Tampilkan postingan dengan label Drabble. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drabble. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Drabble for #2ndGorgeousANH (02/02)

Nabila Zahra

Aku berusaha mencerna kata-kata yang terlontar dari bibir mungilnya. Mulai mengadah menatap kedua bola mata sipitnya yang menawan itu. yang mempunyai tatapan tajam namun menenangkan. Aku masih berusaha mencari keseriusan disana. Sebagian hatiku memberontak untuk menolaknya namun sebagian lagi memberontak untuk menerimanya. Inikah yang dinamakan bimbang? Dilema dan ragu?
“Bagaimana?” ucapnya sambil memetik asal gitar yang tadi ia gunakan untuk menyatakan perasaannya. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Aku masih tidak percaya hal ini terjadi. Tapi aku akan sangat terlalu jahat jika menggantungkan dirinya begitu saja. Mengereknya di tiang ketidak pastian. Walau nanti akhirnya aku tahu, bukan aku yang akan menjatuhkannya ke lubang kekelaman, melainkan dirinya sendiri. Sama seperti pria-pria lain yang bersikap sama seperti dirinya. Dan sejujurnya aku lelah dengan semua ini.
“Entahlah.. aku bingung Alv.. ini terlalu mendadak.. kau tahu? Aku sama sekali tidak menaruh secuil perasaan kepadamu.. aku takut jika..”
“Jika aku mempermainkanmu sama seperti saat Gabriel dan Rio yang dengan mudahnya menghancurkanmu? Itu kan maksudmu Siv..? ayolah.. aku ini serius. aku bukan mereka dan mereka bukan aku.. apa salahnya mencoba?” Aku mendadak bisu. Bahkan ia mampu bertelepati denganku. Ini gila.
“Baiklah Alv.. aku..” ucapku terbata. Ia mulai menatap mataku dengan tatapan yang sulit di artikan. Sumpah ini membuatku gugup setengah mati. Alvin.. jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.
“Baiklah.. Alv.. beri aku waktu sehari” ucapku pada akhirnya. Ia mulai menunjukkan raut wajah kecewanya. Ia lantas membalikkan badannya. Mulai menenteng asal gitar cokelat itu setelahnya ia meninggalkan diriku sendirian di taman. Kalau saja aku menjawab apakah ia tega meninggalkanku sendirian?

Nabila Zahra

Alvin Jonathan. dia memang tampan. mempunyai lekuk wajah sempurna yang Oriental sekali. Menurutku dia adalah pria yang aneh. Dihadapanku ia jail dan baik tapi tidak dihadapan gadis lain. Ia selalu bersikap dingin terhadap gadis lain. Ia termasuk pria yang menjadi pusat perhatian di sekolahku. Terkadang aku merasa minder dengan diriku yang hampir setiap saat ada disebelahnya. Ia dipuja-puja para gadis di sekolahku. Dan itu membuat diriku tidak nyaman.
Karenanya aku juga mengenal pria-pria sekelas Alvin. ada Cakka Nuraga, Gabriel Stevent, dan Mario Stevano. Seluruh anak sekolahku mengenal mereka.. termasuk Alvin.. siapa yang tak kenal mereka? Tampan, pintar, tajir pula.
Seperti sekarang ini aku duduk di sudut kantin bersama mereka. Dan ajaibnya pandangan mata para gadis-gadis berubah ketika menatapku. ada rasa tidak terima terbesit disana. Dan aku benci jika mereka menatapku seperti ini. Seperti menatap seorang pembunuh.
“Siv.. Sivia?” Aku mulai tersadar dari lamunan kutentang anak-anak yang menatapku seperti pembunuh dan sekarang telapak tangan Alvin sudah menari-nari ria di depan mataku
“Apaan?” ucapku ketus. kemudian aku menyeruput Jus Jeruk yang sebelumnya sudah aku pesan. Seolah dia bisa membaca pikiranku ia mulai melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak menjadi bahan pembicaraan siang ini.
“Pasti gadis-gadis itu lagi” ucapnya polos. Cakka, Rio dan Gabriel mulai menunjukkan raut wajah aneh. tak mengerti dengan ucapan Alvin barusan.
“Hah? Gadis? Siapa? gadis siapa? gadis yang mana?” tuhkan apa aku bilang Cakka yang tukang banyol itu mulai bertanya yang tidak-tidak. Aku mulai mendelik kearah Alvin. Ia mulai menunjukkan raut wajah ampun terhadapku. Well, sepertinya ia ketakutan.
“Ehh.. tidak.. biasa para gadis.. dia selalu bersikap aneh jika kita lewat bukan? Mungkin mereka.. emm sedikit terpesona dengan tampang-tampang kita..” Bodoh. Iya jawaban yang bodoh menurutku keluar begitu saja dari mulut seorang Alvin Jonathan. Sorakan ketiga temannya mulai menimbulkan keributan di meja kami. Sementara murid lain mulai memusatkan perhatiannya ke meja kami. Sial. Sialan ini semua gara-gara Alvin. Jika saja ia tidak menebak-nebak pasti tidak akan seperti ini.
“Kalian semua menjadi pusat perhatian bodoh..bisakah kalian tenang? ini sama saja mempermalukan diri kalian sendiri!” ucapku seperti bisikan. Yang lainnya mulai menatap ke sekeliling. Mulai menunjukkan wajah kaku yang kocak duh.. mengapa aku harus bergabung di lingkaran pertemanan yang sedikit gila? Bodoh dan entahlah. Aku tak paham dan me..ngerti.

Nabila Zahra

“Vii tadi itu bagus banget. Aku nggak nyangka kalo itu kamu yang nyanyi” ucap Alvin saat berjalan menuju pekarangan tempat mereka sekolah musik. Waktu untuk latihan memang sudah berakhir jadi mereka berdua sudah diizinkan untuk pulang.
“thanks yak.. nanti kepala aku pecah loh kalo kamu puji terus..” tanggap Sivia sembari menuntun sepeda Shilla. Ia sudah bersiap-siap untuk pulang.
“Ehh Vin.. aku mau buru-buru pulang.. keburu kesorean soalnya mau nambal ban sepeda aku” Sivia sudah menaiki jok sepedanya. ia tinggal meluncur pulang.
“lah? Itukan bisa dinaikin kok ditambal?” tanggap Alvin penasaran wajahnya tampak kocak saat mengatakan kalimat itu.
“Ini sepedanya Shilla” Entah mengapa Sivia berfikir Alvin seperti ibu-ibu sekarang, selalu banyak tanya. Padahal Ibunya sendiri tidak banyak tanya seperti Alvin.
“baik banget tuh bocah minjemin sepeda.. aku anterin yah sampe rumah Shilla” tawar Alvin. Atau mungkin lebih tepatnya memaksa. Sivia mulai membelakkan mata sipitnya. Ia benar-benar kaget kata-kata itu akan terlontar dari mulut Alvin. Dan seketika ia ingat. di depan Alvin, Shilla berstatus sebagai sahabatnya bukan kembarannya.
“ngg—nggak usah Vin. Kalo supir kamu nyariin gimana? Terusan badan aku itu berat nanti kalo kita jatoh gimana? Kan nggak lucu” Sivia mulai memutar-mutar berbagai alasan yang muncul begitu saja dikepalanya. Ia takut rahasia terbesarnya didepan Alvin akan terbongkar.
“Nggak ada tapi-tapian Vii” Sivia pasrah. Ia mulai memanyunkan bibirnya, ia mulai berpindah tempat ke jok belakang. Seperenam perasaannya merasa jengkel sementara seperempat lainnya merasa bahagia yang tak kentara. Entah mengapa ia mulai bisa melihat sisi Alvin yang berbeda.
“Vin”
“Hmm”
“Pelan-pelan! emang aku nggak berat yak?”
“berat pake bangett….”
“nanti turunnya di gang aja ya..”
“hmm”

Tatang Heriana

Guratan oranye yang melintang di ufuk barat kian memudar. Deru ombak pun seakan ikut diam membisu, hanya desiran-desiran pasir pantai yang mungkin masih asyik bercanda. Sang surya tenggelam seketika, dan malam tiba.
Alvin masih terduduk, merenung, menatap satu garis lurus horizontal yang semakin menggelap. Tangannya memeluk lutut erat dengan sesekali menggesekan kedua telapak kakinya cepat.
“Aku rindu kamu!” ucap Alvin lirih. Ia masih enggan bangkit dari duduknya.
“Kapan kamu pulang ke Indonesia, Vi?” Alvin menundukkan kepalanya pasrah. Sudah lima bulan ini ia bersikap seperti ini, mengurung diri. Tepatnya saat Alvin ditinggal pergi ke Belanda sama sahabat kecilnya, Via.
“Alvin!” teriak seseorang tak jauh di belakang Alvin.
“Alvin, ayo pulang! Ini sudah malam.” teriaknya lagi. Alvin tetap menunduk, tidak sama sekali menghiraukan panggilan tersebut hingga terdengar derap langkah kaki yang mendekatinya.
“Kenapa kamu masih disini, Vin? Ayo pulang! Aku sudah kangen banget sama kamu.” Alvin terkesiap mendengarnya, suara ini beda dengan suara sebelumnya. Ia menengok ke belakang perlahan.
“Via?!” kaget Alvin, matanya berbinar.
“Iya, ini aku, Via!” kata Via dengan guratan senyum manis yang membuat Alvin tak sabar ingin memeluknya erat.
“Aku kangen kamu, Vi! Dan yang harus kamu tau, aku benar-benar gak bisa hidup tanpa ada kamu, Via. Kamu mau kan jangan tinggalin aku lagi?” pinta Alvin penuh harap. Via tersenyum dipelukkan Alvin, tak terasa air matanya mengalir lembut di pipinya.
“Aku janji, mulai sekarang aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi. Aku sayang kamu!” balas Via semangat.
“Janji?” Alvin mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan hidung Via.
“Janji!” jawabnya sambil membalas kelingking Alvin. Lagi, Via memeluk Alvin erat. Dan tanpa disadari Alvin, Via mengalungkan sebuah liontin yang berinisial Alvia di leher cowok yang sedang dipeluknya itu seraya membisikkan sesuatu, “Happy Birthday, Alvin! God Bless You.Jangan pernah lepas liontin ini ya? Buat kita, aku dan kamu.” Alvin tersenyum, matanya berkaca.

Tatang Heriana

Namun kini, pikiranku hanya tertuju padamu. Sungguh ku tenggelam dalam khayal cinta.
"Ah! Mana mungkin, sih?!" rutuk Via kesal. Ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kali ini, Via sedang berdiri di dekat balkon kamar miliknya, malam hari.
"Masa gue jatuh cinta sama dia, sih? Gak mungkin banget, deh! Dia kan orang super aneh yang pernah gue temui." Via menatap satu bintang yang kala itu bersinar paling terang, seakan senang mendengarkan curhatan Via.
FlashbackOn.
"Ini sepatu loe! Maaf yah kalo kemaren gue jahil sama loe." ucap Alvin tiba-tiba saat Via sedang berkutat dengan pelajaran kimia yang maha susah. Sedetik, Via mengangkat salah satu alisnya, heran. Seorang cowok yang selama ini dikenal sengak, sombong, jahil, sok cakep dan sok berkuasa oleh Via itu, kini mau mengembalikan sepatu Via yang kemarin ia lempar ke atas genteng dan bahkan sampai meminta maaf dengan tulus padanya.
"Gak salah loe?! Apa loe belum minum obat kali, ya?" tanya Via heran.
"Emang ada yang salah, ya? Apa gue gak boleh minta maaf sama loe?" tanya balik Alvin dengan menatap mata Via lekat.
"Vi, terserah loe deh mau maafin gue apa nggak. Disini gue cuma mau jujur kalo sebenernya gue itu cinta sama loe! Udah, gitu aja. Dan gue ngelakuin semua itu hanya ingin elo itu memberi perhatian lebih buat gue, alias gak cuek. Ya, emang bodoh sih kelihatannya. Tapi, emang ini kenyataannya kalo gue cinta sama loe, Vi." jelas Alvin tanpa basa-basi dulu dengan Via.
Sedangkan Via hanya cengo mendengar penuturan Alvin.
"Terus gue harus bilang WOW gitu sama loe! Udah deh, gak usah becanda gitu! Gak lucu, tau! Udah sana loe pergi! Gue lagi banyak tugas, jangan ganggu gue deh. Gue udah maafin loe, kok. Tenang aja." Via kembali beralih ke buku catatannya tanpa melihat ekspresi muka Alvin yang super kesal. Sudah jelas-jelas dia itu serius, malah di anggap becanda. Dasar nasib orang 'SOK' kali, ya? Hehehe...
"Dasar orang aneh! Nyesel gue bilang cinta sama loe! Gue tarik balik deh kata-kata gue barusan!" sesal Alvin sambil pergi.

Tatang Heriana

Bel istirahat berdering. Siswa-siswi SMA 2 berhamburan disekitar sekolahnya, tak terkecuali Alvin cs yang notabene-nya geng paling sengak di sekolah tersebut. Seperti biasa, mereka selalu membuat ulah yang jahil bagi siapa saja yang mereka kehendaki.
"Heh, kamu! Iya kamu! Sini!" panggil Gabriel pada seseorang yang sedang asyik memandangi cowok-cowok bermain basket.
"Loe manggil gue barusan? Ada perlu apa, deh?" jawab anak tersebut enteng. Mendengar itu, Alvin tersenyum sinis dan mulai mendekatinya dengan tatapan emosi.
"Loe songong, ya! Loe gak tau kita itu siapa, hah?!" bentak Alvin walaupun pada seorang cewek.
Ya, anak tersebut adalah seorang cewek yang bernama Via一murid baru.
"Hah? Songong? Emang dari dulu juga gue kaya gini, gak ada tuh orang yang bilang gue songong. Lagipula emang gue juga gak tau elo semua itu siapa?" Via melipat dada santai.
"Asal loe tau ya! Kita berdua itu penguasa di sekolah ini. Jadi, loe jangan macam-macam sama kita! Dan ingat, setiap haril oe itu harus setor duit ke kita. Mana duit loe!" kata Gabriel menyerobot.
"Oh... jadi elo berdua tuh preman di sekolah ini? Heuh! Tidur masih di temenin aja sudah sok-sok an jadi preman. Kalo kalian mau minta duit, sana sama bokap nyokap loe! Kenapa minta sama gue? Emang situ siapa gue? Anak gue? Bukan!" Via melengos meninggalkan Alvin dan Gabriel yang sudah dibuat geram olehnya.
"Berani loe sama kita, hah? Sialan." Gabriel mencoba mengejar Via, namun tangannya ditahan oleh Alvin. Karena ia ingin menanganinya sendiri. Masa iya 1 cewek dikeroyok 2 cowok?
Tubuh Via tersentak ke pinggir tembok kelas. Kerah bajunya yang diremas oleh Alvin, membuatnya susah untuk melawan. Alvin menatap mata Via dalam, begitupun sebaliknya.
"Kali ini loe boleh menang, karena gue gak biasa melawan seorang cewek. Tapi, lain kali gue gak segan-segan buat ngehabisin loe! Ngerti?" bisik Alvin tepat di telinga Via. Sedangkan Via memutar bola matanya dengan santai.

"GUE GAK TAKUT!" balasnya dengan mendorong Alvin hingga terjatuh kebelakang.

Tatang Heriana

Kilauan sinar bulan dan bintang seakan menjadi saksi kisah cinta dua insan yang kini sedang duduk santai diatas sebuah gedung. Mata mereka berbinar. Sedetik, si cewek meletakkan kepalanya di pundak si cowok.
"Kalau boleh aku meminta satu permintaan, aku berharap semoga malam ini menjadi malam paling panjang dan paling indah dari malam-malam sebelumnya." ucap si cewek tiba-tiba.
"Kenapa? Kenapa cuma malam ini? Bukankah setiap malam itu indah?" tanya Alvin一si cowok sambil membelai rambut ceweknya一Via.
"Yaa... karena malam ini adalah malam spesial, malam dimana aku merasa sangat bahagia bisa mengenakan gaun pengantin dan duduk berdampingan dengan kamu." Via menatap Alvin lekat. Senyumnya langsung terbersit, manis sekali. Seketika itu pula Via merasa bahwa bibirnya begitu kaku, matanya terpejam, kehangatan menjalar disekujur tubuhnya.
"Dan, kalau aku boleh minta satu permintaan, aku gak mau berada jauh dari kamu sedetikpun! Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu ada disisimu, menjagamu, dan memastikan bahwa gak ada seorangpun yang mampu memisahkan kita! Aku sayang kamu,Via." kata Alvin setelah ia memberi kecupan hangat di bibir Via. Sejenak,Via tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Alvin yang begitu harum.
"Ku harap... hanya kematianlah yang mampu memisahkan kita berdua." balas Via sambil mempererat pelukkannya. Alvin tersenyum memandang bulan dan bintang yang saat itu jaraknya benar-benar dekat dengan mereka.
"Kalau begitu, kita ke pesta lagi, yuk! Kasihan tamu-tamunya sudah pada nunggu." ajak Via. Kemudian ia bangkit dan mengangkat gaunnya yang superduper ribet. Melihat ceweknya yang kerepotan dengan bajunya, Alvin pun ikut membantu sambil senyum-senyum gak jelas sampai Alvin tidak menyadari bahwa kakinya menginjak pijakan yang rapuh. Alvin terpeleset! Refleks, tangannya menarik gaun Via yang kebetulan jaraknya belum terlalu jauh dari posisi Alvin tersebut.
"Alviiin...Viiiaa... Aaaaaaaaa!!!" teriak mereka berdua. Dan secepat kilat tubuh mereka menyentuh tanah dalam keadaan berpelukan.

Tatang Heriana

Sorak sorai dalam kelas tak dapat lagi terelakkan ketika Via terjatuh dari kursi akibat ulah Alvin yang jahil. Alhasil, Via benar-benar dibuat superduper malu di depan teman-temannya.
"Rese amat sih loe jadi orang! Sakit,tau?!" bentak Via sambil memegangi pantatnya yang kesakitan. Sedangkan si pelaku一Alvinhanya senyum-senyum sinis tanpa memperdulikan ocehan Via tersebut.
"Dasar cowok aneh! Aaarrrggghhh..."geregetnya melihat Alvin yang cuek bebek sama dirinya.
"Makanya kalau mau duduk lihat-lihat! Udah tau gak ada kursinya, eh malah duduk. Jatuh, kan, loe?!" balas Alvin enteng. Mendengar itu, muka Via berubah semakin geram. Bisa jadi Alvin bakalan diterkam hidup-hidup sama Via.
"Ih! Elo tuh, ya! Enek gue lihat muka loe." Via meninggalkan Alvin dkk serta teman-teman kelas lainnya yang masih sempat menahan tawa karena kejadian tadi.
***
"Elo pasti malu banget ya, Vi?" tanya Prissy setelah Via selesai bercerita di kantin.
"Ya Tuhan, Prissy! Jelas gue malu banget, lah! Pake nanya." responnya sambil mengaduk-aduk milikshake kesukaannyaitu.
"Hehe... gue kan cuma nanya doang, gak usah sensitif gitu juga, kali?" goda Prissy melihat ekspresi muka Via yang begitu kesal. Tiba-tiba...
"Ups! Sorry, gue gak sengaja." ucap seseorang seketika.
"Alviiinnn... loe rese banget sih jadi orang! Loe sengaja, kan?! Ngaku, deh!" Via mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena tumpahan jus tomat milik Alvin.
"Jangan buruk sangka dulu, dong! Jelas-jelas gue tadi udah minta maaf, itu berarti gue gak sengaja! Gimana, sih?!" cetus Alvin sinis. Via mencak pinggang. Sedangkan Prissy hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alvin dan Via. Sepertinya perang dunia ketiga bakal dimulai.
"Gak usah banyak bacot deh, loe! Gue tau loeitu sengaja. Loe syirik kan sama gue? Karena gue udah rebut predikat ranking satu di kelas. Ngaku, loe! Lagian, mau loe itu apa, sih?"
"Sorry, gue gak syirik! Gue itu lebih pintar dan lebih cerdas dari loe! Inget, gue cuma mau loe itu pergi dari pikiran gue!" ucap Alvin sambil meninggalkan Via dan Prissy.


Tatang Heriana

Brak!!! Kursi roda yang sejak tadi didorongnya itu, ia tabrakan ke dinding kamar. Lantas, lelaki muda yang duduk diatasnya tersungkur dengan posisi kepala yang mendarat lebih dulu ke tanah. Keningnya berdarah, tubuhnya seakan tak bisa lagi untuk digerakkan. Sedangkan, lelaki dewasa yang mendorong kursi roda tersebut terus menerus mengepalkan tangannya sambil meredam emosi yang hampir membeludag.
"Ayah gak sudi punya anak kaya kamu, Vin! Kamu cacat! Bisanya cuma nyusahin orang saja. Dasar anak yang gak berguna!" bentaknya penuh amarah. Ia melangkah ke arah Alvin一anak muda tadi sambil mencengkeram kerah bajunya.
"Kamu tau, kan, Vin?! Ibumu meninggal karena siapa?! Harta ayah habis karena siapa?! Itu semua karena kamu! Karena kamu CACAT! Dan sekarang, kamu lebih baik mati daripada hidup kamu hanya bisa bergantung dan menyusahi orang saja." Alvin meneteskan air matanya. Ia sangat tertekan dengan kata-kata ayahnya yang begitu menyayat dan membekas abadi di hatinya.
"Yah... Alvin memang cacat. Alvin buta! Alvin juga lumpuh! Tapi ayah harus sadar, ini semua sudah takdir Alvin, Yah! Ayah harus terima keadaan Alvin, Alvin mohon? Kenapa ayah terus menerus membenci Alvin?! Kenapa Yah, kenapa?!" kata Alvin seraya meremas pundak tangan ayahnya yang masih memegang kerah bajunya. Sedetik, sang ayah berdiri dan membelakangi Alvin.
"Kamu bukan anak ayah!" tolaknya sambil meninggalkan Alvin sendirian.
***
"Kalau begitu kamu tinggal di rumah aku aja, Vin. Aku gak tega ngelihat kamu disiksa terus sama Ayah kamu. Gimana, kamu mau?" tawar sahabat Alvin yang saat itu sedang duduk di taman dengannya.
"Tapi... aku takut Ayah bakal ngelakuin yang nggak-nggak sama keluarga kamu, Vi. Maaf, aku gak bisa. Lagipula aku terima kok semua perlakuan ayah terhadapku, walaupun aku akan mati." respon Alvin sambil memainkan kursi rodanya menjauh dari tempat Via一sahabat Alvin berdiri.
Tiba-tiba, Via meneteskan air matanya dan berlari untuk memeluk Alvin dari belakang.
"Aku sayang kamu, Vin." ucapnya pelan. Alvin tersenyum.


Tatang Heriana

Langkahnya semakin ragu untuk diangkat setelah mengetahui kalau cowok itu adalah Alvin一musuh bebuyutannya. Cowok tersebut duduk membelakangi pohon cemara yang berdiri kokoh didepan kelas XIIIPS 1. Telinganya yang sedari tadi memakai earphone, ia lepaskan setelah menyadari kalau Via sudah berdiri disampingnya.
"Jadi elo yang barusan sms gue?!" tanya Via sinis.
"Gak usah banyak nanya deh! Duduk, loe!" Alvin menarik paksa tangan Via yang sejak tadi mendengus kesal menatapnya.
"Apaan, sih?! Jangan maksa, dong! Loe kira loe siapa?! Ngatur-ngatur gue." tolak Via seraya menepis tangan Alvin keras.
"Sudah??" tanya Alvin datar. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Via sendirian. Aneh! pikir Via seketika.
"Tuh anak sinting, kali, ya? Hmmm... tapi,kok gue jadi gak enak sendiri sama dia一"
"...一taulah! Bodoh amat." tanpa pikir panjang, Via ikut melangkah pergi menyusul Alvin.

***
"Gue memang bodoh! Ngapain, sih?! Tadi gue pakai acara mau nembak Via segala di sekolah. Sudah jelas-jelas dia itu musuh gue! Musuh Vin, musuh! Orang kaya Via itu gak pantas jadi pacar gue. Cewek yang sok kuat, sengak, sombong, sok jagoan, yang pasti sok berkuasa disekolah!" bentak Alvin dengan kesal memandangi gambaran dirinya didepan cermin berukuran super yang bertengger di salah satu sudut kamarnya. Tiba-tiba...
Gue sayang sama kamu, Vin. Aku tunggu dibawah pohon cemara depan kelas.
Alvin terbelalak saat membaca sebuah pesan dari salah seorang cewek yang memang sudah gak asing lagi baginya. Kemudian ia berjalan mendekati tempat tidurnya.
"Maksudnya apaan?" gumam Alvin pelan. Tubuhnya ia rebahkan diatas kasur. Alvin memandangi langit-langit kamarnya yang makin lama terasa memburam ditatapnya. Sedetik, mata Alvin terpejam menutupi kehidupan dunia hari ini. Ia terlelap tanpa menghiraukan sms yang barusan ia terima dan ia bacakan. Sms dari Via.

Yunia Ni'matussolihah Kifin

"Kau tak perlu melakukan ini untukku. bukankah aku bukan siapa-siapamu?"
Kata-kata itu menusuk tepat dihatiku. Apa yang aku lakukan? Kenapa dia seakan-akan tak menghargaiku? Sebuah pesan facebook itu mengganggu pikiranku.
"Kau tak perlu khawatir Alvin. Aku mengirim itu hanya sebagai teman dan tak mengharapkan apa-apa darimu. Anggap saja itu dari teman-temanmu disini"
Apakah aku salah? Aku hanya mengirim foto kue ulangtahun untuknya lewat pesan facebook. Itu karena dia sedang berada di negara lain.
"Ini yang terakhir. Kau tak perlu memberikanku kue semacam ini lagi padaku Via. Jangan memakai alasan teman-teman"
Rasanya ingin menangis, menangisi kebodohanku. Bukan, ini bukan kebodohan. Aku menyayanginya karena diriku sendiri. Rasa ini tak pernah salah. Rasa ini hanya tak terbalas.
"Ya ini yang terakhir Alvin. Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Lagipula kau tak pernah mempercayaiku. Maaf membuatmu tak nyaman"

"Aku bukan siapa-siapamu Via. Aku tak ingin merepotkanmu"
Inilah akhirnya. Penantianku untuk mendapatkan perasaanya sirna sudah. Dia menyuruhku untuk berhenti dan tak mempedulikannya lagi. Aku berusaha tak menyesal. Akhirnya Alvin membuat seorang Sivia merasakan nikmatnya sakit hati.

Siti Hodijah

“ haaaah… capenyaaaa,,,” ujar seorang gadis sambil merebahkan tubuhnya di sofa apartemennya.
Drrr…drrrr…
Getaran pada ponselnya membuatnya mau tak mau kembali duduk tegak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
“Siapa sih ah.. malem-malem sms.. ganggu istirahat gue aja” gerutunya kesal.
Alvin: Vi, kamu udah pulang? Kesini dong ke atas gedung apartemen. Temenin aku, boring nih!
Sivia: Sorry Vin, aku lagi cape nih, baru pulang kuliah, pengen istirahat.
Alvin: Ayooolaaah Viiii, bentar aja.
Sivia: Ah kamu Vin, nyebelin banget sih… oke-oke aku kesana sekarang.
Alvin: Nah gitu ke dari tadi, aku tunggu yah!?
Sivia: Hmm
Dengan berat hati gadis itu, Sivia, beranjak dari sofanya yang nyaman, tanpa babibu menggati pakaian dll, dia keluar dari apartemennya menuju ke atap apartemennya dimana seseorang yang bernama Alvinmenunggunya.
Sesampainya di sana.
“Ada apaan sih Vin, maksa banget kamu biar aku kesini, aku kan lagi cape Vin” omel Sivia sambil mendekati Alvin yang sedang bersender pada pinggir pembatas gedung. Dia hanya diam sambil terseyum kearah Sivia dan merentangkan ke dua tangannya agar Sivia datang kepadanya dan merengkuhnya dalam pelukan hangatnya yang nyaman.
“Aku kangen tau sama kamu” ujarnya sambil memeluk Sivia.
“Kamu pikir aku nggak kangen juga apa?” jawab Sivia manja sambil mempererat pelukannya.
“Hmmm…” gumam Alvin sebagai jawaban pertanyaanSivia.
Lama mereka terdiam dalam posisi berpelukan, menyatukan kehangatan dari masing-masing suhu tubuh mereka, menikmati suara debaran jantung mereka setiap saat. Nyaman, itulah yang mereka rasakan dalam kesunyian mereka.
“Via…” panggil Alvin.
“ Ya,,,” jawab Sivia sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah favorit nya.
Alvin menundukan kepalanya, menatap mata Sivia yang teduh, yang selalu membuat suasana hatinya tenang dan nyaman. Perlahan tapi pasti Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Sivia, membuat Sivia memejamkan matanya dan merasakn hembusan nafas Alvin yang semakin hangat menerpa wajahnya. Bibir mereka bersentuhan saling berbagi kehangatan dan bertautan sampai mereka kehabisan nafas.
Sesaat mereka saling menatap satu sama lain, saling berlomba menghirup udara disekitar mereka untuk mengisi paru-paru mereka kembali setelah melepaskan ciuman mereka.
“ Vi, wouldyou marry me?”
Sivia membelalakan matanya tak percaya, dia menatap mata alvin dalam diam, membuat jantung Alvin berdetak lebih cepat dari biasanya, dia merasa tegang, dan juga was-was saat melihat Sivia yang diam dan menatap matanya. Bahkan dia merasa sesak nafas karena menunggu jawaban dari kekasihnya.
Bibir Sivia tersenyum manis sambil berkata “Yes, I would
Sekali lagi Alvin memeluk Sivia dengan erat, sangat erat sampai Sivia merasa sesak tapi dia tidak peduli, karena dia sedang bahagia, sangat bahagia, akhirnya dia akan memiliki Sivia seutuhnya, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan Sivia dan akan selalu membahagiakannya.
“Makasih Vi, makasih banget kamu udah mau jadi pendamping aku seumur hidup…”
“Iya Alvin, iya… tapi meluknya jangan kenceng-kenceng dong, kamu mau calon istri kamu ini kehabisan nafas sebalum jadi milik kamu hah?” jawab Sivia kesal
“Eheheee… maaf Vi, abisan aku lagi seneng banget heheheee…” jawab Alvin sambil melepaskan pelukannya dan mengusap tengguknya pertanda dia menyesal dan salah tingkah. Namun dengan tiba-tiba Sivia memluknya kembali dan membenamkannya wajahnya di dada Alvin dan Alvin pun membalasnya, mengangkat tubuh Sivia, dan memutarnya. Senyum di wajah mereka mengembang, kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka.
I love you Sivia”
“I love you too Alvin”

 Gefira Anggi NadyaSalma
Sinar bintang terlalu menceburkan dirinya dibening mata Alvin. Seperti halnya Sivia yang terlanjur jauh berenang dan terombang-ambing dalam pesona seorang Alvin Jonathan Shindunatha. Si pemuda berwajah oriental yang merenggut habis perhatiannya sejak sebulan yang lalu, saat hujan turun di sore yang menenangkan. Sore yang damai. Tentu saja untuk Sivia Azizah.
"Eh dek, gue ikut payung lo sampe parkiranya." Kalimat sederhana yang menjadi topik panas di esok harinya.
---
"Fy, Pris, Shill, kemaren gue berduaan dibawah payung bareng Kak Alvin loh! Hati gue loncat-loncat imut gitu. Gue pengen hujan lagi deh! Cerita Via menggebu-gebu, padahal baru sedetik dia memasuki kelas.
"Wah Kak Alvin OSIS yang jadi pendamping kelasnya Aren pas MOS itu?"
"Kok bisa? Via ih ceritaaa!" Prissy dan Shilla langsung menghujani pertaanyaan tentang kronologi itu terjadi. Ify hanya tersenyum.
Cinta hadir pada hal-hal kecil, sekecil senyuman Alvin yang membuat hari Sivia penuh musik romantis
---
Kehadiran Alvin yang terlalu berkilau mengangkat Via ke udara penuh cinta. Kejadian tak disengaja yang berulang semakin membuat Sivia mabuk dalam magnet cinta Alvin. Seperti yang ia ceritakan hari ini...
"Gals, tadi pagi gue dibonceng Kak Alvin huaaa! Gila dia baik banget yaaa!"
"Kok bisa bareng lagi? Dijemput? Tanya Shilla antusias.
"Gak gak gak! Gue kan kesiangan, pas dijalan ke gerbang dia ngajakin gue gitu. Ih sweet bgt deh tadi." Jelas Via dramatis.
---
"Cih Vi, Kak Alvin gak baik ke lo doang kali. Lo tuh orang yang keberapa ratus yang dibonceng sama dia. Dia emang selalu ngajak bareng orang yg kesiangan. Dia emang friendly kan? Gue juga pernah kali." Kata Ify santai. Jadi selama ini kebersamaan yang Sivia anggap istimewa hanya kebahagiaan semua? Sivia sadar, rasa suka ini diabaikan. Sejak awal memang tiada yang peduli kan?
---
Kesalah pahaman Via dan Ify berujung pada kejutan yang benar-benar mengejutkan untuk Via. Sahabat-sahabatnyalah yang merancang semuanya, termasuk Ify. Dan pada 24 April 2013.
"Happy annivesary sayang." Ucap Alvin penuh cinta. Via menghambur dalam pelukan Alvin. Ini tahun keberapanya ya? Jangan ada akhir. Semoga.

Angelina Margaretha Barasa

Simple past happiness
Rapat sudah selesai dari 5 jam yang lalu tapi perempuan ini masih saja termenung dengan kejadian yang dilihat nya di rapat tadi, lelaki yang dulunya dia cintai bahkan sampai sekarang belum ada yang menggantikkaan nama lelaki tersebut dihatinya, rasanya kejadian saat mereka masih muda terputar kembali dalam ingatan nya, kejadian di saat masih bahagianya menempuh masa remaja, dan saat mereka sudah menjadi dewasa mereka harus bertemu dengan masalah yang mereka buat sendiri, kejadian dimana mereka tidak bisa berjalan bersama untuk menempuh kehidupan, kejadian dimana dia harus membesarkan anak seorang diri tanpa harus ketahuan media, kejadian dimana dia bertemu dengan lelaki itu, semua terekam jelas di otak Sivia, air matanya kembali berlinang saat mengingat kejadian itu.
“hai mommy, do you know?? Aku mendapatkan juara lomba menyayi di sekolah kata bu guru aku bisa maju ke tingkat nasional. I’m very happy mom,” terlihat Chelsea datang membawa piala yang sepertinya sudah di impi-impikan dia terlihat dari mukanya yang begitu bahagia, setelah berpelukkan dengan ibunya yang terlihat juga begitu bahagia melihat anak nya bahagia, Chelsea langsung pergi ke kamar mandi.
“Vi sorry gue lancang, dan make bahasa kaya gini dikantor, lo tau diluar ada Alvin, dan tadi lo rapat sama dia? Sekarang katanya dia pengen ketemu lo! gimana dong ini, gimana kalo sampe Chelsea tau dia masih punya daddy?” Ify adalah sekretaris sekaligus teman terbaik yang sivia punya, mereka sudah bersahabat dari kecil, Ify memutuskan untuk mengabdi kepada Sivia, setelah memiliki kejadian yang hamper mirip dengan sivia tetapi memiliki jawababn yang berbeda dia lebih memilih meninggalkan orang tua nya, walaupun setelah Ify punya anak, orang tuanya sudah mau menerima.
what!! aunty ,I think you said I have daddy? mom…” Chelsea barus saja keluar dari kamar mandi setelah mendengar Ify berkata seperti itu, dan Ify dia hanya merutuki dirinya yang tidak tau bahwa ada Chelsea disini padahal jelas-jelas tas Chelsea ada di bangku tamu ruangan kerja Sivia, Sivia masih saja mengumpulkan kata-kata dalam otak nya untuk menjawab pertanyaan anak semata wayang nya ini.
”Chelsea kamu salah dengar kali, aunty kesini cuman mau bicarain masalah kerjaan kok.” Ify langsung mengelak begitu melihat muka sivia yang panik.
aunty tau kan aku bukan anak kecil lagi setelah bulan lalu, aku gak mau terus kalian bohongi, aku tau selama ini kalian terus berbohong sama aku yang bilang dadd itu pelaut dan gak pulang selama satu tahun tapi aku berfikir, sepertinya daddy tidak akan bertemu aku selamanya , dan aku sudah dengar semuanya, aku mau ketemu daddy, aku mau punya daddy hiks” Chelsea mengeluarkan air matanya, sivia yang melihat anaknya menangis langsung berlari kepelukkan anaknya itu, Chelsea langsung berlari kearah pintu tidak menghiraukan pelukan ibunya itu, setelah keluar sepertinya dia sudah langsung mengetahui siapa ayahnya, wajah ayahnya sangat mirip dengan nya, walaupun dia tidak mengetahui apa permasalahaan antara ibunya dan ayahnya tetapi sekarang yang dia tau adalah dia sangat merindukan ayahnya, dia sangat ingin memeluknya, dan sekarang dia tahu dari mana dia mendapatkan wajah seperti orang cina itu...
Alvin masih menunggu di luar, setelah dia bertemu dengan sivia tadi dia langsung pergi ke kantor sivia, dan bertemu dengan ify, sempat terjadi percekcokan antara dia dengan ify, dia juga melihat ada anak yang sepertinya berumur 11 tahun, masuk sambil membawa pialanya ke ruangan kerja sivia, dia hanya ingin menjelaskan bahwa sekarang dia sudah bisa melamar sivia, sekarang dia bukan Alvin yang hanya anak dari seorag pegawai biasa yang mencintai anak pengusaha terkenal yang sudah terkenal sampai luar negeri tetapi adalah Alvin yang sudah mapan yang sudah isa membukikan bahwa dengan music dia juga bisa mempunya rumah yang bahkan lebih besar dari rumah sivia, dia memang direktur Yamaha music yang sangatlah mapan.
Dihatinya masih hanya ada nama Sivia Azizah.

Sepuluh menit dia menunggu ify ataupun sivia keluar dariruangan kerja itu, akhirnya anak cantik tadi keluar dengan air mata yang terlinang diwajahnya sambil berteriak “daddy….” Dan menghambur dipelukkannya, insting seorang orang tua sepertinya memang tak pernah salah, anak ini memang buah hatinya dengan sivia, dia langsung bersujud untuk menyamakan tingginya dan memeluk erat anak cantik ini, dan dengan air mata yang juga berlinang.
Sivia dan ify keluar ,sivia yang melihat kejadian itu masih saja menangis dan ify dia memberikan isyarat untuk ikut berpelukkan di sana dimana ayah dari anaknya dan anaknya berpelukkan,sivia pun langsung memeluk keduanya melepas kerinduan kepada lelakinya ini, dan sepertinya setelah ini akan ada masalah panjang tetapi sivia yakin setelah ini akan ada kebahagiaan yang panjang.

Ruka'ayaRangringrong Joziza

A.Amazing
Satukata yang bisa menggambarkan pandangan pertama Alvin saat melihat Sivia di sebuah panti asuhan. Saat itu dia datang sebagai perwakilan ayahnya selaku donator terbesar di panti asuhan itu. Hanya 3 detik Alvin melihat senyuman tulus yang merekah di bibir merah Sivia, dan dia merasa di dunia ini hanya ada dia dan gadis itu, selanjutnya yang terlihat adalah senyum tulus yang diberikan gadis itu kepada anak-anak kecil yang mengelilingi Sivia.
“ekhmm..kenapa memandang aku seperti itu?” suara deheman membuyarkan Alvin dari lamunannya, Alvin tersenyum memandang istrinya ini. Istri yang sudah dinikahinya 2 tahun yang lalu.
“Sivia, apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”
“Ingat, waktu itu di café saat kita tak sengaja bertabrakan?”
Alvin terkekeh mendengar jawaban istrinya, rupanya saat pertemuan mereka hanya Alvin yang merasa pertemuan itu begitu mengesankan
“bukan, kita bertemu saat di panti asuhan saat kau bercerita untuk anak panti, setelah itu aku diam-diam menjadi penguntitmu dan saat di café itu aku sudah tidak tahan ingin menemui dan menghajar pria yang menjadi teman kencan butamu itu” sadut Alvin panjang lebar
“aku tau, kau memang penguntit. Tapi aku hanya sadar saat pulang dari café waktu itu. Aku tidak menyangka, sebelumnya kau memang penguntitku sejak lama. Hmmm berapa lama?”
“satu tahun”
“apa kau begitu mencintaiku?”
“ya, kau pikir? Ada berapa lelaki di dunia ini yang mampu menahan hasratnya kepada gadis yang bahkan belum pernah berkenalan secara resmi. Hmm?”
“kau mesum Alvin”
Danselanjutnya keduanya melanjutkan kegiatan malam mereka dengan penuh kehangatan

Ruka'ayaRangringrong Joziza

N.Nice
Selama beberapa bulan menguntit Sivia, pria itu menemukan banyak hal yang baik pada gadisnya itu. Sivia ternyata gadis yang ramah, baik, lucu, yang paling penting adalah dia tidak begitu baik kepada pria yang menggodanya. Itu adalah hal yang melegakan bagi Alvin, dia merasa tenang karena tak ada lelaki yang dekat dengan Sivia ataupun menjadi pesaing terbesarnya. Diam diam selama ini Alvin juga suka mengancam pria yang mendekati Sivia. Dalam persembunyiannya pria itu selalu melindungi gadisnya. Alvin selalu suka saat dimana Sivia menjadi seperti seorang putri kerajaan yang bersikap anggun, satu sisi juga Alvin menyukai sikap Sivia seperti preman yang tidak segan memukul atau menendang orang yang menggangu ketentramannya.
“Selamat pagi” kecupang singkat di bibirnya membangunankan Alvin dari mimpi yang seperti menjadi kilasan perjalanan singkat perjuangan Alvin menguntit istrinya.
“hmmm…”Alvin berusaha mengumpulkan nyawanya separuh yang tertinggal dari dunia mimpinya. Segera setelah itu dia berguling kesamping dan menindih tubuh istrinya.
“sepertinya aku menginginkannya lagi”
“ehh? Emm.. Alvin… aku.. anu… itu…” dengan tatapan menggodanya
“kenapa? Apa kau keberatan aku makan bubut buatanmu lagi?” jawab Alvin dengan kekehannya. Sepertinya dia berhasil menggoda istrinya ini.
“kenapa? Apa ku berpikiran lain. Ahh ternyata istriku mesum juga hmm.. baiklah sepertinya kau juga menginginkan lagi seperti apa yang ada dalam pikiranmu”
Dan lagi… mereka kembali menyatu saling memberi kehangatan di pagi yang mendungini. Sepertinya kita harus meninggalkan dua sejoli yang asik bergulat berdua diranjang mereka.

Ruka'ayaRangringrong Joziza

H.Honey
Manis seperti madu itulah rumah tangga mereka yang jalani sampai sekarang. Kental seperti madu juga itulah kasih sayang, cinta yang mereka jalani. Hari ini tepat 2 tahun saat mereka mengikat janji suci. Dan Alvin sudah merencanakan makan malam romantis untuk mereka berdua. Untuk datang ketempat itu, Alvin dan Sivia harus menggunakan helikopter yang bising itu.
“Alvin, apa ini tidak terlalu berlebihan ?” protes Sivia karena kurang setuju karena dia rasa ini sangat berlebihan hanya untuk perayaan dua tahun pernikahan mereka.
Saatini mereka ada di pulau pribadi Alvin yang juga merupakan tempat perayaan pernikahan mereka dua tahun lalu. Hanya sebuah pulau kecil dengan villa mewah.
“tidak aku rasa ini pantas untuk menebus perayaan ulang tahun pernikahan kita tahun lalu yang kita habiskan di rumah sakit”
Selanjutnya keheningan menyelimuti acara makan malam mereka di tepi pantai, hanya ada penerangan lilin dan bulan yang setia menemani malam meraka, serta alunan musik yang terdengar dari piringan hitam. Selesai makan malam romantis Alvin berdiri dari kursinya dan mendekat kearah Sivia, dan mengulurkan tangannya
“tuan putri, mau kah kau berdansa dengan pangeran tamapnmu ini?”
“dengan senang hati pangeran” Sivia hanya terkekeh geli dan menyambut tangan Alvin untuk berdansa. Posisi yang begitu intens ini membuat jantung Alvin dan Sivia berdegup kencang, gelenyar panas seolah mendidihkan darah mereka, dan hembusan nafas pasangan masing masing begitu terasa di wajah mereka. Perlahan, gerakan kaki mereka terhenti dan di sambung dengan gerakan bibir mereka yang saling melumat dengan mesra. Seakan terbawa suasana Sivia seakan tak sadar tangan Alvin sudah menjelejah kemana-mana. Dan yang dia ingat hanya perlakuan romantis luar biasa dari Alvin dan pasir lembut yang seolah menggelitik punggung polosnya.
“ternyata melakukan di pinggir pantai tidak kalah memuaskan di banding di ranjang.”
“Alvin, bisakah kau tidak berkata se fulgar itu lagi?”
Tidakjika di denganmu jawab Alvin dalam hati sambil tersenyum nakal.
 

Ruka'ayaRangringrong Joziza

DRABBLE ANH
Alvin menatap tajam istrinya, Sivia. Aura negative begitu kental keluar dari diri Alvin. Dia kesal, dan tidak habis pikir apa yang ada dalam pikiran istrinya itu. Alvin sadar kalau istri sedang ngidam pasti minta hal yang aneh. Terserah apa Sivia mau pulau pribadi? Akan di berikannya, mau buah? Akan di carikannya apapun itu asal tidak yang satu ini
“Vin, kamu masa gak mau nurutin keinginan anak kita sih?” dengan muka yang memelas Sivia berusaha membujuk suaminya.
“Tidak untuk yang ini” sahut Alvin cuek dan singkat. Dengan mata yang berkaca-kaca, dan tatapan sendu dari Sivia membuat hati Alvin sakit, tapi kali ini dia tidak boleh menyerah dan menuruti ngidam aneh ala Sivia ini karena nantinya dia pasti merasa lebih sakit saat menuruti keinginan Sivia. Sivia mnendekat, manatap dalam mata Alvin, tangnnya terulur membelai pipi mulus suaminya berusaha membuat Alvin luluh dan meyakinkan semua akan baik baik saja.
“Aku hanya ingin mewujudkan keinginan anak kita untuk makan malam bersama Cakka aktor itu, kamu jangan cemburu Vin.” Masih degan usaha merayunya yang tidak berhasil Sivia pasrah. Dia tau Alvin suaminya ini begitu protective, pencemburu bahkan dengan Gabriel kakak kandung Sivia pun cemburu. Tapi dia bisa maklum dengan Alvin yang begitu mencintainya itu. Satu kecupan kilat mendarat di bibir Sivia, Alvin berusaha membuat Sivia tersenyum dan sepeertinya cara itu sangat berhasil.
“maaf yaa”. Perdebatan kecil suami istri ini berkhir dengan adegan romantis Alvin dan Sivia yang berpelukan. Kali ini Sivia terpaksa menahan keinginannya, sudah cukup dia merepotkan Alvin dengan permintaan anehnya itu, terlalu banyak sudah pengorbanan Alvin. Bukankah saatnya untuk membalas semua meski hanya dengan hal sederhana.

Tarra Zeerany Gultom

"Berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk membeli porsche ini?" tanya Sivia sedikitsinis.
Gadis itu tak habis pikir degan Alvin. Untuk apa Alvin membelikannya mobil, sedangkan dia sendiri sama sekali tak pernah memegang kemudi stir mobil ataupun motor. Terlebih lagi ini porsche keluaran terbaru, yang Sivia yakini harganya pasti mencapai ratusan juta dollar. Ugh... Memikirkannya sudah membuat Sivia muak.

'Dasar orang kaya!' gerutunya dalam hati.
Alvin menatap Sivia intens. "Aku tidak tahu. Begitu perusahaanku mengeluarkan porsche terbaru ini, aku langsung membelinya tanpa memikirkan harga. Kenapa?" jawab Alvin datar tanpa ekspresi.
Sivia menatap Alvin aneh. "Aku tidak bisa menyetir mobil." Sahut Sivia.
"Anggap saja itu hadiah untuk pacaran kita." Ucap Alvin tetap datar.
"Cih! Rumahku itu sedikit masuk ke pedesaan. Mobil ini terlalu mewah dan mahal untuk menarik perhatian tetanggaku," protes Sivia kesal.
Raut wajah Alvin berubah serius. Dia menggamit beberapa helai rambut Sivia, dan menyelipkannya ke belakang telinga. Hal yang sangat ia sukai dan mengakui bahwa hal itu adalah hal rutin yang harus ia lakukan tiap hari.
"Aku tidak punya kendaraan lain. Apa kita harus naik helikopter pribadiku saja?" tanya Alvin serius.
"Tidak. Terimakasih" sahut Sivia cepat.

 

Deandra Maghfirani

"Alvinnnnn!!!!!! Jelek lo kodok ngorek gilaaaaaa huaaa tanggaaaaa!!!" Sivia
teriak teriak ga jelas pasalnya lagi enak enakan duduk di atas atap sekolah liat langit senja Alvin malah dengan tengil nya ngambil tangga dan membuat Sivia terjebak di atas.

"Heh lo kan ga diketahui gender nya masa turun ga pake tangga aja ga bisa!" Ejek Alvin
"Gue ceweee begoooih lo!!! Tangga Alvinnnn, kalo engga gue bakal loncat terus mati terus gentayangin lo sampe mati ketakutan!!" Seru Sivia yang emang dasarnya bawel dan nyablak.
"Uh takut gue.Tapi boleh juga tuh di coba?" Alvin berkacak pinggang di bawah memperhatikan Sivia dengan alis di naik turunkan. Sivia cemberut.
"Tangganya di bawa Pa Tarno sih, lo loncat aja ntr gue tangkep di bawah!" Jelas Alvin. Sivia memalingkan muka sebal.
"Palingan lo lari lo kan cowo pe...nge...cut!!!" Tekan Sivia. Alvin melotot tak suka.
"Ohyaa? Kita buktikan apakah gue sanggup nahan badan gendut lo itu!" Sinis Alvin. Sivia mendelik. Karena kesal Sivia main asal loncat tanpa aba aba membuat Alvin yang tak siap malah ikut terjerembab dengan tubuh Sivia menimpa Alvin.
'BRUKKKK'
"Alvinnn begooo sakitttt!!!!" Ringis Sivia hampir menangis.
"Lo fikir yang bego siapa?!!!?!! Main loncat aja!!!" Sentak Alvin menoyor jidat Sivia. Sivia bangun dengan tertatih di ikuti Alvin yg sepertinya encok mendadak.
"Lo yang bego! Lo yang pengecut!!!" Seru Sivia menunjuk nunjuk muka Alvin
"Gue ga pengecut! Dan gue ga otak udang kaya lo!" Balas Alvin
"Lo otak mesum!"
"Lo orang sarap!!"
"Ihhhh plis deh Alvin kalo lo suka sama gue ga usah segitunya kali so cari perhatian!" Sivia meniup poninya sebal.
"Yang ada lo kali!!" Ketus Alvin
"Elo!" Keukeh Via
"Loooo!!!!" Alvin melotot
"Lo kodok!!!"
"Lo bebek!!!
"Lo Alvinnn pokoknya titik! LO LO LO dan LO yg trnyata cinta mati sama gue!!!" Tekan Sivia
"Iya gue!!!" Seru Alvin membuat Sivia terdiam.
"Apa?"Bingung Sivia mengatur nafasnya
"Gue emang suka sama lo! Selalu cari perhatian sama lo karena emang gue cinta lo!" Alvin malah terseyum menggoda yang terlihat memuakkan bagi Sivia. Dan itu membuatnya menganga parah. Alvin musuh dan saingan terberatnya cinta sama Sivia?
"Jadi pacar gue!!"
"Hah tap..."
"Ga boleh komentar! Jadi pacar gue kalo lo gamau...." Alvin tersenyum misterius. Membuat Sivia menatap ngeri.
"Jadi istri gue!!!" Tegas Alvin
"Ga mau!!!!"Refleks Sivia
"MauuuVia!!!"
"Engga Alvinnn!!!!!"
"Pilih pacaran, tunangan, apa menikah?"
"Ga semuanya!!!"
"Terima apa cium?"
"Vin lo nembak gue pake pistol aja sekalian!!"
"Pilih!!"
"Iyaaaaa!!!" pasrah Sivia.
'cup' alvin malah mencium bibir sivia sekilas.
"Licikkkkk!!!!" Seru Sivia ingin mengejar Alvin tapi percuma untuk jalan aja kaki nya pincang.

Deandra Maghfirani

Sivia menangis terisak menjauhi kerumunan yang tengah menatapnya tajam dan terasa jijik oleh kehadiran Sivia.
"Hidup terlalu bengis saat kau coba terus ratapi. Hidup adalah perjuangan meski tak mudah kau taklukkan.."
Suara itu....suara halus yang sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya, suara yg selalu mampu mengalihkan perhatian dan fokus Sivia.
Sivia menatapnya lama bukan tatapan memelas tapi tatapan menghakiminya. Tapi yang di tatap malah tersenyum santai.
"Kenapa? Kenapa lo ga jauhin dan bully gue juga?" Seru Sivia kembai menangis. Lelaki itu malah tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Lo ga malu hah? kenapa Vin lo ga putusin gue!!" Bentak Sivia. Senyuman itu memudar tergantikan oleh tatapan tajam yang mengintimidasi. Sivia menyadari itu dan menunduk takut.
"Bodoh!" Sentaknya
"Gue ga punya ibu Alvin!! Gue ga jelas anak siapa! Gue anak haram!" Sivia berteriak terlihat kacau. Alvin tak tega melihatnya di rengkuhnya orang yg dia cinta dengan erat mencoba memberikan ketenangan.
"Lo kuat Vi terbukti dngan 17 tahun ini lo bisa hidup seperti yang lain. Lo punya gue, punya sahabat yang lain yg sayang bnget sama lo..."Bisik Alvin
"Tapi gue ga punya keluarga! Lo tau Vin bokap gue ga pernah anggep gue anaknya!" Ucap Sivia mengeratkan pekukan nya pada Alvin.
"Lo punya keluarga! Lo punya org yg sayang sm lo org yg anggep lo!" Alvin melepaskan pelukannya dan menatap Sivia yang nanar.
"Kita bisa jadi sebuah keluarga Vi.."Desah Alvin. Sivia menatap Alvin bingung.
"Lo dan gue menikah Vi, lo ga perlu lagi tinggal sm bonyok lo yg slalu cuekin lo. Dan pastinya lo selalu bahagia sm gue."Jelas Alvin.
"Alvin gue baru 17tahun!!!" Rajuk Sivia memukul dada Alvin.
"Terus?" Alvin menaikkan sebelah alisnya.
"Gue kan belum pengalaman terus blm siap buat punya...."
"Punya?"
"Punya...anak" pipi Sivia memerah.
Alvin tertawa mengacak rambut Sivia. "Gue bercanda ko! Gue mau nikah sm lo tapi nanti kalo kita udh sama sama siap." Sivia cemberut tapi perlahan wajahnya kembali sedih.
"Kalo bokap gue gamau jadi wali gue gmna Vin? Terus apa ortu lo setuju?" Ucap Sivia
"Jangan pikirin gue, kalo ortu lo cuek aja apa salahnya kita ngambil keputusan sendiri?"
"Kadang gue pngen ngerasain Vin perhatian orang tua. Dmna gue jd anak yg di banggkan dan disayang. Bukan kaya gini di telantarkan dan ga ada yg mengakui." Setitik air mata jatuh di pipi Sivia kembali.
"Via percaya ada tuhan kan? Via harus tau selama hidup Via itu ga akan menderita pasti ada kebahagiaan yg trselip meskipun sedikit" Jelas Alvin lembut. Namun Sivia tetap diam.
"Suatu saat kebingungan lo sakit hati lo semua nya akan terjawab Vi kita cuma mesti sabar. Ada gue juga yg mau bersabar demi lo." Ucap Alvin. Tapi Sivia masih terlihat terdiam kini malah memandang wajah tampan Alvin. "Mana senyuman manismu dulu tunjukkan itu padaku Usaplah air matamu lalu bilang bahwa kau mampu.." Alvin melanjutkan nyanyiannya dengan senyuman terbaiknya. "Berjalanlah walau tertatih sayang. Hadapi dunia dengan senyuman. Di sini ku ada untukmu genggam tangan kita bersenang-senang." Alvin memegang kedua tangan Sivia menatapnya penuh pancaran kelembutan. Sivia langsung menghambur dalam pelukan Alvin dan tersenyum manis disana.

"Alvin adalah segala galanya buat Via tuhan. Jaga Alvin selalu buat Via." Batin Sivia memejamkan matanya mencoba menghirup harum tubuh Alvin.

Mira Alvinoszta

“Berhenti menggangguku, berhenti mengusik hidupku lagi. Aku muak denganmu! Aku muak!”
Laki-laki itu tersenyum sinis. Menatap perempuan paling kacau yang pernah ia kenal di depannya dengan mata tajamnya. Ia menatap perempuan itu lekat-lekat, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Aku hanya ingin selalu melihatmu, sebelum neraka melahap tubuhku. Apa kau tak mau mengerti aku sedikit saja?”
“Aku tak peduli, lebih baik kau segera pergi. Biarkan aku tenang dengan hidupku yang sekarang!”
“Aku tak mau sayang, menyisakan waktuku hanya untuk berdiam diri di tempat terkutuk itu.”
“Apa kau lupa, bahwa kau pernah menciptakan neraka dunia untukku dulu? Dan sekarang giliranmu untuk merasakan neraka yang sebenarnya.”
“Bukan sayang, aku tak bermaksud seperti itu dulu. Kumohon maafkanlah aku. Aku ingin bersamamu sekali lagi.”
“Baiklah, jika itu maumu.”
Dor.
Dor.


Mira Alvinoszta

Aku tidak pernah berharap lebih (lagi) padanya.  Aku tau aku tak lagi menjadi kristal berharga di hatinya. Yang harus selalu ia jaga dan lindungi agar tak tersentuh jemari kotor orang lain. Yang harus selalu ia tatap setiap saat untuk sekedar menghilangkan kerinduannya.
Aku tau, bahwa aku tak berhak lagi menjadikannya mimpi-mimpi indah yang aku harapkan setiap aku memejamkan mata. Aku tau, aku tak berhak lagi menyelipkannamanya dalam setiap alunan doaku pada-Nya. Aku tau, bahwa kita telah terpecah, terbelah menjadi dua kubu. Aku dan kamu.
“Aku benci liat kamu lebih suka bermain dengan teman-temanmu daripada menemaniku latihan ngeband.”

Mira Alvinoszta

Ia menatap tumpukan buku-bukunya di rak buku kecil itu. Warna-warni sampul bukunya memberinya “sesuatu” yang lain. Layar laptop di depannya yang sedang memutar sebuah film favoritnya –yang sudah ia tonton ratusan kali– ia abaikan. Buku-buku saling berjejer dan memperlihatkan ketebalan yang beragam. Mulai dari yang puluhan halaman sampai ratusan.
Mereka tak hanya sebatas buku usang yang teman-temanku remehkan.
Tiba-tiba saja, sebuah ide gila melintas di benaknya. Ia harus melakukan sesuatu dengan buku-buku itu! Ia harus membuktikan pada teman-temannya bahwa buku-buku yang selama ini ia baca tak sekedar bacaan di waktu kosong.
Ia harus meledakkan sesuatu dengan buku itu!

Caitlyn Alvia

“Aku tidak mau!” Sivia bersikeras mengatakan pendapatnya.
“Aku tidak peduli kau mau atau tidak, yang pasti kau harus ikut bersamaku kesana nanti malam!” Ujar Alvin dingin. “Tidak ada penolakan!” lanjutnya lagi begitu Sivia akan membuka mulut.
Sivia cemberut dan melangkah mundur sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya ke ranjang king size milik pria oriental yang sedari tadi memaksakan kehendak padanya itu. Mungkin Alvin adalah satu-satunya pria paling egois, arogan, keras kepala juga angkuh yang pernah Sivia kenal seumur hidupnya. Sayangnya dia sudah terlanjur terikat untuk bisa menjauh darinya. Terlanjur terjerat dalam pesona cinta sang penakluk wanita. Cincin yang melingkar di jari manisnya membuktikan ikatan itu.
“Kenapa tidak bersama selirmu yang lain saja? Kau tinggal tunjuk gadis manapun untuk menemanimu nanti malam, Alvin Cassanova,” Sivia masih mencoba peruntungannya pada Alvin, sambil menyebutkan nama lengkap pria satu itu. Alvin si cassanova.
“Aku maunya dirimu, Sivia Cleopatra!”
Sivia mendengus kesal mendengar Alvin menyebut nama lengkapnya. Sifatnya persis namanya, penakluk laki-laki. Sayangnya, pelabuhan terakhirnya justru pada si cassanova ini. Hukum karma? Entahlah.
“Kenapa kau begitu bersikeras mengajakku, sih? Biasanya juga kau lebih memilih Zahra, Shilla, atau Prissy untuk menemanimu dalam perjamuan bisnis. Kau bilang mereka lebih berkelas dibanding aku. Tumben sekali malam ini kau berniat mengajakku?” Sesungguhnya ada sedikit penolakan dalam hatinya begitu bibirnya menyebut nama-nama perempuan yang sering berada di sisi pria egois itu. Selalu ada bagian dalam dirinya yang menjerit menolak keberadaan wanita-wanita itu disisi prianya.
“Apa salahnya aku mengajak istriku sendiri? Dan siapa bilang mereka lebih berkelas dibanding dirimu? Sejujurnya, alasanku menyimpanmu dirumah adalah karena kau milikku. Kau milikku. Tentu saja aku tidak membagi milikku dengan orang lain. Kukira kau sudah mengenalku dengan cukup baik, eh?”
Sivia lagi-lagi mendengus mendengar jawaban konyol Alvin, tapi dalam hati dia membenarkan juga. Alvin memang seeogis seperti yang diucapkannya –dia tidak suka membagi milik pribadinya kepada publik. “Dan kenapa malam ini kau berubah pikiran?” tanyanya sarkastis. Kedua tangannya bersedekap di dada.
“Tidak ada yang lebih menarik perhatianku dalam hal apapun selain dirimu, istriku. Dan kurasa sudah saatnya publik mengetahui siapa wanita beruntung yang bisa mendampingi Alvin Cassanova. Hanya supaya tidak ada lelaki lain yang bisa mengincarmu lagi. Aku sudah cukup tau sepak terjangmu dengan lelaki selain aku, dan akan kupastikan mulai detik ini hanya aku satu-satunya lelaki yang boleh berada disampingmu.”
Sivia mencibir. Dasar lelaki egois.

-selesai-

Rabu, 05 Juni 2013

Drabble for #2ndGorgeousANH (01/02)

Geges Gestya Bannisa
Sivia segera mendekati Alvin dengan nafas seakan terengah-engah. Membuat Alvin segera terpojok. Wajah kocak dan santainya hilang seakan tak pernah terukir di wajah manis Sivia.
"Jangan. Pernah. Manggil. Gue. Azizah." Sivia berkata sambil menunjuk muka Alvin yang sudah bisa ditebak. Pucat.
Tetapi Alvin seakan tak mau mengalah, malah mendekatkan dirinya pada Sivia, membuat Sivia mundur 1 langkah.
"Oh, jadi ini gara-gara Gabriel?" Alvin melengos, lalu balik melakukan hal yang seperti tadi ke Sivia. "Gabriel yang ngebuat lo berubah. Gabriel yang ngebuat lo menghindar dari gue. Gabriel yang ngejauhin kita. Right?"
Suara Sivia seakan tercekat. Rongga dadanya seakan sesak kekurangan oksigen. Alvin sempat mengira Sivia akan menangis. Tetapi tidak, Sivia lebih tegar. Sivia udah berubah tanpa sepengetahuannya. Sivia hanya tersenyum sarkastis sambil tersenyum.
"Yes, right. That's Gabriel. Tetapi setidaknya Gabriel mempunyai banyak poin lebih untuk gue daripada elo. Ngerti?"
Kenyataan itu seakan tamparan telak Alvin. Alvin dengan emosinya memojokkan Sivia ke dinding gudang kampus itu,mengunci Sivia ditengah emosinya yang sudah melaut. Mengunci Sivia diantara dua tangannya.
"You-don't-know-anything Sivia Azizah!" Alvin mengatakan hal itu hanya beberapa senti di depan wajah Sivia.
"Oh ya? Tell me. Tell me something I don't know. Alvin Jonathan." Sivia seakan menantang Alvin.
Alvin dan Sivia seakan bercerita melalui mata. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Sampai tiba-tiba, pintu gudang didobrak. Rio dan Shilla. Pelaku pendobrakan terkejut melihat keadaan Alvin dan Sivia yang seakan ingin melakukan hubungan you-know-lah.
"Eh.. Sorry." Rio kikuk. Shilla menunduk.
Sivia melepaskan tangan Alvin, lalu berjalan menuju Rio dan Ashilla.
"Ohh. Jadi gini, Yo? Gue gak nyangka ya." Sivia tersenyum sinis.
"Apanya?" Rio tak mengerti.
"Ify mana?" Tanya Sivia tak sabar. "Lo ninggalin Ify kan? Gara-gara Ashilla kan? Lo ngejemput Ashilla dan ninggalin Ify sendirian tanpa mempedulikan Ify secara fisik maupun perasaan." Wajah Sivia mengeras. Lalu ia berjalan meninggalkan mereka semua yang masih terpaku pada tempatnya masing-masing.
Baru beberapa meter, Sivia segera bersuara lagi tanpa menoleh. Cukup besar untuk didengar tiga insan dibelakangnya."Dan satu lagi. Jangan mikirin yang macem-macem tentang gue dan Alvin."
Dan Sivia benar-benar menjauh. Sedangkan ketiga insan yang dibelakangnya masih setia terdiam.

Geges Gestya Bannisa

Jantung Sivia berdetak saat detik-detik namanya dipanggil oleh guru keseniannya. Teman-temannya tampil dengan sempurna—walau tidak semua. Setidaknya teman-temannya mendapat nilai lebih atau pas KKM.Tangannya bergerak gelisah, wajahnya sudah pucat sejak tadi pagi yang ia tutupi dengan bedak dan lipgloss, ia merasakan beribu kupu-kupu berterbangan dan saling bertabrakan.
Ify memandang geli sekaligus khawatir akan sahabatnya—sekaligus instrument yang ia aransemen sedikit. Apakah nadanya tepat? Atau bagaimana? Entahlah, yang jelas ia ikut gelisah.
“Nyelow aja kali Vi. Yang ngeliat cuma anak-anak sekelas kok.” Ify menenangkan sahabatnya sekaligus hatinya sendiri.
“Iya, termasuk orang yang gue sindir!!” Sivia komat kamit, berusaha menghafal lirik lagu dari group band yang memang sedang ngetop dikalangan remaja. Tetapi lama-kelamaan ia mengerutkan dahinya, tanda ada yang tidak beres. Lalu mengguncang-guncang tubuh Ify.
“mampus gue Fy!!! Gue lupa liriknyaaaaa. Omegosh omegosshh!!”
“Astaga Sivia. Lo cuma lupa karena nervous. Sini gue bisikin sesuatu.” Ify berusaha lepas dari cengkraman temannya itu.
Sivia mendekatkan telinganya ke mulut Ify.
first, we must sing with the rules. Than, we sing with our heart. Jangan gunain otak. Gunain perasaan lo. Tanpa perasaan, lagu yang lo bawain gak bakal mempunyai jiwa. Lagu itu bakal hampa.” Ify menjauhkan mulutnya dari telinga Sivia. “Ngerti?”
Sivia tersenyum, menetralkan hatinya saat ini. Berkelebat bayangan datang bagai film yang diputar. Bagai puzzle yang di susun.
“Sivia Azizah.” Namanya dipanggil. Ia tak terlalu nervous, teman-temannya memperhatikan langkahnya. Ia tersenyum. Lalu menduduki kursi yang sempat diduduki puluhan siswa-siswi lainnya. Kursi putih yang ada dihadapan grand piano putih.
Jarinya mulai bermain, kaku sedikit, mulai melancar. Intro mulai terdengar merdu. Ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam dan memulai lagunya, dengan berkelebat pertanyaan, emosi, galau, rindu, dendam, serta berkelebat gambar yang terekam diotaknya. Matanya memandang ke grand piano putih tersebut.
Jangan menunggu bila tak bisa nunggu untuk dapat jawaban.”
Bayangan Alvin dan Shilla berdua kemarin menohok hatinya. Membuat tiap kata yang ucapkan kepada Alvin terasa getir. Membuat bayangan Alvin yang menembak dirinya tak terasa istimewa.
Karena hati ini tak mudah dipaksa.
Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan
Dan bayangan dirinya, yang meminta kepada Alvin, untuk memberinya waktu. Tergantikan oleh bayangan Shilla yang mengecup mesra pipi Alvin.
Dan hingga intro terakhir lagu itu selesai dinyanyikan, Kelas langsung bertepuk tangan meriah. tak menyangka Sivia bisa bernyanyi seindah itu. Kecuali satu orang. Alvin.
Di sisi baiknya, Alvin merasa kalo ia salah. Ia harusnya tidak mengajak Shilla jalan. Tetapi disisi jahatnya, ia merasa kalau ia berhak jalan sama siapa aja. Toh bukannya gadis itu menggantungkan dirinya? Untuk apa mengharapkan yang tidak pasti.
Rio dan Ify tahu pasti, sahabat mereka terjebak dilemma yang dalam. Antara sisi baik dan sisi buruk mereka masing-masing. Tetapi aura negative sepertinya lebih menguasai diri Alvin dan Sivia. Dan, mereka berpandangan. Berbicara melalui mata. Dan mulai yakin untuk berbicara kepada Alvin dan Sivia. Empat mata.

Geges Gestya Bannisa

Senyum Sivia mendadak buyar.
“Jadi.. selama ini apakah ada yang asli dari sikap kamu ke aku, Vin?” Tanya Sivia getir.
“Gak. See? Gue udah bilang. Gue taruhan sama anak-anak buat ngedeketin lo.” Alvin berusaha tak perduli dan acuh.
Sivia menutup mulutnya erat, berusaha menahan histeris yang hampir keluar. Tapi mata tidak bisa berbohong. Air matanya keluar, suaranya tercekat ditenggorokan. Alvin membuang pandangannya ke arah kaca mobilnya. Tak kuat melihat Sivia menangis.
Alvin tetap melajukan mobilnya di tengah kegelapan malam yang berselimutkan bintang dan bulan. Keheningan itu dipecahkan oleh cuap-cuap penyiar radio. Sampai tiba intro lagu mellow mengalun lembut memenuhi mobil. Lagu yang mewakilkan perasaan keduanya. Ada Cinta.
Sivia menggigit bibirnya sendiri, menahan tangis. Tak perduli kesakitannya. Kenapa saat gue udah bisa move ondari Gabriel, lo ngeginiin gue Vin? Sakit. Kenapa lo norehin luka yang lebih dalam di luka yang belum kering sepenuhnya Vin? Kenapa gue harus tertipu atas senyum manis lo Vin? Kenapa?

Sivia merasakan dadanya sesak. Mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Sampai ia tenang, begitu terus. Alvin yang focus ke jalan menghelakan nafas pelan, lalu menyumpah kepada dirinya sendiri di dalam hati.
Tiba-tiba Sivia merasakan handphonenya bergetar. Ia melihat nomor yang meneleponnya, unknown. Mungkinkah orang tuanya yang sedang berada di luar negeri?
“Hallo.” Sivia mendekatkan handphonenya ketelinga.
Allo ma Cherie!” Sivia tercengang. Ia tak mungkin melupakan suara ini gak mungkin. Ini suaranya..
Who’s speaking?” Sivia mencoba bertanya.
Ia’s Boy speaking” suara disana menjawab dengan riangnya, tak memperdulikan suara getir Sivia. Hanya 1 orang yang memanggilnya Ia. Hanya satu. Gabriel.
Allo? Ia! This is me!! Gabriel Stevent! You remember me don’t you?” suara disana terdengar lagi setelah Sivia tak bersuara untuk beberapa detik.
of..of course. How are you?” Sivia gugup. Grammar berantakan. Pertanyaan formal.
I’m fine!! Really fine! Ia. Aku bakal ke Indonesia besok!! Mungkin lusa bakal nyampe!! Surprise!!” suara diujung telepon itu menjawab. Sivia? Jangan ditanya. Pucat pasi. Kalau Gabriel pulang berarti..
Ia.. are you O.K?” suara Gabriel memecahkan konsentrasi Sivia.
I’m ..I’m ok. But I have to go. Bye.” Ujar Sivia gugup.
It’s okay. I miss you! Bye.”
KLIK
Wait, miss you? MISS YOU? WHAT THE…
Sivia menutup flat handphonenya, lalu terduduk lemas, menatap jendela disampingnya. Alvin mencoba membuka percakapan.
“Siapa Vi?” Tanya Alvin sambil melirik Sivia.
“Gak perlu buat lo tau.” Ketus Sivia tanpa menoleh.
Alvin menghela nafas. Sivia berkutat dengan pikirannya. Dilemma menyerang. Seakan ada dua sisi yang bertabrakan didalam hati dan pikirannya.
Sisi satu(1)nya berkata : “Udahlah. Terima aja Gabriel. He’s cute. He’s handsome. He’s got everything you want. Dia sempurna buat kamu. Kamu cocok banget sama dia. Daripada Alvin? Tega-teganya dia jadiin kamu taruhan.”
Tapi sisi sua(2)nya berkata : “Alvin aja. Dia kayaknya tulus kok cuma kita yang mandangnya gimana. Dia pasti punya alasan kenapa dia mempermainkan kamu. Kenapa harus kamu? Itu berarti kamu menarik. Kamu punya daya tarik sendiri. Gak kayak Gabriel. Tega-teganya dia ninggalin kamu setelah dia lulus gitu aja tanpa ngasitau kamu.”
Otak dan hatinya sibuk bertempur. Membuatnya terlalu lelah. Lelah dalam hidup. Lelah dalam laut emosinya sendiri. Lelah karena pikirannya sendiri. Tak lama, Sivia sudah terlelap meringkuk di kursi mobil Alvin.

Aulia Mutia

Rintik-rintik itu datang lagi, sama seperti 2 tahun lalu saat ia pergi, pergi bersama semua kebahagiannya.
Ia hanya termenung kala besi besar itu (ex: pesawat) mulai menjauh dari tempatnya semula yang membawa cinta dan segenap kebahagiannya ...
"Uhhh!" gadis itu menggeleng kala mengingat kejadian itu yang berhasil membuat titik titik air yang hampir membasahi wajahnya terlempar kesana kemari, "Udah dua tahun ya? Ga kerasa banget," gumamnya kecil yang diakhirinya oleh tertawaan kecil dari bibir mungilnya, tapi mengingat ia hampir menunggu lama untuk orang yang amat dicintainya gadis cantik tersebut kembali murung namun kala hujan kembali lebatnya dengan perlahan tapi pasti gadis cantik tersebut mengangkat tangannya sekaligus mengangkat sedikit wajahnya kearah langit sambil terpejam, gadis cantik yang memiliki lesung pipi itu tersenyum kala tetesan air hujan itu menerpa wajah mulusnya "Hihi," sesekali iya tertawa kecil merasakan geli diwajahnya.
"Masih suka mainhujan-hujanan nona Sivia?" suara khas itu terdengar ditelinga gadis cantik yang ternyata bernama sivia, gadis itu hafal betul dengan suara tersebut.
"Kau sudah pulang? Tuan Alvin Jonathan?" tanya gadis chubby itu sambil tetap menikmati tetesan-tetesan air hujan.
"Hemm. Bisakah kau berhenti dulu main hujannya? Nampaknya kau tidak rindu padaku nona Sivia" tanya pemuda jangkung yang ternyata bernama alvin. Dengan cepat sivia memeluk lelaki itu.
"Aku sangat merindukanmu Alv," lirih sivia yang masih betah memeluk Alvin.
"Aku juga siv. Tak terasa waktu sudah dua tahun ya? Dan kau masih saja senang bermain hujan," kata Alvin dingin tapi ia mempererat pelukannya pada gadis yang telah iatinggalkan selama 2 tahun itu.

Aulia Mutia

Senyum yang menenangkan kala kita melihat wanita yang tengah asik membaca novel itu, ditemani segelas minuman jus strawberry yang setia menunggunya beserta handsfree yang dengan setia mengalunkan lagu lagu yang hanya si cantik itu yang tau.
"Manis," gumam pria tampan yang masih saja betah memperhatikan gadis chubby di tengah taman yang –masih– betah membaca novelnya, hampir setiap hari gadis chubby itu datang ke taman tersebut dan setiap hari juga pria tampan itu –masih– dengan setia menunggu atau memperhatikan diam-diam gadis chubby tersebut dari jauh atau tepatnya gedung kampusnya.
"Masih setia, Mas?" tanya seseorang yang mengagetkan pria tampan itu
"Eh. Ah lo, Yo" kaget dan kesal pria tampan itu
"Haha. Al, Al sampe kapan lo mau terus ngeliatin dia, samperin lah," jelas Rio yang mengatakan kata dia dengan menunjuk wanita chubby itu dengan dagunya
"Nanti sajalah Yo,aku masih ragu," lirih pria yang dipanggil Al itu, tepatnya Alvin
"Tapi sampe kapan lo mau terus nunggu, Al?"
"Entah lah, yang jelas gue masih ragu aja." terang Alvin sambil terus memandang gadis chubby itu
"Yowes, mending masuk kelas yok," ajak Rio yang dianggukin oleh Alvin.
Hari ini, sama seperti kemarin, gadis itu kembali diposisinya kemarin, hanya style dan cover novelnya saja yang berbeda dan Alvin juga masih pada posisinya yang kemarin, tapi tiba-tiba hati Alvin mencelos kala wanita yang selalu ia perhatikan didatangi oleh seorang pria berstyle sama sepertinya menutup mata sang gadisnya dan membuat gadis itu menoleh sambil tersenyum amat bahagia dan mereka duduk berdua di kursi taman yang cukup untuk tiga orang tersebut sambil asik tertawa bersama.
"Namanya Sivia Alv, Sivia Azizah tepatnya" terang sosok yang sudah ada didekat Alvin –Rio.
Alvin masih serius memperhatikan adegan yang mengiris hatinya itu.
"Dan cowo itu namanya Cakka, Cakka Kawekas. Mereka baru jadian 3 hari lalu, lo keduluan Alv,"lanjut Rio.
Alvin tersenyum meremehkan, meremehkan dirinya sendiri tepatnya, yang terlalu PENGECUT.
"Ga semudah itu gue bakal nyerah, Yo," terang Alv sambil meninggalkan Rio yang masih bersandar di balkon gedung kampusnya, Rio hanya memandangi punggung Alvin yang mulai menjauhinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tak mengerti dengan pola pikir sahabatnya itu


Lusiantari Septiana

–PENCOPET HATI–
Di hiruk pikuk pasar malam, Alvin menatap gusar pada Sivia –sahabatnya dari jaman SMA dulu– yang sedang berdiridi dekat seorang bapak-bapak. Mereka mengobrol, lalu dengan kelihaiannya entah bagaimana Sivia sudah menyelipkan tangannya pada kantong celana bapak tersebut dan mencopet dompet tebalnya. Gadis itu lalu pergi dengan santai setelah mengucapkan sesuatu pada bapak-bapak tersebut yang tidak sadar atas perlakuan Sivia.
Tapi Ia tahu, Alvin tahu bahwasanya Sivia adalah gadis baik, gadis baik-baik. Dia hanya kehilangan keputusasaan pasca kepergian ayahnya dan ibunya yang menelantarkannya demi menikah lagi dengan duda kaya. Gadis itu sudah menanggung beban berat dari jaman SMA. Tapi, bukan berarti Alvin menyetujui apa yang sedang dilihatnya kini.
Alvin langsung mengikuti ke mana Sivia pergi. Rupanya Sivia mencari mangsa selanjutnya, dan berhasil. Diikutinya lagi Sivia yang kali ini keluar area pasar malam, mencari tempat sepi untuk mengecek hasil buruannya.
"Vi?!"
Sivia yang kaget ada Alvin, memekik heran.
"Alvin?! Kamu di sini juga?" Ada nada geli di suaranya. "Mencari hiburan juga?" Sivia tersenyum menggoda sahabatnya itu.
"Berhenti bekerja itu, Vi. Masih banyak pekerjaan yang lebih layak."
Sivia mengendus kesal. Topik ini lagi.
"Aku hanya tamat SMA. Aku bisa kerja apa supaya bisa cepat dapat uang. Hanya ini... Kamu tau itu, Vin.""
"Siapa yang tau apa yang terjadi nanti. Bagaimana kalau kamu kepergok?"
"Sudahlah! Jangan ikut campur. Kalau aku berhenti, di mana aku cari kerja? Memang kamu mau menanggung hidupku, ha?!"
"Aku punya jabatan tinggi di perusahaan. Tentu saja, aku akan menanggung hidupmu. Sampai kamu tidak hidup lagi." Jawab Alvin cuek, dengan tatapan intensnya.
"Ck! Mana ada orang baik sepertiitu. Kamu pasti mau imbalan kan? Katakan imbalannya?!"
Alvin tidak langsung menjawab. Lama. Sampai Sivia berpikir untuk pergi. Tapi kemudian terhenti oleh ucapan Alvin.
"Jadi istriku, itu imbalannya"
Sivia tersentak, jantungnya berpacu diluar normal. Sivia menatap Alvin menelaah kata-katanya. Dan yang Ia temukan hanya ketulusan dan kesungguhan.

Lusiantari Septiana
-Not Acting-
"Jangan pergii!!!" Sungguh pilu teriakan Sivia yang memenuhi kamar rumah sakit. Menangisi sosok di hadapannya, sosok putih pucat, dingin, tak bergerak, tak bernyawa. Sosok itu telah pergi, tanpa bisa kembal. "Vin.." Lirihnya dengan getar lara. "Bagaimana dengan bayi kita." Sivia mengelus perutnya pelan yang sudah terlihat menonjol. "Bangun Alvin, lihat anak kita tumbuh, Alvin!! hiks..." Terus menangis, menjerit. Dipeluknya raga kaku suaminya itu erat-erat. Penuh emosi.
"Cut! Oke Good acting! Break sebentar, nanti lanjut scene terakhir!"
Setelah itu para pekerja di balik layar dalam ruangan bergerak sesuai porsi kerja masing-masing. Sivia sendiri melepas properti yang diselipkan diperutnya ketika berakting sebagai ibu hamil muda yang kehilangan suaminya. Suami. Ia melihat sosok itu, Alvin –partner kerjanya di satu film– masih tiduran santai di ranjang sambil mendengarkan lagu dari I-phonenya. Alvin memang begitu, actor berbakat yang terkenal bossy. Menyebalkan!
“Sivia, ada Sion datang.” Sivia mengangguk mengerti pada sistennya. Lalu berdiri merapikan penampilannya demi menemui gebetan barunya –bintang iklan.
“Ke mana?” Sivia tidak jadi beranjak ketika mendengar suara Alvin menyapanya.
“Menemui Sion, dia datang.” Jawab Sivia riang. Riang karena tidak biasa Alvin ingin tau urusannya.
“Bintang iklan itu? Ck! Jangan temui dia lagi. Ingat, kau isteriku!” Sivia memutar bola matanya.
“Hanya di film Alvin. Itupun ditinggal suaminya karena sakit-sakitan. Huh! Menyedihkan sekali Sivia yang di sana.”
Seketika itu juga Alvin bangkit dari posisi santainya, meloloskan selimut sehingga mengekspos tubuhnya yang hanya bertelanjang dada kuat dan sehat. Berkacak pinggang di hadapan Sivia menyampaikan pesan ‘seperti ini kau bilang sakit-sakitan’. Tidak lupa dengan seringaian iblisnya.
“M-mau apa?” Sivia gugup sudah pasti. Alvin menjawabnya dengan cepat menyentuhkan bibirnya pelan pada bibir Sivia sekejap.Tidak memungkiri wajah Sivia merah merona.
“Sivia! Alvin! Masih break jangan acting duluuu” Pekik laki-laki nyentrik –asisten Alvin– membuat kru lainnya memandang mereka. Sivia sendiri menjauh dari Alvin, salah tingkah. Alvin terkekeh puas.
Well. Nanti aku kirim undangan, kalian datang ke pernikahan kami, sebulan lagi.” Ujar Alvin santai merangkul Sivia. Kru lainnya bersorak heran kaget senang. Sivia…lebih dari sekedar terkejut.
Ditatapnya Alvin yang membalas menatapnya dengan tatapan ‘jangan katakan kau menolak’. Sivia sendiri menjawabnya dengan tatapan ‘siapa yang sanggup menolak…seorang Alvin’.

Hamima Nur Hanifah

Judul: Kejutan
Sivia sedang terlelap di atas ranjangnya begitu suara ketukan dari arah jendela kamar tiba-tiba mengagetkannya. Ia tersentak kaget dan menarik selimutnya hingga menutupi leher jenjangnya karena ketakutan. Tangannya menggapai-gapai saklar lampu dan menyalakannya. Ia melirik jam beker berbentuk angsa yang bertengger di atas meja riasnya, kemudian mendelik hampir tidak percaya. Ini jam dua belas malam kurang seperempat.
Dan suara ketukan itu mengagetkannya lagi.
Tiba-tiba layar ponselnya yang disilent itu menyala. Sivia segera menyambar benda itu dan mendapati sebuah pesan masuk tanpa nama terpampang di sana.
'Aku ada di luar. Di balkon kamarmu.'
Sivia semakin mengerutkan alis tebalnya tidak mengerti. Karena penasaran, ia menyingkap selimut dan melangkah mendekati pintu yang terhubung ke luar balkon kamarnya.
Samar-samar dilihatnya sesosok tubuh yang mengenakan jemper hitam dengan penutup kepala sedang membelakangi tubuhnya. Sivia sempat begidik ngeri sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu siapa?"
Sosok itu tetap diam. Yang bisa Sivia lihat hanya bahunya yang naik turun seirama nafasnya yang teratur. Sosok itu kemudian membalikkan tubuhnya hati-hati.
"Alvin!"
Sivia terperangah tidak percaya. Laki-laki itu hanya mengangkat bibirnya, tersenyum. Di tangannya terdapat sebuah kue berbentuk lingkaran yang dihiasi lilin-lilin kecil dengan kobaran api berjumlah 17. Membuat Sivia bisa melihat dengan jelas muka Alvin karena cahaya lilin yang menerpa wajah laki-laki itu.
"Tiup ya?"
Sivia hanya mengangguk mengiyakan. Mulutnya sudah bersiap ingin meniup lilin-lilin itu sebelum Alvin berdehem mengagetkan Sivia.
"Make a wish dulu."
Lagi-lagi Sivia mengangguk. Ia kemudian memejamkan matanya dan merapal kata-kata di bibir kecilnya yang bergerak-gerak. Alvin tersenyum lagi. Hatinya membuncah bahagia bisa sedekat ini dengan Sivia.
"Udah!"
"Tiup!"
Sivia meniup lilin-lilin berjumlah 17 itu dan bertepuk tangan begitu semua lilin telah mati. Kali ini tidak ada penerangan di antara mereka, hanya ada sinar rembulan yang meremang-remang.
"Kamu kenapa baru ngasih kejutan di jam segini?"
Alvin meletakkan kuenya di atas meja dekat pintu, kemudian menyenderkan diri pada pilar balkon. "Setelah ini ada lagi yang ngasih ucapan selamat ulang tahun ke kamu?"
Sivia menggeleng.
"Aku orang terakhirnya?"
"Kayanya,"
Alvin melirik jam tangannya. "Ini udah jam dua belas lebih satu menit. Itu artinya, aku adalah orang terakhir yang ngucapin ke kamu."
Sivia tersenyum mendengar jawaban Alvin. Ia paham maksud dari perkataan laki-laki di sebelahnya. Sivia kemudian menjejeri Alvin, memeluk lengannya, dan menyenderkan kepala di atas bahu Alvin.
"Terimakasih ya."

Hamima Nur Hanifah
Judul: Jaket
Alvin melepaskan jaket hitam yang melekat ditubuhnya seketika, kemudian menyerahkannya kepada Sivia yang hanya menggunakan kaos pendek dan celana panjang. Alvin baru saja menghadiri acara pertemuan dengan teman-teman SMPnya, sementara Sivia sendiri sengaja ia ajak untuk menemaninya selama beberapa jam lamanya. Dan kini, Alvin akan mengantarkan Sivia pulang begitu tahu pekatnya malam sudah menghiasi langit.
"Kamu aja yang make."
Kening Alvin mengerut mendengar perintah Sivia. Laki-laki yang menggunakan handband di pergelangan tangan kirinya itu kemudian meraih tangan Sivia dan meletakkan jaketnya di atas genggaman tangan kecil itu. "Aku nyuruh kamu yang make. Bukan aku."
"Kenapa aku?" tanya Sivia sambil mengangkat jaket milik Alvin.
"Kamu cuma pakai kaos lengan pendek. Aku nggak bisa ngebiarin kalau kamu harus naik motor dalam kondisi kedinginan."
"Tapi kamu juga pakai kaos lengan pendek. Bahannya lebih tipis malah daripada aku!"
Alvin mengacak rambutnya kesal, "Tapi aku cowok. Dan kamu cewek."
"Emang kenapa kalau kamu cowok dan aku cewek? Mentang-mentang cowok itu kuat dan cewek itu lemah?"
"Please... Bukan begitu maksud aku. Udah deh, aku cuma nyuruh kamu makai jaket ini aja. Apa salahnya?"
Sivia menaruh kedua tangan di pinggangnya, kemudian menatap Alvin dengan gemas. "Salah! Di sini yang nyetir motor itu kamu! Bukan aku! Yang di depan itu kamu! Bukan aku! Aku kan masih ada penghalangnya,yaitu punggung kamu! Nah kamu? Berhadapan langsung dengan angin!"
"Viaaa," Alvin meletakkan tangannya diatas bahu Sivia, kemudian menatap gadis itu lurus-lurus. "Apapun alasannya. Aku mau kamu pakai jaket ini. Yang bawa kamu pergi itu aku, jadi aku harus bertanggung jawab. Pakai ya?"
"Nggak mau!"
Alvin menegakkan tubuhnya, matanya berkilat-kilat menahan emosi. Tapi ia sendiri berusaha untuk mengontrolnya, minimal tidak meluap di depan gadis kecilnya.
Laki-laki bermata sipit itu kemudian merampas jaket yang berada di genggaman Sivia, kemudian memakaikan pada tubuhnya sendiri dengan paksa. Ia mengambil helm yang tersampir pada kaca spion, kemudian dipakainya. Dengan sekali gerakan kepala, Alvin menyuruh Sivia untukmemboncengnya. Deru sport merahnyamembahana begitu distarter. Motornya kemudian melaju merayapi jalan raya yang sedang dipadati arus lalu lintas.
Belum ada satu kilometer Alvin mengendarai, tiba-tiba ia menepikan motornya, dan mematikan mesin. Sivia yang keheranan kemudian turun diikuti oleh Alvin.
"Kenapa?" tanya Sivia menatap Alvin keheranan. "Bannya bocor? Kempes? Bensinnya habis?"
Tanpa dikoor lagi, laki-laki itu lalu melepaskan jaketnya dan memakaikan dengan paksa ke tubuh mungil Sivia. Membuat gadis itu awalnya ingin memberontak, tapi sia-sia, laki-laki di depannya ini terlalu kokoh.
"Pakai, atau aku nggak akan nganterin kamupulang!"
Setelah berkata demikian, mau tidak mau Siviaakhirnya menurut juga. Ia menyeret resleting jaket hingga dadanya, kemudian kembali duduk di balik Alvin, memeluk punggung yang hanya dilapisi kaos tipisitu.

Hamima NurHanifah

Judul: Silent Hell
Sivia sudah bisa merasakan ada sosok lain yangdiam-diam tengah memperhatikannya. Tatapan tajamnya jelas mengarah lurus kearahnya. Begitu menohok, membuat gadis dengan lesung pipinya itu merasa risih. Melalui ekor matanya, Sivia bisa tahu laki-laki yang duduk tepat di belakangnyabeberapa kali mendengus dan mengetuk-ngetukkan jemari ke mejanya sendiri. Dan Sivia mengabaikan itu semua, tetap berkonsentrasi pada catatan rumus-rumus Matematika yang sedang ia salin dari papan tulis.
Sivia tersentak begitu ia mendongakkan kepalanya, Alvin telah berdiri di depannya persis, menghalangi pandangan matanya dari papan tulis. Sivia berdecak tidak suka, kemudian berusaha melihat papan tulis dengan melongokkan kepalanya dari tubuh Alvin, tapi laki-laki itu juga keras kepala, nampaknya ia ingin membuat asap mengepul dari kepala Sivia, dengan menghalangi pandangan gadis itu kemanapun Sivia bergerak.
"Minggir! Aku masih nyatat catatan di papan tulis!"
Alvin melirik papan tulis, kemudian mengalihkan perhatiannya lagi ke arah Sivia. Ditatapnya gadis itu lurus-lurus, kemudian Alvin menyangga tangannya di atas meja Sivia. "Bisa ngomong juga?"
Sivia mengacuhkannya. Ia kemudian membuka lembaran-lembaran bukunya asal, mencari kegiatan lain untuk menghindari tatapan tajam Alvin.
"Lo kenapa sih?"
Gadis itu masih tetap diam. Bahkan hingga Alvin mendekatkan wajahnya ke arah Sivia. Gadis itu tetap tidak berjingkat.
"Ck! Bingung gue sama lo! Kenapa diem terus sih dari kemarin? Gue salah apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Alvin, Sivia malah menyorat-nyoret lembaran bukunya abstrak. Melampiaskan segala emosi pada kertas polos itu.
"Via!"
Alvin bahkan sudah menggebrak mejanya keras. Tapi sama sekali tidak digubris oleh Sivia. Membuat laki-laki itu nampak putus asa.
"SIVIA AZIZAH!"
Sivia mendongakkan kepalanya, menatap manik mata Alvin yang tengah menatapnya balik. Dalam sekali sentakan, Sivia bangkit dari duduknya, menjajari tubuh Alvin yang menjulang melebihi tingginya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sivia pergi meninggalkan Alvin keluar kelasnya.

Nina Namira

"Hayooooo, ngapain lo bengong ngeliatin anak kelas 7 yang lagi pramuka?? Ciee," kata Ify mengagetkanku.
"Sarap lo Fy, kaget tau, lo mau bikin gue jantungan ha?-_-" kataku.
"Hehe, mangap Vi mangap. Lo lagingeliatin siapa sih emangnya?"
"Maap Ify maap ! Bukan mangap-_-, gue lagi ngeliatin cowok yang itu tuh! Cakep juga yah kalo diliat-liat:3"
"Oh gitu yah? Maap yak, gue kanlupa :3 , aciat ciatttt, cieeee ;;) . Dia kan yang waktu itu duduk sebelaha nsama deva waktu kita uts kemaren! Kalo ga salah namanya ... Aduh siapa yah ?gue lupa deh-_-" kata Ify
"Yehh-_-"
Namaku Sivia Permata, sekarang aku duduk di kelas 8 di Smp Harapan Bunda. Sekarang, aku masih ada di sekolah karena harus latihan untuk lomba PMR, dan kebetulan anak kelas 7 sedang ada latihan pramuka di lapangan. Mereka diwajibkan semuanya mengikuti ekskul itu, untungnya waktu aku kelas 7 ga diwajibkan:3 hihihi, kasian juga yah ;p
Oh iya, sekarang aku lagi ngapalin materi lomba di depan kelas sambil ngeliatin anak pramuka.
Hah? Kelas? Oh iyah! Waktu UTS kan aku kelasnya disini!
"Lah Fy? Bukannya kita waktu UTS di kelas ini yah?" Kataku sambil menunjuk sebuah kelas.
"Oh iya! Eh itu masih ada nama-nama yang ada di kelas ini! Gue cariin deh nama tu anak! Deva.. Deva.. Deva..Nah ini dia! Disebelahnya.. Nah! Alvin Perdana! Namanya Alvin, Vi!" kata Ify sambil melihat kertas yang ditempel dikaca kelas itu.
"Alvin Perdana yah? Hmm"
"Ify, Siviaa!! Ayo kumpul, kita latihan lagii" kata shilla

Seva Permata

Alvin bersandar di tembok dengan melipatk edua tangannya di dada. Matanya menatap bosan ke depan. Sudah 1 jam—lebih dari 1 jam, mungkin?—Alvin terjebak di—ehm—pesta promnight—yang diadakan di sekolahnya 2 tahun sekali—dan Alvin sendiri lebih suka menyebut pesta ini dengan sebutan ‘Neraka Jahannam’. Lihat saja. Ada banyak siswa-siswi—beberapa di antaranya adalah temannya sendiri—sedang berdansa. Ada juga yang hanya sekedar mengobrol bersama teman—Alvin tidak keberatan denganitu. Tapi, bagi Alvin yang tidak pernah mengenal cinta, ini semua tidak masuk akal. Apa sih enaknya berdansa seperti itu dengan pasangan?
Alvin mengambil ponselnya lalu menghubungi sahabatnya yang entah berada dimana sekarang. “Lo dimana? Buruan balik deh. Gue ngga betah.”
“Bentar. Gue lagi ngobrol sama gebetan gue,” suara di sana menyahut. Lalu, sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Cakka—sahabat Alvin—membuat Alvin mendengus kesal. Tidak ada pilihan lain selain menunggu sahabatnya itu. Alvin bisa saja meninggalkan Cakka sendirian, tapi sahabatnya itu tidak membawa mobil alias nebeng Alvin.
Alvin memandang sekitar, lalu matanya menangkap seorang gadis yang tengah berbincang bersama teman-temannya. Alvin memandang cara gadis itu berbicara, tersenyum, dan tertawa. Mungkin Alvin terkena syndrom love at the first sight?
Entah apa yang membuat Alvin berjalan mendekati gadis itu—yang tengah berjalan mendekati meja penuh minuman. Alvin berdiri di sebelah gadis itu.
“Nama?”
Gadis itu menoleh dan mengernyitkan dahinya bingung. “Nama lo?” ulang Alvin.
“Sivia,” jawab gadis itu ragu.
Alvin mengangguk, lalu mengambil salah satu minuman di atas meja itu. “Dan... lo siapa?” tanya Sivia, berusaha mencari tau siapa laki-laki yang tiba-tiba bertanya namanya.
Alvin menyeringai. “Seseorang yang tertarik sama lo, maybe?”

Seva Permata

Alvin berjalan melewati koridor di sekolahnya, berniat ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Langkah Alvin terhenti ketika mendengar suara isak tangis. Dia melirik kesamping kanannya dan dia melihat seorang gadis tengah menangis di pinggir lapangan basket.
Awalnya Alvin berusaha tidak peduli, tetapi ketika dia menyadari bahwa gadis yang sedang menangis itu Sivia, Alvin merasa marah. Marah kepada siapapun—atau apapun—yang membuat gadis itu menangis.
“Kenapa lo?” tanyaCakka ketika melihat Alvin berdiri diam sambil menatap lapangan basket.
Alvin diam saja. Dan Cakka mengerti bahwa sahabatnya itu sedang mengkhawatirkan Sivia—gadis yang disukainya sejak acara promnight satu minggu lalu.
Alvin berjalan mendekati Sivia, tetapi langkahnya ditahan oleh Cakka.
“Lo mau ngapain?” tanya Cakka.
“Minggir lo,” desis Alvin seraya menyingkirkan tangan Cakka yang menahan bahunya. “Gue harus tau siapa—atau apa—yang udah bikin dia nangis.”
Cakka menahan bahu Alvin kembali. “Apaan sih?!” bentak Alvin.
“Denger, Vin. Lebih baik lo jangan tanya apapun ke Sivia. Kalau dia udah siap, dia pasti bakal cerita sama lo, bakal ngasih tau siapa—atau apa—yang bikin dia nangis. But now, she just needs a shoulder to cry on,” ujar Cakka seraya tersenyum tipis.
Alvin tertegun. Benar kata Cakka.
Alvin berjalan mendekati Sivia yang masih menangis. Dia duduk di samping Sivia lalu merangkul bahunya, merengkuh tubuh mungil itu ke pelukannya.
I am here,” bisiknya pelan, membiarkan Sivia mengeluarkan semuanya lewat airmata.

Seva Permata

Sivia menangis ketika menyadari dia dalam bahaya. Ada sekitar.. satu.. dua.. tiga... tiga preman yang berusaha merebut tasnya. Sivia bisa saja menyerahkan tas itu kepada mereka. Tapi di dalam tas itu ada kertas tugas sekolahnya, album foto—yang berisi fotonya dengan Alvin, dan barang-barang berharga lain—menurut Sivia lebih berharga dari uang sekalipun.
Sivia menyesal ketika menolak tawaran Alvin untuk mengantarnya pulang. Bukannya tidak mau sih, tapi sudah 2 hari ini Sivia melancarkan aksi ngambeknya kepada Alvin.
Dan lihatlah karma yang didapatkannya. Sivia tadi tidak langsung pulang. Dia pergi ke toko accessoris yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya. Dan Sivia berada di toko itu sampai jam 5. Dan saat sedang menunggu taksi, preman-preman itu mendekatinya dan berusaha mengambil tasnya. Sepertinya preman-preman itu sangat ditakuti oleh warga sekitar. Terbukti dari beberapa orang yang memilih berpura-pura tidak melihat kejadian itu.
Sivia benar-benar sudah pucat dan lemas.
BUGGH! BRUKK!
Seorang laki-laki memukul salah satu preman. Dan bersamaan dengan itu, Sivia terjatuh. Mungkin karena dia sudah benar-benar lemas. Dia menangis, karena efek ketakutan yang masih dirasakannya dan karena bersyukur ada yang menyelamatkannya.
“Via?”
Sivia mendongak ketika mengenali suara itu. “Alvin?” Suara Sivia terdengar parau. Dan nafas Sivia tercekat ketika menyadari memang Alvin-lah yang menyelamatkannya. Dan mata Sivia melebar ketika melihat darah keluar dari lengan Alvin.
“Alvin, tangan lo?”
Alvin menggeleng dan tersenyum, berusaha menenangkan Sivia bahwa dia tidak apa-apa. “Lo ngga papa,Vi?” tanyanya tanpa memperdulikan sakit dan perih yang dirasakan oleh lengannya.
Sivia mengangguk lalu menghambur ke dalam pelukan Alvin. “Kok lo bisa ada di sini?” tanya Sivia lirih.
Alvin menghela napasdan mengusap rambut Sivia dengan sayang. “Gue juga ngga tau. Tiba-tiba gue punya perasaan ngga enak dan ngga tau kenapa gue punya insting kalau lo ada disini,” ujar Alvin. “Ikatan batin mungkin?”

Seva Permata

“Ada masalah apa dikantor, hmm?” tanya Sivia begitu Alvin memasuki kamar mereka. Sivia berdiri dihadapan Alvin, lalu melepaskan jas yang dipakai Alvin.
Alvin melonggarkan dasiyang dipakainya, lalu berjalan perlahan menuju sofa di kamar itu. Dia sedikit membanting tubuhnya ke atas sofa.
“Pemasukan perusahaan menurun.”
Sivia mendekati Alvin lalu duduk di sampingsuaminya itu. “Kok bisa?”
“Tadinya kami mau meluncurkan produk baru. Tapi ngga tau gimana perusahaan lain—saingan perusahaan kami—meluncurkan produk yang hampir sama. Baik dari segi nama, bahan, dan lainnya. Dan mereka meluncurkannya lebih cepat dari kami,” ujar Alvin sambil memijat keningnya. Kepalanya benar-benar pusing.
Sivia menarik kepala Alvin sehingga wajah Alvin menghadapnya. Dengan perlahan, dia mengusap-usap dahi Alvin yang berkerut, membuat kerutan di dahi Alvin perlahan menghilang.
“Aku bingung, Vi.Bisa-bisa Papa ngerasa kecewa karena aku ngga bisa ngejaga perusahaannya dengan baik,” Alvin mendesah pelan.
“Kamu pasti bisa menyelesaikan masalah ini, asal kepala kamu tetap dingin,” ujar Sivia lembut.
You’re Alvin Jonathan. I know that you can do it. You can solve your problem.”
Alvin tersenyum tipis, lalu memeluk Sivia. “Aku tahu. Aku tahu emang Cuma kamu yang bisa bikin aku ngerasa tenang. Yang bikin aku ngerasa yakin. I’m so happy to be with you.”
“Hmm... If you have any problems, you can share with me. I’m always be there. For you.”

Diani Ayua Isti

“Aku mencintaimu.” kata Alvin tegas sambil mengeratkan pelukan possesive-nya di pinggang Sivia.
Sivia memutar bola matanya jengah. “Kau sudah menatakan hal yang sama lebih dari 100 kali selama satu jam full.” dengus Sivia kesal namun tidak menolak pelukan possessive Alvin yang membuat tubuhnya semakin merapat dengan tubuh kekar suaminya itu.
“Terus kenapa? Apa ada yang salah atau kau tidak suka mendengarnya?.” Tanya Alvin dengan nada penuh kecewa.
“Bukan begitu, hanya saja aku…”
“Hanya saja kau bosan mendengarku mengatakan cinta?” Alvin mengintrupsi mulut Sivia yang akan melanjutkan perkataannya. Dikecupnya bibir Sivia dengan lembut, hanya mengecupnya singkat karena setelah itu ia menatap manik-manik mata Sivia yang masih dalam pelukan possesive-nya.
“Aku mencintaimu.” katanya lagi–terdengar seperti gumaman tak jelas. Entah kenapa semakin ia menatap mataSivia maka semakin terlena juga ia mengatakan cintanya yang tidak akan pernah habis.
“Berhentilah mengatakan cinta.” balas Sivia dingin. Alvin tersentak mendengarnya. “Dari sejam yang lalu kau mengatakan cinta dan tidak pernah berhenti untuk mendengar balasanku. Aku juga ingin didengarkan dan aku juga ingin membalas kata cintamu.” kata Sivia dalam sekali tarikan nafas. kali ini Alvin langsung melotot mendengar perkataan Sivia. ternyata dari tadi ia telah berbuat egois pada istrinya.
“Aku mencintaimu.” kata Alvin lagi, kali ini ia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan untuk membuat jeda.
“Aku juga mencintaimu.” Sivia menarik sudut bibirnya –rasanya lega bisa membalas kata cinta suaminya. Alvin juga ikut tersenyum mendengar balasan kata cintanya dari Sivia. Mereka sama-sama tersenyum dan kembali melakukan aksi mereka –saling mengatakan cinta sepanjang malam. seperti tidak ada kerjaan lain saja, Dasar pengantin baru!!!

DianiAyua Isti
*hari pertama*Sms*
Alvin : aku merindukanmu
Sivia: kau sudah mengirim pesan yang sama lebih dari 20 kali selama 7 jam terakhir.
Alvin: itu karena aku merindukanmu, Sivia
Sivia: aku tahu, tapi ini baru hari pertama kau di LA dan kau sudah mengirim kata rindu lebih dari 20 kali, kau GILA!
Alvin: aku gila karena aku merindukanmu
Sivia: terserahmu, yang jelas kau masih 6 hari lagi disana dan jangan bertingkah macam-macam!
Alvin: Aku tidak macam-macam Sivia, aku hanya merindukanmu.
Sivia: -_-lanjutkan pekerjaanmu, jangan mengirim pesan lagi.
Alvin: tak mau! Aku merindukanmu.
Sivia tidak membalas sms Alvin lagi. Suaminya itu memang keterlaluan cerewetnya. Mengingat waktu malam pertama mereka, Alvin mengatakan kata “aku mencintaimu” sebanyak lebih dari 100 kali dalam kurun waktu 1 jam full tanpa berhenti, sekarang suaminya malah berulah lagi dengan mengatakan “Aku merindukanmu” melalui sms sebanyak-banyaknya. Padahal Alvin  baru kemarin berangkat ke LA untuk menghandle cabang perusahaan barunya disana. Dan masih ada 6 hari lagi yang akan dilewatinya di LA tanpa Sivia, membuat Sivia tidak bisa berfikir apa yang akan terjadi sebelum 6 hari tersebut.
*hari kedua*Sms*
25 New massage from ‘My Honey’
Alvin : aku merindukanmu
Sivia: tak bisakah kau berhenti mengirim pesan dengan kata-kata yang sama?
Alvin: Aku sangat merindukanmu
Sivia: Aku juga merindukanmu sayang, tapi jangan seperti ini, kau focus saja pada pekerjaanmu.
Alvin: tak bisa!!! Aku sangat merindukanmu.
Sivia: jangan bertingkah seperti anak kecil!
Alvin: aku tak peduli, Aku merindukanmu.
Sivia tidak membalasnya. ia sangat kesal menghadapi tingkah kekanak-kanakan suaminya itu. Sivia sendiri sudah kehabisan akal untuk menghadapinya, jadi biarkan saja! kalau diladeni suaminya itu akan terus bertingkah dan mengirim lebih banyak sms lagi dengan kata “Aku merindukanmu.
*hari ketiga*Sms*
Alvin : Aku merindukanmu
Sivia: Aku tidak peduli!
Alvin: sebentar lagi aku akan mati karena terus merindukanmu
Sivia: kalau begitu aku akan menyiapkan calon suami baru.
Alvin: Sivia aku benar-benar akan mati karena merindukanmu
Sivia: DASAR GILA!!!
Alvin: SIVIA SAYANG!!! AKU MERINDUKANMU.
*hari keempat*
Sivia memacu langkahnya di koridor rumah sakit. Ia baru saja sampai di LA setelah mendengar kabar kalau Alvin masuk rumah sakit. Sivia tidak habis fikir kenapa suaminya itu bisa sakit hanya karena merindukannya. ck-_- benar-benar menyebalkan. Ia akan memaki suaminya setelah ini.
Sivia membuka pintu ruang rawat Alvin dengan tergesa. Ia sudah siap memaki suaminya jika saja ia tidak melihat laki-laki itu sedang terlelap sambil mengigau manyebut namanya dengan nada lirih. Sivia mendekat, hatinya terenyuh mendengar namanya terus disebut-sebut.
“Aku disini.” bisiknya pelan sambil membelai rambut Alvin dengan lembut.
Kelopak mata Alvin mengerjap beberap kali sebelum benar-benar terbuka, menampilkan mata sayunya yang langsung menatap manik-manik mata sivia. “Sivia… aku merindukanmu.”
“Aku juga merindukanmu sayang.”

Indri Novia Kusuma

Brukk...
Minuman botol yang digenggam Sivia meluncur dengan mulusnya jatuh ke bawah.
Matanya memanas melihat apa yang terjadi di depan matanya, tanpa aba-aba air bening di pelupuk matanya tak ragu lagi begitu sajameluncur dengan isakan tangis kecilnya.
"kalian berdua selama ini... " ucapan Via berhenti, ia yang tidak kuat melihat kejadian itupun langsung pergi berlari sekencang mungkin .
--------
"Fy , kamu mau nggak jadi pacar aku? Aku tau kita sahabat udah lama, dan aku nggak bisa nahan perasaan aku ke kamu Fy," ucap Alvin seraya menggengam kedua tangan perempuan yang ada didepannya.
"Tapi, Vin aku nggak mungkin pacaran sama kamu. Kita sahabatan, Vin. Aku nggak mau kalau persahabatan kita hancur karena ini!!" Ify Tersenyum lembut.
"Tapi, kalau kita coba kan gak apa-apa Fy."
"Oke, tapi aku fikir dulu."
"Mikirnya jangan lama-lama ya Fy."
Tangan mereka masih bertautan dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihatnya.
-----------
"Kak, mereka berdua punya hubungan apa sih kak?" ucap Via menahan tangisnya.
"Kakak nggak tau, setau aku mereka masih sahabatan seperti 3 tahun yang lalu," Jelas Kak Tasya.
"Oh , gitu ya ? "
"Udahlah , kakak juga sempet kagum sama kamu. kalau kamu gak percaya , tanya aja langsung ke orangnya !!" ucap Kak tasya setelah itu pergi begitu saja.
-----
"Cie , PJ dong pj," ledek Shilla.
"Emang siapa yang jadian Shil?" tanyaVia
“Tuh si AlFy."
"AlFy?"
"Iya Alvin-Ify."
Tubuh Via sekita membeku , dadanya terasa sesak ,tenggorokannya tercekap.
"Shil, Vin, Fy gue pergi dulu ya. oh iyajangan lupa traktir-traktirnya ya," Via masih sempat-sempatnya membuat lelucon yang membuat dadanya semakin sesak. Via pun berlari sambil sesekali terisak .
“Via kenapa?" tanya Ify.
"Gak tau," balas Shilla mengangkat bahu.
"Maaf, Via. Gue terlalu egois, maaf udah buat lo selalu kecewa," batin Alvin. tanpa terasa hati kecil nya mempunyai Rasa sayang yang sungguh hebat .

Indri Novia Kusuma

Seorang wanita terisak menangis, tangannya memegang selembar foto yaitu seorang pria yang selama ini baru berbulan-bulan sudah mengisi harinya.
Pria itu adalah sahabatnya sendiri.
"Aku tau Vin kita baru beberapa bulan bersahabat."
"Aku tau kau dan dia lebih dahulu bersahabat."
"Dan Aku tau ... " Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya .
"Kamu berubah Vin, kamu bukan dulu yang dulu aku kenal "Batinnya. Ia menangis dan pada akhirnya lelah mengeluarkan air bening dari pelupuk matanya , ia pun tertidur.
-------
"Maaf Vi, aku ngehindarin kamu. Maaf, aku tau gimana kecewanya kamu," ia memejamkan matanya dan membayangkan bagaimana ia berada di posisi seorang gadis sahabatnya.
"Suatu saat kamu pasti tau Vi, mengapa aku ngehindarin kamu," ia melanjutkan kembali kata-katanya.
Tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya, hidungnya mengeluarkan banyak cairan berwarna merah. Ia pun menyentuh darahnya.
"Ya Tuhan kuatkan aku Tuhan. Aku kuat. Aku mohon jangan sekarang,” dan pada akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya
-----
"Lo pikir lo doang yang kehilangan dia, gue juga. Lo mending masih bisa merasakan kebahagiaan sama dia sedangkan gue? Gue ngerasain apa hah?" Via merasakan sekujur tubuhnya lemas dan gemetar. Ia tidak menyangka dia telah pergi secepatnya.
Dia tidak akan kembali.
Dia sudah tiada.
Dan tidak akan ada yang bisa menggantikan senyum manisnya dan ucapan "KEEP STRONG" disaat jadwal ia harus Kemo .
Sedangkan Ify, ia menangis mendengar ucapan Via.
"Vi semoga dirimu disanakan baik-baik saja untuk selamanya. disini aku kan selalu rindukan dirimu . Wahai sahabatku" Via pun menerima surat dari Alvin untuknya yaitu potongan dari lagu tersebut.
Ia memejamkan matanya berharap ini hanyalah sebuah mimpi, tapi semua ini kenyataan.

Uut Utary WulanSarry

PLAK!
Suara tamparan itu terdengar cukup keras ketika tangan seorang pemuda berwajah oriental menyentuh pipi kanan gadis cantik berpipi chubby yang ada di sebelahnya.

“Awww…..” Sivia (gadischubby) merintih sambil mengelus pipinya.
PLAK!
Untuk yang kedua kalinya Alvin (pacar Sivia) mendaratkan tangannya di pipi Sivia. Namun untuk yang kali ini di pipi sebelah kiri.
“Awww….” Sivia kembali mengelus pipinya. Pipinya terasa sangat panas. Secara otomatis gadis tersebut menoyor kepala sang pacar. “Sakit bego. Lo kira gue apa? Lo tampar gue seenak jidat lo!” Sivia melotot.
“Tapi kan Via, di pipi lo itu tadi ada….”
“Ada apa? ada apa?” Ujar Sivia gak nyantai.
“Iya tadi di pipi lo itu ada ini” kata Alvin sambil menunjukkan sesuatu yang telah menjadi korban kekejaman tangannya.
“Pantesan aja ni pipi gue jadi gatel kayak gini” Sivia menggaruk pipinya. “tapi gak usah pake kekerasan juga kali. kan bisa tu NYAMUK diusir aja kagak usah ditabok guenya,” Sivia membelakangi Alvin.
“Yah… kok ngambek sih… Via gak seru nih. Maafin gue deh Via,” Mohon Alvin.
“Kagak. kalo gue tahu bakal kayak gini, kagak mau gue kencan di taman. BANYAK NYAMUK pipi gue jadi KORBANnya deh..” kata sivia sambil membalikan badannya hingga kembali menghadapAlvin..
“Janji deh Via, ini kencan terakhir kita di tam....” Alvin melihat nyamuk kembali hinggap di kening Sivia kemudian..
PLAK!
“ALVIN GILAAAAAAA………”Sivia mengejar Alvin yang telah kabur meninggalkannya.

Uut Utary WulanSarry

Alvin memarkirkan ninja merahnya di sebuah rumah sederhana. Rumah tersebut kelihatannya banyak sekali penghuninya. Terbukti di seluruh penjuru halaman rumah tersebut penuh oleh anak-anak yang sedang asyik bermain sesuai dengan permainan yang kelompok mereka mainkan. Padahal ini sudah hampir jam 8 malam. Kalau di rumahnya barujam 6 aja udah kayak kuburan. Sepi! Gelak tawa mereka membuat rumah tersebut lebih hidup dibandingkan rumahnya yang luas namun hanya dihuni oleh dirinya dan seorang pembantu.
“Hey, Al. Tumben kesini. Ada apa Al?” sapa Sivia. Alvin menghampiri Sivia kemudian mereka duduk di teras bagian depan rumah tersebut.
“Maaf ya Vi aku malem-malem datang kesini. gak ada apa-apa sih, pengen tau rumah kamu aja. Jadi ini rumah kamu Vi?” Tanya Alvin.
“Gak apa-apa kok Al. Iya rumah aku di sini semenjak aku umur 2 tahun. Waktu aku dan orang tuaku kecelakaan. Tapi sayang mereka sudah pergi jauh untuk selamanya.”
“Kenapa kamu gak bilangkalau kamu tinggal dipanti asuhan ini Vi? Tunggu dulu, berarti kamu sudah…” Alvin menghitung jari tangannya. “15 tahun dong tinggal disini. Emangnya gak ada orang tua yang….”
“hehe…. Ya gitu deh Al. Udah gede gini mana ada yang mau ngadopsi aku. Waktu aku kecil banyak orang tua yang datang ke sini, tapi aku gak pernah mendapatkan satupun dari mereka. Padahal aku juga mau lo Al merasakan lagi bagaimana punya orangtua.” Kata Sivia yang matanya mulai berkaca-kaca.
“Vi…” Alvin menggenggam tangan Sivia. “Bagaimana kalau aku aja yang ngadopsi kamu?” Sivia mengkerutkan keningnya. “Jadi pacar aku Vi” lanjut Alvin.
Sivia mengangguk. “Iyaaku mau Al” Alvin pun merangkul pundak Sivia.
“Ciiiieeeeee Kak Via udah punya pacar” Koor anak-anak yang menonton adegan alvia.
“Udah deh siapa yang pacaran. Kalian masuk aja udah malem” Suruh Via.
“Bunda….. Kak Via udah punya pacar sekarang” kata anak yang berambut gondrong sambil masuk ke rumah dan di susul yang lainnya. Sivia dan Alvin saling pandang kemudian Alvin mencium kening Sivia dan membawa Sivia kedalam dekapannya.
“Makasih Al” lirih Sivia.

Uut Utary WulanSarry

“Vi, kita jalan-jalan yuk?”
“Ya udah kamu jemput aku ya…”
“Oke! Kamu siap-siap, satu jam lagi aku kesana.”
KLIK! Sambungan telpon terputus.
1 jam kemudian.
“Siap Vi? Ayo kita berangkat.”
“Lets go!” Kata Via setelah duduk tenang di Ninja Alvin. “Pelan-pelan aja ya Vin” Sivia berpegangan pada jaket Alvin. Alvin mengangguk lalu menjalankan motornya.
“Ya ampun ni anak kenapa pegangannya disitu mulu sih?”kata Alvin dalam hati. Alvin pun tersenyum.
1 detik
2 detik
3 detik
“ya” Alvin mengangguk-angguk seakan tau apa yang akan terjadi akibat kejahilannya. Otomatis Sivia memeluk Alvin.
“ALVIN…… PELAN-PELAN DONG JANGAN NGEBUT. AKU TAKUT VIN….”teriak Sivia sambil mengencengkan pelukannya.
“Apa Vi? jangan pelan-pelan. Oke sayang..” Alvin kembali menjalankan motornya diatas normal.
“ALVIIIIINNNNNN………….” Suara Sivia semakin kencang. Kini laju motor Alvin pun kembali normal.
“Nah kalau dari tadi kamu pegangannya disini aku gak bakalan ngerjain kamu dulu.” Alvin menyimpan tangannya di atas tangan Via yang melingkar di pinggang Alvin. “Jangan dilepas ya.” Sivia mengangguk.
“Kamu kan tinggal bilang Vin. jadi gak perlu bikin jantung aku kayak yang mau copot.”
“Emang kamu mau nurutin apa yang aku mau?”
“kenapa enggak?”
“Janji ya?” Alvin menghentikan motornya lalu menyuruh Via turun.
“Kok berhenti disini Vin. ini kan gak ada orang.” kata Sivia yang mulai heran dan bingung. Bukannya menjawab Alvin malah mendekatkan tubuhnya ke tubuh sivia. Sivia mundur, mundur, semakin mundur. namun sayang, tubuhnya kepentok motor Alvin. Alvin semakin mempersempit jarak mereka lalu memiringkan wajahnya ke wajah Sivia. sivia merasa takut. Tubuhnya pun mulai merasakan aliran darah yang begitu cepat. Dengan cepat sivia memalingkan wajahnya.
“Vin, ka…ka..kamu ma..mau nga..nga….pa..in Vin?” Sivia mendorong bahu Alvin.
“Hahaha…hahaha…..Katanya mau nurutin apa yang aku mau. Tapi kok ditolak mentah mentah.”
“Tapi kan maksud aku bukan itu Alvin” Muka Sivia memerah.
“Lalu mau apa dong? mau yang lebih dari ini? mana pipinya pake merah segala lagi.” goda Alvin
“is Alvin apaan sihh….”Sivia menutupi wajahnya oleh kedua tangannya karena malu.
“Udah jangan dipikirin .lagian aku hanya bercanda kok. kamu nanggepinnya serius.” Alvin kembali menaiki motornya. “Ayo kita lanjutin lagi perjalanannya.”Lanjut Alvin. Sivia menuruti saja apa yang di bilang Alvin tanpa bersuara.

Kamila Basit III

“Aaarrrgghhhh..” Aku menggeram frustasi. Mengacak rambutku penuh emosi. Melempar dan melayangkan apapun yang ada didekatku. Emosiku benar-benar berada ditingkat paling atas. Gadis itu seperti nuklir yang menyebarkan racun dan meluluhlantakkan segalanya. Ia benar-benar membuatku geram. Ia membuatku membisu. Ia mengunci segala pergerakanku. Ia.. ia membuatku benar-benar gila.
How can I do my revenge if her blue eyes, hypnotic me?
Perempuan itu bernama, Sivia Valenza. Aku benci dengannya. Sangat!
Karenanya ayahku meninggal. Karenanya aku menjadi tulang punggung keluargaku saat ini. Karenanya, aku dan Ibuku jatuh miskin sebab ayahku meninggal. Karenanya semua ini terjadi..
Ibuku bilang, Gadis itu mengaku tak sengaja menabrak ayahku. Ia mengaku bahwa pandangannya kosong saat menyetir kala itu. Ia benar-benar-benar menyesal. Namun, apa arti itu semua? Penyesalan? Apa penyesalannya mampu membuat ayahku hidup kembali? No. Big No.
Apalagi, aku tak ada saat ayahku meninggal. Aku berada di Duseldrof dan baru tiba 2 hari setelah pemakaman ayahku. Hal itu yang semakin membuatku dendam..
Sudah satu bulan belakangan ini, aku berencana membunuhnya dengan hal yang lebih kejam. Aku ingin membuatnya mati. Mati konyol. Hahaha.
Ta..tapi.. semua yang awalnya kuanggap mudah..semua yang telah kurencanakan dengan apik dan matang, seketika buyar kala pandanganku bertumbuk pada Matanya. Mata yang begitu indah. Ya, sesederhana itu.
FlashbackOn. .
Bruk ‘Aww..’
Aku membungkuk hendak menolong gadis yang sempat kutabrak dengan ransel hitamku. Ia mengulurkan tangannya lantas menjadikan telapak tanganku sebagai tumpuan atas berat badannya. Aku yang tidak siap, hampir saja membuatnya terjatuh kembali. Namun dengan sigap, tangan kananku menahan punggungnya yang sudah terdorong kebelakang. Aku menahan punggungnya kuat. Seketika, pandangan kami bertemu. Aku menelan ludahku gemetar. Matanya! Matanya begitu indah. Blue eyes.
“Eh..” ia tersadar lantas dengan cepat memperbaiki posisi badannya.
“Maaf. Aku tidak sengaja,” kataku pelan. Masih terhipnotis dengan matanya.
“Tidak apa-apa.. kalau begitu, aku pergi dulu,” ujarnya memasang senyum. Maniss..
“Tunggu sebentar.. siapa namamu?” tanyaku mencegat langkahnya.
Ia kembali tersenyum. “Namaku Via, Sivia Valenza.”
APA?! D..dia? jadi ini orangnya? Y..ya aku menemukannya. Aku menemukan objek yang membuatku pindah ke sekolah ini. Aku menemukannya dengan begitu mudah. Tuhan seakan menyetujui rencanaku. Awal yang baik.
Tapi, apa aku tega membuat mata indah itu tertutup untuk selama-lamanya?.

Kamila Basit III

Gadis ini terus berlari. Semakin jauh dan jauh. Ia terus memacu langkahnya. Membawa kesedihan dan kekecewaan akan suatu hal. Air matanya tak henti mengalir. Hanya satu tujuannya, agar Pria yang tengah mengejarnya itu tak dapat menangkapnya. Dadanya terasa sesak. Sesak yang benar-benar membuatnya tak bisa bernafas.
Ia tak peduli dengan sorotan-soratan aneh yang menatap kearahnya. Ia tak peduli teriakan-teriakan orang yang menyuruhnya menepi karena hujan yang terus turun dengan deras. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Yang jelas, Hatinya terluka. Itu saja.
Ia merasakan debuman langkah itu semakin dekat. Kontan ia juga semakin mempercepat larinya meskipun ia sadar, ia mulai terseok. Dan Jeezz.. Sebuah tangan kekar dan besar meraih bahunya dan menarik tubuhnya untuk masuk kedalam sebuah tubuh lain yang ia yakini ada dihadapannya saat ini. Dan ia juga bisa dengan jelas merasakan bahwa ada satu tangan yang merambah punggungnya dan mengusapnya berulang kali.

Tunggu. Siapa yang memeluknya?. Tubuh siapa yang berada dihadapannya saat ini?. Siapa yang mendekapnya?.
“lo kenapa lari, sih? Lo harus denger penjelasan gue dulu, Vi” Suara itu. Suara itu! Suara itu adalah suara desahan yang sangat ia kenal.
“ngga ada yang perlu dijelasin, Al.. semua udah jelas.. lo bakalan pergi ninggalin gue.. lo jahat tau ngga? Lo jahat..” gumam Sivia memukul-mukul dada bidang Alvin dengan lemah. Alvin semakin mempererat dekapannya.
“Hey.. gue ngga akan selamanya stay di Aachan. Gue bakalan balik begitu kuliahnya udah kelar..” ucap Alvin pelan.
“tapi Al..”
Alvin melepaskan dekapannya. Memandang Sivia dengan sorotan matanya yang teduh. “gue pasti bakalan balik, dan itu demi lo..” tutur Alvin lantas mengecup kedua kelopak mata Sivia dengan hangat. Mengecupnya dengan penuh makna.
Sivia mengangguk. Alvin pasti akan kembali. Ia tidak pernah berbohong padanya..

Kamila Basit III

Pria bermata karamel itu mengernyit, memicingkan kelopak matanya hingga menimbulkan kerutan kecil didahi. Dia merapatkan hoodie abu-abu yang menyelimuti tubuhnya sekarang, dengan satu lenting rokok beraroma nikotin bertengger disalah satu sudut bibirnya. Ada aroma tembakau yang terbakar, menimbulkan asap tipis menyerupai kabut keluar dari kedua lubang hidung dan bibirnya. Alvin menarik ekspresi datarnya, berusaha menebak-nebak lantas menarik sikap tubuhnya menjadi serius saat melihat seorang wanita berambut sebahu, berbadan mungil muncul dihadapannya.
“hari ini, kau pake berapa gram?” tanya wanita itu sedikit sinis. Alvin mengernyit.
“bisa kau lihat.. aku hanya menghisap nikotin ini..” ucap Alvin sedikit tidak terima. “harus berapa kali aku bilang, bahwa aku sudah tidak pernah mengonsumsi barang-barang itu lagi, Kid!?” lanjutnya frustasi. Ia membuang rokok yang sempat terjepit diantara jemarinya, lantas mengacak rambutnya frustasi. “trust me, please. Please kid. Please!” timpalnya lagi memohon.
Sivia menggigit bibir bawahnya keras. Entah kenapa, ia ragu. Ia tak tau harus bagaimana. Alvin beranjak mendekati Sivia. Memegang pundak kekasihnya dengan tegas. “trust me, okey?” bisiknya tepat dihadapan Sivia. Sivia memejamkan matanya. Tak kuasa dengan hambusan nafas Alvin yang beraroma margarita. Sivia menggeleng. Ia ingin pria ini berubah seutuhnya. Segalanya. Ia ingin Alvin menjauhi semua ini. Semuanya. Rokok, Tequila, drugs. Semuanya! Semuanya tanpa tersisa sedikitpun.
“ikutlah rehabilitasi, Alv” hanya itu kata yang mampu keluar dari bibir ranumnya. Seketika Alvin tersenyum masam. Ia sudah hafal dengan kalimat ini. Sivia sudah mengucapkannya beribu-ribu kali. Dan mungkin, ini saat yang tepat. Ini saatnya ia harus mengikuti apa yang diinginkan Sivia. Ya.
okey. I will” tutur Alvin miris. “but please promise that you’ll still wait me ‘till I’m free..” pinta Alvin. nada suaranya begitu memelas. Ia menatap iris mata Sivia yang selalu membuatnya nyaman.
Of course Alv..I promise you, dearest” ucap Siviaberjanji. Senyum lega merekah sempurna dibibirnya. Alvin ikut tersenyum kembali lalu kemudian memeluk Sivia dengan eratnya.
thanks, Kiddy. Thanks! I love you.