Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2015

If You Earn Me [14]

Di hari Sabtu ini Sivia, Ray,dan kedua orangtua mereka pergi ke Bandung untuk menghadiri pernikahan saudara.Seperti biasa, jalanan Bandung akan sangat padat saat weekend. Sivia yang duduk di kursi belakang kini sedang merutukidirinya yang bangun kesiangan hingga ia tidak sempat untuk mengisi batteryiPhone-nya. Jadilah sekarang iPhone-nya hampir mati karena kehabisan battery.Padahal tempat tujuan masih jauh dan juga jalanan sangat macet. Apalagiternyata tidak ada yang membawa powerbank! Dan belum sempat Sivia memberitahuAlvin bahwa iPhone-nya lowbat, ternyata iPhone-nya sudah mati terlebih dahulu.Sivia pun menoleh ke samping dan melihat Ray juga sedang sibuk denganiPhone-nya.

“Ray.” Panggil Sivia sambilmenyikut adiknya itu.

“Hm.”

“Pinjem HP dong.”

“Buat apa?”

“BBM Alvin.”

“Gue lagi chatting sama Acha.”

“Bentar aja.”

“Males.”

“Pelit banget sih!”

“Biarin.”

Sivia pun cemberut merasa kesaldengan Ray. Padahal Sivia hanya ingin memberitahu Alvin bahwa iPhone-nya mati agarAlvin tidak bingung karena Sivia tidak membalas chatnya. Sivia pun menoleh kedepan dan melihat mamanya.

“Ma.”

“Ya, sayang?”

“Pinjem HP dong.”

“Buat apa?”

“BBM Alvin.”

“Emang iPhone kamu kenapa?”

“Mati. Battery-nya habis.”

“Yaudah nih.” Sivia langsungtersenyum begitu menerima iPhone mamanya. Dan untunglah di kontak iPhonemamanya ada nomor Alvin. Sivia pun mengirim SMS ke Alvin.

Me:
Hpku matiii. – sivia

Tidak lama Alvin sudahmembalasnya.

Alvin:
Dasar.

Me:
Yaudah nanti aku kabarin kalauudah nyampe.

Alvin:
Masih lama?

Me:
Masih.

Alvin:
Video call ya?

Me:
Nanti ajaaa kalau udah nyampesana.

Alvin:
Sekarang aja.

Me:
Nanti aja!

Alvin:
Yaudah telpon aja?

Me:
Nanti aja kalau udah nyampeeeee!

Alvin:
Tapi aku kangen

“Hpnya mama dong, Vi. Mama mautelpon tante Santi.” kata mama Sivia. Sivia pun buru-buru membalas pesan Alvin.

Me:
Pokoknya nanti aja. Udah Hpnyamau dipake mama.

Sivia tentu menyempatkan untukmenghapus pesan-pesan mereka tersebut sebelum mengembalikan iPhone itu kemamanya.

“Makasih, Ma.”

“Ya sama-sama, sayang.”

Sivia pun akhirnya hanya bisamelihat jalanan dari jendela mobil. Sebenarnya Sivia juga ingin video callataupun telponan dengan Alvin tapi Sivia tentu malu karena ada mama danpapanya. Hingga beberapa menit setelah menelpon tante Santi, mama Sivia melihatada pesan masuk dan membacanya.

“Vi ada balesan dari Alvin.Katanya ‘yaudah. I love you.’ gitu.” Sivia langsung menoleh ke mamanya. WajahSivia langsung memerah begitu menyadari papanya ikut menoleh dan tersenyumgeli.

“Kenapa gak diajak ajaAlvinnya?” kata papa Sivia.

“Bener tuh. Harusnya lo ajakAlvin. Kali aja lo sama Alvin bisa ketularan biar cepet nikah.” Ray ikutmenyahut.

“Hush, kamu ini Ray. Kakakmu ajabaru kuliah. Apalagi Alvin masih SMA. Kok udah ngomongin nikah aja.” Kata sangmama.

“Mungkin aja kali ma. Sekarangaja mereka di kamar udah berani... Aw!!!” Sivia langsung menginjak kaki Raykuat sampai adiknya itu mengaduh sakit.

“Kenapa, Ray?” tanya Mama merekabingung.

“Gak jadi, ma.” Kata Ray sambilcemberut merasakan kakinya yang sakit.

“Dasar kamu ini.” Kata Mamamereka geleng-geleng karena merasa Ray tidak jelas. Sedangkan sivia tentubersyukur mamanya tidak terlalu mendengar ucapan Ray.

“Jangan lemes mulut lo!” bisikSivia sambil memelototi adiknya.

“Sialan lo vi, kaki gue sakit!”

“Biarin. Awas aja kalau longomong sama mama atau papa!”

“iya iya!” Ray pun akhirnyamemilih untuk kembali membalas chat dari Acha. Sedangkan Sivia jadi teringatkejadian memalukan beberapa lalu. Yah saat ia dan Alvin sedang berciuman untukpertama kalinya di kamarnya, tiba-tiba saja Ray masuk ke kamar Sivia tanpamengetuk pintu terlebih dahulu. Jadilah Ray melihat Sivia dan Alvin berciuman.Setelah itu Ray terus saja menggoda Sivia karena hal itu. Sungguh hal itumembuat Sivia sangat malu sampai sekarang. Tapi untung saja Ray tidakmengatakannya kepada orangtua mereka. Bisa-bisa ia dan Alvin dicap buruk olehmereka. Walaupun yang mereka lakukan memang bukan tindakan yang baik. Tapi...yasudahlah.

***

Hari Minggu ini Sivia sudahberniat untuk tidur sampai siang. Ia sungguh merasa lelah karena tengah malambaru kembali ke rumah. Tapi tiba-tiba ia terbangun saat teringat sesuatu.Yaampun, Sivia lupa mengabari Alvin dari kemarin! Bahkan Sivia tidak mengabariAlvin setelah ia sampai di tempat resepsi pernikahan. Sivia pun buru-burubangun dan mengambil iPhone-nya yang sudah menyala.

Sivia pun mencari nomor Alvindan menekan tombol call. Tapi setelah beberapa kali mencoba, Alvin tidakkunjung menjawab telponnya. Sivia akhirnya memilih untuk mengirim BBM ke Alvin.

Sivia Azizah:
Haiiiiiiii

Setelah mengirim chat, Sivia puntiduran sambil menunggu balasan. Sivia sampai kembali tertidur karena tidakkunjung mendapat balasan. Saat terbangun ternyata sudah pukul satu siang danmasih belum ada balasan dari Alvin. Tapi saat melihat Recent Update, Siviamelihat kontak Alvin yang mengubah Display Picture-nya beberapa menit lalu.Sivia pun mengerutkan keningnya. Jadi Alvin bisa mengganti foto tetapi tidakmembaca pesan darinya?!

Sivia pun kembali mencobamenelpon Alvin sampai hampir sepuluh kali sebelum akhirnya Alvin mengangkattelponnya.

“Halo?”

“Hm?”

“Alvin?”

“Hm.” Sivia kembali mengerutkankeningnya mendengar jawaban Alvin yang seakan ogah-ogahan.

“Kamu ngapain? Bangun tidur?”

“Enggak.”

“Terus ngapain?”

“Main game.”

“Kamu kok bisa ganti foto tapigak bales BBM aku?”

“Hm.”

“Kamu kenapa sih hm hm terus?”tanya Sivia mulai kesal dengan jawaban Alvin yang seolah malah mengobrol denganSivia.

“Ada apa?”

“Ada apa apanya?”

“Ada apa kamu telpon?”

“Emang aku gak boleh telpon?!”

“Gak apa-apa.”

“Kamu marah?” tanya Siviaakhirnya menyadari Alvin yang sepertinya benar-benar marah.

“Alvin...” Panggil Sivia karenaAlvin tidak kunjung menjawab.

“Hm.”

“Kamu marah kan? Maaf...” kataSivia memelas karena ia merasa bersalah.

“Kenapa gak ngabarin samasekali?” tanya Alvin akhirnya.

“Maaf, aku lupa. Nyampe disanaaku terus ngumpul sama saudara-saudara. Pas sampe rumah aku langsung tidur.Maaf yaa...”

“Hm yaudah.”

“Tuhkan masih jutek. Aku mintamaaf...”

“Yaudah aku mau keluar.”

“Mau kemana?”

“Main.”

“Sama siapa?”

“Cakka.”

“Kemana?”

“Gak tau.”

“Kok gak tau?”

“Vi, udahan dulu.” Sivia bahkanbelum sempat bicara lagi saat Alvin langsung mematikan sambungan telponnya.Sivia pun langsung cemberut. Perasaannya jadi tidak enak karena Alvin yang sepertinyamasih marah padanya. Lagipula ia memang salah. Ia tidak sempat mengabari Alvinsama sekali padahal ia sudah berjanji untuk mengabari Alvin. Bahkan Sivia jugaberjanji akan menelpon Alvin jika sudah sampai.
Sivia pun akhirnya mencobamengirim pesan ke Cakka.

Sivia Azizah:
Kka?

Cakka Nuraga:
Ya vi?

Sivia Azizah:
Lagi sama Alvin?

Cakka Nuraga:
Iya bentar lagi ketemu Alvin.Gue masih otw

Sivia Azizah:
Emang kalian mau kemana?

Cakka Nuraga:
Makan aja. Kenapa?

Sivia Azizah:
Sama siapa aja?

Cakka Nuraga:
Berdua aja

Sivia Azizah:
Gak sama cewek kan?

Cakka Nuraga:
Enggak lah

Sivia pun sedikit merasa legakarena Alvin hanya keluar bersama Cakka. Sivia bertekad akan menghubungi Alvinlagi nanti untuk meminta maaf.

***

“Kenapa bos?” Cakka bertanyasambil melihat Alvin yang duduk di depannya.

“Kenapa apanya?” Alvin malahbalik bertanya.

“Lo kayaknya diem banget hariini.”

“Lagi bete.”

“Lagi berantem sama Iyem ya?”

“Hm.”

“Kenapa lagi sih?”

“Menurut lo Sivia cinta gak sihsama gue?” tanya Alvin tiba-tiba. Cakka pun menggaruk kepalanya bingung untukmenjawab.

“Mana gue tau bos.”

“Menurut lo.”

“Kalau menurut gue sih... Iyemcinta sama lo lah. Kalau gak cinta kan gak mungkin dia mau jadi pacar lo.”

“Kemarin dia pergi ke Bandungdan gak ngabarin sampai tadi pagi. Padahal dia janji bakal ngabarin kalau udahnyampe sana. Gue udah nungguin sampe ketiduran." Akhirnya Alvinmenceritakan kegundahan hatinya juga. Cakka sendiri sudah yakin pasti adasesuatu yang membuat Alvin mengajaknya keluar.

“Jadi lo lagi marah sama Iyem?”

“Iyalah. Padahal gue sehari ajagak ketemu dia udah kangen banget. Tapi dia kayaknya gak peduli sama sekali.”

“Ya kali aja dia sibuk samasaudaranya.”

“Iya gue tau. Tapi masa ngabarinsebentar aja gak bisa.”

“Dia udah minta maaf?”

“Udah.”

“Terus belum lo maafin?”

“Gak tau. Gue masih kesel.”

“Yaudah lo juga jangan cepetngambek. Bisa-bisa Iyem ilfeel sama lo.”

“Kok lo malah nyalahin gue?”

“Bukan nyalahin juga sih. Tapimenurut gue lo agak kekanakan. Iya kalau Iyem gak ngabarin lo selama seminggubaru wajar lo ngambek. Lagian dia gak ngabarin lo juga kan gara-gara dia lagisama keluarganya.”

“Gitu ya?” kata Alvin setelahbeberapa saat diam untuk merenung.

“Iya lah. Oh ya, dia juga tadinanyain lo.”

“Nanyain apa?”

“Ya nanyain lo sama gue pergikemana terus sama siapa. Dia juga tanya kita pergi sama cewek apa enggak. Kangak mungkin dia nanya-nanya gitu kalau gak punya perasaan sama lo.” Alvin diamsesaat sebelum akhirnya tersenyum.

“Iya juga.”

Akhirnya Alvin dan Cakka punmengobrol berbagai macam topik hingga berjam-jam baru mereka memutuskan untukkeluar dari tempat makan di salah satu mall. Cakka memang mengajak untuk makandi Mall karena ia sekalian ingin membelikan sesuatu untuk gebetan barunya.Alvin pun hanya bisa diam berjalan di belakang Cakka karena Cakka yang memaksauntuk menemaninya. Hingga mata Alvin tidak sengaja mengangkap dua sosok yangterlihat sangat akrab di salah satu toko olahraga. Sivia dan Gabriel! TanganAlvin terkepal kuat begitu melihat tangan Gabriel dengan lancangnya mencubitpipi Sivianya. Tanpa berbicara lagi Alvin langsung menghampiri mereka danmelayangkan pukulan begitu sampai disana.
Sivia langsung memekik kagetkarena terkejut. Apalagi kini terlihat darah di sudut bibir Gabriel.

“Alvin!” Sivia langsung berdiridi tengan mereka begitu Alvin siap melayangkan pukulan kedua. Tentu tindakanSivia yang melindungi Gabriel membuat Alvin semakin emosi. Alvin pun menatapSivia dengan pandangan yang tidak bisa Sivia artikan. Lalu Alvin pergi begitusaja dari sana. Sivia yang panik langsung berbalik melihat keadaan Gabriel.Beberapa orang yang sebelumnya menyaksikan kegaduhan itu pun mulai pergi.

“Lo gak apa-apa yel? Maaf yaa lojadi gini...” Kata Sivia tidak enak. Sivia sampai berkaca-kaca karena merasabersalah.

“Gak apa-apa kok, santai aja.”Kata Gabriel tersenyum menenangkan Sivia. Sivia sendiri masih menyesal. Tadisaat ia memasuki Mall ia tidak sengaja bertemu dengan Gabriel. Karena iaberencana untuk membelikan Alvin sesuatu untuk meminta maaf, Sivia jadiberpikir untuk mengajak Gabriel menemaninya untuk memilih. Karena Sivia tidakyakin dengan selera cowok dan berpikir Gabriel mungkin bisa membantunya. Tapikejadian barusan sungguh diluar rencana. Alvin tiba-tiba datang dan memukul Gabriel.Pasti Alvin salah sangka dengan apa yang ia lihat. Tapi Sivia juga tidak sukasikap Alvin yang main pukul. Padahal Gabriel tidak bersalah.

Sedangkan Alvin langsung pulangke rumah dengan Cakka yang mengikutinya karena khawatir. Dan benar saja, Alvin diamdi kamar dengan wajah merah menahan marah.

“Lo liat kan? Gue lagi marahsama dia tapi dia gak peduli dan malah jalan sama mantannya!” kata Alvin. Cakkahanya diam memberikan Alvin kesempatan untuk meluapkan emosinya.

“Gabriel kira dia siapa beranimegang-megang cewek gue!”

“Lo liat kan tadi, Sivia malahbelain Gabriel!”

Cakka mengerti jika sahabatnyaitu kini sedang emosi. Sivia memang keterlaluan jika dia pergi bersama cowoklain padahal pacarnya sedang marah. Apalagi Gabriel adalah mantan Sivia yang terlihatjelas jika Gabriel masih menyimpan perasaan untuk Sivia.

***

Sivia duduk dengan gugup. Didepannya kini sudah ada Alvin yang duduk dengan wajah datar. Sivia memangsengaja mengajak Alvin bertemu di Cafe yang sering mereka datangi. Sivia inginmeminta maaf untuk kejadian hari Minggu dan menjelaskan kesalapahaman kemarin.Dan setelah susah menghubungi Alvin akhirnya Alvin setuju untuk bertemu. Alvinpun hanya diam menunggu Sivia yang memulai pembicaraan.

“Seharusnya kamu gak bertindakkayak kemarin. Gabriel—“

“Jadi kamu minta ketemu cumapingin bahas Gabriel?!” kata Alvin yang langsung memotong perkataan Siviadengan emosi.

“Bukan gitu. Tapi kamu emangketerlaluan, Vin. Gabriel cuma—“

“Udah! Jadi kamu emang cumapingin bela Gabriel?”

“Bukan. Kamu jangan emosi duludong. Aku tau aku salah gak ngabarin kamu dan ingkar janji. Dan kemarin, kamusalah paham. Aku dan Gabriel gak seperti yang kamu pikirin. Kita cuma gaksengaja ketemu terus aku yang ngajak Gabriel nemenin aku. Jadi Gabriel gaksalah apa-apa disini.”

“Kamu kira aku gak liat kalianakrab banget? Sampe gabriel dengan santainya nyentuh pipi kamu.”

“Vin, itu... itu cuma kebiasaan.Mungkin Gabriel juga gak sadar ngelakuinnya.”

“Kebiasaan? Jadi kamu juga biasadiperlakuin gitu sama dia? Kenapa gak balikan sekalian?!”

“Alvin... Udah berapa kali akubilang kalau aku sama Gabriel gak ada apa-apa.”

“Apa kamu tau apa yang Gabrielpikir? Kamu yakin dia juga nganggep kalian gak ada apa-apa?”

“Apa maksud kamu sih?”

“Dia jelas masih suka sama kamu,Vi!”

“Alvin, udah! Gabriel emangmantan aku tapi gak seharusnya itu bikin kamu terus berpikir buruk tentangdia!” Sivia tanpa sadar membentak Alvin karena merasa lelah dengan tuduhanAlvin. Alvin hanya memandang Sivia beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas.

“Oke, sekarang terserah kamu.”

“Vin...”

“Mulai sekarang terserah kamu.Kamu bebas.”

“Apa maksud kamu?” tanya Siviamerasakan firasat buruk melihat wajah Alvin.

“Kita sampai disini aja. Kamugak perlu tertekan lagi.” Kata Alvin lalu berdiri dan beranjak pergi. Siviadiam beberapa saat karena masih kaget dengan ucapan Alvin. Ia langsung mengejarAlvin begitu sadar dari keterkejutannya.

“Alvin! Apa maksud kamu?!” Siviamenahan tangan Alvin yang sudah akan masuk kedalam mobil.

“Apalagi Vi? Ini yang kamu pingininkan. Dari awal kamu emang cuma terpaksa jalanin hubungan ini. Dengan gini kamubebas.”

“Vin, kamu bener-bener salahpaham.”

“Kita sendiri-sendiri aja dulu.”Kata Alvin lalu masuk kedalam mobilnya. Sivia akhirnya membiarkan mobil Alvinpergi dan Sivia pun masuk ke mobilnya sendiri. Beginikah akhirnya? Kenapa Alvintidak pernah percaya kalau Sivia dan Gabriel benar-benar hanya berteman. Tanpaterasa air matanya mengalir begitu saja. Dadanya terasa sakit. Sivia barumenyadari ternyata ia sungguh mencintai Alvin. Hingga rasanya sangat sakitbegitu melihat Alvin meninggalkannya.

***

Rabu, 28 Mei 2014

If You Earn Me [13]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others




Sivia duduk di atas kasur sambil membaca novel yang baru ia beli tadi siang. Tidak seperti biasanya, sivia menghabiskan waktu satu jam hanya untuk membaca sepuluh halaman novel itu. padahal biasanya sivia sudah menghabiskan satu novel hanya dalam dua sampai tiga jam. Bagaimana tidak, kali ini sivia membaca novel sambil berkali-kali mengecek ponselnya yang ia letakkan di dekatnya.
Sivia buru-buru mengambil ponselnya begitu mendengar ponselnya itu berbunyi. Sivia menghela nafas kecewa melihat pesan masuk bukan dari yang ia harapkan. Yah, sivia sungguh mengharapkan pesan atau telpon dari alvin. Sudah hampir dua hari alvin tidak menghubunginya sama sekali pasca pertengkaran mereka di tempat makan waktu itu. Setelah mengantarkan sivia kembali ke butik untuk mengambil mobilnya, alvin tidak berkata apa-apa dan langsung pergi begitu saja. Dan sivia begitu tidak tenang dengan kondisi seperti ini. Alvin benar-benar marah!
Masa iya gue yang telpon duluan? Batin sivia menimbang. Gengsi sivia cukup besar untuk menghubungi alvin duluan, apalagi menurut sivia memang alvin yang terlalu berlebihan. Tapi jujur ia merindukan alvin. Sivia meletakkan novelnya dan akhirnya memilih membuka profil BBM alvin. Sivia merasa kecewa melihat alvin kini membiarkan display picturenya tanpa foto. Setelah itu sivia pun keluar dari aplikasi messenger dan membuka aplikasi twitter. Sivia langsung saja mengetikkan username akun alvin di kolom pencarian. Tapi sayangnya tidak ada tweet terbaru dari alvin. Bahkan tweet terakhir alvin ditulis hampir seminggu lalu.

azizahsivia: kangen!!

Setelah menulis satu tweet itu sivia keluar dari aplikasi sosial media itu dan memilih tiduran. Sivia hanya diam, bingung apa yang harus ia lakukan.

Tidak jauh berbeda dengan alvin. Ia kini sedang tiduran di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Sudah dua hari ini ia tidak berkomuniasi dengan sivia sama sekali dan itu benar-benar membuat alvin frustasi. Ia begitu merindukan sivia, tapi ia juga tidak bisa hanya diam melihat pacarnya itu berfoto mesra dengan laki-laki lain apalagi dengan mantan pacarnya!
“Kenapa sih bos?” Tanya sion yang duduk di samping alvin sambil memakan snack dan tentu melihat tingkah laku alvin daritadi.
“Mikirin iyem lagi bos?” cakka yang sedang bermain playstasion dengan rio juga ikut menyahut.
“Gue ngerasa aneh aja.” Kata alvin yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamarnya.
“Aneh kenapa?” Tanya sion.
“Kalau dipikir-pikir sivia bener, ini cuma masalah sepele. Tapi tetep aja gue ngerasa kesel banget. Rasanya pingin marah-marah terus. Aneh gak sih gue?” setelah berkata, alvin menoleh ke samping dimana sion yang malah tertawa.
“Apanya yang lucu?” tanya alvin menatap tajam ke arah sion yang akhirnya berusaha menghentikan tawanya.
“Hehe sorry bos. Makanya kalau sama cewek jangan suka cuma main-main aja. Nih gue kasih tau, yang lo rasain sekarang tuh namanya cemburu! Dan cemburu itu tanda cinta. Berarti lo bener-bener jatuh cinta sama si iyem bos!” kata sion tesenyum lebar. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama karena alvin yang langsung memukul kepala sion.
“Pasti lah gue cinta sama cewek gue!”
“Beda bos! Sekarang pikir deh, kapan lo cemburu sama pacar-pacar lo sebelum ini?” kata sion.
“Bener kata sion bos. Lo kan cuma asal kalau nembak cewek. Asal dia cantik, seksi, famous, langsung lo tembak aja. Kalau udah diterima yaudah deh lo cuekin. Mana lo peduli kalau cewek lo foto sama cowok lain.” Cakka ikut menambahkan.
“Yaudah bos, telpon aja iyem. Lo gak takut si Gabriel deketin iyem?” kata rio yang menghampiri sion lalu merebut snack yang tengan sion nikmati.
“Iya bos, telpon iyem sana. Daripada keburu di rebut Gabriel. Kayaknya Gabriel masih ngarep sama iyem.” Kata cakka lagi.
Sivia menimbang-nimbang perkataan sahabat-sahabatnya. Alvin jadi semakin tidak tenang memikirkan Gabriel yang mencoba mendekati sivia lagi. Tidak berkata apa-apa lagi alvin langsung meraih kunci motor dan jaketnya. Sedangkan sion, cakka dan rio hanya senyum-senyum melihat alvin yang buru-buru pergi.
* * *
“Vi!” sivia yang sedang tiduran di kasur langsung menoleh melihat adiknya yang masuk ke kamarnya. Tidak lama ray sudah duduk manis di kasur sivia.
“Apa?” tanya sivia malas.
“Lo liat deh instagramnya marsha!” kata ray menyerahkan iPhonenya ke sivia. Sivia mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk dan melihat layar iPhone adiknya.
“Apaan nih?!!” sivia langsung emosi melihat akun instagram marsha yang baru saja mengunggah foto beberapa menit lalu. Itu adalah foto marsha dan alvin yang sedang selfie! Apalagi di foto itu terlihat marsha yang memeluk leher alvin dengan mesra!
“Lo udah putus sama alvin?” tanya ray. sivia pun menggeleng sebagai jawaban.
“Lo sih pake foto-foto sama Gabriel. Kalau alvin balikan sama marsha gimana?” kata ray.
“Terserah lah. Hak dia mau balikan sama marsha!” kata sivia.
“Lo rela emang? Lo sebenernya cinta gak sih sama alvin?!” ray jadi kesal dengan kakaknya yang seperti tidak peduli.
“Ya walaupun gue cinta tapi kalau dia gak cinta sama gue terus mau apa?! Tau ah!!” sivia mengembalikan iPhone ray lalu kembali tiduran dan memeluk gulingnya erat dengan wajah cemberut.
“Lagian marsha juga lebih cantik dari elo sih vi.” Kata ray sambil melihat-lihat foto marsha yang lainnya.
“Gue juga tau!!” kata sivia semakin berkaca-kaca mendengar kata-kata ray. Memang benar marsha jauh lebih cantik dari dirinya. Begitu juga mantan-mantan alvin yang lainnya. Sivia semakin yakin kalau alvin sekarang pasti baru menyadari bahwa ia benar-benar salah memilih sivia.
Ray yang melihat kakaknya sedih pun memilih keluar dari kamar sivia apalagi ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ray langsung turun untuk membukakan pintu karena pasti sivia tidak dalam mood untuk membukakan pintu.
Sedangkan sivia akhirnya memasang earphone ke telinganya dan mendengarkan lagu dari iPod. Sivia memilih lagu mellow agar membuatnya bisa cepat terlelap. Tapi baru beberapa menit sivia memejamkan matanya ia merasakan kasurnya bergerak menandakan ada yang menduduki kasurnya.
“Lo liat foto marsha sendiri aja bisa kan?! Gue mau tidur ray!” kata sivia tanpa menoleh. Ia tetap pada posisinya yang menghadap ke tembok. Sivia dalam suasana hati yang kurang baik untuk menemani ray melihat-lihat foto marsha atau yang lainnya.
Sivia langsung membuka matanya begitu merasakan ada yang mengelus kepalanya lembut. Ray? tentu tidak mungkin! Sivia pun menoleh dan terkejut melihat Alvin yang duduk di tepi kasurnya sambil mengelus kepalanya.
“Alvin?” kata sivia mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap ke alvin.
“Hai.” Kata alvin tersenyum.
“Ngapain disini?” tanya sivia. Jujur ia benar-benar tidak menyangka alvin disini, dikamarnya. Tiba-tiba ia mengingat foto marsha tadi. Apa jangan-jangan alvin kesini untuk memutuskan hubungan mereka?
“Sorry ganggu, tapi ada yang bener-bener pingin aku omongin ke kamu.” Kata alvin. sivia langsung tersenyum miris mendengarnya. Sepertinya dugaannya memang benar.
“Aku udah tau.” Kata sivia sambil menunduk sambil memainkan ujung baju tidurnya.
“Udah tau?” Alvin menatap sivia heran.
“Aku gak apa-apa kalau itu yang kamu pingin. Lagian emang marsha jauh lebih baik dari aku.” Kata sivia.
“Marsha?” alvin mengangkat sebelah alisnya. Ia jadi bingung sendiri dengan arah pembicaraan ini.
“Iya.” Sivia mengangguk.
“Vi, Aku kesini mau minta maaf sama kamu. Aku sadar aku emang berlebihan. Aku cuma gak terbiasa cemburu. Dan cemburu rasanya bener-bener ngeselin. Aku minta maaf.” Kata alvin meraih tangan sivia dan menggenggamnya lembut.
“Minta maaf? Bukan minta putus?” tanya sivia. Alvin yang mendengarnya langsung terkejut. Darimana sivia mendapat pemikiran seperti itu?
“Enggak lah. Aku kesini mau minta maaf. Maafin aku…” kata alvin menatap sivia sungguh-sungguh. Sedangkan sivia langsung tersenyum, ia tidak menyangka ternyata alvin datang untuk meminta maaf. Sivia pun langsung mengangguk.
“Aku juga minta maaf.” Kata sivia yang dibalas anggukan oleh alvin. Setelah itu alvin langsung saja menarik sivia dalam pelukannya. Ia benar-benar merasa lega akhirnya ia dan sivia sudah baikan.
“Oh ya, kenapa kamu mikir aku mau putus? Dan kenapa tadi malah nyebut-nyebut marsha?” tanya alvin setelah melepaskan pelukannya. Memang ia jadi penasaran dengan apa yang membuat sivia mengira bahwa ia ingin putus.
“Tadi ray kesini nunjukin aku instagramnya marsha. Marsha baru aja ngupload foto dia sama kamu.” Sivia menjelaskan dengan cemberut.
“Foto apa? Aku gak pernah foto sama marsha.” Kata alvin.
“Bohong! Liat aja di instagramnya marsha!” mendengar kata-kata sivia akhirnya membuat alvin mengambil iPhonenya dan membuka aplikasi instagram.
“Kenapa?” tanya sivia melihat alvin yang hanya diam.
“Lupa password.” Kata alvin sambil nyengir. Memang sudah cukup lama ia tidak pernah membuka akun instagramnya. Alvin pun mencoba beberapa kata yang ia ingat. Dan setelah tiga kali mencoba akhirnya ia berhasil masuk ke akun instagramnya.
“Usernamenya marsha apa?” tanya alvin ke sivia.
“Ih kamu kan mantannya! Masa gak tau.”
“Masa mantan wajib tau username instagramnya.” Kata alvin.
“Sini.” Kata sivia akhirnya mengambil iPhone alvin dan mengetikkan username marsha. Tentu saja sivia ingat, sudah beberapa kali ia dan ray membuka akun instagram marsha.
“Nih!” sivia langsung menyerahkan iPhone alvin yang menunjukkan foto yang baru diunggah oleh marsha.
“Ini sih foto lama.” Kata alvin setelah melihat foto yang dimaksud sivia.
“Foto lama?”
“Iya. Ini foto waktu aku masih pacaran sama dia dulu.” Jelas alvin.
“Masa? Kenapa baru diupload sekarang sama marsha?”
“Ya gak tau. Yaudah nanti aku suruh dia hapus.” Kata alvin.
“Bener foto lama?” tanya sivia yang masih tidak percaya. Alvin yang melihat wajah cemberut sivia malah tersenyum.
“Iya sayaang. Kenapa? Cemburu?” tanya alvin menyeringai.
“Iya lah! Liat nih pake meluk-meluk segala!” kata sivia kesal. Alvin yang mendengarnya malah tertawa.
“Itu yang aku rasain waktu liat foto kamu sama Gabriel.” Kata alvin. sivia yang mendengarnya jadi terdiam.
“Maaf.” Kata sivia. Ia baru berpikir, kalau ia melihat foto alvin dengan gadis lain tentu sivia akan marah. Ia jadi merasa bersalah mengatakan alvin berlebihan saat itu.
“Udah lupain masalah itu. Kita kan baru baikan.” Kata alvin menarik bahu sivia dan merangkulnya sambil bersandar di tembok.
“Kapan kamu terakhir buka instagram?” tanya sivia setelah diam sesaat. Ia masih dalam posisi alvin yang merangkul pundaknya.
“Udah lama. Kenapa?”
Sivia tidak menjawab dan memperlihatkan layar iPhone alvin yang masih ia pegang. Alvin pun melihat layar iPhonenya dan terlihat foto-foto yang pernah ia unggah di instagram. Banyak sekali foto-foto ia bersama mantan-mantan pacarnya atau dengan gadis-gadis yang hanya sekedar pernah dekat dengannya.
“Siapa aja ini?” tanya sivia yang hanya berbasa-basi. Tentu ia sudah tahu cewek-cewek yang ada di instagram alvin dari Ray.
“Itu foto lama semua kok.” Kata alvin mengambil iPhonenya dan langsung menghapus foto-fotonya dengan mantan-mantannya.
“Kenapa dihapusin? Aku kan cuma tanya itu siapa aja.” Kata sivia yang sebenarnya senang melihat alvin menghapus foto-foto itu dari akun instagramnya.
“Mantan aku. Sumpah aku udah lama gak buka instagram. Jangan marah…” kata alvin. Ia takut sivia marah.
“Aku gak marah. Lagian kenapa dihapus, kan sayang fotonya bagus-bagus.” Kata sivia.
“Ini foto lama sayang.” Kata alvin akhirnya selesai menghapus foto dirinya dengan mantannya dan menyisakan foto dirinya sendiri dan beberapa foto lain.
“Yaudah aku pinjem lagi.” Kata sivia mengambil iPhone alvin lagi dan langsung membuka aplikasi kamera.
“Sama aku.” Kata alvin langsung saat melihat sivia akan melakukan self camera. Sivia pun mengarahkan kamera depan iPhone alvin hingga menampilkan wajah mereka berdua. Mereka pun sama-sama tersenyum ke kamera.
Dan seperti biasa, mereka pun terus ber-selfie ria. Hingga beberapa menit kemudian mereka pun berhenti dan memilih untuk melihat hasil foto mereka. Mereka tersenyum melihat foto-foto mereka. Apalagi melihat beberapa foto terakhir yang mereka ambil membuat wajah sivia bersemu merah. Di foto itu alvin terus berpose dengan mencium pipi sivia. Tidak hanya sivia, alvin juga tersenyum melihat foto-foto itu.
Setelah melihat-lihat, alvin memilih satu foto untuk diupload di akun instagramnya. Tentu saja alvin memilih foto dimana ia tengah mencium pipi sivia sedangkan sivia memejamkan matanya sambil tersenyum.
“Jangan itu yang diupload!” kata sivia dengan wajah merah. Apalagi alvin yang menambahkan tulisan ‘my beautiful girl.’.
“Ini baru foto yang bagus.” Kata alvin menyeringai melihat foto itu sukses diupload. Sedangkan sivia pun akhirnya hanya bisa tersenyum malu dengan wajah yang semakin memerah. Alvin yang melihatnya menjadi semakin gemas dan akhirnya kembali mencium pipi sivia untuk yang kesekian kalinya.
“I love you.” Bisik alvin setelah mencium pipi sivia. Tentu saja sivia semakin merona mendengar kata-kata alvin. sivia menolehkan wajahnya menghadap alvin yang ternyata belum menjauhkan wajahnya membuat wajah mereka kini berhadapan sangat dekat. Sivia menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat alvin yang telihat memajukan wajahnya dengan perlahan. Hingga akhirnya ia merasakan bibir alvin yang menempel di bibirnya. Secara reflek sivia memejamkan matanya merasakan bibir alvin yang mulai bergerak lembut dibibirnya.
Ini memang bukan ciuman pertama sivia, Ia pernah berciuman dengan Gabriel dulu saat masih SMA. Tapi ciuman Gabriel dulu tak seintens ciuman alvin yang sekarang. Dulu ciuman mereka hanya sekedar bibir bertemu bibir dan sangat singkat. Sedangkan kini ciuman alvin begitu intens dan sivia bingung untuk mengikutinya. Tapi sivia mencoba menyesuaikan gerakan bibirnya dengan alvin. Hingga kini lidah mereka saling membelit. Kepala sivia terasa pusing merasakan sensasinya. Sivia benar-benar tidak menyangka mereka kini melakukan frenchkiss!

If You Earn Me [12]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others




Untuk kesekian kalinya alvin membuka recent update lalu membuka profil BBM Gabriel. Alvin kembali membuka display picture Gabriel yang baru saja diganti untuk ketiga kalinya. Dan lagi-lagi Gabriel memasang foto dirinya dengan sivia. Alvin heran, apa Gabriel tidak melihat display picturenya? Buktinya Gabriel malah lagi-lagi mengganti display picturenya dengan sivia. Alvin menekan tombol back begitu ia mendapat BBM masuk.

Cakka Nuraga:
Bos, DPnya Gabriel bukannya sama si iyem?

Alvin Jonathan:
Mungkin
Hingga beberapa menit kemudian Cakka tidak kunjung membalas BBM alvin membuat alvin memutuskan untuk meletakkan ponselnya dan menyalakan televisi. Tetapi baru saja alvin menekan tombol turn on pada remote, smartphonenya kembali berbunyi.

Cakka Nuraga:
Gabriel malah tanya ke gue dp lo sama siapa bos

Alvin Jonathan:
Lo jawab apa
Dan lebih dari lima menit cakka belum juga membalas BBMnya.

Alvin Jonathan:
PING!!!

Alvin Jonathan:
PING!!!
“Cakka sialan.” Umpat alvin melihat cakka bahkan belum membaca BBMnya. Alvin pun kembali meletakkan smartphonenya dan mengganti channel televisi.
* * *
Seperti biasa, setelah terbangun dari tidurnya sivia pun buru-buru mengambil ponselnya. Ia tersenyum begitu melihat beberapa panggilan tidak terjawab dan BBM dari alvin.

Alvin Jonathan:
Sayaang

Alvin Jonathan:
PING!!!

Alvin Jonathan:
PING!!!

Alvin Jonathan:
PING!!!
Sambil tersenyum sivia pun membalas BBM Alvin. Sivia membayangkan alvin yang panik. Memang kebiasaan alvin yang suka panik sendiri jika sivia tidak kunjung membalas BBMnya. Seperti kemarin, alvin langsung saja ke rumah sivia pagi-pagi karena sivia lupa membawa ponsel sehingga tidak membalas pesan dan telpon dari alvin.

Sivia Azizah:
Sorry kemarin udah tidurr
Setelah membalas BBM alvin, sivia baru sadar alvin mengganti display picturenya. Karena memang setahu sivia, alvin lebih sering membiarkan display picture BBMnya tanpa foto. Sivia pun membuka profil alvin dan melihat display picture alvin. Sivia tidak bisa menahan senyumnya begitu melihat foto yang dijadikan alvin display picturenya. Sivia tentu ingat foto itu. Itu foto dirinya dan alvin saat di warung di depan sekolah alvin. Setelah menyimpan foto itu sivia pun menekan tombol back untuk melihat BBM yang baru masuk. Dan yah, alvin yang baru saja membalas BBMnya.

Alvin Jonathan:
Dasar kebo! Kemarin kan baru tidur dikamar aku, baru pulang udah tidur lagi
Sivia tersenyum membaca BBM alvin. Sivia jadi ingat saat ia di rumah alvin. Setelah mengobrol dengan alvin tiba-tiba saja ia sudah tertidur. Mungkin gara-gara ia bangun terlalu subuh untuk jogging dengan ify kemarin.

Sivia Azizah:
Biarin sih orang ngantuk. Daripada kayak kalong!

Alvin Jonathan:
Siapa kayak kalong?!!!
Sivia cekikikan melihat balasan alvin yang alay. Sivia memang sering memanggil alvin dengan sebutan kalong karena kebiasaan alvin yang suka tidur sangat malam.

Sivia Azizah:
Pake nanya! Ehh bagi foto doong

Alvin Jonathan:
Foto apa?

Sivia Azizah:
Yang di dp kamu

Alvin Jonathan:
Ambil aja dari dp

Sivia Azizah:
Yang lain maksudnya!!!

Alvin Jonathan:
Bilang dong
Setelah itu alvin pun mengirim foto yang ia masukkan ke dalam smartphonenya kemarin malam ke sivia lewat BBM. Sivia pun langsung menyimpan semua foto yang di kirim oleh alvin. Hingga sivia membuka foto terakhir yang dikirim alvin membuat sivia langsung menyerngitkan keningnya. Itu foto alvin sendiri yang sedang selfie! Sivia tersenyum geli melihat komentar di samping foto itu. “Bonus foto cowok cakep ;-)”

Sivia Azizah:
Bonusnya dikembaliin aja

Alvin Jonathan:
Kenapa

Sivia Azizah:
Banyak virusnya. Bikin hp langsung error nih

Alvin Jonathan:
Jahat banget

Sivia Azizah:
Hahaha udah berangkat sekolah?

Alvin Jonathan:
Ini udah di kelas. Nanti sore di rumah?

Sivia Azizah:
Aku ke butik tante ira

Alvin Jonathan:
Yang dimana?

Sivia Azizah:
Yang deket rumah aku

Alvin Jonathan:
Nanti ketemu disana

Sivia Azizah:
Ok!
Setelah membalas BBM alvin, sivia meletakkan smartphonenya diatas kasur dan beranjak menuju kamar mandi karena beberapa jam lagi ia harus pergi ke kampus.
* * *

Sivia Azizah:
Ok!
Alvin sudah akan membalas BBM dari sivia itu sebelum cakka masuk kelas dan duduk di bangkunya yang tepat di belakang alvin. Alvin pun memutar duduknya hingga menghadap ke cakka.
“Kenapa bbm gak lo bales?” tanya alvin langsung.
“Hehe ketiduran bos.” Jawab cakka sambil nyengir.
“Gimana? Lo bales apa?” tanya alvin lagi.
“Nih baca aja sendiri. Gue mau nyalin PR dulu bos.” Cakka menyerahkan ponselnya ke alvin dan buru-buru mengeluarkan buku tugasnya lalu ikut bergabung dengan sion yang sedang mengebut untuk menyalin PR. Sedangkan alvin pun langsung membuka aplikasi messenger di ponsel cakka.

Gabriel Steven:
DP alvin sama siapa?

Cakka Nuraga:
Ceweknya lah

Gabriel Steven:
Namanya?

Cakka Nuraga:
Sivia

Gabriel Steven:
Jadi sivia ceweknya alvin?

Cakka Nuraga:
Yep. DP lo sendiri sama sivia tuh?

Gabriel Steven:
Yoi. Serius sivia ceweknya alvin?

Cakka Nuraga:
Gak percaya amat. Emang kenapa? Naksir sivia lo?
Sivia mengerutkan kening melihat Gabriel yang hanya membaca BBM dari cakka itu tanpa membalasnya. Padahal alvin penasaran juga. Apa Gabriel naksir sivia? Emang mereka kenal darimana? Terus kenapa di foto keliatan deket banget? Dan berbagai pertanyaan yang muncul di pikiran alvin membuat alvin jadi tidak tenang.
Sepulang sekolah alvin harus mengikuti ekstrakurikuler futsal hingga sore. Setelah itu alvin pulang untuk mandi. Setelah siap alvin pun pergi ke butik mamanya yang ada di dekat kawasan rumah sivia. Dan benar saja, di parkiran butik mamanya sudah ada mobil sivia yang terparkir rapi. Setelah memarkirkan motornya, alvin pun masuk ke butik itu. alvin memilih untuk langsung ke ruangan mamanya dan benar saja, sivia dan mamanya sedang mengobrol didalam sana.
Setelah menyapa mamanya alvin langsung saja mengajak sivia pergi. Sedangkan sivia hanya menurut dan mereka pun pergi dengan motor alvin. Hingga mereka sampai di salah satu tempat makan yang cukup dekat dengan butik mama alvin tadi.
“Siapa Gabriel?” tanya alvin langsung beberapa menit setelah mereka menghabiskan makanan mereka. Sedangkan sivia cukup kaget mendengar alvin menyebut nama Gabriel.
“Gabriel siapa?” tanya sivia memastikan.
“Gabriel steven, siapa kamu?”
“Mantan aku waktu SMA. Kenapa tiba-tiba nanya tentang Gabriel?” sivia malah balik tanya. Ia penasaran juga kenapa tiba-tiba alvin bertanya tentang Gabriel. Perasaan sivia, ia tidak pernah bercerita tentang Gabriel.
“Kapan kamu foto ini?” bukannya menjawab, alvin malah kembali bertanya sambil menunjukkan foto yang ia ambil dari display picture BBM Gabriel kemarin malam.
“Kamu dapet dari mana?” tanya sivia kaget juga melihat foto itu di ponsel alvin.
“Kapan kamu foto ini?” lagi-lagi alvin tidak menjawab dan mengulang kembali pertanyaannya. Ia jadi cukup kesal setelah mengetahui ternyata Gabriel memang mantan sivia walaupun alvin sempat menduganya.
“Kemarin.” Jawab sivia akhirnya.
“Kemarin?” tanya alvin.
“Iya, kemarin kan aku sempat bilang ke kamu kalau aku ketemu temen lama.”
“Kamu gak bilang kalau kamu ketemu mantan kamu dan foto-foto sama mantan kamu!” sivia cukup terkejut mendengar nada suara alvin yang kian meninggi. Karena baru sekali ini alvin seperti itu.
“Vin, kita cuma foto. Kenapa kamu jadi marah-marah?” Kata sivia.
“Pacar aku foto sambil rangkulan sama mantannya dan kamu masih tanya kenapa aku marah?!” lagi-lagi sivia terkejut karena alvin yang membentaknya.
“Aku gak maksud gitu! Gabriel yang tiba-tiba ngerangkul aku!”
“Kamu bisa ngelarangnya! Dan kamu kira aku gak liat kamu malah senyum-senyum di foto itu?!”
“Itu cuma sekedar foto sama temen, gak lebih! Kamu yang melebih-lebihkan masalah tau gak!” sivia jadi terpancing emosi mendengar omongan alvin.
“Oke.” Kata alvin dengan wajah datarnya langsung berdiri dan membayar makanan mereka.

If You Earn Me [11]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others





Sivia berjalan menuju ruang tamu dengan gugup. Dan benar, alvin memang berada disana. Sivia pun berjalan mendekat dan langsung menyerngitkan keningnya melihat majalah yang sedang alvin baca.
“Aku gak tau kamu suka baca majalah fashion cewek.” Kata sivia sambil duduk di sofa dekat alvin. Alvin terlihat terkejut saat mendengar suara sivia. Ia semakin terkejut melihat majalah yang ia pegang.
“Tadi diatas meja.” Jawab alvin langsung meletakkan kembali majalah itu diatas meja. Sivia hanya tersenyum mendengarnya. Dan beberapa menit pun mereka isi dengan kediaman. Mereka sama-sama gugup setelah kejadian di kamar sivia barusan.
“Maaf.” Kata alvin mulai membuka suara.
“Kenapa?” tanya sivia.
“Aku tadi udah ngetuk pintu tapi gak ada jawaban. Jadi aku main masuk aja. Maaf.” Kata alvin.
“Iya, lupain aja.” Kata sivia sambil menundukkan wajahnya, salah tingkah. Dan mereka pun kembali membisu.
“Oh ya, kamu darimana aja? Aku telpon gak diangkat. Aku bbm juga gak dibales.” Tanya alvin yang ingat tujuannya kesini.
“Kan kemarin udah tau, pagi ini aku jogging sama ify. Aku tadi gak bawa hp.”
“Kenapa lama banget?”
“Tadi ketemu temen lama. Jadinya ngobrol-ngobrol dulu.” Kata sivia. Alvin pun hanya mengangguk mendengar jawaban sivia. Setidaknya ia merasa lega, ia sempat mengira kalau sivia sengaja tidak menerima telponnya.
“Oh ya, hari ini gak ada rencana lagi?” tanya alvin.
“Enggak ada. Kenapa?”
“Yaudah yuk.” Kata alvin langsung saja berdiri dan menarik tangan sivia.
“Kemana?” tanya sivia bingung.
“Udah ikut aja.”
“Tapi aku belum ganti baju. Lagian aku gak bawa apa-apa!” protes sivia tapi alvin terus saja menggandeng sivia keluar rumah.
“Udah cantik kok.” Kata alvin mengedipkan sebelah matanya. Sivia hanya mendengus lalu duduk di boncengan alvin.
Seperti biasa, alvin menarik tangan sivia agar melingkar manis di perutnya sebelum akhirnya melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
* * *
Sivia melepaskan pelukannya dari perut alvin setelah alvin memelankan laju motornya. Sivia melihat sekeliling dan baru sadar mereka baru saja memasuki salah satu kawasan elite di Ibu Kota. Tidak lama kemudian motor alvin berhenti tepat di depan rumah mewah yang tertutup oleh gerbang besar. Alvin menekan bel motornya dan tidak lama kemudian dua orang satpam langsung membukakan gerbang besar itu. alvin pun kembali melajukan motornya hingga berhenti di halaman rumah.
Sivia turun dari motor alvin begitu motor itu berhenti. Sivia melihat sekelilingnya sambil menunggu alvin memarkirkan motor dan melepas helm.
“Ayo.” Kata alvin langsung saja menggandeng tangan sivia.
“Vin, ini rumah siapa?” tanya sivia penasaran.
“Udah diem aja.” Kata alvin tetap menggandeng sivia memasuki rumah itu tanpa permisi. Sivia pun hanya menurut.
“Kamu duduk sini dulu.” Kata alvin. Sivia mengangguk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan alvin langsung saja memasuki rumah itu dengan santai. Apa ini rumah alvin? Batin sivia sambil melihat sekelilingnya. Rumah ini sangat mewah apalagi barang-barangnya yang terlihat sangat mahal. Juga halaman rumahnya tadi yang sangat luas, bahkan sekitar lima kali lipat halaman rumah sivia.
“Wah ini yang namanya sivia?” sivia sontak menoleh dan cukup kaget melihat seorang wanita cantik yang berjalan menghampirinya. Tidak lama kemudian alvin menyusul di belakang wanita itu.
“I…iya tante.” Kata sivia sambil berdiri gugup.
Ira menatap sivia dari atas sampai bawah membuat sivia semakin gugup. Apalagi mengingat ia tidak diberi waktu alvin untuk berganti pakaian sehingga ia hanya mengenakan kaos dan celana jeans biasa.
“Kamu cantik sekali sayang.” Kata ira tersenyum memandang sivia.
“Te…terimakasih tante.” Kata sivia semakin gugup. Sivia yakin itu tadi adalah sindiran halus. Bagaimana mungkin ia terlihat cantik dengan penampilan seperti ini. Sivia sadar, ia berdandan saja tidak bisa se-cantik mantan-mantan alvin apalagi dengan penampilan biasa seperti ini.
“Vi, ini mama aku. Ma, ini sivia pacar alvin.” Kata alvin yang kini sudah berdiri di samping sivia sambil merangkul pundak sivia yang terasa kaku karena nervous .
“Saya sivia tante.” Kata sivia menyalami mama alvin dengan gugup. Sedangkan ira malah terus tersenyum melihat sivia.
“Oh ya, kamu tunggu disini sebentar.” Kata ira masuk ke dalam rumahnya meninggalkan sivia dan alvin di ruang tamu.
“Kenapa gak bilang kalau mau ke rumah kamu?!” kata sivia langsung mencubit lengan alvin kesal.
“Emang kenapa?”
“Kenapa? Kamu sengaja ya bikin malu aku di depan mama kamu?!” Alvin jadi panik melihat mata sivia yang berkaca-kaca.
“Malu kenapa sih vi? Kamu kenapa??” tanya alvin bingung.
“Kenapa kamu gak bilang kalau mau ke rumah kamu? Aku gak ganti baju, aku gak dandan, aku malu sama mama kamu!” kata sivia semakin berkaca-kaca.
“Yaampun vi, kenapa harus malu? Kamu cantik kok. Cantik banget malah.” Kata alvin mengusap pipi sivia lembut. Tapi tentu saja sivia tidak percaya sama sekali. Ia sadar dan benar-benar sadar ia tidak cantik apalagi se-cantik mantan-mantan alvin!
“Cantik apanya! Aku bahkan gak ada apa-apanya dibanding mantan-mantan kamu!”
“Mantan-mantan apa sih vi? Kamu paling cantik di mata aku. Udah santai aja sama mama aku.” Alvin mengelus kepala sivia lembut. Ia tidak tahu kalau sivia sudah melihat macam-macam mantan pacarnya. Tapi alvin tidak bohong, sivia paling cantik baginya.
“Heei ini kebetulan tante baru beli kue banyaak.” Tiba-tiba mama alvin datang dengan membawa kue banyak sekali. Sedangkan di belakangnya ada seorang pembantu membawa minuman.
“Kamu suka rasa apa? Coklat? Keju? Atau strawberry?” tanya mama alvin meletakkan kue itu diatas meja.
“Via suka coklat.” Kata alvin menjawab.
“Yaudah ayo dimakan sayang. Ini juga ada jus jeruk.” Kata ira duduk di samping sivia dan menawarkan kue-kue itu.
“Iya… terimakasih tante.” Kata sivia tersenyum. Alvin yang melihatnya pun ikut tersenyum.
* * *
Alvin duduk di anak tangga sambil memakan apel yang baru saja ia ambil dari kulkas. Ia melihat sivia dan mamanya sedang asyik mengobrol sambil membuka-buka majalah di ruang keluarga. Ia memang lega sivia tidak lagi canggung bersama mamanya. Bahkan kini ia merasa ditelantarkan oleh keduanya. Pacar dan mamanya seakan melupakan dirinya. Mereka kini sedang asyik mengobrol tentang urusan perempuan yang membuat alvin tidak bisa bergabung.
Sedangkan sivia dan ira kini sedang membuka-buka majalah fashion sambil sesekali memakan kue kering yang ada di meja. Sivia tidak bosan-bosannya mendengar penjelasan ira tentang fashion. Sivia memang tidak mengerti masalah fashion. Ia hanya asal memilih pakaian yang menurutnya bagus tanpa tau trend saat ini. Berbeda dengan mama alvin yang sangat mengerti tentang fashion.
“Kapan-kapan kamu main ke butik tante deh. Ada baju-baju baru yang kayaknya cocok banget buat kamu.” Kata ira.
“Wah, boleh tante?”
“Ya boleh dong. Gimana kalau besok?”
“Yah, besok kuliah tante.” Ira mengerutkan keningnya mendengar kata sivia.
“Kuliah? Kamu udah kuliah?” tanya ira.
“Iya tante.” Jawab sivia.
“Yaampun, tante kirain kamu satu sekolah sama alvin. Tapi kamu kuliah di Universitas Cendrawasih juga?”
“Enggak tante, via kuliah di Universitas Airlangga.”
“Universitas Airlangga? Bukannya jauh dari sekolah alvin kan? Terus kalian bisa kenal darimana?” tanya ira penasaran juga. Sebenarnya ia tidak menyangka sivia sudah kuliah.
“Adik via yang sekolah di SMA Cendrawasih tante.”
“Oh, adik kamu temennya alvin?”
“Em, bukan. Adik via baru kelas 10 tante. Adik kelasnya alvin.”
“Terus kok kalian bisa kenalan?” ira terus bertanya ke sivia. Ia sangat antusias bertanya tentang kisah cinta putra bungsungnya yang memang sangat tertutup. Apalagi mengingat sivia ini gadis pertama yang alvin perkenalkan kepadanya membuat ira yakin sivia sangat special bagi alvin. Itulah yang membuat ira menjadi sangat penasaran.
“Waktu itu via jemput adik via ke sekolahnya. Terus ketemu deh sama alvin.” Kata sivia dengan wajah sedikit merah menceritakan awal pertemuannya dengan alvin. Ira yang melihatnya pun ikut tersenyum.
“Oh gitu. Oh ya, rumah kamu dimana sayang?” tanya ira.
“Di Taman Indah Regency, tante.”
“Wah butik tante juga ada di deket situ sayang.”
“Oh ya? Wah asik dong!”
“Iya. Yaudah besok kamu pulang jam berapa?”
“Sekitar jam satu siang tante.”
“Yaudah tante jemput di kampus kamu gimana?”
“Gak usah tante, malah ngerepotin. Lagian via bawa mobil sendiri kok. Emang butik tante di daerah mana? Biar sepulang kuliah via langsung kesana.” Ira pun memberikan alamat butiknya yang ada di daerah rumah sivia. Yah, sebenarnya ia memiliki beberapa cabang butik di Ibu Kota ini.
“Ma, ada telpon.” Ira dan sivia pun sontak menoleh ke arah alvin yang baru saja duduk di samping sivia.
“Dari siapa?” tanya ira.
“Papa.” Ira pun langsung berdiri setelah mendengar jawaban alvin.
“Sebentar ya sivia, tante angkat telpon dulu.” Kata ira lalu berjalan pergi.
“Yuk.” Kata alvin yang sudah berdiri lagi sambil menarik tangan sivia agar ikut berdiri.
“Kemana?” alvin tidak menjawab pertanyaan sivia dan langsung saja menggandeng sivia menaiki tangga. Sedangkan sivia pun hanya diam mengikuti alvin hingga mereka masuk ke salah satu kamar di lantai dua.
“Ini kamar kamu?” tanya sivia.
“Yep.” Kata alvin menggandeng sivia hingga mereka duduk di tepi kasur. Sivia mengamati kamar alvin dengan seksama. Kamar alvin cukup besar, mungkin luasnya dua kali lipat dari kamar sivia. Cat kamar alvin berwarna abu-abu terang, senada dengan bed cover alvin yang juga berwarna abu-abu sedikit lebih gelap. Kamar alvin bisa dibilang cukup rapi untuk ukuran kamar cowok. Ah, sivia bahkan tidak pernah masuk ke kamar cowok selain kamar ray. Jadi lebih tepatnya kamar alvin lebih rapi dibanding kamar ray.
“Ngapain kesini?” tanya sivia akhirnya.
“Biar gak di ganggu mama.” Kata alvin langsung saja memeluk sivia dari samping.
“Alvin! Apaan sih.” Sivia mencoba melepaskan lengan alvin yang memeluknya. Tentu saja dengan wajah yang memerah.
“Kangen.” kata alvin malah mengencangkan pelukannya. Benar, ia memang merasa sangat kangen dengan pacarnya ini. Itulah yang membuat alvin sampai ke rumah sivia pagi-pagi karena sivia tidak kunjung menerima telponnya.
Sivia pun tidak lagi mencoba melepaskan pelukan alvin dan memilih diam. Jujur, sivia sendiri juga sering merasa ingin sekali bertemu dengan alvin walaupun mereka baru ketemu beberapa jam lalu. Yah walaupun terdengar aneh, apalagi mengingat mereka lebih sering bertengkar saat bertemu tapi itulah kenyataannya.
“Alvin, udah ah.” Kata sivia setelah merasa alvin sudah cukup lama memeluknya. Alvin pun melepaskan pelukannya.
“Oh ya, kamu udah makan?” tanya alvin.
“Belum sih.”
“Yaudah kamu tunggu disini. Aku ambil makanan bentar.” Kata alvin yang langsung berjalan keluar dari kamarnya sebelum sivia sempat menolak.
Sivia pun akhirnya memilih melihat-lihat isi kamar alvin. Tidak ada yang aneh dari kamar alvin. Hingga sivia tertarik dengan foto-foto yang di temple di salah satu sisi tembok kamar alvin. Sivia pun berjalan mendekat dan melihat-lihat foto-foto itu. sivia tersenyum melihat alvin yang ternyata sangat narsis. Banyak foto alvin bersama sahabat-sahabatnya, Cakka, Sion dan Rio. Juga ada foto alvin bersama mama dan papanya. Sivia mengerutkan keningnya begitu melihat foto alvin yang sedang merangkul seorang cewek. Mungkin saat itu alvin masih SMP karena alvin terlihat lebih pendek dan kurus dari sekarang. Yang membuat sivia penasaran adalah cewek yang bersama alvin itu. karena memang tidak hanya ada satu foto alvin bersama cewek itu. Ada sekitar lima foto alvin bersama cewek itu. Apa ini kakaknya alvin? Batin sivia menebak. Karena yang sivia tahu adalah alvin mempunyai seorang kakak.
“Vi, ayo makan.” Sivia menoleh begitu mendengar suara alvin. Dan benar, alvin sedang meletakkan nampan berisi makanan diatas meja di dekat kasurnya.
“Kakak kamu cantik banget.” kata sivia berjalan menghampiri alvin. Sivia pun duduk di karpet bawah dan bersandar di kasur alvin.
“Kakak?” tanya alvin.
“Cewek di foto itu kakak kamu kan?” Sivia malah balik bertanya sambil menunjuk foto yang menempel di tembok kamar alvin. Ia memang tidak tahu kakak alvin. Tapi kalau bukan kakak alvin, lalu siapa?
“Oh, iya.” Kata alvin setelah melihat foto yang sivia maksud.
“Yaudah makan yuk.” Kata alvin. Sivia mengangguk dan mereka pun makan bersama sambil sesekali bercanda.
* * *
Alvin tiduran sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia menoleh ke samping dan langsung mengambil guling yang ada di sampingnya. Alvin memeluk guling itu sambil menghirup nafas dalam-dalam. Ia semakin tersenyum begitu mencium wangi parfum sivia ternyata masih tertinggal disana. Yah, sesudah makan tadi mereka sempat mengobrol hingga sivia tertidur di kasur alvin sambil memeluk salah satu guling alvin. Guling yang tengah ia peluk sekarang. Alvin seakan teringat sesuatu dan langsung mengambil smartphone yang tergeletak tak jauh darinya. Lagi-lagi alvin tersenyum setelah melihat wallpaper ponselnya. Disana terlihat sivia sedang tertidur dengan wajah damai sambil memeluk guling erat.
Setelah puas melihat foto-foto sivia yang ia foto diam-diam tadi, alvin pun memilih membuka aplikasi messenger dan segera mengirim pesan ke Sivia.

Alvin Jonathan:
Sayang
Alvin iseng membuka Recent Updates sambil menunggu sivia yang tidak kunjung membalas chatnya. Alvin mengerutkan kening begitu melihat salah satu contact BBMnya yang baru saja mengganti Display Picturenya. Alvin pun buru-buru membukanya.

Gabriel Steven
Changed display picture
“Sivia?” kata alvin melihat display picture teman Cakka itu. Yah, Gabriel adalah teman satu tim futsal Cakka. Alvin lumayan mengenal Gabriel karena memang mereka sudah beberapa kali bermain futsal bersama. Dan yang membuat alvin penasaran adalah, apa hubungan Gabriel dan Sivia? Kenapa Gabriel memasang foto dirinya dengan sivia? Apalagi di dalam foto itu Gabriel sedang merangkul sivia sambil keduanya tersenyum ke kamera.
Alvin semakin gelisah karena sivia tidak kunjung membalas chatnya, padahal alvin sangat penasaran ingin menanyakan ke sivia.

Alvin Jonathan:
Sayaang

Alvin Jonathan:
PING!!!

Alvin Jonathan:
PING!!!

Alvin Jonathan:
PING!!!
“Kemana sih sivia?!” kata alvin kesal. Alvin pun langsung mencari contact Ray.

Alvin Jonathan:
Sivia ngapain?
Lagi-lagi alvin iseng membuka Recent Update sambil menunggu balasan ray. Dan alvin semakin kesal melihat Gabriel yang kini mengganti lagi display picturenya. Kini Gabriel memasang foto Sivia sendiri yang tersenyum manis ke kamera.
“Apa-apaan sih ini?!” Alvin merasa sangat kesal melihat cowok lain yang memakai foto sivia sebagai display picturenya. Alvin langsung menekan tombol back saat ada chat masuk.

Raynald Prasetya:
Udah tiduur
Alvin geleng-geleng membaca balasan dari ray. Padahal ini masih jam 8 malam dan sivia sudah tidur! Apalagi tadi siang sivia sudah tidur di kamarnya sampai sore. Dan jam 5 sore alvin baru mengantarkan sivia pulang.
Alvin pun memilih membuka laptopnya dimana ia menyimpan foto dirinya bersama sivia yang difoto oleh sion beberapa hari lalu. Alvin pun memilih beberapa foto yang menurutnya paling mesra untuk di masukkan kedalam smartphonenya. Setelah itu alvin pun memilih foto dimana ia sedang mencium kepala sivia yang sedang bersandar di bahunya sebagai display picturenya. Alvin pun tersenyum puas melihat display picture barunya.

Minggu, 02 Maret 2014

If You Earn Me [10]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
 


Malam ini adalah malam minggu dan Sivia hanya bisa tengkurap sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya. Seperti biasa, sivia mengetikkan alamat situs jejaring social Twitter. Kesal juga sih, ia dirumah hanya bisa main laptop sedangkan ‘pacar’nya malah ke rumah mantannya! Yah walaupun cuma kerja kelompok. Setelah membuka situs itu sivia langsung menuliskan username dan password akunnya. Sivia terlebih dulu membuka mention dan ternyata ada beberapa mention dari teman-temannya.

azizahsivia: kayak lo gak merem aja sha! RT @Keshazzahra: hee sipit follback! @azizahsivia

Setelah membalasnya, sivia langsung membuka akun dengan username keshazzahra itu. Dan benar, itu memang kesha sepupunya yang tinggal di Surabaya. Melihat foto profil kesha membuat sivia jadi kangen keluarga di Surabaya. Apalagi dengan kesha. Umur sivia dan kesha tidak jauh beda membuat sivia cukup akrab dengan kesha.

Setelah menekan tombol ‘FOLLOW’ , sivia kembali membuka mentionnya.
Azizahsivia: 3 porsi sushi duluu!!! RT @agnitri: vii gue ngopy tugas lo doongss @azizahsivia
azizahsivia:ayuuukk RT @ifyalyssa: minggu jogging yuukk @azizahsivia @aghtpricilla

azizahsivia: thankyou :) RT @gabrielstev: cantik :) RT @azizahsivia: new avaa!

Sivia tersenyum melihat mention dari Gabriel. Yah, Gabriel yang tetangga juga mantannya. sivia jadi ingat dulu sivia sangat bangga bisa berpacaran dengan Gabriel saat SMA. Siapa yang tidak bangga jika bisa menjadi pacar seorang idola sekolah. Udah ganteng, keren, kapten basket, pinter, tajir, dan segala kelebihan Gabriel lainnya membuat banyak sekali gadis-gadis yang menyukai Gabriel. sivia juga heran kenapa bisa-bisanya Gabriel malah menyukainya! sivia bahkan masih ingat ia hanya bisa melongo saat Gabriel menembaknya di taman sekolah mereka dulu. Awalnya sivia mengira Gabriel hanya ingin main-main dengannya dan mengira beberapa hari atau beberapa minggu kemudian Gabriel akan memutuskannya. Tapi kenyataannya hubungannya dengan Gabriel bahkan sampai 2 tahun. Dan Gabriel benar-benar menyayanginya hingga terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka berakhir.

Sivia geleng-geleng sambil mencoba membaca mention yang lain untuk melupakan bayang-bayang masa lalunya bersama Gabriel. Lagipula mereka sekarang juga sudah berteman baik dan tidak ada kesalahpahaman lagi.

“@ ifyalyssa oke besok gue ke rumah lo. Awas kalau masih ngeboo.” Sivia langsung menoleh ke belakang dan melihat alvin sedang membungkuk melihat layar laptopnya dan membacakan mention yang baru masuk dari ify.

“Ish ngagetin aja!” kata sivia langsung mengubah posisinya dari tengkurap menjadi duduk. Alvin pun ikut duduk di samping sivia.

“Udahan ngapelnya ke rumah mantan?” kata sivia lagi sambil sok membaca-baca timelinenya.

“Mulai deh.” Kata alvin mengambil alih laptop sivia. Alvin mengetikkan @alvinjo di kolom search dan muncullah akun twitter alvin. Alvin pun langsung menekan tombol follow.

“Oh ya, Emang mau kemana sama ifyalyssa?” Kata alvin sambil entah mengetik apa di laptop sivia.

“Jogging.” kata sivia sambil memeluk boneka kesayangannya, boneka yang di dapatkan alvin di pasar malam.

Alvin hanya bergumam sambil tetap mengetikkan sesuatu di laptop sivia.

“Ngapain sih?” tanya sivia penasaran.

“Gak. Cuma liat-liat aja.” Kata alvin.

“Ganti baju sana.” Lanjut alvin.

“Ngapain ganti baju?” tanya sivia bingung.

“Udah jangan banyak tanya. Ganti baju sana.” Kata alvin. Sivia mendengus sebal tapi menurut juga untuk mencari baju di lemarinya lalu mengganti baju di kamar mandi.

Sivia keluar dari kamar mandi sudah dengan dress selutut berwarna tosca. Sivia melirik alvin yang ternyata sudah menutup laptopnya dan kini berganti memainkan hp sivia yang tergeletak di kasur tadi.

“Ngapain??” tanya sivia menghampiri alvin. Alvin pun mendongak dan tersenyum melihat sivia memakai dress. Bagi alvin, sivia terlihat sangat manis jika memakai dress. Tapi sayangnya sivia malah jarang sekali memakai dress.

“Udah siap?” alvin malah balik bertanya.

“Bentar.” Kata sivia lalu mengambil flatshoes dengan warna senada dengan dressnya.

“Yuk.” Alvin langsung menggandeng sivia setelah melihat sivia sudah memasukkan handphone dan dompetnya ke dalam tas. Mereka pun keluar dari kamar sivia.

Setelah izin ke mama sivia, alvin dan sivia pun masuk ke mobil alvin dan pergi. Di dalam mobil sivia hanya diam sambil mengamati mobil alvin. Sivia penasaran sebenarnya ada berapa mobil alvin? Walaupun alvin jarang membawa mobil, tapi sampai saat ini alvin selalu membawa mobil yang berbeda di setiap mereka pergi bersama.

Lamunan sivia buyar begitu menyadari alvin sudah membukakan pintu mobil untuknya. Dan disinilah mereka berada, rumah makan padang yang tidak jauh dari rumah sivia. Salah satu tempat makan favorite sivia.

“Darimana kamu tau tempat ini?” tanya sivia. Sivia memang ingat kalau ia pernah menceritakan ke alvin tentang rumah makan padang favoritenya yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tapi sivia tidak pernah memberitahu nama restaurant itu bahkan memberitahu tempatnya.

“Ini satu-satunya rumah makan padang yang deket sama rumah kamu. Jadi bener ini tempat makan favorite kamu?” alvin malah balik bertanya.

Sivia hanya mengangguk untuk menjawabnya. Mereka pun masuk ke rumah makan itu. Sivia langsung memesan menu favoritenya dan langsung menyantapnya setelah pesanannya datang. Jangan heran. Sivia memang sudah lama tidak makan di tempat makan ini.

* * *

Sivia duduk di kasur sambil tersenyum. Ia baru saja selesai mengganti pakaiannya menjadi baju tidur. Beberapa menit lalu alvin mengantarnya pulang setelah puas menghabiskan masakan padang di salah satu tempat makan favoritenya itu. Sebenarnya alvin ingin mengajak sivia nonton tetapi waktunya yang tidak mendukung. Setelah selesai makan jam menunjukkan pukul delapan malam. Jadi alvin mengurungkan niatnya begitu mengingat ia sudah berjanji kepada mama sivia untuk tidak memulangkan sivia terlalu malam. Hingga pukul setengah Sembilan mereka sudah berada di rumah sivia. Alvin hanya sebentar di rumah sivia dan pamit pulang. Sivia mengantar alvin ke depan dan lagi-lagi alvin mencium kening sivia untuk kedua kalinya dalam hari ini sebelum akhirnya pulang. Dan itulah yang membuat sivia senyum-senyum sendiri sekarang ini. Entah kenapa hanya dengan mengingatnya sudah membuat wajah sivia terasa hangat.

Sivia mengambil smartphonenya untuk menghentikan aktivitas gilanya yang senyum-senyum sendiri. Seperti biasa sivia membuka aplikasi twitter dari smartphonenya sambil merebahkan diri di kasur.

Azizahsivia: :D

Sivia hanya mengetikkan emote yang mewakili perasaannya yang sedang gembira saat ini. Setelah itu sivia pun memilih untuk sekedar membaca timeline yang sangat ramai di jam-jam ini. Hingga tiba-tiba ada mention masuk membuat sivia berhenti membaca timeline dan memilih membuka mention.

Alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sivia mengerutkan keningnya. Alvinjo? Twitter alvin? Batin sivia langsung membuka akun twitter itu. Dan benar itu memang twitter alvin. Sivia heran ternyata alvin tau twitternya. Tapi sivia lebih heran bagaimana bisa mereka sudah saling follow. Tapi tidak urung sivia menyunggingkan senyum sambil membalas mention alvin.

Azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sambil menunggu balasan alvin, sivia pun memilih membuka tweets alvin. Memang sudah jadi kebiasaan sivia yang suka sekali stalking jika sedang tidak ada kegiatan.

alvinjo: Ya RT @Marshaw: thanks udah kerumah J @alvinjo

Sivia mengerutkan kening membacanya. Sivia tahu itu marsha mantan alvin tadi. Tapi yang membuat sivia kesal kenapa cuma alvin yang di mention? Bukannya kata alvin masih ada tiga orang lain yang ikut kerja kelompok? Atau alvin yang membohonginya? Perasaan sivia yang sebelumnya berbunga-bunga kini menjadi hancur kesetika.

alvinjo: Ya RT @bangtoyib: Besok kerja kelompoknya di rumah gue @bastiansteel @alvinjo @masrhaw @dianaaa

Sivia langsung lega begitu melihat tweet dari bangtoyib itu. ternyata memang benar tadi alvin kerja kelompok di rumah marsha dengan tiga orang lain. Bukan hanya berdua dengan marsha. Tapi kenapa marsha yang mention ke alvin? Itu yang masih membuat sivia bingung.

Alvinjo: besok RT @sionsimbolon: bos memory card gueee @alvinjo

Alvinjo: Cemburu ;)?

Sivia mendengus melihat tweet alvin sekitar beberapa jam lalu itu. Sivia yakin itu pasti untuk dirinya. Huh!

Alvinjo: Yes!

Sivia melihat tweet alvin itu penasaran. Tweet itu di post tanggal 1 Januari pukul 02.00. Berarti itu saat alvin pulang dari rumah tante sivia? Berarti setelah mereka . . . jadian? Sivia tersenyum sendiri mengingatnya.

Sivia berhenti membaca tweet alvin begitu ada mention masuk. Sivia pun buru-buru membukanya.

Alvinjo: Haha RT @azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sivia pun membalasnya.

Azizahsivia: Gak lucu RT @alvinjo: Haha RT @azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Tidak ada balasan lagi dari alvin di twitter tapi cowok itu lebih memilih mengirimi sivia bbm.

Alvin Jonathan: Kenapa belum tidur?

Sivia Azizah: Belum ngantuk

Alvin Jonathan: Kenapa belum ngantuk?

Sivia Azizah: Gak tau

Alvin Jonathan: Kenapa gak tau?

Sivia Azizah: Kenapa banyak tanya? -_-

Alvin Jonathan: Kenapa kalau banyak tanya?

Sivia Azizah: Kenapa nyebelin?

Alvin Jonathan: Kenapa suka?

Sivia Azizah: Ngeselin!

Begitulah seterusnya percakapan mereka di aplikasi messenger itu. Walaupun terlihat sebal sebenarnya sivia malah senyum-senyum melihat chatnya dengan alvin.

Apalagi alvin, senyumnya tidak pernah hilang setiap melihat balasan dari sivia. Yah walaupun bukan pesan yang romantis seperti pasangan kekasih lainnya, tapi itulah yang membuat alvin senang. Semua sikap judes sivia malah membuatnya semakin menyukai cewek itu.

* * *

Sivia menatap ify yang berlari pelan di depannya. Mereka sudah berlari memutari taman kompeks perumahan sivia untuk yang ke-lima kalinya. Sivia tidak heran melihat ify yang tidak terlihat lelah sama sekali. Sahabatnya itu malah masih berlari sambil tersenyum lebar memamerkan kawat giginya yang berwarna pink. Ify memang suka olahraga. Hampir tiap minggu ify mengajak sivia untuk jogging di taman perumahan sivia. Sivia juga heran, padahal di dekat rumah ify juga ada taman yang cukup luas. Tapi ify selalu memilih taman di perumahan sivia sebagai tempat joggingnya.

“Fy, gue capek!” sivia mencoba menyusul ify yang berada beberapa langkah di depannya.

Ify menoleh ke belakang dan melihat sivia yang sudah bermandikan keringat. Ify melihat jam tangannya dan akhirnya memelankan langkahnya untuk menunggu sivia.

“Yaudah. Udah jam segini juga.” Kata ify membuat sivia tersenyum mendengarnya.

Seperti biasa, setelah jogging mereka memilih duduk di saah satu bangku di taman itu sambil minum dan beristirahat.

“Oh ya, lo udah di kabarin tentang reuni SMP?” tanya ify sambil membuang botol air mineral yang sudah kosong.

“Udah. Dua hari lalu gue di sms sama Abner.”

“Terus? Lo ikut?” tanya ify lagi.

“Kayaknya sih ikut. Udah lama kan gak ketemu anak-anak SMP. Kenapa? Lo gak ikut?”

“Kalau lo ikut ya gue juga ikut.”

“Tapi masih dua bulan lagi kan?”

“Iya. Oh ya, katanya nanti Debo juga dateng loh!”

“Debo?” tanya sivia.

“Iya. Debo Andryos!”

“Oh.” Kata sivia mengangguk, mulai mengingat. Sivia jadi tidak heran melihat ify yang sekarang tersenyum lebar. Secara, Debo Andryos mantan ify yang katanya melanjutkan kuliah di luar negeri juga turut menghadiri reuni itu. Dan yah, sivia dan ify memang teman dari SMP. Sayangnya saat SMA mereka beda sekolah tapi mereka tetap berteman dekat. Dan baru sekarang mereka melanjutkan kuliah di Universitas yang sama, walaupun berbeda jurusan.

“Hai vi.” Sivia dan ify sontak mendongak mendengar sapaan yang terdengar ambigu itu. ‘Vi’ dan ‘Fy’ memang tidak ada bedanya jika di dengar.

“Oh, hai gab!” kata ify tersenyum lebar sambil menyikut sivia pelan.

“Hai yel.” Kata sivia ikut tersenyum walaupun tidak selebar ify. Sivia hanya berdoa semoga ify tidak bertingkah aneh-aneh. Sahabatnya itu suka sekali menggodanya dengan Gabriel. Yah, cowok yang berdiri di depan mereka sekarang adalah Gabriel Steven, mantan juga tetangga sivia.

“Abis jogging juga?” tanya Gabriel menatap sivia dan ify bergantian.

“Iya nih. Lo sendiri? Sendirian aja?” tanya ify.

“Tadi sih sama adek, tapi gak tau ngilang kemana.” Jawab Gabriel.

“Yaudah gabung sini aja!” kata ify. Gabriel mengangguk lalau duduk di bangku yang ada di depan sivia dan ify. Kebetulan sivia dan ify duduk di bangku panjang yang saling berhadapan dengan sebuah meja sebagai penengah.

“Udah lama ya kita gak ketemu. Padahal dulu sering banget ketemu di rumah via.” Sivia hanya bisa memutar bola matanya begitu mendengar ify memulai obrolan. Sivia heran kenapa ify suka sekali membahas masa lalunya dengan Gabriel. Yah memang dulu mereka bertiga sering bertemu di rumah sivia. Dulu Gabriel tentu sering ke rumah sivia saat mereka masih pacaran. Apalagi rumah mereka cukup dekat. Dan ify juga lumayan sering ke rumah sivia untuk sekedar main.

“Iya ya. Udah lama gak ngobrol.” Kata Gabriel.

“Lo sih gak pernah ke rumah sivia lagi. Orang rumah kalian deket juga.” Kata ify lagi.

“Emang boleh? Nanti ada yang marah.”

“Siapa? Bokap nyokapnya sivia gak mungkin marah kan.” Jawab ify.

“Kali aja cowoknya via marah.” Kata Gabriel sambil melirik ke sivia menggoda.

“Tenang aja, sivia masih jomblo kok. Makanya lo sering-sering ke rumah via.” Sivia mendelik mendengar kata-kata ify yang mengalir begitu saja. Jomblo? Sepertinya sivia harus segera cerita tentang alvin ke ify.

“Gue gak—“ baru sivia akan membenarkan perkataan ify tiba-tiba seorang cewek datang.

“Gue cariin malah disini lo!” kata cewek itu sambil meninju lengan Gabriel membuat Gabriel meringis. Hingga cewek itu menoleh ke sivia dan ify.

“Eh ada kak sivia!” kata cewek itu tersenyum lebar.

“Hai Tania.” Balas sivia sambil tersenyum.

“Ini kak . . . ifa ya?” tanya cewek itu sambil mencoba mengingat.

“Gue ify. Lo adeknya Gabriel?” kata ify membenarkan sambil bertanya. Cewek itu mengangguk-angguk.

“Oh iya, kak ify. Hehe maaf kak abisnya udah lama ya kita ketemu dulu. Iya gue Tania, adeknya kak Gabriel.” Kata Tania duduk di samping Gabriel smabil menaruh botol air minumnya di atas meja yang ada diantara mereka.

“Iya. Dulu waktu ketemu di rumah sivia lo masih SD kan? Sekarang udah gede aja.” Kata ify memang cukup kaget melihat Tania. Dulu waktu ify mengenal Tania memang masih SD. Tapi cewek itu sekarang terihat sangat berbeda. Bahkan tinggi Tania mungkin sama seperti dirinya. Tidak heran sih, melihat Gabriel yang sangat tinggi mungkin memang keluarga Gabriel tinggi-tinggi.

“Iya ya, dulu masih kelas enam kalau gak salah.”

“Emang sekarang kelas berapa?” tanya ify.

“Udah kelas 9.”

“Wah mau unas dong. Terus mau lanjut ke mana?” tanya ify.

“SMA Cendrawasih doong!” jawab Tania semangat.

“Gak mau ke negeri?”

“Enggak ah.”

“Kenapa? Emang sih SMA Cendrawasih juga bagus. International School juga.”

“Iyaa, lagian cowok-cowok SMA Cendrawasih capek-cakep!!”

“Oh jadi itu alesannya? Bilangin mama ah.” Tiba-tiba Gabriel sudah menyahut.

“Ih kak Gabriel! Jangan bilang mama!” kata Tania mencubiti lengan kakaknya.

“Biar aja. Bukannya mikir pelajaran malah mikirin cowok mulu. Pasti mau satu sekolah sama cowok itu kan?” Kata Gabriel.

“Siapa? Alvin? Alvin udah kelas tiga sih jadi gak bakal satu sekolah. Kecuali kalau alvin gak lulus.” Sivia langsung menoleh begitu mendengar obrolan Gabriel dan Tania. Apalagi perkataan Tania tadi yang menyebut-nyebut nama alvin. Apa jangan-jangan yang dimaksud Alvin Jonathan? Tapi kan mungkin aja banyak nama alvin yang bersekolah di SMA Cendrawasih.

“Alvin?” tanya sivia akhirnya. Tania dan Gabriel pun menoleh.

“Iya. Cowok yang di taksir Tania tapi gak pernah di tanggepin.” Kata Gabriel yang langsung di hadiahi pukulan oleh Tania.

“Jahat banget sih!” kata Tania masih memukuli Gabriel.

“Emang bener kan. Lagian lo sih ngapain naksir anak SMA. Emang anak SMP gak ada yang cakep apa?”

“Gue gak naksir! Cuma ngefans aja! Lagian temen-temen gue juga banyak yang ngefans sama alvin kok!”

“Iyadeh terserah.” Kata Gabriel.

“Kalian ini masih suka berantem aja.” Kata sivia terkikik geli melihat Tania dan Gabriel yang masih sama seperti dulu, suka berantem.

“Tau nih kak Gabriel yang ngeselin!” begitulah seterusnya. Mereka pun mengobrol dan bercanda sampai tidak sadar waktu.

* * *

Alvin tiduran di kasurnya sambil beberapa kali mengecek smartphonenya. Alvin langsung menyambar ponselnya begitu merasa getaran. Wajah alvin langsung terlihat kecut melihat BBM yang masuk ternyata dari Marsha. Dengan malas alvin membuka BBM dari marsha itu. Mungkin saja ada hubungannya dengan tugas kelompok mereka.

Marsha Windya:

Vin jalan yuk? Bosen nih :(

Alvin menyerngit melihat chat dari marsha. Alvin langsung meletakkan ponselnya tanpa membalas chat dari marsha. Mood alvin benar-benar buruk pagi ini. Bagaimana tidak, ia mencoba menghubungi sivia tapi tidak pernah ada jawaban. SMS dan BBM pun tidak ada yang di balas. Alvin melihat jam digital yang ada di atas meja dekat kasurnya. Masih pukul setengah Sembilan, masa iya ia ke rumah sivia? Tapi ini terlalu pagi untuk bertamu!

Alvin mengacak rambutnya sebal. Ia pun memilih bangun dan segera masuk ke kamar mandi. Tepat pukul 08.45 ia keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaian. Setelah siap, ia pun menyambar jaket dan kunci motor lalu keluar dari kamarnya.

“Mau kemana alvin?” alvin yang baru turun dari tangga pun menoleh dan melihat mamanya sedang duduk di sofa ruang santai dengan ditemani sebuah majalah dan segelas jus. Alvin pun berjalan mendekat ke mamanya.

“Mama kapan pulang?” tanya alvin mencium pipi mamanya lalu duduk di sofa yang ada di hadapan mamanya.

“Baru aja kok. Kamu mau kemana?” tanya Ira lagi sambil menatap putra bungsunya. Wanita itu terlihat jauh lebih muda dengan umurnya yang sudah berkepala empat.

“Kerumah pacar.” Jawab alvin. Mama alvin langsung melihat jam tangannya.

“Wah, se-cantik apa pacar kamu kali ini sampai pagi-pagi udah di samperin?” gurau mama alvin. Ira memang tau putra bungsunya itu suka sekali berganti-ganti pacar. Tapi sejujurnya ia tidak pernah sekalipun tau pacar-pacar alvin satupun. Ia hanya sesekali melihat foto-foto putranya dengan beberapa gadis cantik itu lewat akun jejaring sosial alvin. Kalaupun ia meminta alvin untuk mengajak pacarnya ke rumah pasti alvin menolak. Pasti hanya bilang ‘Gak penting’.

“Paling cantik pastinya.” Kata alvin nyengir.

“Oh ya? Yang ini juga gak mau diajak main ke rumah?” Alvin terlihat diam sebentar sambil senyum-senyum mendengar pertanyaan mamanya.

“Emang mama di rumah sampai jam berapa?” alvin malah balik bertanya, karena mamanya memang sering sekali langsung pergi setelah pulang ke rumah. Beginilah nasib mempunyai orangtua yang gila kerja. Papa alvin bahkan tinggal di Amerika sibuk mengurus perusahaan disana. Papa alvin memang meneruskan bisnis keluarga yang kini sudah mempunyai beberapa perusahaan di luar negeri karena papa alvin adalah anak pertama. Sedangkan papa alvin hanya mempunyai dua adik perempuan.

Berbeda dengan suaminya, ira menggeluti usaha dalam bidang fashion. Ia memiliki beberapa butik yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Dan itulah yang membuat mama alvin itu lebih sering pulang ke rumah daripada papanya. Bahkan akhir-akhir ini mamanya terasa lebih sering dirumah daripada keluar kota.

“Seharian ini mama di rumah kok.”

“Yaudah, nanti aku ajak dia kesini.” Kata alvin sambil tersenyum. Ira yang melihatnya mulai tertarik. Baru kali ini alvin akan mengajak pacarnya kerumah.

“Mama kira kamu bakal jawab ‘Gak penting’ kayak biasanya.” Kata ira.

“Yang ini emang penting.”

“Oh ya? Jadi udah berhenti main-mainnya nih?” tanya ira menggoda, memang biasanya alvin tidak pernah serius pacaran. Ira sendiri tidak heran mengingat usia alvin yang masih remaja. Asalkan alvin tidak berbuat yang macam-macam dengan cewek-cewek itu. Walaupun tidak jarang juga alvin berkelahi membuat wajahnya memar-memar dan membuat ira khawatir. Tapi itu lebih ‘mendingan’ daripada jika ada cewek yang meminta pertanggung jawaban alvin karena sudah . . . ya begitulah. Ira bersyukur alvin bukan tipe cowok seperti itu.

“Yaudah alvin jemput sivia dulu.” Kata alvin.

“Jadi namanya sivia?” alvin hanya mengangguk untuk menjawab sambil bangkit dari duduknya.

“Alvin berangkat dulu ma.” Kata alvin pamit lalu pergi dengan motor kesayangannya.

* * *

Alvin memarkirkan motornya di halaman rumah sivia. Ia pun turun dan mengetuk pintu rumah sivia. Alvin heran tidak ada yang membukanya. Alvin pun mengetuk pintu rumah sivia beberapa kali hingga akhirnya pintu pun terbuka.

“Hai bro. Gue kirain siapa.” Ray terlihat berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Khas penampilan orang bangun tidur.

“Pada kemana?” tanya alvin sambil berjalan masuk setelah ray membukakan pintu mempersilahkan alvin masuk.

“Gak tau. Gue baru bangun.” Kata ray.

“Kakak lo mana?”

“Gak tau gue. Di kamarnya kali. Kesana aja.” Kata ray menutup pintu lalu naik ke lantai atas dengan alvin yang berjalan mengikutinya.

“Yaudah gue ke kamar. Ngantuk. Samperin aja dikamarnya. Palingan juga masih tidur.” Kata ray sebelum akhirnya masuk ke kamar dan langsung terlelap kembali begitu merasakan nyamannya kasur.

Alvin sempat geleng-geleng melihat ray dan akhirnya melangkah beberapa meter dari kamar ray hingga berdiri tepat di depan kamar sivia.

“Vi.” Alvin memanggil sivia sambil mengetuk pintu kamar cewek itu. Tapi tidak ada suara membuat alvin harus kembali mengetuk pintu kamar itu. Tapi tetap saja tidak ada suara.

Alvin pun memilih memutar knop pintu kamar sivia dan ternyata terbuka! Apa jangan-jangan sivia memang tidak ada di kamarnya? Batin alvin mulai membuka pintu lebar dan tepat saat ia baru melangkah satu langkah memasuki kamar sivia tiba-tiba pintu kamar mandi yang ada di kamar sivia juga terbuka.

Alvin berdiri kaku melihat pemandangan yang ada di depannya. Begitu juga sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. Mereka seakan menjadi patung beberapa detik sebelum akhirnya sama-sama tersadar dari keterkejutannya.

“S…sorry.” Kata alvin langsung berbalik dan buru-buru keluar dari kamar sivia.

Alvin diam sebentar di depan kamar sivia sambil mengatur nafasnya. Bayangan sivia yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk benar-benar membuat nafasnya memburu, sangat terkejut. Alvin merutuki dirinya sendiri yang seenaknya masuk ke kamar sivia. Seharusnya ia menunggu sampai sivia membukakan pintu, bukan asal masuk seperti tadi. Alvin pun turun ke bawah, memilih duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu sivia dengan wajah yang terasa panas.