“HAPPY ANNIVERSARRY”
Karya : Aninda Ocha
Cast : Alvin, Sivia, Shilla, Cakka
Genre: Romance,Friendship,Happyend
Sinar
matahari masuk melalui celah – celah jendela kamar itu. Sinarnya seakan
memaksa seorang gadis cantik yang masih senantiasa menikmati mimpinya.
Dan kali ini mata itu terpaksa dibukanya karna silau yang menyapa
matanya.
Setelah kesadarannya terkumpul, gadis cantik itu berjalan
menuju gorden lalu menyibak kain berwarna ungu itu. Gadis itu juga
menggeser jendela kamarnya yang disambut angin sepoi – sepoi pagi ini.
“selamat pagi.” Ucapnya senang.
Gadis bernama –Sivia- itu mengambil handphonenya yang tergeletak di kasur. Membaca pesan masuk kemudian tersenyum.
From: My Boo
Sayang... baru bangun pasti ya? :p siap – siap gih, nanti aku jemput jam 8, dandan yang cantik sayang. Morning and I Love You :*
Sivia kemudian mengetik balasannya.
To: My Boo
Kamu tau aja sayang :p haha oke sip, aku tunggu sayang :* I Love You Too {}
-
Sivia
yang sudah wangi dan bersih langsung menuruni anak tangga dan senyuman
masih tercetak di bibirnya. Sang mama yang memperhatikannya hanya ikut
tersenyum. Sudah jadi keseharian melihat Sivia tersenyum setelah bangun
tidur.
“selamat pagi mama.” Sivia mencium pipi sang mama yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga itu.
“selamat
pagi sayang. Anak mama rapi banget, mau jalan – jalan sama Alvin ya?”
goda mama Sivia yang membuat pipi gadis itu memerah karna malu. Alvin
dan mamanya sama saja –sama-sama-suka-menggoda-.
“mama masak apa?”
“nasi
mawut. Yang pernah kita cobain waktu kita liburan ke Lombok itu, Vi.
Yang di puji habis – habisan sama papamu.” Cerocos mama Sivia. Wanita
paruh baya itu memang sangat pandai memasak. Masakan apapun yang disukai
oleh anak dan suaminya akan ia buatkan khusus untuk keluarga kecilnya
itu.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
Sivia dan sang mama sama – sama tersenyum. Keduanya berjalan kearah
pintu dan benar dugaan mereka. Alvin sudah berdiri di depan pintu.
“pagi tante. Cantik banget pagi ini.” goda Alvin. Sivia tertawa sementara sang mama memukul lengan Alvin pelan.
“kamu kok gombalin tante – tante, Vin.” Mama Sivia mengajak Alvin untuk ikut sarapan bersama.
Alvin
duduk di samping Sivia yang sudah melahap makanannya. Alvin tertawa
melihat cara makan Sivia seperti anak sd yang tidak mau makanannya
diambil orang. “papa kamu mana, Vi?” tanya Alvin.
“papa lagi
sakit. Makanya tadi mama bawain nasi sama susu ke dalem kamar.” Jawab
Sivia seadanya. Gadis itu masih menikmati sarapan paginya.
Alvin
kembali tertawa karna ada makanan yang sedikit belepotan di sudut bibir
Sivia. Laki – laki itu mengambil tisu lalu membersihkan bibir Sivia.
Gadis itu merasa pipinya sudah memerah saat ini.
“hehe, makasi sayang.”
“sama –sama sayang. Cepet gih habisin makannya, ntar jalanan keburu rame.” Suruh Alvin sambil mengelus rambut hitam Sivia.
-
-
Alvin
dan Sivia dalam perjalanan yang entah kemana karna Alvin tidak
memberitahu kemana mereka akan pergi. Setiap Sivia tanya, pasti
jawabannya Cuma ‘nanti kamu juga tau’ atau ‘udah duduk manis aja’ dan
itu cukup bikin Sivia kesal sekarang.
“sayang, jangan ngambek dong.” Bujuk Alvin.
“kamu sih nggak mau kasih tau kita mau kemana.” Sivia menikmati pemandangan luar jendela. Malas banget lihat Alvin saat ini.
“lagi bentar kita sampai kok, nanti kamu bakal tau kita kemana, sayang.”
Tak
lama Alvin memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk
kekasihnya yang lagi ‘ngambul’ itu. Sivia menatap taman kecil tempat
mereka sekarang tanpa berkedip. Taman ini cantik sekali, pikir Sivia.
Ada beberapa kertas origami berbentuk burung dan beberapa bunga mawar
yang kelopaknya bertaburan di atas rumput membentuk sebuah tulisan.
‘HAPPY 5 MONTH ANNIVERSARY’
“Vin... i-ini...” Sivia menggantungkan kata – katanya. Kesal, sedih dan bahagia yang dirinya rasakan sekarang.
Alvin
memeluk Sivia dari belakang. menumpukan dagunya di atas bahu Sivia.
“Happy anniversary sayang. Aku harap kamu selalu ada disamping aku dalam
kondisi apapun.” Bisik Alvin.
Sivia menangis haru. “m-makasi
sayang. Aku harap kamu juga bakal selalu ada disamping aku dalam kondisi
apapun.” Sivia membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alvin yang lebih
tinggi darinya. Menyalurkan semua perasaan yang ia rasakan sekarang.
“i love you, i love you more than you know.” Bisik Alvin lagi sambil mengecup puncak kepala Sivia.
Alvin melepaskan pelukan mereka. Laki – laki itu merogoh saku jaket yang ia gunakan. “ada apa, Vin?” tanya Sivia bingung.
“coba
kamu balik badan terus tutup mata kamu.” Suruh Alvin –masih merogoh
saku jaketnya- mencari sesuatu yang sudah ia siapkan 3 hari yang lalu.
Sivia
menurut kemudian membalikkan badannya membelakangi Alvin lalu menutup
matanya. Dalam hati dirinya sudah penasaran dengan kelakuan Alvin
sekarang ini. walaupun Alvin sudah sering memberi kejutan untuknya.
Sivia merasa dingin menyapa lehernya. Gadis itu membuka matanya. Mendapati sebuah kalung permata di lehernya. ‘Alvin romantis banget’ batin Sivia yang tidak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
“kamu bikin aku kaya cewek terbahagia di dunia ini, Vin” celetuk Sivia.
“dan aku bakal selalu bikin kamu bahagia tiap harinya, Vi”
-
-
Setelah
acara kejutan tadi, Alvin mengajak Sivia ke sebuah caffe yang tidak
terlalu jauh dari taman itu. Mereka memilih duduk di sudut caffe
tersebut yang dekat dengan jendela.
“mau pesan apa, sayang?”
“chocolate milkshake aja sayang, kamu apa?”
“chocolate milkshake sama cappucino coffe ya mbak.”
Alvin
memberi daftar menu tadi kepada pelayan yang melayani mereka. Keduanya
menatap keluar jendela yang nampak begitu ramai oleh lalu – lalang
kendaraan. Jakarta benar – benar padat, pikir mereka.
Mata Sivia
tidak sengaja menangkap seseorang yang berjalan kearah caffe ini, “itu
Shilla ‘kan?” ucap Sivia tanpa sadar. Dan benar saja, itu adalah Shilla
–sahabatnya-.
TRIINNG!!
Bel berbunyi, pertanda seorang
pelanggan baru datang. Sivia segera bangkit dan menghampiri pelanggan
itu. “ke caffe kok nggak bilang – bilang.” Sindir Sivia.
Shilla yang masih fokus dengan gadget miliknya mengangkat kepalanya. Mendapati sahabatnya yang manyun dan menatapnya kesal.
“eh, Sivia? Sama siapa kesini? Hehe, gue fikir jam segini lo belum bangun, Vi.” Tawa Shilla.
“lo
fikir gue kebo apa! Yaudah yuk nimbrung aja sama gue dan Alvin. Biar
tambah rame.” Sivia menarik atau lebih tepatnya –menggeret- Shilla ke
tempatnya tadi.
Alvin yang masih bingung dengan tingkah pacarnya
tadi tak lama tersenyum melihat Sivia bersama Shilla, “hoy Shil, lama
nggak ketemu.” Alvin mengajak Shilla ‘high-five’.
“alah, bilang aja lo kangen sama gue, Vin. Ngomong – ngomong kalian habis darimana?”
“tempat romantis, Shil.” Ucap Sivia. Pipinya tiba – tiba memerah lagi. sementara Alvin mencubit pipi pacarnya itu gemas.
“oh
iya, kalian anniv ya sekarang? Ya ampun! Selamat ya!” seru Shilla.
Sivia dan Alvin tersenyum kemudian mengucapkan ‘terima-kasih’ bersamaan.
“lo mau pesan apa, Shil? Biar gue yang traktir” tanya Alvin.
“gue cappucino coffe aja.” Jawab Shilla seadanya. Alvin memanggil seorang pelayan dan memesan kembali pesanan yang Shilla minta.
Shilla
masih fokus dengan handphonenya. Sedangkan Alvin masih asyik menatap
keluar jendela. Lalu Sivia? Gadis itu hanya mencoba untuk tenang
sekarang karna sedari tadi gadis itu terus memikirkan pesanan
Alvin-Shilla yang sama.
-
“Shil, gimana kuis lo kemaren? Lancar, ‘kan?” tanya Sivia sambil menyeruput chocolate milkshake yang ia pesan.
“yah...
lo tau sendiri gimana guru yang satu itu kalau ngajar. Demi apapun gue
rasanya pengen pindah dari sekolah itu.” Shilla memanyunkan bibirnya
kesal.
“kalau lo sampe pindah sekolah, jangan harap gue mau
ngomong sama lo lagi, Shil.” Ujar Sivia. Hanya bercanda sebenarnya. Tapi
itu cukup membuat Shilla tersedak karna kopi-nya.
“yaelah, lo
gitu aja langsung ngambek. Lo kira gue anak presiden yang bisa pindah ke
sekolah mana aja gue mau? Bisa – bisa gue di sekap dalem kamar sama
bokap – nyokap gue.”
“yaelah lo gue ngomong gitu aja langsung
keselek kopi.” Celetuk Sivia mengikuti gaya bicara Shilla sebelumnya.
Shilla hanya tersenyum kecil melihatnya.
Alvin yang hanya diam
sedari tadi akhirnya ikut nimbrung dengan kedua gadis cantik itu. Alvin
mengeluarkan beberapa candaannya yang cukup membuat suasana seru
diantara ketiganya.
“Shil, kapan lo bakal nyusul kita buat pacaran?” tanya Alvin.
Shilla menatap kesal kearah Alvin, “santai aja kali. Yang pacaran juga gue, kenapa jadi lo yang ngebet?”
Alvin
tertawa puas menggoda Shilla yang memasang wajah cemberut andalannya.
Selalu begitu, pikir Sivia. Jika Alvin dan Shilla bertemu tidak ada
habisnya mereka akan bertengkar. Biasanya Alvin akan menggoda Shilla
seperti tadi menyebabkan gadis cantik itu akan marah padanya.
“jodohin sama Chakka aja, Vin.” Timpal Sivia.
“tanpa
lo jodohin, gue juga lagi deket sama dia, Vi.” Shilla masih memasang
wajah kesalnya. Sementara Alvin dan Sivia memasang wajah ‘bodoh’ mereka.
Ckck, pasangan yang serasi, pikir Shilla.
Tanpa mereka sadari bahwa salah satu dari mereka tertawa miris dalam hati.
-
-
-
Sivia
dan Alvin saling bergandeng-tangan. Keduanya memasuki wilayah koridor
sekolah dan berjalan beriringan. Keduanya mendapat kelas yang berbeda.
Alvin yang berada satu tingkat di bawah Sivia. Tapi untungnya mereka
mengambil jurusan yang sama. Jadi mereka tidak perlu susah – susah untuk
bertemu karna ruangan mereka yang bisa dibilang cukup dekat itu.
Kedua
orang menyapa mereka sambil tersenyum hangat, “berdua aja, ikut
nimbrung dong.” Shilla menggandeng tangan laki – laki yang ada
disebelahnya.
“ekhem, yang baru jadian ya. Traktiran boleh kali.” Goda Sivia.
“selamat
ya Chakka, Shilla. Langgeng selalu bro.” Timpal Alvin. Shilla dan
Chakka saling berpandangan kemudian mengucapkan terima kasih.
“lo berdua serasi.” Kata Alvin merangkul bahu Sivia.
“ah lo, muji pas lagi ada maunya. Tenang aja, ntar gue traktir.” Chakka memukul bahu Alvin setelah itu tertawa ringan.
Chakka
adalah sahabat kecil Alvin. Mereka sering menghabiskan waktu bersama
jika Alvin tidak sedang ada kencan dengan Sivia. Tapi, tidak jarang juga
Alvin mengajak Chakka untuk ikut bersamanya dan Sivia.
Keempat remaja itu berjalan kekelas mereka masing – masing. Shilla dengan Sivia sementara Chakka dengan Alvin.
“kapan lo di tembak, Shil?”
“pulang
dari caffe dia langsung ngajak gue ketemuan, eh nggak taunya dia nembak
gue.” Shilla mengingat kejadian 2 hari yang lalu dimana Chakka menembak
dia di taman kecil dekat caffe itu.
Sivia tersenyum, “semoga lo langgeng ya.”
-
‘Lo cinta sama dia?’
‘kalau gue nggak cinta, terus untuk apa gue jadiin dia pacar gue?’
‘tapi... tapi apa masih ada gue dihati lo?’
‘itu masa lalu. Lo udah lihat sendiri, ‘kan? Gue bahagia sama dia. Dan gue nggak bakal lepasin dia’
‘tapi lo sama dia kan–‘
‘gue harap lo ngerti.’
‘tapi gue suka sama lo! Dan gue mau kita kaya dulu lagi.’
‘lo
nggak salah? Gue udah bilang, ‘kan. Gue cinta sama dia dan gue nggak
bakal lepasin dia! Lagian lo udah sama yang lain, ‘kan?’
-
-
-
Sivia
merebahkan tubuhnya dikasur. Raut wajah sedih, kecewa dan kesal
tercetak di wajah cantiknya. Alvin dengan seenak jidatnya membatalkan
acara kencan mereka. Padahal sudah semalaman penuh Sivia mempersiapkan
pakaian untuk kencan mereka.
Gadis itu meraih ponsel yang di letakkannya di meja nakas,
From: My Boo
Sayang,
aku minta maaf banget ya. Aku janji deh besok kita habisin waktu berdua
seharian. Sekarang aku lagi sibuk ngurusin tugas sekolah aku.
Sivia
melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Tidak ada niat sama sekali
untuk membalas sms pacarnya itu. Dan wajahnya kembali kesal karna
ponselnya bergetar lagi. pasti Alvin, pikirnya.
From: My Boo
Aku udah nyuruh Chakka kerumah kamu. Kamu jalan – jalan sama dia dulu aja, nggak apa – apa, ‘kan sayang? I’m really sorry L
What
the... pergi dengan Chakka? Hey! Dirinya tidak mau mencari resiko
dibilang ‘perusak hubungan orang’ apalagi Chakka pacar Shilla,
sahabatnya.
“dia gila atau gimana sih?” kesal Sivia.
Dan
benar saja, Chakka mengirim sms ke Sivia. Menyuruh gadis itu untuk siap –
siap karna ia dalam perjalanan kerumah Sivia. Damn! Sivia semakin kesal
sekarang.
Dengan malas Sivia melangkah ke kamar mandi.
membersihkan dirinya setelah itu berdandan seadanya. Mau cantik atau
tidak toh tidak penting baginya sekarang.
From: Chakka
Gue depan rumah lo, cepet gih keluar
“bilang permisi atau assalamu’alaikum bisa kali.” Decih Sivia.
-
Sivia
menyambut Chakka dengan wajah masamnya. Laki – laki itu menggunakan
jaket denim biru tua dengan celana jins berwarna senada. Sok kece, pikir
Sivia.
Vi, anak orang emang kece kali!
Sementara Sivia mengenakan kaos merah dengan celana jins berwarna sama seperti Chakka.
“manyun
mulu, senyum biar cantik.” Tanpa ba-bi-bu Chakka menarik Sivia keluar
rumah. Laki – laki itu mengenakan helm putih di kepala Sivia.
“naik!” suruh Chakka.
“biasa aja kali ngomongnya kan bisa.”
Sivia naik ke atas motor hitam milik Chakka. Setelahnya mereka melesat entah kemana, keduanya juga tidak tahu
-
“hahahaa!!”
gelak tawa Sivia semakin keras mendengar lelucon yang dilontarkan
Chakka tanpa henti. Keduanya sama – sama tertawa. Tidak peduli dengan
tatapan orang – orang yang aneh pada mereka.
Saat ini keduanya
duduk sambil memegang es krim di sebuah taman bermain. Entah karna sudah
tidak ada tempat atau bagaimana, akhirnya mereka memutuskan untuk
kesini.
“aduh Ka! Udah udah udah, lo bikin gue sakit perut
jadinya.” Sivia memegang perutnya yang sedikit perih karna terlalu lama
tertawa.
“muka lo manis kalau ketawa, Vi.”
DEG!
Sivia terdiam. Gadis itu bahkan tidak berani menatap kearah Chakka. Buru – buru di tepis fikiran aneh yang menghampiri otaknya. ‘inget Vi, dia pacar sahabat lo. Jangan terlalu ge-er. Mungkin itu pujian biasa.’
“lo di puji bukannya bilang makasi atau muji gue balik gitu.” Chakka menyentil jidat Sivia membuat sang empunya meringis.
“sialan
lo! Sakit tau! Pengen banget di puji balik? Ntar yang ada Alvin marah
sama gue.” Ujar Sivia. Di sendokkan es krim coklat itu kedalam mulutnya.
Suasana
hening. Mereka diam dengan fikiran mereka masing masing. Sivia menatap
Chakka lama. Ada satu hal yang mengganjal di fikirannya. “lo nggak
sibuk, Ka?” tanya Sivia.
“kalau gue sibuk, terus ngapain gue nemenin lo?” jawab Chakka. Sivia menautkan kedua alisnya.
“bukannya lo ada tugas? Alvin aja nggak bisa nemenin gue kencan karna kerjain tugas bu Clara lo tau sendiri kan sama guru itu.”
Chakka menautkan kedua alisnya.
“kelas
gue free kok. Lagian tumben banget Alvin mau ngerjain tugas kampusnya.
Lo tau sendiri, ‘kan? Pacar lo paling males namanya ngerjain tugas
kampus.” Jelas Chakka.
Fikiran aneh mulai berkecamuk di fikiran
Sivia. Jadi, kalau tidak mengerjakan tugas kampus, terus apa? Kalau
sakit, pasti Alvin akan memberitahunya. “gue jadi curiga.”
“hah?”
-
JDAR!
"Apaan
tuh?" Tanya Cakka mendengar suara keras yang berasal dari halaman
rumah Sivia. Cakka langsung berlari mencari asal suara tersebut, di
ikuti Sivia di belakangnya.
Cakka mengedarkan pandangannya ke
segala arah di halaman rumah Sivia, berusaha mencari asal suara
tersebut. Namun hasilnya nihil. Cakka melirik ke arah Sivia yang
menggigit ujung bibir bawahnya penuh ketakutan. Mata Sivia pun sudah
berkaca-kaca membuat Cakka menyeritkan dahinya heran. Apakah Sivia
terluka?
"Via awasss" Teriak Cakka menarik Sivia kala melihat
sebuah batu besar yang ingin menghantam kepala gadis itu. Sivia menunduk
takut, lalu menatap Cakka yang sedang berlari kecil ke arah batu yang
hampir mengenai Sivia tadi. Selalu seperti ini batin Sivia.
-
Yaa,
Sebenarnya kejadian ini sudah tidak asing lagi bagi Sivia. Bagaimana
tidak? Jika setiap hari dia selalu saja menerima hal-hal aneh.
Seperti
mendapatkan tikus mati yang di bungkus di depan jendela kamarnya. Di
takuti dengan suara-suara bising horor yang selalu mengusik tidurnya Dan
masih banyak hal aneh lainnya yang di terima Sivia. tak jarang juga itu
menyakiti dirinya sendiri.
Cakka terkejut bukan main saat melihat
batu penuh bercak darah yang tadi hampir saja mengenai kepala Sivia.
Bagaimana jika batu itu benar-benar akan mengenai Sivia? Hiih
membayangkannya saja Cakka sudah merinding. Di alihkannya tatapannya ke
arah gadis itu, wajahnya pucat pasi dan Oh yaampun ini pertama kalinya
Cakka melihat penampilan Sivia yang acak-acakkan.
Siapa yang
melakukan ini? Apakah ini sudah sering di alami Sivia? Itulah
pertanyaan-pertannyan aneh yang berkecamuk di otak Cakka.
Cakka berlari kecil menghampiri Sivia, memegang pundak gadis itu yang bergetar.
"Vi, lo kenapa?" Tanya Cakka. Tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan gadis cantik ini.
Sivia
menggelengkan kepalanya, tiba-tiba bibir nya sulit mengeluarkan
kata-kata dan tubuhnya bergetar hebat membuat Cakka semakin khawatir.
"Via
lo kenapa?" Tanya Cakka ---lagi. Dan lagi hanya gelengan dari kepala
Sivia yang di dapatkannya. Cakka yang memahami mungkin Sivia tidak ingin
berbicara kemudian membawa gadis ini ke dalam rumahnya, dan membatalkan
acaranya mengajak Sivia pergi.
-
Sudah 3 hari ini Sivia
terbaring lemah tak berdaya di balik selimutnya. Sejak peristiwa 'batu
bercak merah' itu Sivia didera depresi. Terang saja, ia sudah cukup
sakit hati dan tidak tahan lagi mendapatkan hal-hal yang jauh dari
pikirannya.
Sivia sudah berusaha mencari tau siapa di balik semua ini namun hasilnya tetap nihil.
Memikirkan
itu membuat kepala Sivia tiba-tiba terasa seperti ditindih beton.
Matanya sesekali terpejam. Dan yang Sivia rasakan dunia berjungkir balik
tak karuan seperti bermain sirkus menertawakan sakitnya. Darahnya
seperti terpusat pada kepala. Sakit bukan main dan perutnya sudah di
obok-obok. Mual tak karuan. Yaampun ada apa dengannya??
"Via kamu
ga apapakan?" Alvin berteriak, berusaha keras agar gadisnya yang sedang
terbaring lemah tak berdaya bisa mendengar suaranya. Sivia tersenyum,
dalam keadaan sakitpun dia sangat gembira karna mendapatkan perhatian
'khusus' dari Alvin.
Bisa tidak untuk saat ini Sivia lebih memilih
sakit dari pada sehat? Alasannya simple, karna ia senang jika Alvin
sudah perhatian seperti ini. Memang sedikit Norak. Tapi...
"Nggapapa Vin, tenang aja"
Alvin
menempelkan tangannya di dahi Sivia "Kamu panas banget" Serunya cemas.
Sivia melihat semuanya begitu putih. Putih tanpa rasa. Tanpa dimensi.
"Kamu ga masuk Vin?" Tanya Sivia pelan. Alvin menggelengkan kepalanya dan mengelus puncak kepala Sivia.
"Bisa
gitu aku sekolah sementara kamu kaya orang sekarat gini?" Tanya Alvin
lembut, dan itu semakin membuat poin Sivia untuk selalu ingin sakit
bertambah.
Sivia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, ditambah lagi seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dirinya.
Tapi
bagaimanapun itu dia tidak boleh egois. Dia tidak boleh membuat Alvin
sangat mengkhawatirkan dirinya sampai tidak mengikuti pelajaran seperti
biasanya.
"Makasih yaa" Ucap Sivia tersenyum pada Alvin.
Alvin membalasnya. Ada getar hati yang membuat jalinan mereka semakin
dekat, semakin aneh dan semakin susah di diskripsikan.
"Masih
sakit? Sekarang kamu minum obatnya aja dulu. Abis itu istirahat. Biar
cepet sembuh" Khotbah Alvin seperti ibu-ibu. Sivia mengerucutkan
bibirnya kesal.
"Istirahat mulu. Capek tau" Ketusnya membuat Alvin
terkekeh geli. Alvin menarik hidung Sivia gemas membuatnya mau tidak
mau mendapatkan pelototan dari sang gadis.
"Udah sih sipit mah sipit aja" Ledek Alvin
"Dih
berasa belo gtu?" Ucap Sivia menantang. Pasalnya Alvin tidak tahu diri
banget. Dia juga sipit tapi ngatain orang sipit. Dasar!
"Biarin.
Aku sipit tapi tajam. Ga kaya kamu sipit tapi buta" Ledeknya lagi. Sivia
menyeritkan dahinya, heran dan sama sekali tidak mengerti dengan apa
yang diucapkan Alvin barusan.
"Maksudnya Vin?" Tanya Sivia. Alvin menggeleng cepat.
-
3
hari berlalu kini keadaan Sivia makin membaik ditambah lagi
penyemangatnya sang pujaan hati Alvin. Namun akhir-akhir ini Alvin
sangat sulit untuk dihubungi Sivia mencoba mengerti mungkin Alvin sedang
sibuk. Terroran yang sering menimpa Sivia akhir – akhir ini sudah
jarang sekali. Syukurlah Sivia dapat bernafas lega
Tiin-
Suara klakson dari luar rumah Sivia.
Segera
Sivia beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu. Dari
balik pintu terlihat laki-laki tampan berpostur tinggi tersenyum manis
kearahnya Sivia membalasnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah
ayunya
Dia Cakka sahabat Alvin sekaligus orang yang suka menemani
Sivia jika Alvin sedang tidak dapat diganggu. Cakka hadir karena suruhan
Alvin untuk menemaninya.
“Sore Vi” Sapa Cakka. Cakka terlihat tampan dengan jaket merah dan celana panjang yang membalut tubuhnya.
“Sore Cak. Tunggu sebentar ya gue mau ngambil tas dulu”balas Sivia. Cakka hanya mengacungkan jempol
“Vi kalau naek motor ga papa kan. Soalnya gue lagi males pake mobil”Tanya cakka.
“ya
gapapa kali. Lo piker gue cewek apa pake motor aja ga mau”balas sivia
dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir manisnya. Cakka tertawa
sambil mengacak rambut Sivia gemas
Sivia yang mendapat perlakuan
seperti itu hanya memanyunkan bibirnya tapi lama kelamaan Sivia menunduk
dia teringat dengan Alvin sang kekasih yang selalu memperlakukannya
seperti itu namun mengingat kesibukan Alvin. Huh… segera saja Sivia
mencegah pikiran negative yang memasuki pikirannya. Dia harus berpikiran
positif
Melihat itu Cakka menjadi heran. Cakka melambaikan tanggannya di depan muka Sivia.
“Vi lo kenapa?” Tanya Cakka
“hah.. enggak yaudah yuk kita jalan ntar keburu sore”Ucap Sivia sambil menaiki motor Cakka
“yaudah sok atuh neng. Makan dulu aja yuk laper nih gue belum sempet makan siang hehe”Cengir Cakka mengusap perutnya.
Sivia
terkekeh geli melihatnya. “dasar lo ntar kalo lo gak makan kan sakit
kasian tau Shillanya” Balas Sivia. Mengingat Shilla, Sivia berpikiran
sesuatu
“Eh Cak emang Shilla gak marah lo jalan sama gue
gini?”Tanya Sivia. Cakka melihat Sivia melalui kaca spion. “ya gak lah
vi dia mah ngerti gue kok” Balas Cakka
-
-
“Vin, aku masih sayang sama kamu”tangis seseorang.
“Tapi
shil aku harus gimana? Aku gak mungkin ninggalin Sivia gitu aja”Balas
Alvin. Shilla yang tertunduk tadi langsung menatap Alvin dengan tatapan
sendu. Alvin memegang tangan Shilla lembut
“Shilla. Sebenernya aku
juga masih sayang sama kamu. Tapi gimana? Aku gak mungkin nentang mama
shil”Ucap Alvin lembut. Shilla hanya menangis dan tak mampu memendung
air mata yang sejak tadi bersarang dimatanya
“Kamu tau aku udah
ngejalanin berbagai cara biar aku bisa sama kamu lagi vin. Aku nerror
Sivia biar dia mau ngejauhin kamu. Aku gak bisa lepas dari kamu vin”
Ucap Shilla. Mendengar itu Alvin jelas sangat kaget dan syok sama apa
yang udah dilakukan Shilla terhadap Sivia.
Tangan Alvin terulur
dan segera memeluk Shilla. Mereka berdua ditonton banyak orang dengan
apa yang mereka lakukan. Jelas mereka heran karena mereka berpelukan dan
ceweknya menangis disebuah café mungkin mereka berpikir mereka sedang
dilanda masalah. Jelas masalah besar
“Maafin aku shill.oke detik
ini aku bakal selalu ada buat kamu dan aku akan berjuang mertahanin kamu
dan kita minta restu dari mama aku”Ucap Alvin. Mendengar itu Shilla
menangis bahagia karena perjuangannya tidak sia-sia. Kita lihat saja
nanti
-
-
Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung
ganas menggigit kulit Sivia. Berkali-kali ia membasuh keringat yang
berada di keningnya lalu menuruni pipinya, hari itu begitu panas, hanya
sesekali angin mendesah perlahan. Sesekali di teguknya air mineral yang
sejak tadi ia genggam. Perasaannya tidak enak, ada firasat buruk yang
merasuk masuk di dadanya.
Sivia menghela napas sebentar untuk
menetralisikan otaknya yang entah memusingkan apa. Ia berjalan santai
memasuki cafe yang biasa ia kunjungi.
Tiga sentuhan kecil yang berarti besar. Sandaran bahu yang romantis, pelukan yang manis, dan kecupan yang penuh magis.
Sivia
ternganga melihat itu semua. Ada rasa sakit yang pelan-pelan tergores
di dadanya. Semakin dalam, semakin panjang, semakin perih. Tak mampu
untuk di jelaskan, kecemasan yang sama dan selalu berulang. Berkali-kali
Sivia menatap dua orang yang ada di depannya. Saling menggenggam
tangan,menatap, berpelukan.
Ia menatap 2 orang itu lagi. Berharap
menemukan jawaban dari hatinya yang mulai membuncah dan menggema dengan
liarnya. Dan sampai menit demi menit berlalu pun, jawaban masih belum ia
dapatkan. Ia hanya mampu menerka-nerka.
Dan dalam terkaannya. Shilla menyukai Alvin. Kekasihnya sekaligus cinta pertamanya.
sejahat itukah Shilla?
Siapa yang harus disalahkan?
Sivia
tidak sedang berhalusinasi. Mungkin dia memang suka berhalusinasi, tapi
tidak pernah sama sekali ia menghalusinasikan keadaan ini. Sivia
terisak oleh banyak pertanyaan yang tak terjawab. Wajah Shilla dan Alvin
bergantian bergulat dalam otaknya juga hatinya. Lelah. Banyak teka-teki
yang rasa-rasanya sulit untuk dipecahkan. Sivia merasa terbodohi.
Melihat peristiwa ini, Sivia menciut, mematung, membisu. Tubuhnya
seperti mengecil. Ia seperti berhenti bernapas untuk beberapa detik. Tak
percaya pada peristiwa yang benar-benar menyayat hati ini. Inilah
jawaban atas kecemasannya, kebingungannya, segalanya.
Maka dengan
tubuh yang bergetar ia keluar dari tempat yang mungkin akan menjadi
tempat terkutuk di hidupnya. Pergi dengan kepingan hati yang telah
hancur karna 2 orang yang berarti dihidupnya.
“Loh Vi lo kok
masih disini kan udah gue suruh masuk tadi”Heran Cakka. Memang tadi
Cakka menyuruh Sivia untuk duluan masuk ke Café karna dirinya sedang
memarkirkan motornya.
Yang ditanya malah lari dengan air mata yang
membanjiri pipinya. Cakka yang kaget karna Sivia berlari begitu saja
karna penasaran Cakka masuk ke Café dan melihat apa yang dilihat Sivia
. “astaga vin lo masih aja ngarep sama dia jelas-jelas disini ada wanita yang udah setia sama lo”pikir Cakka
Sivia
berjalan menulusuri trotoar dia menangis histeris. Dia menjambak
rambutnya sendiri dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
-
-
Besoknya
Sivia berangkat sekolah menggunakan mobilnya yang biasanya ia dijemput
Alvin. Tapi kali ini dia menolaknya. Sivia masih sakit dengan apa yang
dilihatnya kemarin matanya sembab itu menandakan bahwa dia menangis
semalaman. Tadi malam pun Sivia tidak dapat menutup matanya. Namun
syukur ada Cakka yang bersedia mendengar curhatan dan menghiburnya
meskipun melalui telepon.
Sivia berpikir bahwa Cakka pasti
merasakan hal yang sama dengannya. Pagi ini Sivia ingin mendapatkan
kejelasan dari apa yang dilihatnya kemarin.
Terlihat diujung
koridor terlihat wanita cantik berjalan menghampiri Sivia. Dia shilla
entah Shilla masih dianggap sahabat atau tidak oleh Sivia.
“Hai Vi. Lo kenapa mata lo kenapa sembab gitu” Tanya Shilla sambil memegang pipi Sivia.
Sivia
menatap benci Shilla terang saja langsung ditepisnya tangan Shilla yang
berada dipipinya. Shilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatap
aneh Sivia. “Loh Vi, lo kenapa sih?”Tanya Shilla
“LO GAK USAH SOK MUNA”tunjuk Sivia tepat di depan wajah Shilla. Shilla kaget ditepisnya halus tangan sivia.
“Lo mau ngerebut Alvin dari gue? HAH?”marah Sivia
“ma.. maksud lo apa? Gue gak ngerti deh”Balas Shilla.
“Alah
gak usah sok suci lo. Lo kemaren ngapain berdua sama Alvin di Café
hah?”Tanya Sivia. Dia menatap Shilla penuh kebencian ditambah dengan
sakit yang bersarang di dadanya. Shilla mulai mengerti dengan apa yang
dibicarakan Sivia. Ternyata kemarin Sivia melihat itu semua. Shilla
mengeluarkan senyum evilnya
“Oh jadi lo liat semuanya? Yang
harusnya jadi perebut itu lo”tunjuk balik Shilla. Syukur saat mereka
berantem ini keadaan koridor sekolah sedang sepi karna memang tempat ini
sangat jarang dilalui oleh siswa/siswi tempat inilah yang selalu
dikunjungi dua sahabatnya ini karena tempat ini langsung menghadap taman
yang membuat Suasana sejuk. Ralat mungkin sekarang panas karna dua
mantan sahabat ini maybe.
”Ke.. kenapa gue?”Balas Sivia.
“Iya
elo. Sebelum Alvin sama lo dia pernah punya hubungan sama gue tapi
karna mama lo minta ke mamanya Alvin buat jodohin lo sama Alvin.
Hubungan kita jadi selesai”Balas Shilla getir.
“Tapi kan gue gak
tau apa-apa. Kenapa kalian ngelibatin gue hah?”Balas Sivia ikut
bergetar. Terlihat dari dua orang wanita ini sama-sama memiliki luka
yang tergores.
“Ohya. Jangan lo pikir gue sahabatan sama lo karna
gue mau. Ya emang awalnya gue mau lupain dendam gue ini dan mulai suka
sama Cakka. Tapi apa?Cakka sukanya sama lo vi,kenapa sih semua orang
selalu berpihak sama lo hah?gue sakit”Ucap Shilla keras. Sivia menutup
telinganya kencang sambil menangis histeris dia tidak menyangka dengan
apa yang terjadi kepada dirinya.
“Kalo lo gak percaya lo bisa
Tanya sama Alvin. Kalo sekarang kita sama-sama mencintai yaudah lo say
good bye aja sama hubungan basi lo itu”Ucap Shilla berlalu pergi
meninggalkan Sivia yang menangis terjatuh di lantai.
-
-
Siang ini Sivia menyuruh Alvin untuk datang kerumahnya Sivia juga perlu penjelasan dari Alvin.
“Jadi
kamu udah denger semua dari Shilla? Iya emang aku dan dia saling
mencintai. Soal hubungan kita dan semua rasa sayang aku ke kamu itu Cuma
pengen ngebahagiain mama aku aja”
Kata-kata itu terus tergiang
dalam pikiran Sivia dia tidak menyangka dengan apa yang ia alami
ternyata kata-kata manis dan kejutan kecil untuknya itu hanya palsu
pemberian Alvin.
ARRGH!
Sivia melempar semua barang yang ada
didepannya. Sudah seminggu sejak kejadian itu Sivia tidak pernah masuk
sekolah. Tentang Cakka dan Shilla ternyata itu hanya bagian rencana
Shilla untuk membuat Alvin cemburu. Sivia marah tentang pengakuan Cakka
untuknya tentang hal itu. Namun berangsur-angsur ia mulai memaafkannya
Untuk
Shilla dan Alvin Sivia belum berpikir untuk memaafkan mereka meski
mereka belum meminta maaf. Hari-hari Sivia mulai diisi oleh Cakka namun
hal itu tidak menghapus tentang Alvin dalam benak dan pikirannya.
-
-
“Sayang aa dong”Ucap Shilla. Saat ini Shilla dan Alvin sedang berada di sebuah Café untuk makan siang.
“Udah
Sivia sayang aku kenyang”Ucap Alvin yang sedang memainkan handphonenya.
Shilla kaget ia menggigit bibir bawahnya apa ia tidak salah dengar
Alvin menyebut nama SIVIA bukan namanya. Shilla takut kalau rasa cinta
Alvin sudah berubah bukan lagi untuknya.
“apa vin Sivia?”Tanya
Shilla lirih. Alvin menoleh kearah Shilla. “Hah? Maksud aku Shilla
sayang”Balas Alvin ia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia
ucapkan.
“Sayang aku mau ke seberang jalan dulu ya. Aku mau beliin
sesuatu buat kamu”Ucap Alvin. Shilla hanya tersenyum tipis lalu
mengangguki ucapan Alvin
BRAKS!
“Alviiinn…”
-
-
Dua
orang itu Cakka dan Sivia berlari kearah ruang rawat seseorang. Sivia
mendengus kesal disaat seperti ini dia harus menggunakan sepatu berhak
pendek tapi sama saja menyulitkannya berjalan sampai akhirnya mereka
sampai di depan ruang rawat.
“gimana keadaan Alvin shil?”Sivia.
Shilla menangis dan segera memeluk Sivia. Sivia kaget jujur saja dia
masih belum memaafkan Shilla dengan apa yang ia lakukan padanya. Namun
dalam keadaan begini ia mencoba melupakannya.
Shilla menyuruh
Sivia untuk masuk kedalam melihat keadaan Alvin. Awalnya Sivia ragu
namun Sivia mulai mebuka knop pintu dan menutupnya kembali. Di dalam
Sivia heran mengapa tidak ada seseorang pun disana. Sivia merasa kalau
dia sedang dibohongi
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di
perutnya. Ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sivia kenal
dengan wangi orang ini dan Sivia yakin sekali. Orang itu menyembunyikan
wajahnya di sela-sela rambut Sivia. Sivia mulai membalikan badannya
Ia
kaget dan sontak memeluk orang itu yang ternyata Alvin. Sivia menangis
sekaligus lega dengan keadaan Alvin namun ada perban kecil yang
menghiasi kepalanya.
“Aku seneng kamu ga papa. Kalau boleh aku
bakal menjadi orang yang egois. Aku bakalan merjuangin cinta aku sama
kamu meskipun aku harus dibilang orang jahat sekalipun”Sivia. Alvin
tersenyum mendengar kata-kata Sivia.Alvin melepas pelukannya dan menatap
Sivia.
“Kamu ga boleh jadi orang jahat karna kamu adalah
malaikatku. Aku milikmu dan kamu milikku”Sivia tersenyum tapi Sivia
masih tidak yakin. Alvin yang mengerti mulai menjelaskan
“Aku tau
pasti kamu mau nanya kenapa sama shilla kan?. Emang bener aku sama dia
pernah punya hubungan tapi mama aku nentang itu semua karna asal-usul
keluarga Shilla yang gak jelas. Kakaknya buroanan dan papanya gak tau
dimana. Orang tuanya bercerai”Jelas Alvin
Sivia tersentak kaget.
Apakah benar itu semua? Sivia merasa kasihan dengan apa yang terjadi
pada Shilla saat ini. “Tadi juga Shilla udah ditangkep sama polisi
ternyata dia juga terlibat kasus pembunuhan yang dilakukan kakaknya.
Sebenernya aku udah lama tau tapi bodohnya aku menutupinya”Lanjut Alvin.
“Apapun
yang terjadi sekarang kita jadiin pelajaran. Intinya aku gak mau
kehilangan kamu vin”Ucap Sivia memeluk Alvin. Diam-diam Alvin memasang
Kalung yang dia beli di leher manis Sivia. Sivia kaget sekaligus
tersenyum bahagia.
“Thanks Sob berkat lo gue tau pilihan gue yang
tepat. Lo emang sahabat terbaik gue”Alvin menepuk bahu Cakka. Cakka
menggangguk dan mengacungkan jempol memang Cakka dan Alvin sempat
bertemu dan Cakka memaksa Alvin untuk memilih dua diantara wanita yang
benar-benar dicintainya hingga Alvin menemukannya cintanya yang asli
“Pilih cinta sesuai kata hati lo bukan karna ego lo. Cari tau siapakah dia?”-Cakka
Happy Anniversary Alvia
[END]
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Mei 2014
Sabtu, 05 Oktober 2013
Kesedihan Yang Tak Berarti
Hari demi hari
seiring waktu ku melangkah lebih jauh dan menjadi seorang yang terbaik namun
dia sosok lelaki yang telah membangkitkan semangatku, dia adalah Alvin
jonathan. Sosok lelaki yang sangat misterius bahkan satu antera sekolah ini
cukup mengenal nama dan sahabat dekatnya Alyssa. Mungkin hanya orang tertentu
yang dapat mengenal mereka sosok 2 sahabat yang kini kemunculannya hanya dalam
bidang extra kulikuler. Selain itu mereka dikenal tidak perduli terhadap orang
disekelilingnya tapi apa itu berlaku untuk diriku.
Sivia, aku
adalah teman mereka semasa dulu namun kecelakaan itu yang membuat kami terpisah
jauh setelah aku dinyatakan tak dapat menggunakan kaki ku dengan sempurna
mereka menjauh entah kemana dan orang tuaku pun bersikeras akan membuktikan
bahwa anaknya masih seperti dulu dengan itu kami pindah kesalah satu negara
yaitu paris. 2 tahun aku disana segala pengobatan telah kulalui dan aku
berhasil terbebas dari penyakit ini kaki ku yang dulu hanya diam kini sudah
bisa berjalan seperti dulu dan selama ini uang ayahku habis karena mengobati
diriku hampir dari setengah gajinya perbulan dibayarkan untuk terapy kakiku dan
seperempatnya untuk biaya homeschoolingku. Jujur aku tak kuat jika harus
sekolah sama dengan manusia yang jelas jelas berbeda denganku selain itu restaurant
milik ibuku diparis telah mengalami kebangkrutan karena salah satu karyawannya
menipunya dan duit ibuku sudah cukup terkuras dengan Biaya sekolah kakak ku, Irva
yang mengambil sekolah di spore. Dia memang jarang pulang kerumah karena
mungkin dia benci melihat adiknya sendiri. Ya entah mengapa sejak kakiku jadi
begini Irva cuek denganku padahal dulu dia adalah salah satu orang terdekatku. Dan
ini hari pertamaku kembali ke Indonesia, aku dimasukan kesalah satu sekolah
yang ternama dan Irva dimasukan ke universitas ternama juga. Ayah dan ibu
memang adil, ya walaupun Irva tetap tak mau berbagi kamar sampai kakiku
benarbenar pulih tak seperti sekarang yang masih pincang .Tuhan semoga kau
segera melancarkan pengobatanku di Indonesia.
Dihari pertamaku,
kulihat disudut sekolah ada seorang siswi yang seperti menunggu seseorang dan
setelah kulihat lihat dia adalah Alyssa aku segera berlari menuju kearah siswi
itu namun ".................." jdar bagaikan disambar petir rasanya
diriku terjatuh dan kakiku seperti kaku apaini ah sudahlah tuhan tetapi Alyssa
aku berniat mengejarnya dan tuhan masih dipihakku dia mempertemukan diriku
dengam Alyssa namun,
"HoOk hok
hok.... Alyssa" panggilku.
"PERGI"
usirnya.
"tapi Al
aku ak.........."
"KAMU GADIS
YANG TEGA NINGGALIN SAHABATNYA ITUKAN! LICIK KAMU! KAKIMU KAKU TUH LAPOR MAMI
DULU SANA"
Perlahan butiran
butiran air menetes diwajahku.Bentakan Alyssa seperti seorang bayi yang baru
dilahirkan tanpa dosa. Tuhan jika kau dipihakku tolong maafkan diriku tuhan. Perlahan
kejadian itu berlalu dan waktu baru telah tiba kakiku yang sedari tadi tak bisa
digerakan dan pincang sekarang sudah cukup baikan justru Kini aku dapat
berjalan seperti dahulu. Kulangkahkan kakiku dan kucoba untuk berbicara didepan
kelas.
"permisi..."ucapku
Seisi kelas
sepertinya mengalihkan pandangannnya kepadaku kecuali sosok-sosok anak yang
sedari tadi sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Guru itu membuyarkan lamunanku.
"Hay, aku Zahra.
Kamu adiknya Irva ya ayo masuk" ucap guru tersebut.
Akupun menjawab
pertanyaan itu dengan cukup jelas
"em iya... i
am Sivia bu guru"
"hohho oke
you is smart child! oke every body please say hai to..em your name?"ucap
mrs.Zahra dan 2 anak yang sedari tadi cuek mulai bertingkah dengan muka
liciknya mereka berkata sambil melambaikan kedua tangannya
"HAY YOUR
NAME" dan beberapa murid tertawa namun mrs. Zahra segera melerai tawaan tersebut
dan aku mulai bersuara
"HALOOO MY
NAME IS SIVIA NOT YOUR NAME AND YOU KNOW I WANT SAY TO PEOPLE AT THE CLASS IS
IT YOU ARE LOL"ucapku.
Nampaknya banyak
murid terlena dengan kalimat itu dan turut bertepuk tangan "kelas yang
menarik" ucapku membatin. Lalu mrs. Zahra mempersilahkan diriku untuk
duduk.dan hari ini sekolah selesai kudapati kak Irva ada didepan sekolah dengan
mobilnya dan itu Alvin mungkin aku dapat akur dengan dia jika dia akur dengan
kakakku.
"helo, kak Irva
i am so happy for today i want to hug you" ucapku girang.
Tampaknya lelaki
itu menoleh dan seperti ingin memelukku lalu kucoba balas itu mendekat semakin
mendekat dan kini dekat lagi dan hup tangannya seperti menangkap sesuatu dan,
"NORAK LO
" lalu dia pergi.
Aku segera
berlari memasuki mobil Irva namun dengan sigap dia segera pergi sebelum kumasuk
kedalam mobil itu dan oh tuhan aku lupa membawa iphoneku bagaimana aku pulang
aku mencoba menunggu dihalte depan sekolah namun tak ada kendaraan yang
berhenti muncul. Niat iseng dihatiku sepertinya tadi Alvin belum pulang. Kakiku
bergegas kembali kesekolah ternyata Alvin baru keluar 14 menit yang lalu. Lalu kumendengar suara
tangisan kuberlari mencari dimana tangisan itu dan kudapati Alyssa dengan
rambutnya yang rontok, hidungnya yang mengeluarkan darah, dan matanya yang
membengkak kudekati dia namun sekejap mata Alyssa tertutup dan aku segera
memanggil satpam kami membawamya kerumah sakit lewat handphone satpam itu. Aku
menghubungi ayah ibuku. Kulihat mereka datang ibu memelukku dan ayah segera
mengurusi administrasi dan beberapa detik Alvin dan Irva datang. Irva duduk
diruang tunggu dan Alvin segera masuk keruang Alyssa diperiksa. Tak lama
kemudian Alvin keluar dengan wajah merahnya,
"LO APAIN ALYSSA.APA
SALAH DIA?" ucap Alvin dengan keras.
Kumencoba
menjelaskan dengan terbata bata karena sedari tadi aku terus menangis. Untuk
membuktikan hal itu ayahku dan kakakku kak Irva pergi kesekolah untuk mengambil
rekaman cctv dan saat menungggu cctv Alyssa sudah disiapkan untuk dimakamkan.
"nak Alvin,orang
tuanya Alyssa kemana to?" tanya ibuku.
"papa Alyssa
mati dipenjara, dan ibunya stres sehingga ditawat dispore dan 1 tahun lalu
ibunya meninggal dan bulan ini -Alyssa diputuskan oleh kekasihnya rio tante,
dan Alyssa terpukul karena anak tante yang norak ini pergi ninggalin kita"
ucap Alvin datar.
"oalah
terus kalian kenapa bisa benci sama Sivia?" tanya ibuku lagi sepertinya
dia ingin mengupas misteri ini.
"Saya
sendiri waktu dulu hanya maksud bercanda tante tapi gatau Alyssa malah tertekan.
Selama Sivia diparis saya homeschooling tante karena saya ga mampu untuk
sekolah tanpa mereka berdua dan selama itu saya tak pernah main dengan anakanak
lain bahkan liburan keluarpun saya hanya sekalisekali ikut" ucap Alvin.
"nak Alyssa?"
"Alyssa
sibuk sama mamanya tan dan dia divonis kanker lalu dia sempat hampir dijual
oleh pacarnya tante" ucap Alvin.
"oalah
gitu. Ayo baikan ama via kan masalahnya udah clear"
"GABISA ITU
GASEMUDAH PENDERITAAN SAYA DAN ALYSSA”
Ibuku diam
butiran itu kembali menghiasi wajahku dan tibatiba ayah dan Irva membawa rekaman
itu aku menunduk kupejamkan mataku. Terdengar suara mereka mengaduh gaduh dan
mataku kini terbuka kulihat disekelilingku ada Alvin yang terus menatapku, Irva
yang terus memegangi tanganku, dan ibu yang mengusut ngusut bahu Irva agar
menenangkannya, dan dimana ayah kulihat ayah mengurusi jenazah Alyssa. Kubuka
mulutku seolah ingin bicara tetapi
"Via..maafin
Irva Vi Irva dulu malu punya adek kayak Via yang gabisa jalan. Waktu Irva di Spore
Irva sengaja supaya temen Irva gatau sama kamu Vi. Dan waktu Irva disekolahmu Irva
sengaja kesana menemui Zahra dan dia cerita banyak tentangmu disekolah dan Alvin
-dia hanya menanyakan kabarmu hanya kabarmu Vi, maafin kakak ya Vi sekarang
kamu boleh sekamar sama kakak Vi" ucap nya dan menangis.
"Via
sayang..ibu tau apapun yang terjadi segala pengobatan apapun itu gak akan bikin
kaki kamu berfungsi dengan baik sayang.dan ini akhir semuanya Vi ibu bangga
punya anak kayak kamu" ucap ibu.
"Via aku Alvin,
Alvin yang dulu Vi maafin aku ya, maaf juga aku gajujur sama kamu. Aku cinta
kamu Vi" ucap Alvin dan mengecup dahiku sedari kejadian itu aku terlelap
lagi.
Sekarang aku tak
tau aku sedang tidur sementara atau selamanya dan tuhan berpihak kepadaku aku
sadar aku hidup dan ini hari penantianku dimana kami akan menguburkan jenazah Alyssa.
Alyssa tenang disana,dan hatikupun tenang mempunyai hidup yang lengkap.
Ketahuilah ..
Tuhan itu adil
Jika kebahagiaan
tak kunjung datang padamu
Cobalah ubah
hidupmu dan bersabar dengan itu kebahagiaan akan datang dengan kesedihan yang
tak ternilai dengan kebahagian yang jauh lebih berarti
Regards
: Indah Nursafa
Minggu, 07 Juli 2013
Love and Friends Only (Sekuel Berteman Saja)
Title : Love and Friends Only
Author : Tatang Heriana
Genre : Romance, Friendship
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
Twitter : @guetaher_
Bandung, Juli 2004.
Mentari tersenyum, sinar terangnya menenggelamkan garis oranye yang melintang di ufuk timur. Cerah. Langit biru belum setitik pun ternodai oleh gumpalan-gumpalan hitam yang entah dari mana rimbanya. Udara begitu sejuk. Mungkin memang belum terkontaminasi oleh asap kendaraan bermotor. Dan angin begitu lembut membelai kulit serta bunga-bunga yang baru bermekaran tersebut ikut bergoyang apik di tepian jalan. Belum lagi jalanan yang basah akibat guyuran hujan semalam juga memberikan sensasi tersendiri di pagi yang sangat indah ini.
Pukul 07.15 WIB. Seorang cewek remaja berseragam putih abu-abu begitu santai menikmati perjalanannya menuju sekolah di hari pertama ini. Wajahnya ceria. Sesekali ia bernyanyi pelan mengikuti alunan lagu yang didengarnya melalu earphone.
“Biarkan cinta hidup sekali ini saja…” lantunan suaranya yang indah menggema bersamaan dengan selesainya lagu tersebut. Cewek itu berhenti sejenak, tersenyum simpul, dan kembali melanjutkan langkahnya. Di sisi lain sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan yang lumayan一lebih terkesan cepat.
“Eh, woy!!! Biasa aja dong kalau naik motor!” genangan air hujan yang berkubang di pinggir jalan seketika mengenai rok si cewek saat motor tesebut dengan cepatnya melintas. Ia mencibir kesal.
“Jadi kotor kan rok gue? Pagi-pagi udah kena sial,” ia berjongkok berusaha membersihkan roknya.
“Eh, sori ya gue gak sengaja. Soalnya tadi gue buru-buru banget. Sori, ya?” ucap seseorang yang baru saja turun dari motor Ninja berwarna merah tua itu.
“Sori aja gak cukup, kali. Lihat nih rok gue kotor! Loe mau tanggung jawab?!” ketus si cewek.
“Bentar deh, gue kayak pernah lihat loe, ya? Loe Via, kan?” tebak si cowok setelah cukup lama meneliti wajah si cewek yang baru saja terkena percikan air olehnya. Cewek itu juga ikutan meneliti wajah si cowok, berusaha mengingat-ingat apakah ia juga kenal seperti si cowok mengenali dirinya.
“Alvin?! Astaga, loe tambah jangkung aja, Vin?”
“Loe ke mana aja, Vi? Gimana kabarnya?” tanya Alvin dengan mengulurkan tangannya.
Ya, mereka一Via dan Alvin. Teman SMP dulu yang sudah sangat lama tidak pernah jumpa setelah mereka lulus sekolah. Apalagi sebelumnya mereka tidak sama sekali saling kontak satu sama lain. Jadi tidak tau kabar dan di mana mereka melanjutkan sekolah saat ini. Sekarang, Via, menjadi siswi SMA Padma sekaligus menjabat sebagai ketua OSIS di sana. Sedangkan Alvin bersekolah di SMA Nusantara yang cukup dibilang jauh jaraknya antara kedua sekolah tesebut. Dan akhirnya mereka dipertemukan kembali di hari pertama di tahun ajaran yang baru.
“Oh, jadi selama ini loe sekolah di sini, Vi?” Alvin memberhentikan motornya tepat di depan gerbang sekolah Via. Via mengangguk.
“Iya, ini sekolah gue sekarang. Anyway, makasih ya udah mau kasih tebengan.”
“Gak masalah, anggap aja ini sebagai tanda minta maaf gue soal tadi.” ucap Alvin ramah. Via melihat roknya sekejap, lalu mengangkat bahunya pelan.
“Tidak terlalu kotor, kok. Oh iya, gue masuk duluan ya, Vin?” kata Via semangat.
“Via, tunggu!”
“Iya?”
“Nomor handphone loe?” pinta Alvin canggung. Mungkin Alvin merasa akan lebih mudah lagi berkomunikasi dengan Via melalu telepon ataupun sms.
“Hmm… catat, ya?” balas Via yang kemudian mengeja digit demi digit nomor handphonenya.
“Makasih ya, Vi!”
“Kembali kasih,”
“Gue berangkat, ya?” pamit Alvin.
“Iya, hati-hati di jalan, Vin!” Alvin menyalakan mesin motor dan mengacungkan jempol ke arah Via. Via tersenyum membalasnya.
***
“Hmm… Pris?” Via membuka suara di tengah-tengah kesibukannya menyantap siomay yang sejak dulu menjadi salah satu makanan favoritnya bersama Prissy一sahabat karibnya.
“Iya. Kenapa, Vi?” respon Prissy kemudian. Tangannya menyambar jus jeruk yang tak jauh dari piring siomaynya.
“Loe masih inget gak sama temen SMP kita yang namanya Alvin?” Prissy menerawang.
“Alvin? Hmm… bentar, gue inget-inget dulu.”
“Masa loe lupa sih, Pris?” timpal Via dan kembali menyantap siomay miliknya yang hampir habis.
“Oh iya, gue inget sekarang! Yang waktu itu pernah nembak loe, kan?” tebak Prissy menggoda. “Emangnya kenapa sama Alvin?”
“Nggak apa-apa, sih. Cuman gue tadi nebeng ke sekolah sama dia.” jelas Via datar. Prissy membulatkan mulutnya.
“Kok bisa, sih? Ketemu di mana?”
“Tadi pagi gue ketemu dia di jalan, itu juga gara-gara rok gue kecipratan air sama motornya dia.” jelas Via seraya mengambil selembar uang limapuluh ribu di sakunya. Ia membayar makanan yang ia santap bareng Prissy.
“Tambah cakep nggak tuh anak, Vi? Hayo, kasih tau dong!” paksa Prissy antusias. Via memutar bola matanya.
“Ayo, ah! Nanti gue ceritain di kelas aja.” balas Via setelah beberapa detik menerima uang kembalian.
“Ah, gak asyik loe, Vi!” timpal Prissy dengan mengejar Via yang sudah pergi duluan.
SMA Padma. Sebuah sekolah elite yang sekarang menjadi tempat Via dan Prissy serta teman-teman mereka lainnya mengemban pendidikan. Di mana dulu SMA Padma ini merupakan salah satu sekolah yang mereka berdua idam-idamkan jika lulus SMP nanti. Sama, selalu saja mereka memiliki selera yang sama. Bagaimana tidak, sejak Play Group sampai sekarang Via dan Prissy bersekolah di tempat yang sama. Bahkan ajaibnya, mereka selalu satu kelas. Apa gak bosan? Entahlah. Yang jelas mereka selalu kompak di manapun dan kapanpun mereka berada. Mereka juga saling menutupi kekurangan satu sama lain. Tidak pernah terlihat bermusuhan, dan kalaupun ada masalah pasti mereka akan bicara baik-baik.
Hari ini, di SMA Padma sedang mengadakan MOS untuk siswa-siswi kelas IX yang sudah lulus SMP. Suatu kegiatan pengenalan diri terhadap lingkungan sekolah yang baru itu merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan di berbagai sekolah di Indonesia. Bahkan banyak juga yang memanfaatkan MOS itu menjadi ajang pembalas dendaman para anggota OSIS untuk memperbudak anak asuhannya sebagaimana ia diperlakukan sama seperti yang dilakukan anggota OSIS sebelumnya. Parah memang. Tapi tidak dengan Via dkk. Selaku ketua dan panitia OSIS, Via dan Prissy cukup dibilang ramah sama semua siswa baru. Mereka berhasil menghilangkan anggapan semua anak bahwa anak OSIS bukanlah orang-orang yang supergalak dan ditakuti. Melainkan OSIS itu adalah teladan bagi semua siswa-siswi di sekolah. Selain itu, di hari pertama ini mereka memimpin MOS, mereka sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari mengenalkan berbagai sarana yang ada di SMA Padma, memperkenalkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, mengadakan permainan serta mengabulkan permintaan peserta MOS untuk tanda tangan dan sebagainya.
“Kak Via, maaf ganggu sebentar.” ucap salah satu peserta MOS saat Via baru saja keluar dari Aula.
“Iya, kenapa De?” Via tersenyum ramah.
“Kenalin Kak, aku Difa dari gugus A. Aku boleh minta tanda tangan nggak, Kak?” pintanya sangat sopan.
“Oh, boleh!” Via langsung mengambil bolpoin yang disuguhkan Difa. “Terus apalagi?” lanjutnya.
“Boleh minta foto?” Via mengernyitkan dahinya heran.
“Suruh siapa kamu bawa handphone? Peserta MOS kan dilarang bawa handphone!” tegas Via.
“Tapi kan ini bukan punya aku, Kak.” protes Difa santai.
“Terus punya siapa? Punya orang tua kamu? Tetep aja gak boleh bawa handphone ke sekolah!” tukasnya sangat tegas.
“Tapi beneran ini bukan punya aku, Kak. Handphone ini punya kakak yang di sana. Aku dihukum suruh minta foto Kakak.” jelas Difa seraya menunjuk salah seorang dari gerombolan anak OSIS yang sedang ketawa-ketiwi. Dasar Cakka! Masih sempet-sempetnya ngehukum anak buat minta foto! umpat Via sambil menggeleng.
“Difa, bilang sama kakak yang di sana ya, kalau di SMA Padma ini nggak ada yang namanya hukuman buat minta foto. Cepet, gih!” suruh Via sedikit berbisik.
“Tapi kalau nanti aku dihukum lagi gimana dong, Kak?” Difa merengut.
“Gak bakalan! Percaya deh sama Kakak. Kalaupun nanti kamu dihukum sama dia, Kak Via yang akan hukum dia, ngerti?”
“Janji, ya?” Difa mengacungkan kelingkingnya.
“Janji! Udah sana cepetan.”
“Baik, Kak! Makasih ya Kakak cantik.” ucap Difa menggoda. Via hanya menggeleng-geleng melihat tingkah anak yang satu itu.
***
Terik mentari kian menyengat. Menusuk hingga ke daging. Bumi benar-benar panas siang ini. Ditambah dengan pasifnya angin berhembus itu membuat Via malas pulang jalan kaki. Apalagi gak ada teman gitu, si Prissy kan sudah pulang duluan bareng pacarnya一Gabriel. Jadi terpaksa ia harus nunggu di Pos Satpam yang sudah menjadi tempat tongkrongannya untuk menghilangkan peluh.
“Enak ya yang ngadem di Pos Satpam,” sindir seseorang yang tiba-tiba muncul dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Loe belum pulang, Kka?” Cakka一teman sekelas Via sekaligus wakil ketua OSIS itu ikut duduk di samping Via.
“Minum?” tawarnya. Via memutar bola matanya.
“Gue nanya, bukan minta minum.” cibir Via jengkel.
“Jadi gak mau, nih? Ya udah,” Cakka memasukkan kembali botol minumnya ke dalam tas.
“Eh, elo gimana sih, Kka? Tadi nawarin, sekarang malah dimasukin.” Via langsung menyerobot minuman yang hendak Cakka masukkan ke dalam tas. Cakka mengernyit.
“Mau pulang bareng gue? Mumpung lagi baik, nih.” tawarnya lagi. Via masih sibuk meneguk minumnya.
“Ayo pulang, Kak!” ajak seorang cowok yang tubuhnya mungil tiba-tiba.
“Loe pulang naik taxi aja ya, Dif. Kakak mau ada perlu sama temen Kakak.” kata Cakka santai. Difa mendengus. Sedangkan Via hanya berheran ria dibuatnya. Ada hubungan apa mereka berdua? batinnya.
“Bentar, bentar! Kamu adiknya Cakka?” tanya Via antusias. Difa mengangguk manja.
“Emangnya kenapa, Kak?”
“Gak apa-apa kok, Dif. Eh, Cakka! Udah sana pulang, kasihan tuh adik loe. Gak usah repot-repot ngajak gue, deh.” suruh Via.
“Tapi beneran loe gak mau pulang bareng?”
“Udah sana!” Via mendorong tubuh Cakka perlahan. Cakka cuma bisa pasrah.
“Ya udah, gue pulang duluan ya, Vi?”
“Duluan ya Kak Via?”
“Iya, hati-hati!” balas Via dan kemudian kembali duduk di Pos Satpam. Kakinya masih enggan melangkah karena mentari masih betah mentransfer panasnya ke bumi. Via menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Sampai sebuah sepeda motor berhenti di hadapan Via.
“Sendirian aja, Vi? Nunggu siapa?” tanya si pemilik motor setelah sepersekian detik membuka helmnya. Via mendongak, baru sadar kalau sudah ada orang di hadapannya.
“Eh, elo Vin. Iya nih, gue lagi ngadem bentar di sini. Elo sendiri gak pulang?” Via menggeser badannya saat Alvin一si pemilik motor itu hendak duduk di sampingnya. Alvin tersenyum.
“Baru aja mau pulang. Loe mau pulang bareng gue gak, Vi? Sekalian gue pengen tau rumah loe juga.” ia menyenggol bahu Via.
“Gak usah deh, takut ngerepotin. Lagian gue bisa naik angkot, kok.” balas Via seraya tengok kanan-kiri mencari angkot.
“Oh nggak, kok! Nyantai aja lagi,”
“Ya udah deh kalau gitu. Makasih ya sebelumnya,” Alvin mengacungkan jempol. Dan sedetik setelah Via memegang pinggang Alvin erat, motor itu langsung melesat cepat.
***
Bandung, Oktober 2004.
Istirahat sudah berlangsung 20 menit yang lalu. Tetapi kantin SMA Padma masih padat dipenuhi para siswa dan siswi. Apalagi di sini merupakan tempat penjualan makanan satu-satunya yang menjajakan jajanan pasar. Soalnya di SMA Padma ada lagi tempat makan selain kantin, namanya Koperasi Siswa. Hanya saja di sana cuma menjual makanan-makanan instant. So, jarang mengundang selera makan kalau di Koperasi Siswa. Seperti saat ini, Cakka dan Prissy sedang menikmati seporsi siomay dan berbagai makanan ringan seperti gorengan ketimbang harus mampir ke Koperasi Siswa yang tempatnya tidak begitu jauh dari kelas mereka一bisa dibilang bersebelahan.
“Kka, loe suka sama Via, ya?” tebak Prissy tajam di tengah-tengah makannya. Cakka tersedak, tangannya mencari-cari minuman.
“Nih, minum! Kalau makan pelan-pelan aja, kali.” lanjut Prissy menyodorkan minum ke Cakka.
“Ngasal loe kalau ngomong!” timpal Cakka tetap tidak berhenti batuk.
“Gue kan cuma nanya, Cakka Aditya! Kali aja loe emang bener suka sama Via. Emang gak boleh?” balas Prissy polos.
“Gak apa-apa, sih. Ya gue cuma kaget aja denger loe yang tiba-tiba nanya gitu.”
“Via itu cantik, lho. Emang loe gak tertarik?” kini Prissy malah menggoda Cakka. Rasanya Prissy tau apa yang ada di pikiran Cakka akhir-akhir ini.
“Kata siapa Via jelek? Semua orang juga tau kalau dia cantik.” Cakka kembali menyantap gorengannya yang tersisa.
“Aduh, Cakka! Apa susahnya sih bilang kalau loe itu tertarik sama Via, terus bakal nembak dia secepatnya. Udahlah, jangan dipendam mulu tuh perasaan, gue tau kok kalau loe suka sama Via udah lama. Iya, kan?” Cakka mengernyitkan dahi. Nih anak kesurupan setan apa, ya? tanyanya dalam hati.
“Kesannya loe kayak maksa gue buat jadi pacarnya Via sih, Pris?” Prissy menghela napas berat.
“Gue emang maksa! Hehehe…”
“Emang kalau gue jadi pacarnya Via itu ngaruh ya sama loe?” selidik Cakka serius.
“Ngaruh, lah! Gue seneng aja kalau lihat kalian berdua lagi ngobrol atau jalan bareng. Cocok banget!”
“Masa, sih?” tanya Cakka sambil melahap gorengan terakhirnya.
“Seriusan! Nih ya gue bilangin, dari dulu Via itu jarang banget lho deket sama cowok. Soalnya dia cuek banget sama cowok,” ucapnya terpotong. Cakka ikut antusias mendengar penjelasan Prissy tentang Via.
“Kalau gue inget-inget nih ya, cuma dua orang yang bisa deket sama dia. Yaitu elo sama cowok yang waktu SMP nembak Via, namanya Alvin.” sambung Prissy. Cakka membulatkan mulut.
“Alvin? Terus, terus?” tanya Cakka penasaran.
“Via menolak, sih. Dia bilang kalau dia mau fokus sekolah dulu gitu.” jelas Prissy yang semakin mengecilkan volume suaranya ketika sosok cewek yang sejak tadi menjadi topik pembicaraannya itu datang menghampiri mereka.
“Lagi pada ngomongin gue, ya?” tebak Via yang langsung duduk manis di samping Prissy.
“Sok tau, deh! Orang lagi ngomongin masalah MOS kemaren, kok. Iya kan, Kka?” kilah Prissy sambil meminta tanggapan Cakka. Cakka mengangguk.
“Betul!”
“Masa, sih? Ah, gak percaya gue.” Via menyerobot siomay milik Prissy yang kebetulan tinggal seperempat.
“Beneran kok, Vi. Lagian loe kepo banget, ih!”
“Iya nih, kepo!” sambung Cakka. Via tak menghiraukan.
“Loe kok gak bareng Gabriel, Pris? Jangan-jangan loe selingkuh ya sama Cakka?” tuduh Via arogan. Lantas membuat satu jitakan keras mendarat di kepalanya. Jitakan Prissy.
“Hus! Gak disaring dulu tuh mulut kalau ngomong! Asal jeplak aja.” oceh Prissy kemudian.
“Lagian loe pacaran sama Gabriel tapi malah makan sama Cakka. Ya gue curiga aja.” Via berucap begitu polosnya. Capek, deh! batin Cakka dan Prissy.
“Emangnya gak boleh, ya?” tanya Cakka. Via menggeleng cepat.
“Bilang aja kalau cemburu! Iya, kan? Ciiyyee…” timpal Prissy menggoda. Cakka tersenyum. Via merengut.
“Ih apaan, sih? Nggak!” bantahnya tegas.
“Ngaku aja, lagi.”
“Nggak! Ih bete, deh!”
“Ciiyyee… Via cemburu sama Cakka.” ledek Prissy terus-menerus sampai bunyi handphone menghentikan aksi mereka.
“Bentar ya, ada telepon.” Via beranjak dari duduknya, menjauh dari mereka一Prissy dan Cakka.
“Tumben banget Via dapet telepon.” gumam Prissy.
“Kali aja itu penting. Elo sih curigaan anaknya.” Cakka melempar sedotan ke wajah Prissy.
“Ya gue heran aja. Ini kan masih jam sekolah.”
“Mungkin beneran sangat penting. Lagian loe ngurusin banget sih, Pris?” tanya Cakka heran. Via kembali bergabung.
“Siapa, Vi?” tanya Prissy penasaran.
“Ini, si Alvin. Dia ngajak pulang bareng sekaligus makan siang.” jelasnya singkat. Melihat Cakka yang keheranan, Via langsung menjelaskan lebih rinci. “Temen gue sama Prissy waktu SMP dulu.” Cakka membulatkan mulut一berpura-pura mengerti, padahal sebelumnya sudah tau dari Prissy.
“Terus loe terima?” Prissy kembali menginterogasi.
“Iya, gue terima. Gak enak kalau sampe nolak, dia udah baik banget sama gue.” balas Via. Cakka dan Prissy saling berpandangan.
“Oh iya, Kka. Tadi waktu gue mau ke sini gue sempat ketemu Difa di jalan, katanya dia nyariin loe.” kata Via berganti topik.
“Oh, ya? Ada apa sih tuh anak nyariin gue?”
“Minta uang jajan, kali. Jahat banget loe sama adik sendiri, masa uang jajannya diambil juga.” ledek Prissy. Tertawa pun pecah seketika.
“Enak aja!” bantah Cakka kemudian. Mereka kembali tertawa. Saking asyiknya mereka tertawa, tidak sadar kalau bel masuk sudah sejak tadi berbunyi.
***
“Alvin!”
“Cakka!” ucap Alvin dan Cakka bergantian saat mereka tak sengaja bertemu di salah satu rumah mewah. Rumah Via.
“Senang bisa ketemu loe, Kka.” ucap Alvin kemudian. Cakka tersenyum.
“Gue juga senang bisa ketemu loe, Vin.” balas Cakka. Lalu mata mereka terfokus pada sosok cewek berkaos biru serta bercelana jeans yang turun dari lantai atas bersama Mamanya. Cantik.
“Maaf udah nunggu lama, gue keasyikan baca novel soalnya.” jelas Via ke arah Alvin.
“Lho, ada Cakka juga?” tanya Via kaget.
“Aduh, anak Mama ini gimana, sih? Tadi kan Mama udah bilang pas di kamar kamu kalau di ruang tamu ada dua cowok ganteng nungguin kamu.” ucap Mama Via seraya mengusap lembut rambut anaknya itu. “Ya udah kalau gitu Tante mau lanjutin masak dulu, ya?” sambungnya ramah.
“Iya, Tante!” balas Cakka dan Alvin kompak.
“Oh iya, kalau gitu gue balik duluan, ya?” pamit Cakka tiba-tiba.
“Lho, kok balik? Kan baru dateng?” tanya Alvin.
“Iya nih si Cakka ada-ada aja. Terus loe ke sini mau ngapain?” tanya Via sembari mengikuti langkah Cakka keluar rumah. Alvin juga.
“Hmm… tadinya sih gue ke sini mau ngajak loe jalan-jalan, tapi berhubung loe udah ada janji sama Alvin, ya gue batalkan.” jelasnya pasrah.
“Gimana kalau kita jalan-jalan bareng aja?” saran Alvin semangat. “Biar Cakka juga gak sia-sia dateng ke sini.” lanjutnya.
“Boleh juga, tuh! So, menurut loe gimana, Kka? Mau ikut?” tanya Via ke arah cowok yang sedang bimbang antara ikut atau tidak. Otaknya terus menimbang-nimbang. Kalau Cakka ikut, pasti Cakka bakalan jadi patung hidup yang terus dikacangin oleh Alvin dan Via. Sedangkan kalau Cakka gak ikut, kedatangannya ke rumah Via tidak membuahkan hasil alias sia-sia belaka. Jadi, keputusannya adalah…
“Oke, gue ikut!” jawabnya mantap.
“Ya udah yuk berangkat! Nanti keburu sore.”
“Emangnya loe gak mau ganti baju dulu, Vi?” tanya Alvin.
“Gak usah deh, bikin ribet. Ayo cepetan!” jawabnya sambil ngeloyor menuju garasi rumahnya. Alvin dan Cakka saling pandang dibuatnya dan mengangkat bahu mereka masing-masing.
“Mang Ujang, titip motornya Cakka, ya?” teriak Via saat mau masuk ke mobil Alvin. Kebetulan siang ini Alvin sengaja bawa mobil, sedangkan Cakka bawa motor seperti biasanya ia ke sekolah.
“Jaga baik-baik ya, Mang.” ucap Cakka.
“Baik, Den! Serahkan semuanya sama Mang Ujang.” teriak Mang Ujang mantap. Ia menepuk dadanya pelan.
Mereka bertiga masuk ke mobil Alvin. Cakka di kursi belakang, sedangkan Via di depan bersama sang pengemudi一siapa lagi kalau bukan Alvin. Lalu mobil tersebut langsung melesat cepat ke suatu tempat yang sebelumnya sudah mereka niatkan. Selama perjalanan, tak ada obrolan yang terjalin di sana, hanya alunan musik melow yang menguasai saat itu. Hening. Mereka terlalu menikmati dengan kesibukannya masing-masing. Alvin begitu fokus dengan lika-liku jalanan yang siang itu cukup padat. Meski sesekali matanya melirik Via yang mulut mungilnya terus melafalkan lagu-lagu yang didengarnya dalam mobil. Alvin tersenyum sesaat, kemudian kembali fokus mengemudi. Serasa diperhatikan, Via langsung mengarahkan wajahnya keluar jendela. Kemudian ia langsung terkagum-kagum melihat pepohonan yang tertanam di pinggir jalan itu saling berkejaran. Sampai-sampai matanya seakan tergoda untuk terlelap sejenak. Sedangkan Cakka? Ia gak kalah asyik berkutat dengan Smartphonenya. Entah apa yang ia lakukan bersama gadget yang satu itu. Yang jelas Cakka terlihat menikmati kesibukannya tersebut.
“Oh iya, Prissy gimana kabarnya?” tanya Alvin memecah aksi diam-diaman di dalam mobil.
“Oh, Prissy? Baik-baik aja, kok. Kemaren juga dia nanyain loe tuh, katanya udah lama gak ketemu.” jawab Via santai. Hampir saja ia tertidur kalau Alvin tidak bertanya padanya.
“Oh, ya? By the way, dia masih maniac Matematika nggak, sekarang?” tanya Alvin lagi masih tetap fokus menatap jalanan.
“Kayak gak tau si Prissy aja loe, Vin. Mana mungkin dia benci sama Matematika? Yang ada dunia bakal kiamat kalau si Prissy sampe benci sama Matematika.” sedetik Via mengucapkan hal tersebut, mereka pun tertawa lepas. Ralat! Via dan Alvin saja tepatnya. Cakka masih terlalu sibuk dengan gadget kesayangannya itu. Tapi tunggu! Dia itu sibuk apa pura-pura sibuk? Entahlah, sepertinya Cakka memang benar-benar tidak mau ikut campur dengan pembicaraan di kursi depan一pembicaran Alvin dan Via.
“Padahal dia udah punya cowok lho, sekarang.” sambung Via di tengah tawanya.
“Masa, sih? Siapa tuh cowoknya?” Alvin penasaran.
“Iya. Temen kita waktu SMP juga, si Gabriel.”
“Serius? Kok bisa gitu, ya?” kata Alvin sedikit gak percaya.
“Seriusan! Udah hampir 3 tahun ini.” Alvin mengangguk pelan sambil tetap fokus dengan kemudi yang ia pegang.
“Loe sih udah punya cowok belum, Vi?” tanya Alvin tiba-tiba. Sedetik, entah kenapa jantung Via mendadak bergetar hebat mendengar pertanyaan Alvin tersebut. Mulutnya terkunci rapat. Aduh, ini gue kenapa deg-degan kayak gini? batin Via saat itu. Alvin terlihat kebingungan melihat ekspresi wajah Via yang berubah aneh.
“Nih, cowoknya ada di belakang!” timpal Cakka asal一terkesan ingin mencegah sesuatu yang tidak ia inginkan. Via mengernyitkan dahi ke arah Cakka yang tiba-tiba angkat bicara.
“Oh, jadi kalian berdua pacaran?” Alvin mengangguk maklum.
“Kagak!!! Ngarang aja loe kalau ngomong, Kka! Gue sama Cakka gak pacaran kok, Vin.” bantah Via. Cakka nyengir kuda. Sedangkan Alvin memasang tampang innocent.
“Lagian gue dikacangin mulu dari tadi sama loe berdua. Ajak gue ngobrol kek sekali-kali.” Cakka memelas.
“I'm so sorry, Kka. Gue tadi keasyikan flashback soalnya, jadi sampai lupa kalau ada loe di belakang. Sori, ya?” ucap Alvin menyesal.
“Suruh siapa loe sibuk sendiri?” sambung Via.
“Ya, gue cuma gak mau ganggu obrolan loe berdua aja. Makanya gue diem.”
“Alesan aja loe, Kka! Biasanya juga loe suka nimbrung gak jelas. Dasar!” cibir Via seraya melempar tisu yang sudah dibulatkan sebelumnya. Dengan sigap si Cakka langsung menangkapnya.
“Eits! Gak kena. Hahaha…” ledeknya puas.
“Awas loe, ya!” Via mengancam Cakka sembari tangannya mengepal.
“Ya udahlah, gak usah berantem! Lagian udah nyampe tempatnya, nih. Ayo turun!” ajak Alvin semangat setelah memarkirkan mobil di depan sebuah restoran yang cukup sederhana itu.
***
Cakka membanting tubuhnya ke kasur. Cukup keras. Sehingga membuat cowok yang sudah terlebih dulu menghuni kasur tesebut langsung melonjak kaget. Untungnya si cowok tersebut tidak mengidap penyakit jantung, kalau iya bisa mati di tempat tuh anak. Cakka menggeliat, lalu membuang napas berat. Sedangkan si cowok tadi masih mencoba menstabilkan detak jantungnya akibat ulah Cakka. Cowok itu Difa一adiknya.
“Mau bikin aku jantungan, ya?! Bikin kaget orang aja!” tukas Difa langsung. Cakka malah tertidur.
“Pake dikacangin, lagi. Kenapa sih, Kak? Ditolak Kak Via, ya?” tanya Difa bertubi-tubi一terkesan sok tau.
“Sotoy loe, Dif! Lagian siapa yang habis nembak, sih?” Cakka ikut nimbrung di samping adiknya yang sedang asyik mainan Laptop.
“Terus tuh muka kenapa? Kok lecek gitu? Habis lihat Kak Via sama cowoknya, ya? Duh, kasihan abang aku ini. Cup-cup-cup…” ledek Difa sambil menepuk pelan pundak kakaknya tersebut. Cakka menoyor kepala Difa pelan.
“Aduh! Gak usah main tangan juga, kali.”
“Lagian loe jadi orang sotoynya kebangetan, sih! Sana loe pergi dari kamar gue! Gue pengen istirahat. Cepetan, gih!” Cakka langsung memukul adiknya pakai bantal guling. Difa meringis.
“Bentar, tadi bilang apa? Ini kamar Kak Cakka? Ini kamar aku, tau! Harusnya Kak Cakka tuh yang pergi. Enak aja main ngaku-ngaku kamar orang.” protes Difa kesal.
“Sejak kapan ini jadi kamar loe, hah? Mimpi!” bela Cakka gak mau kalah.
“Sejak tadi siang! Emangnya Kak Cakka gak bisa baca, ya? Udah jelas-jelas di pintu ada tulisan, ‘Kamar Cowok Ganteng一Difa. Orang Jelek Dilarang Masuk!’ tuh lihat, kan?” Difa menunjuk ke arah pintu. Cakka mendengus.
“Loe ngeselin juga ya lama-lama! Cepetan pergi, gue mau tidur!”
“Gak mau!”
“Pergi gak loe?!” Cakka mengancam akan membanting Laptop milik Difa yang kini berada di genggamannya.
“Silahkan aja kalau berani.” timpal Difa sembari menolak pinggang.
“Cakka, Difa! Ada apa sih ribut-ribut? Berantem aja kayak anak kecil. Malu dong sama tetangga.” omel sang Mama yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Dan itu cukup berhasil melerai pertikaian sengit antara Cakka dan Difa.
“Tuh lihat, Ma! Masa Laptop Difa mau dibanting sama Kak Cakka,” Difa mengadu manja ke Mamanya.
“Cakka, turunin Laptopnya!” perintah sang Mama. Cakka memutar bola matanya kesal.
“Terus aja dibelain!” timpalnya.
“Lagian kamu kenapa sih, Kka? Kok gak mau ngalah sama adik sendiri. Malah berantem kayak anak kecil aja.” dirangkulnya Cakka dengan penuh kasih sayang.
“Cakka kan mau istirahat, Ma. Tapi si Difa gak mau pergi dari sini. Bikin kesel!” adu Cakka ikut manja一sama seperti yang dilakukan Difa sebelumnya. Dasar anak manja! umpat Difa dalam hati.
“Tapi kan ini kamar Difa, Ma!” protes Difa tetap memeluk tangan kiri Mamanya.
“Oh, iya! Mama lupa belum kasih tau Cakka kalau mulai sekarang kamar ini menjadi kamar Difa.”
“Kok gitu sih, Ma? Terus kamar Cakka di mana? Di gudang?! Ah, gak adil!” Cakka melepaskan pelukan Mamanya.
“Lebih cocok tuh di gudang!” ledek Difa. Cakka langsung menjitak kepala adiknya keras.
“Diem, loe!”
“Kamar Cakka di situ. Yang dulunya kamar Difa.” tunjuk Mama ke arah luar.
“Itu kan kamarnya sempit, Ma. Udah gitu pengap, gak ada AC.” protesnya lagi. Mama membelai lembut rambut Cakka.
“Udah Mama pasang AC, kok. Cepet gih, sana.”
“Tuh kan, Difa bilang juga apa? Gak percayaan sih jadi orang.” timpal Difa sinis.
“Ah! Rese, loe!”
“Sudah, sudah! Jangan berantem lagi, ayo baikan!” perintah Mama ke Cakka dan Difa.
“Males!” ucap Cakka langsung pergi meninggalkan Mama dan adiknya. Mama menggeleng pasrah. Difa juga ikutan, di bibirnya terbesit senyum kemenangan.
“Lain kali jangan suka bikin kesal Kakak kamu lagi ya, Sayang?”
“Baik, Ma.”
“Awas ya kalau Mama sampai lihat kalian berdua berantem lagi, Mama bakal potong uang jajan kalian.” ucapnya sambil ngeloyor pergi. Difa memelas.
“Tapi, Ma?!”
“Gak ada tapi-tapian!”
“Ayolah, Ma! Gak asyik, ih!” Difa masih memampang wajah melasnya meski Mamanya sudah jauh pergi.
***
Alvin merangkul Via dengan ragu, “Kita istirahat dulu aja ya, Vi?” ucapnya ketika melihat wajah Via yang sudah kelelahan setelah berlari pagi cukup jauh. Hari ini, hari minggu. Alvin dan Via memang berjanjian untuk lari pagi bareng.
“Udah lama gue gak lari pagi, jadi cepet capek!” Via mencoba menstabilkan napasnya. Alvin tersenyum. Lucu juga melihat Via kecapekan gitu.
“Faktor usia juga, sih.”
“Oh, jadi menurut loe gue udah tua, gitu?!” Via mencibir.
“Ya begitulah. Hehehe…”
“Sialan loe, Vin! Eh, bagi minum dong!” pinta Via dengan merebut paksa botol minuman yang digenggam Alvin.
“Tapi itu bekas gue, Vi! Gue bawa satu lagi di tas. Bentar, gue ambilin.”
“Ah, lama! Gue udah dehidrasi, nih. Toh loe juga gak punya penyakit rabies, kan?” tanya Via geli dan dengan cepat meneguk minuman hasil rebutannya dari Alvin. Alvin menggeleng maklum.
“Loe itu emang gak pernah berubah ya, Vi.”
“Gak pernah berubah? Maksudnya?” Via tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Alvin tersebut. Lalu tak sengaja matanya bertemu langsung dengan mata Alvin yang jaraknya begitu dekat. Indah. Jernih. Sempurna. Sampai Via tidak tahan untuk memandangnya lebih lama. Ia berpaling dengan segera.
“Maksudnya? Hmm… ya begitu! Kalau diomongin itu susahnya minta ampun! Sama seperti dulu,” jelas Alvin sekenanya. Via mengangguk seraya membulatkan mulut mungilnya.
“Tapi menurut gue, elo malah berubah, Vin.”
“Masa, sih? Berubah gimana?” tanyanya penasaran.
“Iya, tambah cakep dikit.” Via terkekeh geli.
“Bisa aja loe bikin orang GR.” kata Alvin salting. Disenggolnya bahu Via genit.
“Seriusan, lho! Dulu, sewaktu masih SMP loe itu sama sekali gak ada matanya, kalau sekarang sih agak mendingan. Hahaha…” sindir Via puas.
“Kalau gitu masih mending gue, dong? Daripada elo badannya tambah gendut aja.” balas Alvin sambil mencubit pipi chubby Via. Mendengar itu, Via langsung mengembungkan pipinya. Kesal.
“Aduh, jeleknya! Gitu aja kok ngambek.” goda Alvin seraya mencolek badan Via yang terbilang subur makmur.
“Siapa yang jelek? Gue kan imut! Hahaha…”
“Huh, dasar!” Alvin mencoba merangkul cewek yang duduk di sampingnya tersebut. Namun…
“Pulang yuk, Vin? Udah agak siang, nih.” Via bangkit dari duduknya. Sedetik, Alvin langsung menahan pergelangan tangan Via.
“Via?” panggilnya pelan. Bahkan mungkin sangat pelan.
“Kenapa, Vin?” balasnya dengan mengernyitkan dahi. Ia kembali duduk di samping Alvin.
“Kalau aku nembak kamu sekarang, apa kamu akan memberi jawaban yang sama seperti dulu?” tanya Alvin yang sukses membuat Via terpaku di tempat. Maksudnya apaan, sih? batinnya.
“Jujur, aku sempat sakit hati pas kamu tolak. Tapi aku coba tutupi demi kamu, dan aku juga menghargai keputusan kamu yang lebih memilih sekolah ketimbang pacaran. Namun itu bukanlah alasan untuk aku berhenti mencintai kamu, Vi.” Via terdiam, matanya begitu dalam menatap mata Alvin yang saat ini berlutut di hadapannya.
“Dan satu lagi, aku sangat bersyukur sama Tuhan karena Dia telah mempertemukan aku kembali dengan orang yang begitu aku cintai setelah kurang lebih 3 tahun tidak bertemu. Aku merasa sangat beruntung bisa ketemu sama kamu lagi, bisa berangkat dan pulang sekolah bareng lagi, dan yang paling penting aku bisa melihat wajah kamu lagi kapanpun aku mau.” Alvin tersenyum.
“Alvin,” ucap Via sedikit lirih.
“Aku tau ini terlalu cepat buat kamu, Vi. Tapi aku sudah tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini lebih lama. Maaf, bukannya aku egois.” ucap Alvin setengah menunduk. Lantas, Via mengangkat dagu cowok yang ada di pangkuannya itu perlahan. Matanya berlinang. Sendu.
“Bukan kamu aja yang merasakan hal tersebut, Vin. Aku juga sama,” ucap Via tegas seraya melangkah menjauhi Alvin yang masih terduduk.
“Perpisahan itu ternyata membuat aku menyadari dan merasakan betapa sakit dan perihnya kehilangan seseorang yang dicintai. Bahkan itu jauh lebih sakit rasanya dari penyakit apapun.” Via menatap lurus jalanan beraspal pekat itu.
“Sungguh?” tanya Alvin sembari menapakkan langkahnya mendekati Via. Via mengangguk pasti.
“Boleh aku meluk kamu, Vi?”
“Hmm… why not?” jawabnya mantap dengan merentangkan kedua tangannya lebar. Mereka pun hanyut dalam pelukan, tak menghiraukan ada berapa banyak pasang mata yang menyaksikannya sambil tersenyum serta menggelengkan kepalanya.
“Aku sayang kamu, Vi! Sampai kapanpun.” ucap Alvin pas di telinga Via. Lalu melepaskan pelukannya perlahan.
“Ini untuk yang kedua kalinya aku bilang, bolehkah aku jadi pacar kamu?” Via masih terpaku. Cukup lama. Hening. Mungkin hanya detak jantung mereka yang terdengar.
“Apa ada alasan lain untuk kamu menolak aku?” sambung Alvin penasaran.
“Entah kenapa kali ini aku kesusahan untuk mencari alasan buat nolak kamu, Vin.” jawab Via diiringi senyum manisnya.
“So, jawabannya?” Alvin menatap Via penuh harap.
“Aku terima.” kata Via semangat. Mereka kembali berpelukan. Lebih mesra dari sebelumnya.
***
Koridor sekolah masih terlihat sepi. Dengan wajah penuh ceria, Via melangkahkan kakinya menyusuri beberapa ruang kelas yang masih belum berpenghuni. Namun tiba-tiba matanya memicing ketika melihat di arah depan ada seseorang yang bergaya rambut harajuku berjalan dengan santai ke arahnya. Cakka? Ngapain tuh anak? ucap Via dalam hati. Cakka merangkul dan menuntun Via ke suatu tempat tanpa suara sedikitpun. Sebentar, ini ada apa? umpat Via lagi. Ia cuma bisa memandang heran wajah Cakka yang kala itu terlihat lebih berseri dari sebelum-sebelumnya.
Sejenak, Cakka menghentikan langkahnya, ditatapnya bola mata Via dalam. Damai. Rasanya Cakka tak ingin kehilangan kesempatan ini sekejap pun. Begitu lama mereka terdiam dalam hanyut. Lalu Cakka menuntun sudut pandangan Via ke suatu tempat yang dipenuhi dengan lilin-lilin kecil berwarna putih yang tersusun rapi tanpa jeda di tengah lapang basket. Sedetik, Via menutup mulutnya rapat-rapat saat arah pandangnya tertuju pada tulisan ‘Aku Cinta Kamu, Via!’ di antara lilin-lilin putih tersebut.
“Maaf kalau kamu gak suka, Vi. Aku cuma ingin mengungkapkan perasaan aku aja sama kamu.” kata Cakka tulus. Sedangkan Via masih belum ingin menatap wajah Cakka untuk kedua kalinya. Ia terlalu takut kalau ini memang benar kenyataannya.
“Jujur, aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama. Di mana waktu MOS dulu, aku selalu memandangimu dari jauh, menatap setiap canda tawa yang kamu pancarkan saat bermain dengan teman-teman baru kamu.” ucapnya tulus. Via masih diam.
“Kamu itu terlihat beda dari yang lain, Vi. Dan sampai sekarang pun aku belum tau apa yang membedakan kamu dengan cewek-cewek lain. Aku cinta kamu, Via!” Cakka meraih kedua tangan cewek yang lama mematung di hadapannya.
“Aku mau jadi pacar kamu.”
“Tapi kenapa baru sekarang kamu bilang kalau kamu cinta sama aku, Kka?” tanya Via tegas. Matanya berubah sendu. Kini giliran Cakka yang terdiam. “Apa karena kamu takut kalau nanti aku tolak? Iya?!” tanya Via lagi dengan melepas paksa genggaman Cakka.
“Aku cari waktu yang tepat untuk semua ini, Vi. Dan aku rasa ini merupakan waktu yang sangat tepat.” jawabnya mantap.
“Maaf Kka, kamu salah, ini bukan waktu yang tepat. Aku sudah punya pacar. Dan aku gak bisa terima kamu jadi pacar aku.”
“Via, aku mohon…” lirihnya.
“Aku gak bisa, Kka!”
“Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, Vi. Aku janji bisa jauh lebih baik dari pacar kamu yang sekarang.” Cakka berlutut di kaki Via.
“Tapi aku gak bisa, Kka. Kamu ngertiin aku, dong!” bentak Via keras. Lalu ia berlari meninggalkan Cakka perlahan.
“Viiiaaa…” teriak Cakka seraya menitikan air mata. Tubuhnya penuh keringat.
“Cakka, bangun!” suara bising terdengar keras di telinga Cakka. Ia mendongakan kepalanya pelan, dilihatnya sosok tua berkaca mata sedang menolak pinggang tepat di hadapannya. Sedetik, Cakka segera bangkit dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan.
“Bapak paling gak suka kalau ada siswa yang tidur saat pelajaran Bapak berlangsung!” kata Pak Agung一guru Matematika yang siang itu mengajar di kelas Cakka.
“Maaf Pak, saya ketiduran.” balas Cakka polos. Lantas membuat seisi kelas tertawa.
“Diam semuanya! Sekarang kamu keluar!” suruh Pak Agung tegas. Lantas Cakka langsung bangkit dari kursinya dengan sedikit sempoyongan. Dan sekilas ia menangkap wajah Via sebelum ia benar-benar keluar. Kelas kembali hening.
“Dan Bapak tidak akan segan-segan untuk memberi hukuman yang lebih kalau masih ada yang tidur saat pelajaran Bapak berlangsung. Mengerti?!” kata Pak Agung tegas一lebih tepatnya mengancam.
“Mengerti, Pak!” koor anak-anak kompak.
“Si Cakka kayaknya habis bergadang, deh.” bisik Prissy ke teman sebangkunya一Via.
“Mana gue tau?” balas Via ikut berbisik.
“Buktinya sampe tidur di kelas gitu. Apa jangan-jangan dia lagi sakit, lagi.”
“Bisa jadi,” respon Via ogah-ogahan. Ia terlalu sibuk menyalin semua rumus Matematika yang tertera di Whiteboard.
“Sakit apa ya kira-kira?”
“Dipikirin amat sih, Pris?” sewot Via pelan.
“Dia kan sahabat kita, Vi!”
“Loe pengen dilempar penghapus sama Pak Agung?!” kata Via mengancam Prissy yang sedari tadi heboh sendiri.
“Gak mau gue!”
“Prissy, Via!!! Kalian mau keluar juga seperti Cakka?!” bentak Pak Agung saat mendengar suara Prissy yang keras.
“Nggak Pak, maaf.” ucap mereka bersalah.
“Gara-gara elo, sih!” tuduh Via dengan menyenggol pundak Prissy. Prissy menekuk wajahnya.
***
“Vi, gue suka sama loe!” Via dan Prissy yang lagi seru-serunya ngobrol di Pos Satpam pas pulang sekolah itu pun mendadak mengangkat alis heran begitu Cakka dengan tiba-tiba mengucap kalimat tersebut.
“Loe nembak Via, Kka?” Prissy memandang cowok bergaya rambut harajuku itu dengan pandangan tak biasa. Cakka mengangguk cepat. “Gila loe, ya!” tukas Prissy kemudian.
“Emang salah gue nembak Via? Bukannya loe pernah saranin gue buat nembak Via ya, Pris?” Prissy terkesiap mendengarnya.
“Tapi cara nembak loe ini nggak banget, Kka!” cibir Prissy penuh penekanan di kata-kata terakhir. Via hanya menatap dua sahabatnya itu aneh.
“Vi, loe mau kan jadi pacar gue? Gue gak bohong nih, gue beneran nembak loe.” Via menghela napas.
“Loe nembak gue gak ada romantis-romantisnya amat sih, Kka?!”
“Semua orang kan punya cara masing-masing buat nembak gebetannya. Ya, inilah cara gue.” Cakka melebarkan tangannya.
“Ya, gue tau! Dan cewek yang ditembak juga mempunyai cara masing-masing buat nerima cowok yang nembaknya itu.” jelas Via dengan melipat tangannya di dada serta memberi senyum meremehkan.
“Maksud loe?”
“Maksudnya, Via itu nolak loe secara halus, Cakka Aditya!” timpal Prissy cengengesan. Cakka mendengus.
“Bukan nanya sama loe, Badut Ancol!” Prissy melotot mendengar ledekan Cakka barusan.
“Mau kan jadi pacar gue? Ayolah,”
“Gimana, ya? Bukannya gue gak mau sih, tapi…”
“Tapi apa? Gue gak romantis? Apa gue kurang ganteng?” Cakka mengecek tubuhnya teliti.
“Jangan terima Vi, sok ganteng tuh anak.” lagi-lagi Prissy menyahut. Padahal dia sudah dibelakangi sama tubuhnya Cakka yang lumayan bidang.
“Berisik loe, Pris! Loe bukannya dukung gue, malah ngomporin orang. Dasar badut!” tukasnya.
“Don't call me badut, Cakka Aditya! Gue terlalu cantik buat jadi badut.” Prissy menjitak keras kepala Cakka. Membuat cowok tersebut meringis kesakitan.
“Ini acara nembak atau acara apaan, sih?! Heran gue,” tukas Via sedikit naik darah melihat ulah Cakka dan Prissy yang mendadak kayak anjing dan kucing.
“Sori Vi, sori. Jadi gimana, nih? Loe mau jadi pacar gue atau nggak?” tanya Cakka lembut.
“Maaf ya Kka, gue gak bisa.” Via mencoba tersenyum di tengah keraguannya untuk menolak seorang Cakka. Seseorang yang selalu ada untuknya disaat semua orang menghilang. Seseorang yang sering membuatnya tersenyum meski terkadang tingkahnya itu menyebalkan. Dan seseorang yang paling bisa diandalkan dari sahabat-sahabatnya yang lain一termasuk Prissy. Cakka, maafin gue! batinnya.
“Oh, ya udah gak apa-apa, kok. Dengan lapang dada gue terima. Yang penting gue udah coba ungkapin perasaan gue sama loe, itu udah cukup.” mata Cakka memancarkan sinar kekecewaan yang begitu nyata meskipun ia mencoba menutupi dengan seulas senyumnya yang manis. Tapi mata tetap tidak bisa berbohong. Tiba- tiba Via memeluknya erat.
“Maafin gue ya, Kka? Loe gak tepat waktu.” bisiknya di telinga Cakka. Apakah ini arti dari semua mimpi gue? Lalu apa arti dari kalimat gak tepat waktu? umpat Cakka dalam hati.
“Turut berduka cita ya, Kka?” ledek Prissy yang cukup lama terdiam. Ia menepuk pelan pundak cowok yang masih dipeluk Via itu.
“Sini loe peluk gue juga!” ujarnya jahil. Dalam sekejap Via dan Prissy sudah mendarat di dada bidangnya Cakka Aditya.
“Apaan, sih?!” mereka membuka paksa rangkulan Cakka. Si pelaku hanya mengangkat tangannya dibarengi dengan seringaian jahil dari mulutnya.
“Kita itu memang ditakdirkan untuk bersahabat. Dan bagi gue, sahabat itu segalanya ketimbang pacar. Iya, kan?” ucap Via bijak.
“Tapi baru kali ini lho gue ditolak cewek,” Cakka menggaruk kepalanya.
“Suer, loe? Ah, gak percaya gue.” tentang Prissy mantap.
“Mungkin cara nembak loe harus diperbaiki kembali, Kka. Harus lebih romantis! Dan satu lagi, jangan sok kegantengan kalau mau nembak cewek. Inget itu!” sindir Via sekenanya. Cakka merengut. Derajatnya turun mendadak di hadapan dua orang cewek tersebut. Lalu, mereka pun tertawa. Gak jelas. Membuat Pak Satpam yang sebelumnya tertidur pulas di ruang jaga itu terbangun dengan kagetnya. Dasar anak ABG, ganggu orang tidur aja! rutuknya dalam hati一mungkin.
***
Bandung, Desember 2004.
Semesteran baru saja selesai 2 hari yang lalu. Hari ini, Sabtu, Cakka CS ditambah Alvin serta Difa menyambangi sebuah tempat yang mungkin sangat cocok untuk menghilangkan penat di otak setelah seminggu penuh mengerjakan soal-soal semesteran. Ke Pantai. Mereka一Alvin, Cakka dan Difa sejak tadi sibuk memperebutkan kulit bundar yang sengaja dibawa Cakka di tepian pantai. Prissy dan Gabriel menghabiskan sesi berduaannya dengan ngobrol sambil makan-makan kecil di bebatuan yang memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga seperti tempat duduk mungil. Dan satu lagi, Via… sedari tadi menekuk wajahnya karena tulisan-tulisan cantik yang sudah susah payah ia buat itu lagi-lagi terhapus oleh sapuan ombak. Ia membuang napas kesalnya seketika.
“Sayang, lempar bolanya dong!” bola kulit berwarna cokelat tua itu menyentuh pinggang Via yang sedang duduk. Ia memegang bola itu, memandangnya, lalu melemparkan ke arah cowok yang tadi meminta bola tersebut.
Kembali, Via memandangi garis horizontal yang membatasi warna alam biru langit dan biru air laut. Lambat laun, di ujung sana terlihat satu titik putih yang semakin lama semakin membesar. Perahu nelayan. Indah sekali. Tiba-tiba Via merasa bahwa ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Difa Aditya.
“Kak Via lagi ngapain?” tanya Difa sambil menerawang pandangan Via.
“Keren ya, Dif?” Difa mengangguk setelah sebelumnya sudah mengerti apa yang dimaksud Via tersebut.
“Minum, Kak?” tawarnya. Via menggeleng, di tangannya ia tunjukan ke Difa kalau ia juga bawa minuman. Difa membulatkan mulutnya.
“Oh iya, bukannya loe lagi main bola ya, Dif? Kok ke sini?” tanya Via heran.
“Capek, ah! Lagian gak seru mainnya cuma bertiga, doang. Apalagi Kak Cakkanya curang,” Difa mencibir.
“Abang loe emang gitu, Dif. Ngeselin anaknya!” mereka berdua beralih memandangi dua orang cowok yang kini sedang asyik bermain voli. Tunggu, main voli pakai bola sepak? Aneh.
“Ternyata Kak Alvin itu orangnya asyik ya, Kak? Walaupun aku baru kenal dia hari ini, tapi berasa udah akrab aja.” pendapat Difa tentang Alvin. Via begitu serius mendengarnya.
“Terus?”
“Terus Kak Alvin itu orangnya care, humoris, dan gak pernah membeda-bedakan seseorang dengan orang lain. Pokoknya beda deh dari kakak-kakak kelas yang pernah aku kenal sebelumnya.” dilihatnya oleh Via cowok yang lagi dibahas oleh Difa barusan. Manis! umpatnya begitu melihat Alvin tertawa lepas bersama Cakka.
“Oh gitu, ya?” Via mengangguk perlahan tanpa berpaling memandang Alvin.
“Udah gitu Kak Alvin juga cakep, pantes aja Kak Via lebih memilih Kak Alvin ketimbang Kak Cakka sebagai pacar.” Difa menyenggol badan Via yang masih sibuk dalam aksi pandang memandang seorang Alvin.
“Apaan sih loe, Dif? Lagian loe bukannya baik-baikin abang loe sendiri di depan gue, malah ngejelek-jelekin dia. Dasar bocah!” Difa nyengir.
“Udah deh Kak, gak usah merah gitu mukanya. Tuh lihat Kak Alvin ke sini.” Difa menunjuk cowok berbadan tinggi yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Sekarang giliran gue ya, Dif.” kata Alvin ramah.
“Siap, Kak! Maaf ya, aku pacarin bentar tadi Kak Vianya. Kalau gitu sekarang cowok ganteng ini mau berenang dulu di laut. Bye!” pamit Difa sambil ngeloyor pergi.
“Sok ganteng loe, Dif! Awas tuh kebawa arus!” teriak Via keras. Alvin terkekeh melihat tingkah anak satu itu. Dasar bocah! batinnya.
Mendadak, suasana kembali seperti semula, jauh sebelum ada Difa datang menemani Via. Lembayung yang semakin keruh warnanya itu menjadi objek pandang Via kali ini. Cukup lama hening berkuasa di antara mereka. Hanya terdengar debur ombak yang kian melebar ke tepi pantai. Sejenak, Via menyandarkan kepalanya ke pundak Alvin. Damai. Sedangkan di sisi lain ada sepasang mata yang memandang mereka sendu. Antara cemburu, terharu, senang serta sedih. Entah apa yang sebenar-benarnya ia rasakan saat itu. Cakka.
“Gue harus buang jauh-jauh perasaan ini!” rutuknya pelan. Ia memasukkan kedua tanggannya ke dalam saku celana, kemudian berjalan mundur dan menjauh sejauh-jauhnya dari mereka一Alvin dan Via yang sedang menikmati sunset yang begitu indah berduaan.
“Aku sayang sama kamu, Vi.” Alvin membelai lembut rambut cewek di sampingnya. Lalu tersenyum.
“Me too! I want forever and ever with you, Alvin.” ucap Via dengan menatap lekat bola mata Alvin yang kala itu benar-benar bening.
“Always together, you and me. Ku harap hanya kematianlah yang mampu memisahkan kita. Tapi aku yakin, meski kematian itu memisahkan kita, cinta kita akan selalu ada. Selamanya.” Alvin menyentuh kedua pipi Via perlahan. Rasanya nyaman sekali Alvin memandang wajah Via yang terlihat lebih mempesona dari sebelumnya. Seketika, Via merasakan sensasi hangat, lembut dan lembab mendarat di bibirnya. Bibir Alvin.
Lembayung kian menghitam. Ombak pun ikut memperlambat alirannya. Mereka ikut merasakan apa yang sedang dirasakan Alvin dan Via. Lalu, mentari tenggelam seketika di mana sebelumnya sempat memberi senyuman terakhirnya ke arah dua insan yang sedang dilanda asmara.
The End.
Langganan:
Postingan (Atom)