliran aku mau lirik cewek lain malah gak boleh?" Sivia mendesis. Bibir bawahnya pun ia gigit pelan.
"Ya, wajar kan kalau aku histeris? Namanya juga ketemu sama idola yang belum tentu bakal ketemu lagi." tegas Sivia kemudian.
"Oh ya? Terus kalau misalkan kamu suruh milih antara Justin sama aku, kamu bakal pilih siapa?"
"JUSTIN LAH!!!" Alvin lantas memutar mata saat mendengar jawaban cepat dari kekasihnya itu.
"Oh, ya udah kalau gitu." timpalnya malas. Dan tiba-tiba Sivia terkekeh. Benar-benar lucu melihat Alvin cemburu seperti itu.
"Cieee... cemburu. Hahaha."
"Apaan sih?! Enggak!"
"Oh, enggak cemburu? Beneran? Kalau gitu berarti kamu gak cinta sama aku dong? Katanya cemburu itu tanda cinta. Aih!"
"Abisnya kamu nyebelin banget sih!" umpat Alvin datar.
"Ya, maaf. Tadi aku cuma bercanda doang kok. Dan kalaupun Justin itu nomor satu di mata aku, tapi yang nomor satu dan selamanya nomor satu di hati aku ya cuma kamu." ucap jujur Sivia sambil mencubit manja hidung mancung milik Alvin.
"Nah, gitu dong! Kalau kaya gini kan aku jadi makin sayang sama kamu." kini giliran Alvin mencubit pipi Sivia. Lalu mereka balas tersenyum.
"Beneran nih makin sayang?"
"Beneran."
"Serius?"
"Sejuta rius!"
"Gendong aku sampai parkiran bisa dong kalau emang kamu makin sayang sama aku?" pinta Sivia dengan menyuguhkan senyuman termanisnya. Seketika Alvin menelan ludah.
"Ya ampun, sayang. Kamu mau bunuh aku secara perlahan?"
"Lho? Kan aku cuma minta gendong? Masa iya sih bisa ngebunuh?"
"Gimana gak ngebunuh? Dari sini sampai parkiran itu jauh banget, Via cantik. Lagian kalau mau minta sesuatu itu jangan yang aneh-aneh kek." timpal Alvin disertai hembusan napas yang gusar.
"Ya udah deh gak jadi." balas Sivia pasrah.
"Tapi kamu gak ngambek kan?" Sivia pun cepat-cepat menggeleng. Rasanya ia terlalu egois kalau harus memerintah Alvin untuk berbuat ini dan itu. Sedangkan Alvin sendiri tidak pernah meminta apa-apa padanya.
"Aku gak ngambek kok, sayang. Oh iya, aku pijitin ya kakinya?" lanjut Sivia tiba-tiba. Dan itu membuat kening Alvin mengerut hebat. Tidak seperti Sivia yang biasanya.
"Gak usah sayang, gak usah! Aku udah gak pegel kok." tolak Alvin seketika. Namun percuma, Sivia sudah terlanjur mengangkat kedua kaki Alvin dan menaruhnya di atas pangkuan.

Dan baru saja Sivia hendak memijit kaki Alvin, putaran film kehidupan di benak Sivia pun terpotong begitu suara bel berbunyi dengan nyaringnya. Ia mengerjapkan mata kemudian.
"Hmm... aku masuk duluan ya? Matematika nih. Thanks ya buat ice creamnya? Hehehe." pamit Cakka yang langsung berlari meninggalkan Ify dan Sivia. Ify mengangguk membalasnya, sedangkan Sivia masih belum terlalu sadar sedang melakukan apa ia dengan Ify serta Cakka sebelumnya. Jadi ia hanya bisa tersenyum seadanya.
"Ya udah kita juga masuk yuk, Vi?" ajak Ify setelahnya. Dan tanpa bisa menolak, Sivia mengikut saja saat Ify menarik tangannya perlahan.

***


Senja kembali memudar. Bias-bias oranye di ufuk barat pun perlahan menjadi hitam. Merubah siang menjadi malam hanya dalam hitungan detik saja. Segerombolan kelelawar yang kompak keluar dari sarang mereka juga selalu memberi kesan tersendiri tatkala malam tiba. Pepohonan lantas menghening, tak bergerak seperti biasanya. Damai.

Namun faktanya suasana di luar sana tidak terlalu berpengaruh untuk Sivia yang masih dilanda resah. Sudah hampir seminggu ia tak melihat Alvin tersenyum. Yang ada ia hanya melihat Alvin yang terbujur lemas dengan mata tertutup serta sekujur tubuhnya yang didominasi oleh banyak selang-selang kecil. Sangat miris. Wajah pucatnya membuat dada Sivia merasakan sakit yang teramat sakit. Tapi mau bagaimana lagi, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah untuk menunggu kapan kekasihnya itu terbangun dari tidur panjangnya.
"Om?" panggil Sivia ke arah dokter yang menangani Alvin. Dan dokter itu adalah Papanya Alvin sendiri. Dokter Joe panggilannya.
"Ya, sayang?" respon Dokter Joe setelah beberapa detik memeriksa keadaan Alvin.
"Gimana kondisi Alvin, Om? Apa Alvin udah lebih baik?" tanya Sivia penasaran. Dokter Joe lantas mendekati Sivia dan merangkul pundak gadis tersebut.
"Sayang, kamu gak usah khawatir lagi ya? Dalam waktu dekat mungkin Alvin udah bisa siuman. Kita berdoa aja sama Tuhan." ujar Dokter Joe yakin. Ketika mendengar kabar baik tersebut, Sivia langsung menatap tak percaya ke arah Dokter Joe.
"Om gak lagi bohongin Via kan?" Dokter Joe lalu membuang napas. Tatapan Sivia berhasil membuat hatinya terasa perih. Rasa tak tega dan sedih ikut muncul di dalam jiwanya. Namun beliau sudah terlanjur masuk ke dalam skenario yang dibuat keluarganya sendiri.
"Om gak bohong, sayang. Alvin pasti akan segera bangun untuk kita, untuk orang-orang yang disayanginya." jawab Dokter Joe sambil berusaha menahan genangan air di sudut matanya supaya tidak terjatuh.
"Kalau gitu Via mau di sini terus biar pas Alvin bangun nanti, Via lah orang pertama yang Alvin lihat. Gak apa-apa kan, Om?" pinta Sivia lembut. Sorotan matanya kembali memohon. Lantas Dokter Joe pun hanya bisa mengangguk saja tanpa sanggup berbuat banyak lagi.
"Makasih banyak ya, Om? Via seneng banget!"
"Sama-sama, sayang. Kalau gitu Om keluar dulu ya? Mau ke ruang rawat yang lain." Sivia mengangguk pasti setelahnya.
"Jagain Alvin baik-baik ya?" kata Dokter Joe sambil menepuk pelan pundak Sivia sebelum beliau benar-benar keluar dari ruang rawat Alvin.
"Sayang, kamu tau enggak kalau sekarang aku lagi kenapa? Aku itu lagi seneeeeeeng banget! Seneng karena barusan Papa kamu bilang kalau kondisi kamu udah sedikit membaik, dan Papa kamu juga bilang kalau bentar lagi kamu bakal siuman. Aku bener-bener gak nyangka, sayang." Sivia kembali duduk di samping tubuh lemas Alvin dengan sedikit meremas lembut jemari tangan milik laki-laki yang begitu dicintainya itu.
"Aku udah gak sabar lagi lihat kamu tersenyum, lihat kamu tertawa, lihat kamu ngambek, lihat kamu marah, lihat kamu manja, lihat kamu main basket sama temen-temen kamu, dan pokoknya aku kangen banget lihat semua tingkah kamu. Kamu cepet bangun ya, sayang? Masa kamu tega sih biarin aku terus-terusan sendiri?" kata Sivia lagi-lagi. Walaupun itu baru saja prediksi dari Dokter Joe, namun rasa senang di hati Sivia sudah tidak bisa lagi diganggu gugat.
"Hmm... oh iya sayang, kamu inget gak kalau besok itu tanggal berapa? Kamu inget kan?" layaknya sedang berbicara dengan Alvin yang sadar, Sivia pun mencoba bertanya. Namun kemudian terdiam lagi.
"Iya, tanggal 14. Itu hari ulang tahun aku. Kamu masih inget kan sama ulang tahun aku?" lanjutnya masih dengan berbicara sendiri.

Entah karena sudah menjadi hobi barunya atau bukan, akhir-akhir ini Sivia sering sekali membayangkan kembali masa-masa indahnya bersama Alvin. Terlebih di hari-hari terakhir sebelum keadaan Alvin seperti sekarang ini.

Flashback On.

"Oh iya sayang, nanti pas aku ulang tahun, kamu mau beliin kado apa buat aku?" tanya Sivia spontan saat matanya tak sengaja melihat sebuah pesta ulang tahun seorang anak kecil di salah satu taman bermain yang sedang ia kunjungi bersama Alvin.
"Rahasia dong! Masa iya sih dikasih tau sekarang? Kan gak asyik." jawab Alvin yakin walaupun pandangannya masih terfokus pada kumpulan anak-anak kecil yang berkumpul di sana.
"Ih, masa gak boleh dikasih tau sih? Emang kamu udah tau apa kesukaan aku?" Alvin lantas terkekeh. Pertanyaan yang cukup dibilang skeptis jika dilihat akan perjalanan cinta mereka yang hampir menginjak tahun keempat.
"Mungkin aku terlalu bodoh kalau sampai gak tau kesukaan kamu. Sayang, kita itu berhubungan udah lumayan lama, masa iya cuma hal kaya gitu aja aku gak tau?" jelas Alvin kemudian.
"Oh gitu ya?" respon Sivia lagi. Sedangkan Alvin hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Tapi masa gak ada bocoran sedikitpun gitu?"
"Gak ada,"
"Ih, gitu aja pelit!"
"Kalau kadonya dikasih tau ya gak seru dong, sayang. Udah deh kamu jangan banyak tanya, entar juga kamu tau sendiri kok."
"Iya deh, iya. Terserah kamu aja!"
"Wuih... ngambek?"
"Jangan sok tau deh!"
"Ish! Jutek amat, mbak?"
"Bodo!"
"Aih... ya udah deh aku mau ke sana aja, mau ucapin selamat ulang tahun buat dede unyu itu." Alvin pun bangkit kemudian. Berniat kabur dari aksi jutek Sivia tersebut.
"Mau ngapain ke sana?! Kamu kan gak diundang?" teriak Sivia.
"Bodo! Walaupun gak diundang, setidaknya aku gak bakal dijutekin kalau di sana." ketus Alvin ikut teriak.
"Ih, nyebelin banget sih?!"

Dan meskipun Sivia terus-terusan mencibir, Alvin tetap tak mengurungkan niatnya tersebut. Ia berjalan perlahan mendekati gadis kecil yang berdiri tepat di depan kue tart yang di atasnya tertera sebuah lilin berangka lima. Lalu Alvin berjongkok setelah cukup dekat, mencoba menyetarakan tinggi tubuhnya dengan tubuh gadis kecil itu.
"Selamat ulang tahun ya, dede unyu?" ucap Alvin tulus sambil mengeluarkan dua buah lolipop di balik jaketnya. Entah sejak kapan Alvin membawa lolipop, yang jelas sekarang kehadirannya sudah disambut senang oleh gadis kecil itu.
"Makasih ya, kakak baik? Tapi kalau boleh tau unyu itu artinya apa ya, kak?" respon dan tanya gadis kecil tersebut sangat polos. Alvin tersenyum, tangannya tiba-tiba tergoda untuk mencubit pipi anak kecil yang sekarang berdiri tak jauh di hadapannya. Lantas hal itu juga berhasil membuat kedua orang tua gadis kecil itu tertawa sambil menggeleng.
"Unyu itu cantik, dede." jawab Alvin gemas.
"Oh, unyu itu cantik ya? Hehehe. Makasih lagi ya, kakak ganteng." Alvin lagi-lagi tersenyum.
"Oke, sama-sama. Oh iya, nama dede unyu siapa?"
"Nama aku Rara, kak. Kalau nama kakak sih siapa?" gadis kecil yang mengaku bernama Rara itu balik bertanya kepada Alvin dengan nada yang anak-anak banget.
"Oh, Rara? Ih, namanya unyu juga ya kaya yang punya. Hehehe. Kenalin, kalau kakak namanya Alvin. Salam kenal ya, dede unyu?" kini giliran Rara yang tersenyum ketika Alvin terus-terusan memujinya.
"Hehehe. Salam kenal juga ya, kak Alvin yang ganteng?" balasnya antusias.
"Hmm... kak Alvin boleh minta tolong enggak sama Rara?" setelah beberapa detik berkenalan, tiba-tiba Alvin teringat akan Sivia.
"Boleh kok, kak. Minta tolong apa? Tapi jangan lama-lama ya? Soalnya sebentar lagi kan Rara mau tiup lilin." syarat dari Rara seraya melirik kedua orang tuanya.
"Oh, enggak lama kok. Kak Alvin cuma mau minta tolong sama Rara buat bilang sesuatu ke kakak cantik yang duduk di sana." kata Alvin yang akhirnya berbisik ke telinga Rara. Lantas Rara mengangguk paham setelahnya.

Sedangkan di sisi lain, Sivia cukup dibilang heran saat melihat gadis kecil yang tadi berbincang-bincang dengan Alvin itu kini berjalan mendekat ke arahnya. Entah apa yang Alvin perintahkan kepada gadis kecil bernama Rara tersebut.
"Hai, kak Via yang cantik?" sapa Rara begitu ia sampai di tempat Sivia duduk. Sedangkan untuk sementara Sivia mengernyit, matanya ia tujukan ke arah Alvin yang malah tersenyum saja membalasnya.
"Hai juga, ade?" sapa balik Sivia kemudian.
"Kata kak Alvin, kak Via lagi ngambek ya? Nih Rara kasih lolipop buat kak Via, biar kak Via gak ngambek lagi sama kak Alvin." ucap Rara benar-benar polos. Mendengar itu, Sivia langsung menghela napas seraya tersenyum kecil serta dengan terpaksa ia menerima lolipop pemberian dari Rara.
"Aduh! Makasih banyak ya, sayang? Tapi ini buat Rara aja, kak Via gak ngambek kok sama kak Alvin." balas Sivia dengan meletakkan kembali lolipop di jemari Rara. Lantas Rara menolak cepat-cepat.
"Gak apa-apa kak, ini buat kak Via. Kalau kak Via gak mau terima, berarti kak Via gak sayang dong sama kak Alvin?" sedetik, Sivia mengernyit. Entah bisikan apa yang telah Alvin lakukan kepada gadis kecil ini.
"Kok bisa gitu sih, sayang?" tanyanya sambil melirik ke arah Alvin yang jauh di sana.
"Soalnya tadi kak Alvin bilang kalau lolipop ini sengaja kak Alvin beli khusus untuk orang yang paling cantik dan paling kak Alvin sayangi di dunia ini." jelas Rara tanpa dosa. Sivia akhirnya tersenyum, ternyata Alvin itu memang paling bisa membuatnya merasa istimewa.
"Oh, jadi kak Alvin bilang gitu sama Rara? Baiklah, kak Via terima lolipop ini. Tapi nanti Rara bilang ya sama kak Alvin kalau lain kali kak Via gak mau disogok sama lolipop." ujar Sivia dengan nada bercanda.
"Ngg... gimana kalau kak Via bilang langsung aja sama kak Alvinnya? Ayo, kak! Soalnya bentar lagi Rara mau tiup lilin nih." ajak Rara dengan menarik paksa lengan Sivia.
"Tapi kan kak Via gak diundang, sayang? Kak Via takut ganggu pesta ulang tahun Rara."
"Dengan ini kak Via sama kak Alvin udah resmi jadi tamu istimewa Rara. Kak Via tenang aja, pesta ulang tahun Rara pasti bakal tambah seru dengan adanya kak Via sama kak Alvin." ungkap Rara seraya terus menarik tangan Sivia. Sivia pun cukup pasrah dibuatnya.

Flashback Off.

"Sayang, aku harap di hari ulang tahunku nanti, terbukanya mata kamu lah yang jadi kado terindah buat aku. Karena aku udah gak perduli lagi semua kado yang pernah kamu janjikan waktu itu, aku cuma butuh kamu sekarang. Itu aja kok." lirih Sivia setelah lama terdiam. Entah harus sampai kapan ia meneteskan air mata di tempat yang sama. Di samping orang yang teramat ia sayang. Dan di samping orang yang keputusan antara hidup dan matinya belum juga ditentukan oleh sang pencipta hingga saat ini.

Lantas lagi-lagi Sivia berucap, "Tuhan, apakah tidak ada kesempatan lagi untuk aku melihat sorot mata indah milik Alvin? Melihat Alvin tersenyum seperti dulu? Melihat Alvin bercanda dan tertawa bersama aku dan teman-temannya? Melihat Alvin yang selalu berusaha membuat bangga kedua orang tuanya? Tuhan, tidak adakah kesempatan itu lagi untuk aku?" kepalan tangannya pun semakin erat menggenggam jemari Alvin. Dan perlahan, rasa sesak di dada Sivia mulai menyeruak ketika ia mencoba menyentuh pipi kanan Alvin yang semakin pucat pasi.
"Sayang, kenapa selama ini kamu gak pernah mau jujur sama aku? Bukankah kamu pernah bilang kalau di antara kita itu harus saling terbuka satu sama lain? Tapi kenapa aku gak pernah tau kalau selama dua tahun ini kamu mengidap penyakit jantung? Apa karena kamu takut melihat aku sedih, khawatir, ataupun kecewa sama kamu? Iya?" tukas Sivia bertubi-tubi. Pengakuan dari kedua orang tua Alvin kalau Alvin mengidap penyakit jantung itu cukup membuat Sivia syok berat dan merasa sangat bersalah. Apalagi saat dirinya mengingat kembali ketika Alvin pingsan dan tak pernah sadarkan diri hingga sekarang setelah berduel basket dengannya. Benar-benar menyakitkan bagi Sivia.
"Tapi menurut aku ini jauh lebih sakit dibanding aku harus tau lebih awal, Vin. Dan entah kenapa aku masih belum bisa menerima keadaan ini. Kenapa gak aku aja? Kenapa harus kamu?" Sivia mulai berontak dengan semua pertanyaan-pertanyaannya yang entah ia tujukan untuk siapa. Sampai akhirnya ia kembali terdiam seribu bahasa, mencoba mengunci semua gejolak yang ada di dadanya, serta mencoba menenangkan diri tanpa harus menyalahkan siapapun. Lalu Sivia memejamkan matanya kuat-kuat. Sampai tak sadarkan diri kemudian.

***


"Aku beli kado apaan ya buat Via? Bingung." ujar Ify saat ia berjalan tanpa tujuan di sebuah pusat perbelanjaan. Sedangkan Cakka yang hari ini sudah seperti asisten pribadi Ify hanya bisa mengikuti ke manapun kaki Ify melangkah tanpa berkomentar.
"Menurut kamu kalau aku ngasih boneka aja gimana, Kka? Via bakal suka gak ya?" Ify kemudian bertanya saat ia melihat sebuah toko boneka tak jauh di tempatnya berdiri bersama Cakka.
"Boneka? Kalau boneka mah udah bejibun kali di kamar Via juga. Tau sendiri kan Alvin sering banget beli boneka buat dia?" jawab Cakka santai. Matanya mulai mengitari suasana di sekelilingnya.
"Iya juga sih. Terus kalau kamu mau kasih apa buat Via?" tanya Ify lagi dengan matanya yang ikut sibuk melirik sana-sini mengikuti Cakka.
"Kalau aku sih udah nyiapin di rumah, Fy. Tinggal langsung dikasih ke Via aja entar. Cuma sekarang aku lagi nyari tempat yang bisa bikin sesuatu secara instan tapi unik gitu. Biasalah, pesanan seseorang." ujar Cakka. Sedetik, Ify mengangguk paham apa yang dikatakan sahabatnya tersebut.
"Ya udah yuk kalau gitu jalan lagi? Aku masih belum nemu sesuatu yang tepat nih buat Via." ajak Ify dengan menarik tangan Cakka cepat.
"Jangan terlalu susah-susah lah, Fy. Yang simpel aja. Toh cuma kado, Via pasti seneng kok apapun itu kadonya." kata Cakka di tengah perjalanan.
"Tapi tetep aja harus yang bener-bener istimewa kali, Kka. Soalnya aku mau ngasih sesuatu yang selalu bisa Via pakai. Kaya dia ngasih aku jam tangan unik ini waktu ultah aku kemaren." balas Ify seraya menunjukkan jam tangan berwarna cokelat yang melingkar di lengan kirinya.
"Ya udah kamu beli jam tangan aja buat Via. Yang merknya sama tapi warnanya beda, biar kesannya kompakan. Lagian seinget aku itu Via gak pernah pakai jam tangan kan?" sejenak, Ify berpikir setelah mendengar saran dari Cakka tersebut.
"Iya juga ya? Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih, Kka?" seketika Ify berhenti melangkah, lalu berbalik arah ke tempat sebelumnya di mana Ify melihat toko pernak-pernik jam tangan dan sebagainya. Lantas lagi-lagi Cakka dibuat pasrah oleh Ify. Tangannya yang masih ditarik oleh Ify pun hanya bisa ia pandangi seraya menggeleng.
"Ribet ya kalau jadi cewek?" gumamnya kemudian.

***


Sivia menyandarkan kepalanya di pundak Tante Sonia sambil terus menangis. Berita buruk di pagi buta yang ia terima cukup membuatnya jantungan mendadak ketika mendengar kalau kondisi Alvin menurun drastis dan harus dipindahkan ke ruang ICU.

Dan hampir tak bisa lagi untuk Sivia berpikir jernih sekarang ini. Tak perduli meski perutnya belum diisi makanan ataupun minuman sedikitpun. Bahkan ia juga sampai nekad tidak masuk sekolah demi menunggu kabar dari Dokter Joe akan kondisi terakhir Alvin. Karena yang ada di otak Sivia saat ini hanyalah Alvin dan selalu Alvin. Orang yang sangat ia sayang.
"Udah, jangan nangis lagi ya? Alvin akan baik-baik aja kok, sayang. Kamu yang tenang." ucap Tante Sonia lembut disertai sebuah belaian kecil di rambut panjang Sivia.
"Tapi Tante, Alvin? Alvin masuk ruang ICU lagi. Sivia takut," lirih Sivia sesenggukan. Entah tiba-tiba rasa takut di hatinya muncul begitu saja. Takut akan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi itu akan terjadi.
"Kita berdoa aja, sayang. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Tante yakin kalau Alvin kuat. Apalagi Alvin punya kekasih seperti kamu, pasti dia sedang berusaha untuk bangkit dari sakitnya untuk kamu." lagi-lagi Tante Sonia berucap. Mencoba menenangkan gadis cantik yang sudah beliau anggap seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi kedua orang tua Sivia yang sibuk bekerja di luar kota juga membuat beliau semakin dekat dengan gadis yang sering Alvin ajak main ke rumahnya itu.

Sivia lantas tak membalas ucapan Tante Sonia. Ia malah beralih memeluk wanita tersebut sangat erat.
"Kamu jangan takut. Tante juga tau kok gimana perasaan kamu sekarang. Tapi yang jelas kita serahkan semuanya pada Tuhan. Dia tau mana yang terbaik buat kita." Sivia mengangguk. Air matanya sudah cukup kering dan tak bisa lagi mengalir di pipinya. Hanya saja sebuah isakan yang masih terdengar dari mulutnya. Benar-benar menyedihkan.
"Tante, kenapa sih Alvin gak pernah cerita sama Via kalau dia punya penyakit jantung?" tanya Sivia tiba-tiba. Rasa ingin tau akan alasan Alvin yang tidak pernah mau jujur itu menyeruak lagi di benak gadis ini. Tante Sonia pun terdiam mendengarnya. Seketika beliau dibuat bingung oleh pertanyaan tersebut. Entah apa yang harus beliau jawab saat ini. Saat Sivia dengan wajah penasarannya terus-terusan menatap penuh harap.
"Hmm... sebenarnya Tante juga belum tau betul kenapa Alvin melarang Tante sama Om untuk tidak memberi tau penyakit dia kepada siapapun terlebih kamu. Tapi sepertinya Alvin ngelakuin itu karena dia gak mau bikin orang-orang yang disayanginya sedih ataupun khawatir. Apalagi sampai kasihan sama dia, Alvin paling gak suka itu semua."
"Tapi menurut Via ini lebih menyedihkan, Tante. Via juga menyesal karena Via gak selalu ada buat Alvin, padahal faktanya Alvin selalu ada buat Via. Via memang bukan kekasih yang baik, Via gak bisa jagain Alvin, Via gak bisa perhatiin Alvin, Via gak bisa ngelakuin apa yang Alvin lakuin ke Via selama ini. Via..." semua gejolak yang Sivia tumpahkan tiba-tiba saja berhenti ketika jari Tante Sonia menyentuh bibir mungilnya.
"Tidak ada gunanya buat Via menyesali semua itu. Toh hal ini akan tetap terjadi juga kan? Lagipula tanpa Via melakukan hal itupun, Alvin selalu merasa bahagia kok tiap kali dia bersama kamu. Alvin yang bilang sendiri sama Tante. Dan asal Via tau juga, Alvin bisa terus bertahan dari penyakitnya itu karena ada Via. Harusnya Via bersyukur, karena tanpa berbuat apapun, Via sudah bisa membuat Alvin kuat. Bahkan Tante sama Om aja belum tentu bisa melakukan itu." jelas Tante Sonia sebisa mungkin memberi pengertian.
"Tapi, Tante?" bermaksud untuk menyanggah, mulutnya kembali terkunci begitu Tante Sonia tersenyum sambil menggeleng pelan. Isyarat kalau beliau tidak mau mendengar semua penyesalan dari mulut Sivia lagi.

Cklek! Pintu ruang ICU terbuka perlahan. Dan tak lama kemudian Dokter Joe pun keluar seraya menarik napas saat matanya menangkap kedua sosok manusia yang sedang berpelukan tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Om?!" ujar Sivia refleks. Pelukan Tante Sonia pun segera ia lepaskan demi bergegas mendekati Dokter Joe.
"Om, gimana keadaan Alvin? Alvin baik-baik aja kan, Om? Alvin gak kenapa-kenapa kan, Om? Alvin..." tanya Sivia langsung saja. Bahkan tangan Sivia pun terus-terusan menyentuh keras tangan Dokter Joe. Meminta jawaban tanpa memberi kesempatan terlebih dulu untuk Dokter Joe menarik napas.
"Jawab, Om!" lalu Dokter Joe memejamkan mata yang berhasil membuat Sivia menarik kesimpulan yang buruk.
"Sayang, Om sama tim medis yang lain sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Tuhan berkehendak lain." ujarnya seraya meneteskan air mata walaupun sudah berusaha untuk beliau tahan.
"Gak mungkin! Om lagi bercanda kan?! Om lagi bohongin aku kan?! Alvin gak meninggal kan, Om?! Jawab, Om! Jawab kalau Om lagi bercanda! Om..." sudah terasa lemas, Sivia langsung terduduk di kaki Dokter Joe. Suasana hatinya benar-benar kalut saat itu. Meski sudah berusaha untuk ia menolak fakta yang telah terjadi, tapi tetap saja itu tidak akan mengembalikan semuanya seperti semua. Alvin sudah meninggal.
"Tante, Alvin masih hidup kan?" lirihnya lagi-lagi. Sedangkan Tante Sonia yang juga ikut menangis dan sempat tak percaya kalau Alvin sudah meninggal pun hanya bisa menutup mulut sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.

"ALVIIIIIINNNNNN!!!" Sivia mulai berteriak.

"GAK MUNGKIN!!! ALVIN BELUM MENINGGAL!!! KALIAN BOHONG!!!"

"ALVIN MASIH HIDUP!!!"

"ALVIN GAK AKAN TINGGALIN AKU!!!"

"ALVIIIIIINNNNNN!!!"


"Via, bangun! Kamu kenapa? Kamu mimpi?" Sivia pun tersentak seketika. Tidur panjangnya tiba-tiba terbangun saat seseorang menggoyangkan pundaknya.
"Ify? Cakka?" gumam Sivia sedikit serak. Kedua sosok sahabatnya langsung terukir jelas saat ia membuka mata.
"Kamu mimpi ya, Vi?" tanya Ify pelan.
"Alvin? Alvin mana, Fy? Alvin masih hidup kan? Alvin gak meninggal kan? Alvin mana, Kka? Alvin mana?" bukannya menjawab pertanyaan Ify, Sivia malah seperti orang kesurupan. Menarik tangan Ify dan Cakka bergantian.
"Vi, kamu tenang dulu ya? Alvin masih baik-baik aja kok." ucap Cakka prihatin.
"Iya Vi, kamu yang tenang dulu. Alvin masih ada kok, lihat aja." sambung Ify sambil mengarahkan pandangan Sivia ke tempat Alvin berbaring.
"Alvin?" ia bergegas cepat mendekati Alvin. Lalu dipeluknya erat-erat.
"Aku takut, Vin. Aku takut,"
"Udah Vi, kamu tenang aja. Tadi kamu cuma mimpi."
"Tapi aku beneran takut, Kka. Aku takut semua itu akan terjadi. Aku belum siap."
"Percaya sama aku, Alvin akan baik-baik aja. Mungkin karena kamu terlalu capek dan kurang istirahat, jadi kamu sampai mimpi buruk gitu." ujar Ify menengahi. Sivia terdiam kemudian. Ucapan Ify memang benar. Ia terlalu banyak memikirkan Alvin sampai ia tidak bisa memikirkan kesehatannya sendiri.
"Kamu cuci muka dulu gih! Biar lebih fresh." lanjut Ify. Sivia mengangguk dan mulai melangkah tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
"Aku gak tega lihat dia kaya gitu, Kka. Aku takut Sivia sampai tekanan batin karena semua ini." bisik Ify sambil terus menatap Sivia yang berjalan gontai menuju kamar mandi.
"Aku juga sama, Fy. Tapi mau gimana lagi?" kini giliran Cakka yang berbisik. Ikut juga menatap Sivia dan Alvin bergantian.
"Semoga ini semua berakhir bahagia ya, Kka?" Cakka mengangguk menyetujui.
"Kalian udah lama di sini?" tanya Sivia setelah beberapa detik keluar dari kamar mandi.
"Lumayan."
"Kok gak bangunin aku sih?"
"Emang sengaja gak kita bangunin, kita gak tega. Soalnya tadi lelap banget kamu tidurnya, Vi." jawab Ify.
"Iya, makanya aku pindahin kamu ke kursi. Jadi biar kita juga bisa gantiin kamu buat jagain Alvin." Cakka ikut menyahuti.
"Oh, gitu? Makasih ya sebelumnya?"
"Oke, sama-sama. Hmm... oh iya, aku izin pulang gak apa-apa kan? Udah jam 11 malem nih, besok takut kesiangan. Sebenernya gak enak juga sih, tapi mau gimana lagi?" pinta Ify sedikit canggung.
"Oh, gak apa-apa kok. Harusnya aku yang gak enak sama kamu. Kamu udah repot-repot jagain Alvin sampai malem gini. Sekali lagi makasih ya, Fy? Maaf juga kalau besok aku belum bisa sekolah, aku udah terlanjur izin 2 hari."
"Oh iya gak apa-apa kok, Vi. Kalau gitu aku pamit ya?"
"Iya, Fy. Hati-hati ya?"
"Aku juga pamit ya, Vi? Mau antar Ify dulu." Sivia mengangguk. Lantas mengantar mereka berdua sampai ke pintu.
"Baik-baik ya, Vi? Jangan lupa tidur, udah malem!"
"Iya, bawel!"
"Hehehe. Bye, Vi!"

Sivia melambaikan tangan perlahan. Menyertai kepergian Ify dan Cakka dengan sebuah tarikan napas yang cukup panjang. Dan untuk sejenak matanya melihat suasana sekitar yang begitu sepi. Mungkin hanya dirinya sajalah yang ada di koridor rumah sakit setelah Ify dan Cakka pergi. Lantas ia kembali masuk ke ruangan Alvin tanpa ada orang lain karena kedua orang tua Alvin izin sebentar untuk menengok rumah yang hampir ditinggalkannya selama kurang lebih seminggu.

***


23.50 WIB

Malam semakin larut. Detak jarum jam pun semakin terdengar jelas mengetuk gendang telinga. Namun Sivia belum juga tertidur kembali. Matanya masih terbuka lebar di samping Alvin.
"Jika keajaiban Tuhan masih berlaku buat aku, aku ingin mata kamu terbuka disaat lima menit terakhir ini aku menghabiskan umurku yang keenambelas. Apa itu bisa terkabul, Tuhan?" gumamnya seperti biasa. Mengadu, meminta, dan memohon kepada Tuhan akan permohon yang sama yang sering ia pinta sebelumnya di samping Alvin.

Dan entah itu jawaban dari Tuhan atau bukan, Sivia merasakan jari Alvin yang digenggamnya bergerak perlahan.
"Alvin???" kagetnya. Bahkan rasa kagetnya pun semakin bertambah parah begitu mata Alvin dengan ajaibnya terbuka sedikit demi sedikit.
"Ya Tuhan, Alvin sadar? Alvin, kamu?" tidak tau harus berkata apalagi, Sivia hanya bisa mematung begitu mata Alvin terbuka lebar dan menatapnya tanpa berkata.

Cukup lama Alvin terdiam dengan tatapan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata. Seakan-akan Alvin ingin mengucapkan sesuatu kepada Sivia tetapi tidak kuasa untuk berbicara. Sampai akhirnya tubuh tenang Alvin mulai berontak tak terkontrol. Kejang-kejang. Membuat wajah Sivia yang tadinya syok karena senang, kini berubah total menjadi syok karena dirundung rasa khawatir dan takut.
"Sayang, kamu kenapa? Sayang? Toloooooonnnggg!!!" heboh Sivia kebingungan. Di satu sisi ia ingin berlari mencari pertolongan, namun di sisi lain ia juga ingin menjaga Alvin.
"Toloooooonnnggg!!! Dokter?! Suster?!" karena merasa belum juga ada yang datang, Sivia memutuskan untuk keluar. Mencoba mencari dokter siapa saja yang sedang bertugas malam ini. Namun, brak! Pintu ruangan Alvin entah kenapa terkunci dari luar. Sivia kontan semakin panik dan berusaha menggedor-gedor pintu tersebut sambil tak henti berteriak.
"Buka pintunya! Susteeeeeerrr?! Tolongin Alvin!" terus-terusan Sivia berteriak seraya menggerakan hendel pintu secara paksa. Matanya pun tak pernah beralih dari Alvin yang semakin memberontak hebat. Meski ada pikiran untuk ia mendobrak pintu, namun apa daya tenaganya sudah lemas karena berteriak.
"Dokter, Suster, tolong Alvin!" teriaknya mulai lemah. Sampai tak tersadar pandangan Sivia mulai gelap. Bukan karena Sivia ingin pingsan, melainkan karena lampu ruangan itu tiba-tiba padam begitu saja.

Sivia tambah panik dibuatnya. Ruangan tersebut sangat gelap karena tak ada setitik pun cahaya yang masuk. Bahkan untuk berjalan menghampiri Alvin pun Sivia mengandalkan tangannya untuk meraba udara.
"Tuhan, aku tak pernah meminta padaMu untuk memberiku seseorang yang seperti malaikat. Tapi aku cukup bersyukur karena Kau telah menghadirkan seseorang yang luar biasa, seseorang yang sangat berharga di hidupku. Dan seseorang itu... kamu, Sivia." remang-remang Sivia melihat dua buah lilin menyala bersamaan dengan terdengarnya suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. Kedua lilin itupun semakin mendekat ke arahnya sampai Sivia dapat melihat siapa yang menyalakan kedua lilin yang berangka satu dan tujuh tersebut.
"ALVIN???" gumamnya tak percaya.
"Semua permohonan yang kamu minta kepada Tuhan sudah terkabul. Permohonan yang mana aku sendirilah yang menjadi saksi kalau kamu adalah perempuan yang sangat mencintaiku, sangat menyangiku, dan yang sangat membutuhkan kehadiranku. Dan kali ini kamu tidak sedang bermimpi, ini kenyataan. Alvin yang sesungguhnya yang ada di depan mata kamu sekarang." di balik cahaya lilin Alvin pun tersenyum. Meski rasa sesak menusuk hatinya saat ia melihat Sivia yang tak henti menangis karena syok dengan kejadian tadi.
"Sebenernya ini ada apa? Aku gak ngerti." ucap Sivia tetap melirih. Mulutnya ia tutupi karena masih tak percaya dengan semua yang sedang ia alami.
"Maafkan aku, sayang. Sungguh gak ada maksud sedikitpun untuk aku membuatmu menangis, membuatmu khawatir, dan membuat suasana hatimu jadi tak tenang karena aku. Ini semua skenario, skenario buatan aku sendiri untuk menyambut hari ulang tahun kamu. Mungkin ini terlalu nekad dan berlebihan, tapi aku cuma ingin memberi kesan yang berbeda dari yang sudah-sudah. Dan aku..." Alvin terdiam sejenak. Ingin rasanya ia memeluk erat Sivia karena telah mengerjainya sampai seperti itu.
"Dan aku sebenernya tidak pernah mengidap penyakit jantung. Maafin aku ya, sayang? Aku udah bohong sama kamu." lanjutnya kemudian.
"Terus waktu kamu pingsan, apa itu skenario juga?" tanya Sivia yang suaranya mulai serak.
"Kalau itu bukan skenario, itu kenyataan. Aku pingsan karena waktu itu emang aku lagi sakit. Dan pas aku main basket sama kamu, entah kenapa kepalaku terasa berat dan saat itu juga aku gak inget apa-apa. Lalu dari situlah aku kepikiran untuk membuat skenario aneh ini." jawab Alvin. Lantas ia menarik napas setelah dirasa sudah cukup untuk ia menjelaskan.
"I'm so sorry, and happy birthday for you! Happy birthday, my beloved girlfriend. You get sweet seventeen now, darl. " ucap Alvin setelah beberapa detik meletakkan kue yang sejak tadi ia bawa.

Plak! Tanpa diduga, Alvin merasakan perih di pipi kanannya. Tamparan keras yang dilayangkan Sivia seakan mewakilkan ketegaan yang telah Alvin lakukan kepada gadis tersebut.
"Kamu jahat sama aku! Kamu jahat banget tau gak?! Kenapa kamu gak bunuh aku aja sekalian?!" tukas Sivia seraya memeluk Alvin erat.
"Aku takut, aku bener-bener takut kehilangan kamu. Aku... aku gak tau mesti gimana kalau semua itu beneran terjadi. Kenapa kamu jahat banget sih sama aku?" semakin erat Sivia memeluk, malah semakin lemah suaranya untuk keluar. Sedangkan Alvin hanya memilih diam, membiarkan Sivia untuk mengeluarkan semua kekesalannya di dalam pelukan dirinya. Karena Alvin sendiri tau bagaimana perasaan Sivia saat ini. Dan perlahan, Alvin mendekap kepala Sivia ke pundaknya, berusaha memberi ketenangan kepada gadis itu. Sampai seketika pintu pun terbuka dan lampu ruangan menyala kembali.
"HAPPY BIRTHDAY, VIAAA!!!" serempak, segerombolan orang berucap cukup heboh. Membuat Sivia tersentak dan segera menengok ke arah sumber suara.
"Mama, Papa, Tante Sonia, Om Joe, Cakka, Ify? Kalian semua?" kaget Sivia seraya mengabsen semua orang yang ada di depannya dengan membawa kue super besar yang di atasnya bergambarkan wajah dirinya.
"Selamat ulang tahun ya, sayang?" ucap Mama dan Papa Sivia bergantian.
"Maaf kalau Mama sama Papa baru bisa pulang sekarang." lanjut sang Mama karena beliau merasa tidak sempat ada untuk menemani anak tercintanya saat Alvin sedang sakit. Ralat! Pura-pura sakit tepatnya. Sivia pun merengek manja sambil memeluk mereka berdua.
"Makasih banyak ya Ma, Pa? Udah ada di hari ulang tahun Via aja Via udah seneng kok." responnya.
"Selamat ulang tahun ya, Via cantik? Tante minta maaf kalau selama ini Tante udah bohong sama kamu. Sebenernya Tante juga gak tega, tapi Tante terpaksa lakuin ini." ucap Tante Sonia sambil mendekati Sivia.
"Selamat ulang tahun, sayang? Maafin Om juga ya? Padahal Om udah nolak mentah-mentah, tapi Alvin terus-terusan maksa Om untuk terlibat dalam skenario ini." sambung Dokter Joe lembut. Lalu mereka berdua membelai rambut Sivia bergantian.
"Jadi Om sama Tante juga terlibat? Hmm... jangan bilang kalian berdua terlibat juga?" tuduh Sivia ke arah kedua sahabatnya yang masih berdiri di dekat pintu. Cakka dan Ify pun sontak memamerkan deretan gigi-giginya, seakan bilang kalau mereka juga ikut ke dalam skenario yang Alvin buat.
"Iiihhh, kalian kok tega banget sih sama aku?" geram Sivia sedikit kesal.
"Hehehe. Sori ya, Vi? Kita berdua cuma mau bantu Alvin aja kok, bukan mau ngerjain kamu." kata Cakka asal.
"Sama aja, Cakka!"
"Oh, masa sih? Hehehe. Happy birthday ya, Vi? All the best and all the goods for you!" lanjut Cakka di balik candanya. Sivia tersenyum.
"Thanks, Cakka!"
"Aih! Viiiaaa, happy birthday ya? Duh, maaf banget nih aku udah tega sama kamu. Tapi serius deh, aku sampai nangis lihat kamu kaya gitu. Uh, Alvin itu emang kejam ya? Tega banget ngerjain pacarnya sampai nangis darah." seketika semua orang di sana tertawa mendengar kata-kata Ify. Terlebih Alvin.
"Oh iya, ini ada kado dari aku sama Cakka. Mohon diterima ya, Vi?" lanjutnya.
"Aih... makasih banget ya Fy, Kka? Seneng banget deh dapet kado." Ify dan Cakka langsung mengangguk kompak.

Lalu acara ritual ulang tahun pun berjalan cukup lancar. Sesi make a wish serta tiup lilin, sesi potong kue, dan sampai sesi first cake pun Sivia lakukan tahap demi tahap. Sudah jelas kepada siapa Sivia memberika first cake di usianya yang sudah tujuhbelas tahun ini. Untuk Alvin tentunya.
"Kalau gitu kita keluar dulu ya, sayang?" pinta sang Mama kepada Sivia dan Alvin. Sengaja memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk mengobrol lebih intim lagi.
"Mau pada ke mana?"
"Kita nunggu di luar, gak enak sama pasien yang lain kalau mesti ramai-ramai kaya gini." jawab Dokter Joe mewakili mereka yang beranjak pergi. Sivia pun mengangguk paham.
"Vi, sekarang giliran aku." ucap Alvin setelah dirasa cukup sepi. Kue yang tadi diletakkannya juga tak lupa Alvin ambil kembali meski setengah dari lilin itu sudah meleleh.
"Sudikah kamu meminta permohonan untuk hubungan kita ke depannya?" pinta Alvin ramah. Dan tanpa menunggu lama lagi, Sivia mengangguk dan langsung menundukan kepalanya. Cukup lama.
"Makasih ya sayang atas doanya untuk hubungan kita? Sekali lagi aku ucapin, happy birthday Sivia! Semoga di hari ulang tahun kamu yang sekarang, kamu selalu ada dalam perlindungan Tuhan, selalu bahagia, selalu membanggakan, selalu menjadi yang terbaik, selalu menjadi yang terhebat, dan selalu menjadi Sivia yang aku kenal sebelumnya. And then..." ucap Alvin yang sempat terpotong oleh tarikan napasnya.
"Always be my lovely! Love you, sayang." Sivia lantas tersenyum bangga mendengarnya. Entah harus bersyukur seberapa banyak ia kepada Tuhan karena telah menciptakan Alvin di hidupnya.

Sedetik, Alvin mengeluarkan kotak kecil berwarna merah di saku celananya.
"Ini adalah tanda sayang aku untuk kamu." ucapnya bersamaan saat membuka kotak itu dan memakaikan isinya ke leher jenjang Sivia. Sebuah kalung berlian dengan bandul berbentuk lingkaran yang di tengahnya terukir oleh huruf A dan S.
"Selama kalung ini melingkar di leher kamu, izinkanlah aku untuk selalu ada di samping kamu." Alvin kembali berucap manis.
"Dan yang ini aku berikan sebagai hadiah atas kesetiaanmu untuk aku." lagi-lagi Alvin mengeluarkan benda yang ia sembunyikan di balik meja. Sebuah kotak kaca yang di dalamnya terdapat ukiran kedua sepasang kekasih yang terbuat dari kaca juga yang sedang memegang simbol hati dengan tulisan "Still together and always together!". Sivia pun kini termangu. Sudah tak bisa lagi mengungkapkan kata-kata kepada kekasih tercintanya itu.
"Terakhir, aku harap kamu suka ini." ujar Alvin tak henti-hentinya memberi sesuatu spesial kepada Sivia. Kali ini seikat bunga mawar merah lah yang menjadi penutup dari semua kado yang Alvin berikan kepada kekasihnya.
"Meski suatu saat bunga ini akan layu, tapi nanti kamu akan mengerti kalau ini hanyalah sebuah simbol. Karena di sini, di hati aku, rasa sayang dan rasa cinta itu tidak akan pernah layu untuk kamu. Dan asal kamu tau kalau ini bukanlah gombal semata, tapi ini benar-benar apa yang aku rasakan selama ini. Aku sayang kamu, Vi. Makasih udah selalu hadir di hidup aku." ucap Alvin tulus. Tangan Sivia ia pegang erat.

Sontak Sivia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain memeluk kekasih hatinya yang sangat luar biasa itu.
"Thanks for everything! Kamu memang malaikat sejati aku. I love you so much, Alvin!" ungkap Sivia tak kuasa lagi menahan air matanya. Membiarkan air mata bahagia tersebut mengalir di pundak Alvin, Malaikat Sejatinya.

Alvin lantas tersenyum bahagia. Cukup bersyukur karena skenario dadakan buatannya berakhir dengan lancar dan bahagia.
"Terima kasih, Tuhan." gumamnya.



The End!