Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Happy Anniversary

“HAPPY ANNIVERSARRY”

Karya : Aninda Ocha
Cast : Alvin, Sivia, Shilla, Cakka
Genre: Romance,Friendship,Happyend

Sinar matahari masuk melalui celah – celah jendela kamar itu. Sinarnya seakan memaksa seorang gadis cantik yang masih senantiasa menikmati mimpinya. Dan kali ini mata itu terpaksa dibukanya karna silau yang menyapa matanya.
Setelah kesadarannya terkumpul, gadis cantik itu berjalan menuju gorden lalu menyibak kain berwarna ungu itu. Gadis itu juga menggeser jendela kamarnya yang disambut angin sepoi – sepoi pagi ini. “selamat pagi.” Ucapnya senang.
Gadis bernama –Sivia- itu mengambil handphonenya yang tergeletak di kasur. Membaca pesan masuk kemudian tersenyum.
From: My Boo
Sayang... baru bangun pasti ya? :p siap – siap gih, nanti aku jemput jam 8, dandan yang cantik sayang. Morning and I Love You :*
Sivia kemudian mengetik balasannya.
To: My Boo
Kamu tau aja sayang :p haha oke sip, aku tunggu sayang :* I Love You Too {}
-
Sivia yang sudah wangi dan bersih langsung menuruni anak tangga dan senyuman masih tercetak di bibirnya. Sang mama yang memperhatikannya hanya ikut tersenyum. Sudah jadi keseharian melihat Sivia tersenyum setelah bangun tidur.
“selamat pagi mama.” Sivia mencium pipi sang mama yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga itu.
“selamat pagi sayang. Anak mama rapi banget, mau jalan – jalan sama Alvin ya?” goda mama Sivia yang membuat pipi gadis itu memerah karna malu. Alvin dan mamanya sama saja –sama-sama-suka-menggoda-.
“mama masak apa?”
“nasi mawut. Yang pernah kita cobain waktu kita liburan ke Lombok itu, Vi. Yang di puji habis – habisan sama papamu.” Cerocos mama Sivia. Wanita paruh baya itu memang sangat pandai memasak. Masakan apapun yang disukai oleh anak dan suaminya akan ia buatkan khusus untuk keluarga kecilnya itu.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Sivia dan sang mama sama – sama tersenyum. Keduanya berjalan kearah pintu dan benar dugaan mereka. Alvin sudah berdiri di depan pintu.
“pagi tante. Cantik banget pagi ini.” goda Alvin. Sivia tertawa sementara sang mama memukul lengan Alvin pelan.
“kamu kok gombalin tante – tante, Vin.” Mama Sivia mengajak Alvin untuk ikut sarapan bersama.
Alvin duduk di samping Sivia yang sudah melahap makanannya. Alvin tertawa melihat cara makan Sivia seperti anak sd yang tidak mau makanannya diambil orang. “papa kamu mana, Vi?” tanya Alvin.
“papa lagi sakit. Makanya tadi mama bawain nasi sama susu ke dalem kamar.” Jawab Sivia seadanya. Gadis itu masih menikmati sarapan paginya.
Alvin kembali tertawa karna ada makanan yang sedikit belepotan di sudut bibir Sivia. Laki – laki itu mengambil tisu lalu membersihkan bibir Sivia. Gadis itu merasa pipinya sudah memerah saat ini.
“hehe, makasi sayang.”
“sama –sama sayang. Cepet gih habisin makannya, ntar jalanan keburu rame.” Suruh Alvin sambil mengelus rambut hitam Sivia.
-
-
Alvin dan Sivia dalam perjalanan yang entah kemana karna Alvin tidak memberitahu kemana mereka akan pergi. Setiap Sivia tanya, pasti jawabannya Cuma ‘nanti kamu juga tau’ atau ‘udah duduk manis aja’ dan itu cukup bikin Sivia kesal sekarang.
“sayang, jangan ngambek dong.” Bujuk Alvin.
“kamu sih nggak mau kasih tau kita mau kemana.” Sivia menikmati pemandangan luar jendela. Malas banget lihat Alvin saat ini.
“lagi bentar kita sampai kok, nanti kamu bakal tau kita kemana, sayang.”
Tak lama Alvin memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk kekasihnya yang lagi ‘ngambul’ itu. Sivia menatap taman kecil tempat mereka sekarang tanpa berkedip. Taman ini cantik sekali, pikir Sivia. Ada beberapa kertas origami berbentuk burung dan beberapa bunga mawar yang kelopaknya bertaburan di atas rumput membentuk sebuah tulisan.
‘HAPPY 5 MONTH ANNIVERSARY’
“Vin... i-ini...” Sivia menggantungkan kata – katanya. Kesal, sedih dan bahagia yang dirinya rasakan sekarang.
Alvin memeluk Sivia dari belakang. menumpukan dagunya di atas bahu Sivia. “Happy anniversary sayang. Aku harap kamu selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Bisik Alvin.
Sivia menangis haru. “m-makasi sayang. Aku harap kamu juga bakal selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Sivia membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alvin yang lebih tinggi darinya. Menyalurkan semua perasaan yang ia rasakan sekarang.
“i love you, i love you more than you know.” Bisik Alvin lagi sambil mengecup puncak kepala Sivia.
Alvin melepaskan pelukan mereka. Laki – laki itu merogoh saku jaket yang ia gunakan. “ada apa, Vin?” tanya Sivia bingung.
“coba kamu balik badan terus tutup mata kamu.” Suruh Alvin –masih merogoh saku jaketnya- mencari sesuatu yang sudah ia siapkan 3 hari yang lalu.
Sivia menurut kemudian membalikkan badannya membelakangi Alvin lalu menutup matanya. Dalam hati dirinya sudah penasaran dengan kelakuan Alvin sekarang ini. walaupun Alvin sudah sering memberi kejutan untuknya.
Sivia merasa dingin menyapa lehernya. Gadis itu membuka matanya. Mendapati sebuah kalung permata di lehernya. ‘Alvin romantis banget’ batin Sivia yang tidak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
“kamu bikin aku kaya cewek terbahagia di dunia ini, Vin” celetuk Sivia.
“dan aku bakal selalu bikin kamu bahagia tiap harinya, Vi”
-
-
Setelah acara kejutan tadi, Alvin mengajak Sivia ke sebuah caffe yang tidak terlalu jauh dari taman itu. Mereka memilih duduk di sudut caffe tersebut yang dekat dengan jendela.
“mau pesan apa, sayang?”
“chocolate milkshake aja sayang, kamu apa?”
“chocolate milkshake sama cappucino coffe ya mbak.”
Alvin memberi daftar menu tadi kepada pelayan yang melayani mereka. Keduanya menatap keluar jendela yang nampak begitu ramai oleh lalu – lalang kendaraan. Jakarta benar – benar padat, pikir mereka.
Mata Sivia tidak sengaja menangkap seseorang yang berjalan kearah caffe ini, “itu Shilla ‘kan?” ucap Sivia tanpa sadar. Dan benar saja, itu adalah Shilla –sahabatnya-.
TRIINNG!!
Bel berbunyi, pertanda seorang pelanggan baru datang. Sivia segera bangkit dan menghampiri pelanggan itu. “ke caffe kok nggak bilang – bilang.” Sindir Sivia.
Shilla yang masih fokus dengan gadget miliknya mengangkat kepalanya. Mendapati sahabatnya yang manyun dan menatapnya kesal.
“eh, Sivia? Sama siapa kesini? Hehe, gue fikir jam segini lo belum bangun, Vi.” Tawa Shilla.
“lo fikir gue kebo apa! Yaudah yuk nimbrung aja sama gue dan Alvin. Biar tambah rame.” Sivia menarik atau lebih tepatnya –menggeret- Shilla ke tempatnya tadi.
Alvin yang masih bingung dengan tingkah pacarnya tadi tak lama tersenyum melihat Sivia bersama Shilla, “hoy Shil, lama nggak ketemu.” Alvin mengajak Shilla ‘high-five’.
“alah, bilang aja lo kangen sama gue, Vin. Ngomong – ngomong kalian habis darimana?”
“tempat romantis, Shil.” Ucap Sivia. Pipinya tiba – tiba memerah lagi. sementara Alvin mencubit pipi pacarnya itu gemas.
“oh iya, kalian anniv ya sekarang? Ya ampun! Selamat ya!” seru Shilla. Sivia dan Alvin tersenyum kemudian mengucapkan ‘terima-kasih’ bersamaan.
“lo mau pesan apa, Shil? Biar gue yang traktir” tanya Alvin.
“gue cappucino coffe aja.” Jawab Shilla seadanya. Alvin memanggil seorang pelayan dan memesan kembali pesanan yang Shilla minta.
Shilla masih fokus dengan handphonenya. Sedangkan Alvin masih asyik menatap keluar jendela. Lalu Sivia? Gadis itu hanya mencoba untuk tenang sekarang karna sedari tadi gadis itu terus memikirkan pesanan Alvin-Shilla yang sama.
-
“Shil, gimana kuis lo kemaren? Lancar, ‘kan?” tanya Sivia sambil menyeruput chocolate milkshake yang ia pesan.
“yah... lo tau sendiri gimana guru yang satu itu kalau ngajar. Demi apapun gue rasanya pengen pindah dari sekolah itu.” Shilla memanyunkan bibirnya kesal.
“kalau lo sampe pindah sekolah, jangan harap gue mau ngomong sama lo lagi, Shil.” Ujar Sivia. Hanya bercanda sebenarnya. Tapi itu cukup membuat Shilla tersedak karna kopi-nya.
“yaelah, lo gitu aja langsung ngambek. Lo kira gue anak presiden yang bisa pindah ke sekolah mana aja gue mau? Bisa – bisa gue di sekap dalem kamar sama bokap – nyokap gue.”
“yaelah lo gue ngomong gitu aja langsung keselek kopi.” Celetuk Sivia mengikuti gaya bicara Shilla sebelumnya. Shilla hanya tersenyum kecil melihatnya.
Alvin yang hanya diam sedari tadi akhirnya ikut nimbrung dengan kedua gadis cantik itu. Alvin mengeluarkan beberapa candaannya yang cukup membuat suasana seru diantara ketiganya.
“Shil, kapan lo bakal nyusul kita buat pacaran?” tanya Alvin.
Shilla menatap kesal kearah Alvin, “santai aja kali. Yang pacaran juga gue, kenapa jadi lo yang ngebet?”
Alvin tertawa puas menggoda Shilla yang memasang wajah cemberut andalannya. Selalu begitu, pikir Sivia. Jika Alvin dan Shilla bertemu tidak ada habisnya mereka akan bertengkar. Biasanya Alvin akan menggoda Shilla seperti tadi menyebabkan gadis cantik itu akan marah padanya.
“jodohin sama Chakka aja, Vin.” Timpal Sivia.
“tanpa lo jodohin, gue juga lagi deket sama dia, Vi.” Shilla masih memasang wajah kesalnya. Sementara Alvin dan Sivia memasang wajah ‘bodoh’ mereka. Ckck, pasangan yang serasi, pikir Shilla.
Tanpa mereka sadari bahwa salah satu dari mereka tertawa miris dalam hati.
-
-
-
Sivia dan Alvin saling bergandeng-tangan. Keduanya memasuki wilayah koridor sekolah dan berjalan beriringan. Keduanya mendapat kelas yang berbeda. Alvin yang berada satu tingkat di bawah Sivia. Tapi untungnya mereka mengambil jurusan yang sama. Jadi mereka tidak perlu susah – susah untuk bertemu karna ruangan mereka yang bisa dibilang cukup dekat itu.
Kedua orang menyapa mereka sambil tersenyum hangat, “berdua aja, ikut nimbrung dong.” Shilla menggandeng tangan laki – laki yang ada disebelahnya.
“ekhem, yang baru jadian ya. Traktiran boleh kali.” Goda Sivia.
“selamat ya Chakka, Shilla. Langgeng selalu bro.” Timpal Alvin. Shilla dan Chakka saling berpandangan kemudian mengucapkan terima kasih.
“lo berdua serasi.” Kata Alvin merangkul bahu Sivia.
“ah lo, muji pas lagi ada maunya. Tenang aja, ntar gue traktir.” Chakka memukul bahu Alvin setelah itu tertawa ringan.
Chakka adalah sahabat kecil Alvin. Mereka sering menghabiskan waktu bersama jika Alvin tidak sedang ada kencan dengan Sivia. Tapi, tidak jarang juga Alvin mengajak Chakka untuk ikut bersamanya dan Sivia.
Keempat remaja itu berjalan kekelas mereka masing – masing. Shilla dengan Sivia sementara Chakka dengan Alvin.
“kapan lo di tembak, Shil?”
“pulang dari caffe dia langsung ngajak gue ketemuan, eh nggak taunya dia nembak gue.” Shilla mengingat kejadian 2 hari yang lalu dimana Chakka menembak dia di taman kecil dekat caffe itu.
Sivia tersenyum, “semoga lo langgeng ya.”
-
‘Lo cinta sama dia?’
‘kalau gue nggak cinta, terus untuk apa gue jadiin dia pacar gue?’
‘tapi... tapi apa masih ada gue dihati lo?’
‘itu masa lalu. Lo udah lihat sendiri, ‘kan? Gue bahagia sama dia. Dan gue nggak bakal lepasin dia’
‘tapi lo sama dia kan–‘
‘gue harap lo ngerti.’
‘tapi gue suka sama lo! Dan gue mau kita kaya dulu lagi.’
‘lo nggak salah? Gue udah bilang, ‘kan. Gue cinta sama dia dan gue nggak bakal lepasin dia! Lagian lo udah sama yang lain, ‘kan?’
-
-
-
Sivia merebahkan tubuhnya dikasur. Raut wajah sedih, kecewa dan kesal tercetak di wajah cantiknya. Alvin dengan seenak jidatnya membatalkan acara kencan mereka. Padahal sudah semalaman penuh Sivia mempersiapkan pakaian untuk kencan mereka.
Gadis itu meraih ponsel yang di letakkannya di meja nakas,
From: My Boo
Sayang, aku minta maaf banget ya. Aku janji deh besok kita habisin waktu berdua seharian. Sekarang aku lagi sibuk ngurusin tugas sekolah aku.
Sivia melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Tidak ada niat sama sekali untuk membalas sms pacarnya itu. Dan wajahnya kembali kesal karna ponselnya bergetar lagi. pasti Alvin, pikirnya.
From: My Boo
Aku udah nyuruh Chakka kerumah kamu. Kamu jalan – jalan sama dia dulu aja, nggak apa – apa,  ‘kan sayang? I’m really sorry L
What the... pergi dengan Chakka? Hey! Dirinya tidak mau mencari resiko dibilang ‘perusak hubungan orang’ apalagi Chakka pacar Shilla, sahabatnya.
“dia gila atau gimana sih?” kesal Sivia.
Dan benar saja, Chakka mengirim sms ke Sivia. Menyuruh gadis itu untuk siap – siap karna ia dalam perjalanan kerumah Sivia. Damn! Sivia semakin kesal sekarang.
Dengan malas Sivia melangkah ke kamar mandi. membersihkan dirinya setelah itu berdandan seadanya. Mau cantik atau tidak toh tidak penting baginya sekarang.
From: Chakka
Gue depan rumah lo, cepet gih keluar
“bilang permisi atau assalamu’alaikum bisa kali.” Decih Sivia.
-
Sivia menyambut Chakka dengan wajah masamnya. Laki – laki itu menggunakan jaket denim biru tua dengan celana jins berwarna senada. Sok kece, pikir Sivia.
Vi, anak orang emang kece kali!
Sementara Sivia mengenakan kaos merah dengan celana jins berwarna sama seperti Chakka.
“manyun mulu, senyum biar cantik.” Tanpa ba-bi-bu Chakka menarik Sivia keluar rumah. Laki – laki itu mengenakan helm putih di kepala Sivia.
“naik!” suruh Chakka.
“biasa aja kali ngomongnya kan bisa.”
Sivia naik ke atas motor hitam milik Chakka. Setelahnya mereka melesat entah kemana, keduanya juga tidak tahu
-
“hahahaa!!” gelak tawa Sivia semakin keras mendengar lelucon yang dilontarkan Chakka tanpa henti. Keduanya sama – sama tertawa. Tidak peduli dengan tatapan orang – orang yang aneh pada mereka.
Saat ini keduanya duduk sambil memegang es krim di sebuah taman bermain. Entah karna sudah tidak ada tempat atau bagaimana, akhirnya mereka memutuskan untuk kesini.
“aduh Ka! Udah udah udah, lo bikin gue sakit perut jadinya.” Sivia memegang perutnya yang sedikit perih karna terlalu lama tertawa.
“muka lo manis kalau ketawa, Vi.”
DEG!
Sivia terdiam. Gadis itu bahkan tidak berani menatap kearah Chakka. Buru – buru di tepis fikiran aneh yang menghampiri otaknya. ‘inget Vi, dia pacar sahabat lo. Jangan terlalu ge-er. Mungkin itu pujian biasa.’
“lo di puji bukannya bilang makasi atau muji gue balik gitu.” Chakka menyentil jidat Sivia membuat sang empunya meringis.
“sialan lo! Sakit tau! Pengen banget di puji balik? Ntar yang ada Alvin marah sama gue.” Ujar Sivia. Di sendokkan es krim coklat itu kedalam mulutnya.
Suasana hening. Mereka diam dengan fikiran mereka masing masing. Sivia menatap Chakka lama. Ada satu hal yang mengganjal di fikirannya. “lo nggak sibuk, Ka?” tanya Sivia.
“kalau gue sibuk, terus ngapain gue nemenin lo?” jawab Chakka. Sivia menautkan kedua alisnya.
“bukannya lo ada tugas? Alvin aja nggak bisa nemenin gue kencan karna kerjain tugas bu Clara lo tau sendiri kan sama guru itu.”
Chakka menautkan kedua alisnya.
“kelas gue free kok. Lagian tumben banget Alvin mau ngerjain tugas kampusnya. Lo tau sendiri, ‘kan? Pacar lo paling males namanya ngerjain tugas kampus.” Jelas Chakka.
Fikiran aneh mulai berkecamuk di fikiran Sivia. Jadi, kalau tidak mengerjakan tugas kampus, terus apa? Kalau sakit, pasti Alvin akan memberitahunya. “gue jadi curiga.”
“hah?”
-
JDAR!
"Apaan tuh?" Tanya Cakka mendengar suara keras yang berasal dari  halaman rumah Sivia. Cakka langsung berlari mencari asal suara tersebut, di ikuti Sivia di belakangnya.
Cakka mengedarkan pandangannya ke segala arah di halaman rumah Sivia, berusaha mencari asal suara tersebut. Namun hasilnya nihil. Cakka melirik ke arah Sivia yang menggigit ujung bibir bawahnya penuh ketakutan. Mata Sivia pun sudah berkaca-kaca membuat Cakka menyeritkan dahinya heran. Apakah Sivia terluka?
"Via awasss" Teriak Cakka menarik Sivia kala melihat sebuah batu besar yang ingin menghantam kepala gadis itu. Sivia menunduk takut, lalu menatap Cakka yang sedang berlari kecil ke arah batu yang hampir mengenai Sivia tadi. Selalu seperti ini batin Sivia.
-
Yaa, Sebenarnya kejadian ini sudah tidak asing lagi bagi Sivia. Bagaimana tidak? Jika setiap hari dia selalu saja menerima hal-hal aneh.
Seperti mendapatkan tikus mati yang di bungkus di depan jendela kamarnya. Di takuti dengan suara-suara bising horor yang selalu mengusik tidurnya Dan masih banyak hal aneh lainnya yang di terima Sivia. tak jarang juga itu menyakiti dirinya sendiri.
Cakka terkejut bukan main saat melihat batu penuh bercak darah yang tadi hampir saja mengenai kepala Sivia. Bagaimana jika batu itu benar-benar akan mengenai Sivia? Hiih membayangkannya saja Cakka sudah merinding. Di alihkannya tatapannya ke arah gadis itu, wajahnya pucat pasi dan Oh yaampun ini pertama kalinya Cakka melihat penampilan Sivia yang acak-acakkan.
Siapa yang melakukan ini? Apakah ini sudah sering di alami Sivia? Itulah pertanyaan-pertannyan aneh yang berkecamuk di otak Cakka.
Cakka berlari kecil menghampiri Sivia, memegang pundak gadis itu yang bergetar.
"Vi, lo kenapa?" Tanya Cakka. Tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan gadis cantik ini.
Sivia menggelengkan kepalanya, tiba-tiba bibir  nya sulit mengeluarkan kata-kata dan tubuhnya bergetar hebat membuat Cakka semakin khawatir.
"Via lo kenapa?" Tanya Cakka ---lagi. Dan lagi hanya gelengan dari kepala Sivia yang di dapatkannya. Cakka yang memahami mungkin Sivia tidak ingin berbicara kemudian membawa gadis ini ke dalam rumahnya, dan membatalkan acaranya mengajak Sivia pergi.
-
Sudah 3 hari ini Sivia terbaring lemah tak berdaya di balik selimutnya. Sejak peristiwa 'batu bercak merah' itu Sivia didera depresi. Terang saja, ia sudah cukup sakit hati dan tidak tahan lagi mendapatkan hal-hal yang jauh dari pikirannya.
Sivia sudah berusaha mencari tau siapa di balik semua ini namun hasilnya tetap nihil.
Memikirkan itu membuat kepala Sivia tiba-tiba terasa seperti ditindih beton. Matanya sesekali terpejam. Dan yang Sivia rasakan dunia berjungkir balik tak karuan seperti bermain sirkus menertawakan sakitnya. Darahnya seperti terpusat pada kepala. Sakit bukan main dan perutnya sudah di obok-obok. Mual tak karuan. Yaampun ada apa dengannya??
"Via kamu ga apapakan?" Alvin berteriak, berusaha keras agar gadisnya yang sedang terbaring lemah tak berdaya bisa mendengar suaranya. Sivia tersenyum, dalam keadaan sakitpun dia sangat gembira karna mendapatkan perhatian 'khusus' dari Alvin.
Bisa tidak untuk saat ini Sivia lebih memilih sakit dari pada sehat? Alasannya simple, karna ia senang jika Alvin sudah perhatian seperti ini.  Memang sedikit Norak. Tapi...
"Nggapapa Vin, tenang aja"
Alvin menempelkan tangannya di dahi Sivia "Kamu panas banget" Serunya cemas. Sivia melihat semuanya begitu putih. Putih tanpa rasa. Tanpa dimensi.
"Kamu ga masuk  Vin?" Tanya Sivia pelan. Alvin menggelengkan kepalanya dan mengelus puncak kepala Sivia.
"Bisa gitu aku sekolah sementara kamu kaya orang sekarat gini?" Tanya Alvin lembut, dan itu semakin membuat poin Sivia untuk selalu ingin sakit bertambah.
Sivia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, ditambah lagi seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dirinya.
Tapi bagaimanapun itu dia tidak boleh egois. Dia tidak boleh membuat Alvin sangat mengkhawatirkan dirinya sampai tidak mengikuti pelajaran seperti biasanya.

"Makasih yaa" Ucap Sivia tersenyum pada Alvin. Alvin membalasnya. Ada getar hati yang membuat jalinan mereka semakin dekat, semakin aneh dan semakin susah di diskripsikan.
"Masih sakit? Sekarang kamu minum obatnya aja dulu. Abis itu istirahat. Biar cepet sembuh" Khotbah Alvin seperti ibu-ibu. Sivia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Istirahat mulu. Capek tau" Ketusnya membuat Alvin terkekeh geli. Alvin menarik hidung Sivia gemas membuatnya mau tidak mau mendapatkan pelototan dari sang gadis.
"Udah sih sipit mah sipit aja" Ledek Alvin
"Dih berasa belo gtu?" Ucap Sivia menantang. Pasalnya Alvin tidak tahu diri banget. Dia juga sipit tapi ngatain orang sipit. Dasar!
"Biarin. Aku sipit tapi tajam. Ga kaya kamu sipit tapi buta" Ledeknya lagi. Sivia menyeritkan dahinya, heran dan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Alvin barusan.
"Maksudnya Vin?" Tanya Sivia. Alvin menggeleng cepat.
-
3 hari berlalu kini keadaan Sivia makin membaik ditambah lagi penyemangatnya sang pujaan hati Alvin. Namun akhir-akhir ini Alvin sangat sulit untuk dihubungi Sivia mencoba mengerti mungkin Alvin sedang sibuk. Terroran yang sering menimpa Sivia akhir – akhir ini sudah jarang sekali. Syukurlah Sivia dapat bernafas lega
Tiin-
Suara klakson dari luar rumah Sivia.
 Segera Sivia beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu. Dari balik pintu terlihat laki-laki tampan berpostur tinggi tersenyum manis kearahnya Sivia membalasnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah ayunya
Dia Cakka sahabat Alvin sekaligus orang yang suka menemani Sivia jika Alvin sedang tidak dapat diganggu. Cakka hadir karena suruhan Alvin untuk menemaninya.
“Sore Vi” Sapa Cakka. Cakka terlihat tampan dengan jaket merah dan celana panjang yang membalut tubuhnya.
“Sore Cak. Tunggu sebentar ya gue mau ngambil tas dulu”balas Sivia. Cakka hanya mengacungkan jempol
“Vi kalau naek motor ga papa kan. Soalnya gue lagi males pake mobil”Tanya cakka.
“ya gapapa kali. Lo piker gue cewek apa pake motor aja ga mau”balas sivia dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir manisnya. Cakka tertawa sambil mengacak rambut Sivia gemas
Sivia yang mendapat perlakuan seperti itu hanya memanyunkan bibirnya tapi lama kelamaan Sivia menunduk dia teringat dengan Alvin sang kekasih yang selalu memperlakukannya seperti itu namun mengingat kesibukan Alvin. Huh… segera saja Sivia mencegah pikiran negative yang memasuki pikirannya. Dia harus berpikiran positif
Melihat itu Cakka menjadi heran. Cakka melambaikan tanggannya di depan muka Sivia.
“Vi lo kenapa?” Tanya Cakka
“hah.. enggak yaudah yuk kita jalan ntar keburu sore”Ucap Sivia sambil menaiki motor Cakka
“yaudah sok atuh neng. Makan dulu aja yuk laper nih gue belum sempet makan siang hehe”Cengir Cakka mengusap perutnya.
Sivia terkekeh geli melihatnya. “dasar lo ntar kalo lo gak makan kan sakit kasian tau Shillanya” Balas Sivia. Mengingat Shilla, Sivia berpikiran sesuatu
“Eh Cak emang Shilla gak marah lo jalan sama gue gini?”Tanya Sivia. Cakka melihat Sivia melalui kaca spion. “ya gak lah vi dia mah ngerti gue kok” Balas Cakka
-
-
“Vin, aku masih sayang sama kamu”tangis seseorang.
“Tapi shil aku harus gimana? Aku gak mungkin ninggalin Sivia gitu aja”Balas Alvin. Shilla yang tertunduk tadi langsung menatap Alvin dengan tatapan sendu. Alvin memegang tangan Shilla lembut
“Shilla. Sebenernya aku juga masih sayang sama kamu. Tapi gimana? Aku gak mungkin nentang mama shil”Ucap Alvin lembut. Shilla hanya menangis dan tak mampu memendung air mata yang sejak tadi bersarang dimatanya
“Kamu tau aku udah ngejalanin berbagai cara biar aku bisa sama kamu lagi vin. Aku nerror Sivia biar dia mau ngejauhin kamu. Aku gak bisa lepas dari kamu vin” Ucap Shilla. Mendengar itu Alvin jelas sangat kaget dan syok sama apa yang udah dilakukan Shilla terhadap Sivia.
Tangan Alvin terulur dan segera memeluk Shilla. Mereka berdua ditonton banyak orang dengan apa yang mereka lakukan. Jelas mereka heran karena mereka berpelukan dan ceweknya menangis disebuah café mungkin mereka berpikir mereka sedang dilanda masalah. Jelas masalah besar
“Maafin aku shill.oke detik ini aku bakal selalu ada buat kamu dan aku akan berjuang mertahanin kamu dan kita minta restu dari mama aku”Ucap Alvin. Mendengar itu Shilla menangis bahagia karena perjuangannya tidak sia-sia. Kita lihat saja nanti
-
-
Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulit Sivia. Berkali-kali ia membasuh keringat yang berada di keningnya lalu menuruni pipinya, hari itu begitu panas, hanya sesekali angin mendesah perlahan. Sesekali di teguknya air mineral yang sejak tadi ia genggam. Perasaannya tidak enak, ada firasat buruk yang merasuk masuk di dadanya.
Sivia menghela napas sebentar untuk menetralisikan otaknya yang entah memusingkan apa. Ia berjalan santai memasuki cafe yang biasa ia kunjungi.
Tiga sentuhan kecil yang berarti besar. Sandaran bahu yang romantis, pelukan yang manis, dan kecupan yang penuh magis.
Sivia ternganga melihat itu semua. Ada rasa sakit yang pelan-pelan tergores di dadanya. Semakin dalam, semakin panjang, semakin perih. Tak mampu untuk di jelaskan, kecemasan yang sama dan selalu berulang. Berkali-kali Sivia menatap dua orang yang ada di depannya. Saling menggenggam tangan,menatap, berpelukan.
Ia menatap 2 orang itu lagi. Berharap menemukan jawaban dari hatinya yang mulai membuncah dan menggema dengan liarnya. Dan sampai menit demi menit berlalu pun, jawaban masih belum ia dapatkan. Ia hanya mampu menerka-nerka.
Dan dalam terkaannya. Shilla menyukai Alvin. Kekasihnya sekaligus cinta pertamanya.
sejahat itukah Shilla?
Siapa yang harus disalahkan?
Sivia tidak sedang berhalusinasi. Mungkin dia memang suka berhalusinasi, tapi tidak pernah sama sekali ia menghalusinasikan keadaan ini. Sivia terisak oleh banyak pertanyaan yang tak terjawab. Wajah Shilla dan Alvin bergantian bergulat dalam otaknya juga hatinya. Lelah. Banyak teka-teki yang rasa-rasanya sulit untuk dipecahkan. Sivia merasa terbodohi. Melihat peristiwa ini, Sivia menciut, mematung, membisu. Tubuhnya seperti mengecil. Ia seperti berhenti bernapas untuk beberapa detik. Tak percaya pada peristiwa yang benar-benar menyayat hati ini. Inilah jawaban atas kecemasannya, kebingungannya, segalanya.
Maka dengan tubuh yang bergetar ia keluar dari tempat yang mungkin akan menjadi tempat terkutuk di hidupnya. Pergi dengan kepingan hati yang telah hancur karna 2 orang yang berarti dihidupnya.
 “Loh Vi lo kok masih disini kan udah gue suruh masuk tadi”Heran Cakka. Memang tadi Cakka menyuruh Sivia untuk duluan masuk ke Café karna dirinya sedang memarkirkan motornya.
Yang ditanya malah lari dengan air mata yang membanjiri pipinya. Cakka yang kaget karna Sivia berlari begitu saja karna penasaran Cakka masuk ke Café dan melihat apa yang dilihat Sivia
. “astaga vin lo masih aja ngarep sama dia jelas-jelas disini ada wanita yang udah setia sama lo”pikir Cakka
Sivia berjalan menulusuri trotoar dia menangis histeris. Dia menjambak rambutnya sendiri dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
-
-
Besoknya Sivia berangkat sekolah menggunakan mobilnya yang biasanya ia dijemput Alvin. Tapi kali ini dia menolaknya. Sivia masih sakit dengan apa yang dilihatnya kemarin matanya sembab itu menandakan bahwa dia menangis semalaman. Tadi malam pun Sivia tidak dapat menutup matanya. Namun syukur ada Cakka yang bersedia mendengar curhatan dan menghiburnya meskipun melalui telepon.
Sivia berpikir bahwa Cakka pasti merasakan hal yang sama dengannya. Pagi ini Sivia ingin mendapatkan kejelasan dari apa yang dilihatnya kemarin.
Terlihat diujung koridor terlihat wanita cantik berjalan menghampiri Sivia. Dia shilla entah Shilla masih dianggap sahabat atau tidak oleh Sivia.
“Hai Vi. Lo kenapa mata lo kenapa sembab gitu” Tanya Shilla sambil memegang pipi Sivia.
Sivia menatap benci Shilla terang saja langsung ditepisnya tangan Shilla yang berada dipipinya. Shilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatap aneh Sivia. “Loh Vi, lo kenapa sih?”Tanya Shilla

“LO GAK USAH SOK MUNA”tunjuk Sivia tepat di depan wajah Shilla. Shilla kaget ditepisnya halus tangan sivia.
“Lo mau ngerebut Alvin dari gue? HAH?”marah Sivia
“ma.. maksud lo apa? Gue gak ngerti deh”Balas Shilla.
“Alah gak usah sok suci lo. Lo kemaren ngapain berdua sama Alvin di Café hah?”Tanya Sivia. Dia menatap Shilla penuh kebencian ditambah dengan sakit yang bersarang di dadanya. Shilla mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan Sivia. Ternyata kemarin Sivia melihat itu semua. Shilla mengeluarkan senyum evilnya
“Oh jadi lo liat semuanya? Yang harusnya jadi perebut itu lo”tunjuk balik Shilla. Syukur saat mereka berantem ini keadaan koridor sekolah sedang sepi karna memang tempat ini sangat jarang dilalui oleh siswa/siswi tempat inilah yang selalu dikunjungi dua sahabatnya ini karena tempat ini langsung menghadap taman yang membuat Suasana sejuk. Ralat mungkin sekarang panas karna dua mantan sahabat ini maybe.
”Ke.. kenapa gue?”Balas Sivia.
“Iya elo. Sebelum Alvin sama lo dia pernah punya hubungan sama gue tapi karna mama lo minta ke mamanya Alvin buat jodohin lo sama Alvin. Hubungan kita jadi selesai”Balas Shilla getir.
“Tapi kan gue gak tau apa-apa. Kenapa kalian ngelibatin gue hah?”Balas Sivia ikut bergetar. Terlihat dari dua orang wanita ini sama-sama memiliki luka yang tergores.
“Ohya. Jangan lo pikir gue sahabatan sama lo karna gue mau. Ya emang awalnya gue mau lupain dendam gue ini dan mulai suka sama Cakka. Tapi apa?Cakka sukanya sama lo vi,kenapa sih semua orang selalu berpihak sama lo hah?gue sakit”Ucap Shilla keras. Sivia menutup telinganya kencang sambil menangis histeris dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
“Kalo lo gak percaya lo bisa Tanya sama Alvin. Kalo sekarang kita sama-sama mencintai yaudah lo say good bye aja sama hubungan basi lo itu”Ucap Shilla berlalu pergi meninggalkan Sivia yang menangis terjatuh di lantai.
-
-
Siang ini Sivia menyuruh Alvin untuk datang kerumahnya Sivia juga perlu penjelasan dari Alvin.
“Jadi kamu udah denger semua dari Shilla? Iya emang aku dan dia saling mencintai. Soal hubungan kita dan semua rasa sayang aku ke kamu itu Cuma pengen ngebahagiain mama aku aja”
Kata-kata itu terus tergiang dalam pikiran Sivia dia tidak menyangka dengan apa yang ia alami ternyata kata-kata manis dan kejutan kecil untuknya itu hanya palsu pemberian Alvin.
ARRGH!
Sivia melempar semua barang yang ada didepannya. Sudah seminggu sejak kejadian itu Sivia tidak pernah masuk sekolah. Tentang Cakka dan Shilla ternyata itu hanya bagian rencana Shilla untuk membuat Alvin cemburu. Sivia marah tentang pengakuan Cakka untuknya tentang hal itu. Namun berangsur-angsur ia mulai memaafkannya
Untuk Shilla dan Alvin Sivia belum berpikir untuk memaafkan mereka meski mereka belum meminta maaf. Hari-hari Sivia mulai diisi oleh Cakka namun hal itu tidak menghapus tentang Alvin dalam benak dan pikirannya.
-
-
“Sayang aa dong”Ucap Shilla. Saat ini Shilla dan Alvin sedang berada di sebuah Café untuk makan siang.
“Udah Sivia sayang aku kenyang”Ucap Alvin yang sedang memainkan handphonenya. Shilla kaget ia menggigit bibir bawahnya apa ia tidak salah dengar Alvin menyebut nama SIVIA bukan namanya. Shilla takut kalau rasa cinta Alvin sudah berubah bukan lagi untuknya.
“apa vin Sivia?”Tanya Shilla lirih. Alvin menoleh kearah Shilla. “Hah? Maksud aku Shilla sayang”Balas Alvin ia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
“Sayang aku mau ke seberang jalan dulu ya. Aku mau beliin sesuatu buat kamu”Ucap Alvin. Shilla hanya tersenyum tipis lalu mengangguki ucapan Alvin
BRAKS!
“Alviiinn…”
-
-
Dua orang itu Cakka dan Sivia berlari kearah ruang rawat seseorang. Sivia mendengus kesal disaat seperti ini dia harus menggunakan sepatu berhak pendek tapi sama saja menyulitkannya berjalan sampai akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat.
 “gimana keadaan Alvin shil?”Sivia. Shilla menangis dan segera memeluk Sivia. Sivia kaget jujur saja dia masih belum memaafkan Shilla dengan apa yang ia lakukan padanya. Namun dalam keadaan begini ia mencoba melupakannya.
Shilla menyuruh Sivia untuk masuk kedalam melihat keadaan Alvin. Awalnya Sivia ragu namun Sivia mulai mebuka knop pintu dan menutupnya kembali. Di dalam Sivia heran mengapa tidak ada seseorang pun disana. Sivia merasa kalau dia sedang dibohongi
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sivia kenal dengan wangi orang ini dan Sivia yakin sekali. Orang itu menyembunyikan wajahnya di sela-sela rambut Sivia. Sivia mulai membalikan badannya
Ia kaget dan sontak memeluk orang itu yang ternyata Alvin. Sivia menangis sekaligus lega dengan keadaan Alvin namun ada perban kecil yang menghiasi kepalanya.
“Aku seneng kamu ga papa. Kalau boleh aku bakal menjadi orang yang egois. Aku bakalan merjuangin cinta aku sama kamu meskipun aku harus dibilang orang jahat sekalipun”Sivia. Alvin tersenyum mendengar kata-kata Sivia.Alvin melepas pelukannya dan menatap Sivia.
“Kamu ga boleh jadi orang jahat karna kamu adalah malaikatku. Aku milikmu dan kamu milikku”Sivia tersenyum tapi Sivia masih tidak yakin. Alvin yang mengerti mulai menjelaskan
“Aku tau pasti kamu mau nanya kenapa sama shilla kan?. Emang bener aku sama dia pernah punya hubungan tapi mama aku nentang itu semua karna asal-usul keluarga Shilla yang gak jelas. Kakaknya buroanan dan papanya gak tau dimana. Orang tuanya bercerai”Jelas Alvin
Sivia tersentak kaget. Apakah benar itu semua? Sivia merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Shilla saat ini. “Tadi juga Shilla udah ditangkep sama polisi ternyata dia juga terlibat kasus pembunuhan yang dilakukan kakaknya. Sebenernya aku udah lama tau tapi bodohnya aku menutupinya”Lanjut Alvin.
“Apapun yang terjadi sekarang kita jadiin pelajaran. Intinya aku gak mau kehilangan kamu vin”Ucap Sivia memeluk Alvin. Diam-diam Alvin memasang Kalung yang dia beli di leher manis Sivia. Sivia kaget sekaligus tersenyum bahagia.
“Thanks Sob berkat lo gue tau pilihan gue yang tepat. Lo emang sahabat terbaik gue”Alvin menepuk bahu Cakka. Cakka menggangguk dan mengacungkan jempol memang Cakka dan Alvin sempat bertemu dan Cakka memaksa Alvin untuk memilih dua diantara wanita yang benar-benar dicintainya hingga Alvin menemukannya cintanya yang asli
“Pilih cinta sesuai kata hati lo bukan karna ego lo. Cari tau siapakah dia?”-Cakka
Happy Anniversary Alvia


[END]

Sabtu, 05 Oktober 2013

Kesedihan Yang Tak Berarti


Hari demi hari seiring waktu ku melangkah lebih jauh dan menjadi seorang yang terbaik namun dia sosok lelaki yang telah membangkitkan semangatku, dia adalah Alvin jonathan. Sosok lelaki yang sangat misterius bahkan satu antera sekolah ini cukup mengenal nama dan sahabat dekatnya Alyssa. Mungkin hanya orang tertentu yang dapat mengenal mereka sosok 2 sahabat yang kini kemunculannya hanya dalam bidang extra kulikuler. Selain itu mereka dikenal tidak perduli terhadap orang disekelilingnya tapi apa itu berlaku untuk diriku.

Sivia, aku adalah teman mereka semasa dulu namun kecelakaan itu yang membuat kami terpisah jauh setelah aku dinyatakan tak dapat menggunakan kaki ku dengan sempurna mereka menjauh entah kemana dan orang tuaku pun bersikeras akan membuktikan bahwa anaknya masih seperti dulu dengan itu kami pindah kesalah satu negara yaitu paris. 2 tahun aku disana segala pengobatan telah kulalui dan aku berhasil terbebas dari penyakit ini kaki ku yang dulu hanya diam kini sudah bisa berjalan seperti dulu dan selama ini uang ayahku habis karena mengobati diriku hampir dari setengah gajinya perbulan dibayarkan untuk terapy kakiku dan seperempatnya untuk biaya homeschoolingku. Jujur aku tak kuat jika harus sekolah sama dengan manusia yang jelas jelas berbeda denganku selain itu restaurant milik ibuku diparis telah mengalami kebangkrutan karena salah satu karyawannya menipunya dan duit ibuku sudah cukup terkuras dengan Biaya sekolah kakak ku, Irva yang mengambil sekolah di spore. Dia memang jarang pulang kerumah karena mungkin dia benci melihat adiknya sendiri. Ya entah mengapa sejak kakiku jadi begini Irva cuek denganku padahal dulu dia adalah salah satu orang terdekatku. Dan ini hari pertamaku kembali ke Indonesia, aku dimasukan kesalah satu sekolah yang ternama dan Irva dimasukan ke universitas ternama juga. Ayah dan ibu memang adil, ya walaupun Irva tetap tak mau berbagi kamar sampai kakiku benarbenar pulih tak seperti sekarang yang masih pincang .Tuhan semoga kau segera melancarkan pengobatanku di Indonesia.

Dihari pertamaku, kulihat disudut sekolah ada seorang siswi yang seperti menunggu seseorang dan setelah kulihat lihat dia adalah Alyssa aku segera berlari menuju kearah siswi itu namun ".................." jdar bagaikan disambar petir rasanya diriku terjatuh dan kakiku seperti kaku apaini ah sudahlah tuhan tetapi Alyssa aku berniat mengejarnya dan tuhan masih dipihakku dia mempertemukan diriku dengam Alyssa namun,
"HoOk hok hok.... Alyssa" panggilku.
"PERGI" usirnya.
"tapi Al aku ak.........."
"KAMU GADIS YANG TEGA NINGGALIN SAHABATNYA ITUKAN! LICIK KAMU! KAKIMU KAKU TUH LAPOR MAMI DULU SANA"

Perlahan butiran butiran air menetes diwajahku.Bentakan Alyssa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan tanpa dosa. Tuhan jika kau dipihakku tolong maafkan diriku tuhan. Perlahan kejadian itu berlalu dan waktu baru telah tiba kakiku yang sedari tadi tak bisa digerakan dan pincang sekarang sudah cukup baikan justru Kini aku dapat berjalan seperti dahulu. Kulangkahkan kakiku dan kucoba untuk berbicara didepan kelas.
"permisi..."ucapku
Seisi kelas  sepertinya mengalihkan pandangannnya kepadaku kecuali sosok-sosok anak yang sedari tadi sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Guru itu membuyarkan lamunanku.
"Hay, aku Zahra. Kamu adiknya Irva ya ayo masuk" ucap guru tersebut.
Akupun menjawab pertanyaan itu dengan cukup jelas
"em iya... i am Sivia bu guru"
"hohho oke you is smart child! oke every body please say hai to..em your name?"ucap mrs.Zahra dan 2 anak yang sedari tadi cuek mulai bertingkah dengan muka liciknya mereka berkata sambil melambaikan kedua tangannya
"HAY YOUR NAME" dan beberapa murid tertawa namun mrs. Zahra segera melerai tawaan tersebut dan aku mulai bersuara
"HALOOO MY NAME IS SIVIA NOT YOUR NAME AND YOU KNOW I WANT SAY TO PEOPLE AT THE CLASS IS IT YOU ARE LOL"ucapku.

Nampaknya banyak murid terlena dengan kalimat itu dan turut bertepuk tangan "kelas yang menarik" ucapku membatin. Lalu mrs. Zahra mempersilahkan diriku untuk duduk.dan hari ini sekolah selesai kudapati kak Irva ada didepan sekolah dengan mobilnya dan itu Alvin mungkin aku dapat akur dengan dia jika dia akur dengan kakakku.

"helo, kak Irva i am so happy for today i want to hug you" ucapku girang.
Tampaknya lelaki itu menoleh dan seperti ingin memelukku lalu kucoba balas itu mendekat semakin mendekat dan kini dekat lagi dan hup tangannya seperti menangkap sesuatu dan,

"NORAK LO " lalu dia pergi.
Aku segera berlari memasuki mobil Irva namun dengan sigap dia segera pergi sebelum kumasuk kedalam mobil itu dan oh tuhan aku lupa membawa iphoneku bagaimana aku pulang aku mencoba menunggu dihalte depan sekolah namun tak ada kendaraan yang berhenti muncul. Niat iseng dihatiku sepertinya tadi Alvin belum pulang. Kakiku bergegas kembali kesekolah ternyata Alvin baru keluar 14 menit yang lalu. Lalu kumendengar suara tangisan kuberlari mencari dimana tangisan itu dan kudapati Alyssa dengan rambutnya yang rontok, hidungnya yang mengeluarkan darah, dan matanya yang membengkak kudekati dia namun sekejap mata Alyssa tertutup dan aku segera memanggil satpam kami membawamya kerumah sakit lewat handphone satpam itu. Aku menghubungi ayah ibuku. Kulihat mereka datang ibu memelukku dan ayah segera mengurusi administrasi dan beberapa detik Alvin dan Irva datang. Irva duduk diruang tunggu dan Alvin segera masuk keruang Alyssa diperiksa. Tak lama kemudian Alvin keluar dengan wajah merahnya,

"LO APAIN ALYSSA.APA SALAH DIA?" ucap Alvin dengan keras.
Kumencoba menjelaskan dengan terbata bata karena sedari tadi aku terus menangis. Untuk membuktikan hal itu ayahku dan kakakku kak Irva pergi kesekolah untuk mengambil rekaman cctv dan saat menungggu cctv Alyssa sudah disiapkan untuk dimakamkan.

"nak Alvin,orang tuanya Alyssa kemana to?" tanya ibuku.
"papa Alyssa mati dipenjara, dan ibunya stres sehingga ditawat dispore dan 1 tahun lalu ibunya meninggal dan bulan ini -Alyssa diputuskan oleh kekasihnya rio tante, dan Alyssa terpukul karena anak tante yang norak ini pergi ninggalin kita" ucap Alvin datar.
"oalah terus kalian kenapa bisa benci sama Sivia?" tanya ibuku lagi sepertinya dia ingin mengupas misteri ini.
"Saya sendiri waktu dulu hanya maksud bercanda tante tapi gatau Alyssa malah tertekan. Selama Sivia diparis saya homeschooling tante karena saya ga mampu untuk sekolah tanpa mereka berdua dan selama itu saya tak pernah main dengan anakanak lain bahkan liburan keluarpun saya hanya sekalisekali ikut" ucap Alvin.
"nak Alyssa?"
"Alyssa sibuk sama mamanya tan dan dia divonis kanker lalu dia sempat hampir dijual oleh pacarnya  tante" ucap Alvin.
"oalah gitu. Ayo baikan ama via kan masalahnya udah clear"
"GABISA ITU GASEMUDAH PENDERITAAN SAYA DAN ALYSSA”

Ibuku diam butiran itu kembali menghiasi wajahku dan tibatiba ayah dan Irva membawa rekaman itu aku menunduk kupejamkan mataku. Terdengar suara mereka mengaduh gaduh dan mataku kini terbuka kulihat disekelilingku ada Alvin yang terus menatapku, Irva yang terus memegangi tanganku, dan ibu yang mengusut ngusut bahu Irva agar menenangkannya, dan dimana ayah kulihat ayah mengurusi jenazah Alyssa. Kubuka mulutku seolah ingin bicara tetapi

"Via..maafin Irva Vi Irva dulu malu punya adek kayak Via yang gabisa jalan. Waktu Irva di Spore Irva sengaja supaya temen Irva gatau sama kamu Vi. Dan waktu Irva disekolahmu Irva sengaja kesana menemui Zahra dan dia cerita banyak tentangmu disekolah dan Alvin -dia hanya menanyakan kabarmu hanya kabarmu Vi, maafin kakak ya Vi sekarang kamu boleh sekamar sama kakak Vi" ucap nya dan menangis.

"Via sayang..ibu tau apapun yang terjadi segala pengobatan apapun itu gak akan bikin kaki kamu berfungsi dengan baik sayang.dan ini akhir semuanya Vi ibu bangga punya anak kayak kamu" ucap ibu.

"Via aku Alvin, Alvin yang dulu Vi maafin aku ya, maaf juga aku gajujur sama kamu. Aku cinta kamu Vi" ucap Alvin dan mengecup dahiku sedari kejadian itu aku terlelap lagi.
Sekarang aku tak tau aku sedang tidur sementara atau selamanya dan tuhan berpihak kepadaku aku sadar aku hidup dan ini hari penantianku dimana kami akan menguburkan jenazah Alyssa. Alyssa tenang disana,dan hatikupun tenang mempunyai hidup yang lengkap.



Ketahuilah ..
Tuhan itu adil
Jika kebahagiaan tak kunjung datang padamu
Cobalah ubah hidupmu dan bersabar dengan itu kebahagiaan akan datang dengan kesedihan yang tak ternilai dengan kebahagian yang jauh lebih berarti



Regards : Indah Nursafa

Minggu, 07 Juli 2013

Love and Friends Only (Sekuel Berteman Saja)


Title : Love and Friends Only
Author : Tatang Heriana
Genre : Romance, Friendship
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
Twitter : @guetaher_


Bandung, Juli 2004.


Mentari tersenyum, sinar terangnya menenggelamkan garis oranye yang melintang di ufuk timur. Cerah. Langit biru belum setitik pun ternodai oleh gumpalan-gumpalan hitam yang entah dari mana rimbanya. Udara begitu sejuk. Mungkin memang belum terkontaminasi oleh asap kendaraan bermotor. Dan angin begitu lembut membelai kulit serta bunga-bunga yang baru bermekaran tersebut ikut bergoyang apik di tepian jalan. Belum lagi jalanan yang basah akibat guyuran hujan semalam juga memberikan sensasi tersendiri di pagi yang sangat indah ini.

Pukul 07.15 WIB. Seorang cewek remaja berseragam putih abu-abu begitu santai menikmati perjalanannya menuju sekolah di hari pertama ini. Wajahnya ceria. Sesekali ia bernyanyi pelan mengikuti alunan lagu yang didengarnya melalu earphone.
“Biarkan cinta hidup sekali ini saja…” lantunan suaranya yang indah menggema bersamaan dengan selesainya lagu tersebut. Cewek itu berhenti sejenak, tersenyum simpul, dan kembali melanjutkan langkahnya. Di sisi lain sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan yang lumayanlebih terkesan cepat.
“Eh, woy!!! Biasa aja dong kalau naik motor!” genangan air hujan yang berkubang di pinggir jalan seketika mengenai rok si cewek saat motor tesebut dengan cepatnya melintas. Ia mencibir kesal.
“Jadi kotor kan rok gue? Pagi-pagi udah kena sial,” ia berjongkok berusaha membersihkan roknya.
“Eh, sori ya gue gak sengaja. Soalnya tadi gue buru-buru banget. Sori, ya?” ucap seseorang yang baru saja turun dari motor Ninja berwarna merah tua itu.
“Sori aja gak cukup, kali. Lihat nih rok gue kotor! Loe mau tanggung jawab?!” ketus si cewek.
“Bentar deh, gue kayak pernah lihat loe, ya? Loe Via, kan?” tebak si cowok setelah cukup lama meneliti wajah si cewek yang baru saja terkena percikan air olehnya. Cewek itu juga ikutan meneliti wajah si cowok, berusaha mengingat-ingat apakah ia juga kenal seperti si cowok mengenali dirinya.
“Alvin?! Astaga, loe tambah jangkung aja, Vin?”
“Loe ke mana aja, Vi? Gimana kabarnya?” tanya Alvin dengan mengulurkan tangannya.

Ya, merekaVia dan Alvin. Teman SMP dulu yang sudah sangat lama tidak pernah jumpa setelah mereka lulus sekolah. Apalagi sebelumnya mereka tidak sama sekali saling kontak satu sama lain. Jadi tidak tau kabar dan di mana mereka melanjutkan sekolah saat ini. Sekarang, Via, menjadi siswi SMA Padma sekaligus menjabat sebagai ketua OSIS di sana. Sedangkan Alvin bersekolah di SMA Nusantara yang cukup dibilang jauh jaraknya antara kedua sekolah tesebut. Dan akhirnya mereka dipertemukan kembali di hari pertama di tahun ajaran yang baru.
“Oh, jadi selama ini loe sekolah di sini, Vi?” Alvin memberhentikan motornya tepat di depan gerbang sekolah Via. Via mengangguk.
“Iya, ini sekolah gue sekarang. Anyway, makasih ya udah mau kasih tebengan.”
“Gak masalah, anggap aja ini sebagai tanda minta maaf gue soal tadi.” ucap Alvin ramah. Via melihat roknya sekejap, lalu mengangkat bahunya pelan.
“Tidak terlalu kotor, kok. Oh iya, gue masuk duluan ya, Vin?” kata Via semangat.
“Via, tunggu!”
“Iya?”
“Nomor handphone loe?” pinta Alvin canggung. Mungkin Alvin merasa akan lebih mudah lagi berkomunikasi dengan Via melalu telepon ataupun sms.
“Hmm… catat, ya?” balas Via yang kemudian mengeja digit demi digit nomor handphonenya.
“Makasih ya, Vi!”
“Kembali kasih,”
“Gue berangkat, ya?” pamit Alvin.
“Iya, hati-hati di jalan, Vin!” Alvin menyalakan mesin motor dan mengacungkan jempol ke arah Via. Via tersenyum membalasnya.

***


“Hmm… Pris?” Via membuka suara di tengah-tengah kesibukannya menyantap siomay yang sejak dulu menjadi salah satu makanan favoritnya bersama Prissysahabat karibnya.
“Iya. Kenapa, Vi?” respon Prissy kemudian. Tangannya menyambar jus jeruk yang tak jauh dari piring siomaynya.
“Loe masih inget gak sama temen SMP kita yang namanya Alvin?” Prissy menerawang.
“Alvin? Hmm… bentar, gue inget-inget dulu.”
“Masa loe lupa sih, Pris?” timpal Via dan kembali menyantap siomay miliknya yang hampir habis.
“Oh iya, gue inget sekarang! Yang waktu itu pernah nembak loe, kan?” tebak Prissy menggoda. “Emangnya kenapa sama Alvin?”
“Nggak apa-apa, sih. Cuman gue tadi nebeng ke sekolah sama dia.” jelas Via datar. Prissy membulatkan mulutnya.
“Kok bisa, sih? Ketemu di mana?”
“Tadi pagi gue ketemu dia di jalan, itu juga gara-gara rok gue kecipratan air sama motornya dia.” jelas Via seraya mengambil selembar uang limapuluh ribu di sakunya. Ia membayar makanan yang ia santap bareng Prissy.
“Tambah cakep nggak tuh anak, Vi? Hayo, kasih tau dong!” paksa Prissy antusias. Via memutar bola matanya.
“Ayo, ah! Nanti gue ceritain di kelas aja.” balas Via setelah beberapa detik menerima uang kembalian.
“Ah, gak asyik loe, Vi!” timpal Prissy dengan mengejar Via yang sudah pergi duluan.

SMA Padma. Sebuah sekolah elite yang sekarang menjadi tempat Via dan Prissy serta teman-teman mereka lainnya mengemban pendidikan. Di mana dulu SMA Padma ini merupakan salah satu sekolah yang mereka berdua idam-idamkan jika lulus SMP nanti. Sama, selalu saja mereka memiliki selera yang sama. Bagaimana tidak, sejak Play Group sampai sekarang Via dan Prissy bersekolah di tempat yang sama. Bahkan ajaibnya, mereka selalu satu kelas. Apa gak bosan? Entahlah. Yang jelas mereka selalu kompak di manapun dan kapanpun mereka berada. Mereka juga saling menutupi kekurangan satu sama lain. Tidak pernah terlihat bermusuhan, dan kalaupun ada masalah pasti mereka akan bicara baik-baik.

Hari ini, di SMA Padma sedang mengadakan MOS untuk siswa-siswi kelas IX yang sudah lulus SMP. Suatu kegiatan pengenalan diri terhadap lingkungan sekolah yang baru itu merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan di berbagai sekolah di Indonesia. Bahkan banyak juga yang memanfaatkan MOS itu menjadi ajang pembalas dendaman para anggota OSIS untuk memperbudak anak asuhannya sebagaimana ia diperlakukan sama seperti yang dilakukan anggota OSIS sebelumnya. Parah memang. Tapi tidak dengan Via dkk. Selaku ketua dan panitia OSIS, Via dan Prissy cukup dibilang ramah sama semua siswa baru. Mereka berhasil menghilangkan anggapan semua anak bahwa anak OSIS bukanlah orang-orang yang supergalak dan ditakuti. Melainkan OSIS itu adalah teladan bagi semua siswa-siswi di sekolah. Selain itu, di hari pertama ini mereka memimpin MOS, mereka sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari mengenalkan berbagai sarana yang ada di SMA Padma, memperkenalkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, mengadakan permainan serta mengabulkan permintaan peserta MOS untuk tanda tangan dan sebagainya.
“Kak Via, maaf ganggu sebentar.” ucap salah satu peserta MOS saat Via baru saja keluar dari Aula.
“Iya, kenapa De?” Via tersenyum ramah.
“Kenalin Kak, aku Difa dari gugus A. Aku boleh minta tanda tangan nggak, Kak?” pintanya sangat sopan.
“Oh, boleh!” Via langsung mengambil bolpoin yang disuguhkan Difa. “Terus apalagi?” lanjutnya.
“Boleh minta foto?” Via mengernyitkan dahinya heran.
“Suruh siapa kamu bawa handphone? Peserta MOS kan dilarang bawa handphone!” tegas Via.
“Tapi kan ini bukan punya aku, Kak.” protes Difa santai.
“Terus punya siapa? Punya orang tua kamu? Tetep aja gak boleh bawa handphone ke sekolah!” tukasnya sangat tegas.
“Tapi beneran ini bukan punya aku, Kak. Handphone ini punya kakak yang di sana. Aku dihukum suruh minta foto Kakak.” jelas Difa seraya menunjuk salah seorang dari gerombolan anak OSIS yang sedang ketawa-ketiwi. Dasar Cakka! Masih sempet-sempetnya ngehukum anak buat minta foto! umpat Via sambil menggeleng.
“Difa, bilang sama kakak yang di sana ya, kalau di SMA Padma ini nggak ada yang namanya hukuman buat minta foto. Cepet, gih!” suruh Via sedikit berbisik.
“Tapi kalau nanti aku dihukum lagi gimana dong, Kak?” Difa merengut.
“Gak bakalan! Percaya deh sama Kakak. Kalaupun nanti kamu dihukum sama dia, Kak Via yang akan hukum dia, ngerti?”
“Janji, ya?” Difa mengacungkan kelingkingnya.
“Janji! Udah sana cepetan.”
“Baik, Kak! Makasih ya Kakak cantik.” ucap Difa menggoda. Via hanya menggeleng-geleng melihat tingkah anak yang satu itu.

***


Terik mentari kian menyengat. Menusuk hingga ke daging. Bumi benar-benar panas siang ini. Ditambah dengan pasifnya angin berhembus itu membuat Via malas pulang jalan kaki. Apalagi gak ada teman gitu, si Prissy kan sudah pulang duluan bareng pacarnyaGabriel. Jadi terpaksa ia harus nunggu di Pos Satpam yang sudah menjadi tempat tongkrongannya untuk menghilangkan peluh.
“Enak ya yang ngadem di Pos Satpam,” sindir seseorang yang tiba-tiba muncul dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Loe belum pulang, Kka?” Cakkateman sekelas Via sekaligus wakil ketua OSIS itu ikut duduk di samping Via.
“Minum?” tawarnya. Via memutar bola matanya.
“Gue nanya, bukan minta minum.” cibir Via jengkel.
“Jadi gak mau, nih? Ya udah,” Cakka memasukkan kembali botol minumnya ke dalam tas.
“Eh, elo gimana sih, Kka? Tadi nawarin, sekarang malah dimasukin.” Via langsung menyerobot minuman yang hendak Cakka masukkan ke dalam tas. Cakka mengernyit.
“Mau pulang bareng gue? Mumpung lagi baik, nih.” tawarnya lagi. Via masih sibuk meneguk minumnya.
“Ayo pulang, Kak!” ajak seorang cowok yang tubuhnya mungil tiba-tiba.
“Loe pulang naik taxi aja ya, Dif. Kakak mau ada perlu sama temen Kakak.” kata Cakka santai. Difa mendengus. Sedangkan Via hanya berheran ria dibuatnya. Ada hubungan apa mereka berdua? batinnya.
“Bentar, bentar! Kamu adiknya Cakka?” tanya Via antusias. Difa mengangguk manja.
“Emangnya kenapa, Kak?”
“Gak apa-apa kok, Dif. Eh, Cakka! Udah sana pulang, kasihan tuh adik loe. Gak usah repot-repot ngajak gue, deh.” suruh Via.
“Tapi beneran loe gak mau pulang bareng?”
“Udah sana!” Via mendorong tubuh Cakka perlahan. Cakka cuma bisa pasrah.
“Ya udah, gue pulang duluan ya, Vi?”
“Duluan ya Kak Via?”
“Iya, hati-hati!” balas Via dan kemudian kembali duduk di Pos Satpam. Kakinya masih enggan melangkah karena mentari masih betah mentransfer panasnya ke bumi. Via menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Sampai sebuah sepeda motor berhenti di hadapan Via.
“Sendirian aja, Vi? Nunggu siapa?” tanya si pemilik motor setelah sepersekian detik membuka helmnya. Via mendongak, baru sadar kalau sudah ada orang di hadapannya.
“Eh, elo Vin. Iya nih, gue lagi ngadem bentar di sini. Elo sendiri gak pulang?” Via menggeser badannya saat Alvinsi pemilik motor itu hendak duduk di sampingnya. Alvin tersenyum.
“Baru aja mau pulang. Loe mau pulang bareng gue gak, Vi? Sekalian gue pengen tau rumah loe juga.” ia menyenggol bahu Via.
“Gak usah deh, takut ngerepotin. Lagian gue bisa naik angkot, kok.” balas Via seraya tengok kanan-kiri mencari angkot.
“Oh nggak, kok! Nyantai aja lagi,”
“Ya udah deh kalau gitu. Makasih ya sebelumnya,” Alvin mengacungkan jempol. Dan sedetik setelah Via memegang pinggang Alvin erat, motor itu langsung melesat cepat.

***


Bandung, Oktober 2004.



Istirahat sudah berlangsung 20 menit yang lalu. Tetapi kantin SMA Padma masih padat dipenuhi para siswa dan siswi. Apalagi di sini merupakan tempat penjualan makanan satu-satunya yang menjajakan jajanan pasar. Soalnya di SMA Padma ada lagi tempat makan selain kantin, namanya Koperasi Siswa. Hanya saja di sana cuma menjual makanan-makanan instant. So, jarang mengundang selera makan kalau di Koperasi Siswa. Seperti saat ini, Cakka dan Prissy sedang menikmati seporsi siomay dan berbagai makanan ringan seperti gorengan ketimbang harus mampir ke Koperasi Siswa yang tempatnya tidak begitu jauh dari kelas merekabisa dibilang bersebelahan.
“Kka, loe suka sama Via, ya?” tebak Prissy tajam di tengah-tengah makannya. Cakka tersedak, tangannya mencari-cari minuman.
“Nih, minum! Kalau makan pelan-pelan aja, kali.” lanjut Prissy menyodorkan minum ke Cakka.
“Ngasal loe kalau ngomong!” timpal Cakka tetap tidak berhenti batuk.
“Gue kan cuma nanya, Cakka Aditya! Kali aja loe emang bener suka sama Via. Emang gak boleh?” balas Prissy polos.
“Gak apa-apa, sih. Ya gue cuma kaget aja denger loe yang tiba-tiba nanya gitu.”
“Via itu cantik, lho. Emang loe gak tertarik?” kini Prissy malah menggoda Cakka. Rasanya Prissy tau apa yang ada di pikiran Cakka akhir-akhir ini.
“Kata siapa Via jelek? Semua orang juga tau kalau dia cantik.” Cakka kembali menyantap gorengannya yang tersisa.
“Aduh, Cakka! Apa susahnya sih bilang kalau loe itu tertarik sama Via, terus bakal nembak dia secepatnya. Udahlah, jangan dipendam mulu tuh perasaan, gue tau kok kalau loe suka sama Via udah lama. Iya, kan?” Cakka mengernyitkan dahi. Nih anak kesurupan setan apa, ya? tanyanya dalam hati.
“Kesannya loe kayak maksa gue buat jadi pacarnya Via sih, Pris?” Prissy menghela napas berat.
“Gue emang maksa! Hehehe…”
“Emang kalau gue jadi pacarnya Via itu ngaruh ya sama loe?” selidik Cakka serius.
“Ngaruh, lah! Gue seneng aja kalau lihat kalian berdua lagi ngobrol atau jalan bareng. Cocok banget!”
“Masa, sih?” tanya Cakka sambil melahap gorengan terakhirnya.
“Seriusan! Nih ya gue bilangin, dari dulu Via itu jarang banget lho deket sama cowok. Soalnya dia cuek banget sama cowok,” ucapnya terpotong. Cakka ikut antusias mendengar penjelasan Prissy tentang Via.
“Kalau gue inget-inget nih ya, cuma dua orang yang bisa deket sama dia. Yaitu elo sama cowok yang waktu SMP nembak Via, namanya Alvin.” sambung Prissy. Cakka membulatkan mulut.
“Alvin? Terus, terus?” tanya Cakka penasaran.
“Via menolak, sih. Dia bilang kalau dia mau fokus sekolah dulu gitu.” jelas Prissy yang semakin mengecilkan volume suaranya ketika sosok cewek yang sejak tadi menjadi topik pembicaraannya itu datang menghampiri mereka.
“Lagi pada ngomongin gue, ya?” tebak Via yang langsung duduk manis di samping Prissy.
“Sok tau, deh! Orang lagi ngomongin masalah MOS kemaren, kok. Iya kan, Kka?” kilah Prissy sambil meminta tanggapan Cakka. Cakka mengangguk.
“Betul!”
“Masa, sih? Ah, gak percaya gue.” Via menyerobot siomay milik Prissy yang kebetulan tinggal seperempat.
“Beneran kok, Vi. Lagian loe kepo banget, ih!”
“Iya nih, kepo!” sambung Cakka. Via tak menghiraukan.
“Loe kok gak bareng Gabriel, Pris? Jangan-jangan loe selingkuh ya sama Cakka?” tuduh Via arogan. Lantas membuat satu jitakan keras mendarat di kepalanya. Jitakan Prissy.
“Hus! Gak disaring dulu tuh mulut kalau ngomong! Asal jeplak aja.” oceh Prissy kemudian.
“Lagian loe pacaran sama Gabriel tapi malah makan sama Cakka. Ya gue curiga aja.” Via berucap begitu polosnya. Capek, deh! batin Cakka dan Prissy.
“Emangnya gak boleh, ya?” tanya Cakka. Via menggeleng cepat.
“Bilang aja kalau cemburu! Iya, kan? Ciiyyee…” timpal Prissy menggoda. Cakka tersenyum. Via merengut.
“Ih apaan, sih? Nggak!” bantahnya tegas.
“Ngaku aja, lagi.”
“Nggak! Ih bete, deh!”
“Ciiyyee… Via cemburu sama Cakka.” ledek Prissy terus-menerus sampai bunyi handphone menghentikan aksi mereka.
“Bentar ya, ada telepon.” Via beranjak dari duduknya, menjauh dari merekaPrissy dan Cakka.
“Tumben banget Via dapet telepon.” gumam Prissy.
“Kali aja itu penting. Elo sih curigaan anaknya.” Cakka melempar sedotan ke wajah Prissy.
“Ya gue heran aja. Ini kan masih jam sekolah.”
“Mungkin beneran sangat penting. Lagian loe ngurusin banget sih, Pris?” tanya Cakka heran. Via kembali bergabung.
“Siapa, Vi?” tanya Prissy penasaran.
“Ini, si Alvin. Dia ngajak pulang bareng sekaligus makan siang.” jelasnya singkat. Melihat Cakka yang keheranan, Via langsung menjelaskan lebih rinci. “Temen gue sama Prissy waktu SMP dulu.” Cakka membulatkan mulutberpura-pura mengerti, padahal sebelumnya sudah tau dari Prissy.
“Terus loe terima?” Prissy kembali menginterogasi.
“Iya, gue terima. Gak enak kalau sampe nolak, dia udah baik banget sama gue.” balas Via. Cakka dan Prissy saling berpandangan.
“Oh iya, Kka. Tadi waktu gue mau ke sini gue sempat ketemu Difa di jalan, katanya dia nyariin loe.” kata Via berganti topik.
“Oh, ya? Ada apa sih tuh anak nyariin gue?”
“Minta uang jajan, kali. Jahat banget loe sama adik sendiri, masa uang jajannya diambil juga.” ledek Prissy. Tertawa pun pecah seketika.
“Enak aja!” bantah Cakka kemudian. Mereka kembali tertawa. Saking asyiknya mereka tertawa, tidak sadar kalau bel masuk sudah sejak tadi berbunyi.

***


“Alvin!”
“Cakka!” ucap Alvin dan Cakka bergantian saat mereka tak sengaja bertemu di salah satu rumah mewah. Rumah Via.
“Senang bisa ketemu loe, Kka.” ucap Alvin kemudian. Cakka tersenyum.
“Gue juga senang bisa ketemu loe, Vin.” balas Cakka. Lalu mata mereka terfokus pada sosok cewek berkaos biru serta bercelana jeans yang turun dari lantai atas bersama Mamanya. Cantik.
“Maaf udah nunggu lama, gue keasyikan baca novel soalnya.” jelas Via ke arah Alvin.
“Lho, ada Cakka juga?” tanya Via kaget.
“Aduh, anak Mama ini gimana, sih? Tadi kan Mama udah bilang pas di kamar kamu kalau di ruang tamu ada dua cowok ganteng nungguin kamu.” ucap Mama Via seraya mengusap lembut rambut anaknya itu. “Ya udah kalau gitu Tante mau lanjutin masak dulu, ya?” sambungnya ramah.
“Iya, Tante!” balas Cakka dan Alvin kompak.
“Oh iya, kalau gitu gue balik duluan, ya?” pamit Cakka tiba-tiba.
“Lho, kok balik? Kan baru dateng?” tanya Alvin.
“Iya nih si Cakka ada-ada aja. Terus loe ke sini mau ngapain?” tanya Via sembari mengikuti langkah Cakka keluar rumah. Alvin juga.
“Hmm… tadinya sih gue ke sini mau ngajak loe jalan-jalan, tapi berhubung loe udah ada janji sama Alvin, ya gue batalkan.” jelasnya pasrah.
“Gimana kalau kita jalan-jalan bareng aja?” saran Alvin semangat. “Biar Cakka juga gak sia-sia dateng ke sini.” lanjutnya.
“Boleh juga, tuh! So, menurut loe gimana, Kka? Mau ikut?” tanya Via ke arah cowok yang sedang bimbang antara ikut atau tidak. Otaknya terus menimbang-nimbang. Kalau Cakka ikut, pasti Cakka bakalan jadi patung hidup yang terus dikacangin oleh Alvin dan Via. Sedangkan kalau Cakka gak ikut, kedatangannya ke rumah Via tidak membuahkan hasil alias sia-sia belaka. Jadi, keputusannya adalah…
“Oke, gue ikut!” jawabnya mantap.
“Ya udah yuk berangkat! Nanti keburu sore.”
“Emangnya loe gak mau ganti baju dulu, Vi?” tanya Alvin.
“Gak usah deh, bikin ribet. Ayo cepetan!” jawabnya sambil ngeloyor menuju garasi rumahnya. Alvin dan Cakka saling pandang dibuatnya dan mengangkat bahu mereka masing-masing.
“Mang Ujang, titip motornya Cakka, ya?” teriak Via saat mau masuk ke mobil Alvin. Kebetulan siang ini Alvin sengaja bawa mobil, sedangkan Cakka bawa motor seperti biasanya ia ke sekolah.
“Jaga baik-baik ya, Mang.” ucap Cakka.
“Baik, Den! Serahkan semuanya sama Mang Ujang.” teriak Mang Ujang mantap. Ia menepuk dadanya pelan.

Mereka bertiga masuk ke mobil Alvin. Cakka di kursi belakang, sedangkan Via di depan bersama sang pengemudisiapa lagi kalau bukan Alvin. Lalu mobil tersebut langsung melesat cepat ke suatu tempat yang sebelumnya sudah mereka niatkan. Selama perjalanan, tak ada obrolan yang terjalin di sana, hanya alunan musik melow yang menguasai saat itu. Hening. Mereka terlalu menikmati dengan kesibukannya masing-masing. Alvin begitu fokus dengan lika-liku jalanan yang siang itu cukup padat. Meski sesekali matanya melirik Via yang mulut mungilnya terus melafalkan lagu-lagu yang didengarnya dalam mobil. Alvin tersenyum sesaat, kemudian kembali fokus mengemudi. Serasa diperhatikan, Via langsung mengarahkan wajahnya keluar jendela. Kemudian ia langsung terkagum-kagum melihat pepohonan yang tertanam di pinggir jalan itu saling berkejaran. Sampai-sampai matanya seakan tergoda untuk terlelap sejenak. Sedangkan Cakka? Ia gak kalah asyik berkutat dengan Smartphonenya. Entah apa yang ia lakukan bersama gadget yang satu itu. Yang jelas Cakka terlihat menikmati kesibukannya tersebut.
“Oh iya, Prissy gimana kabarnya?” tanya Alvin memecah aksi diam-diaman di dalam mobil.
“Oh, Prissy? Baik-baik aja, kok. Kemaren juga dia nanyain loe tuh, katanya udah lama gak ketemu.” jawab Via santai. Hampir saja ia tertidur kalau Alvin tidak bertanya padanya.
“Oh, ya? By the way, dia masih maniac Matematika nggak, sekarang?” tanya Alvin lagi masih tetap fokus menatap jalanan.
“Kayak gak tau si Prissy aja loe, Vin. Mana mungkin dia benci sama Matematika? Yang ada dunia bakal kiamat kalau si Prissy sampe benci sama Matematika.” sedetik Via mengucapkan hal tersebut, mereka pun tertawa lepas. Ralat! Via dan Alvin saja tepatnya. Cakka masih terlalu sibuk dengan gadget kesayangannya itu. Tapi tunggu! Dia itu sibuk apa pura-pura sibuk? Entahlah, sepertinya Cakka memang benar-benar tidak mau ikut campur dengan pembicaraan di kursi depanpembicaran Alvin dan Via.
“Padahal dia udah punya cowok lho, sekarang.” sambung Via di tengah tawanya.
“Masa, sih? Siapa tuh cowoknya?” Alvin penasaran.
“Iya. Temen kita waktu SMP juga, si Gabriel.”
“Serius? Kok bisa gitu, ya?” kata Alvin sedikit gak percaya.
“Seriusan! Udah hampir 3 tahun ini.” Alvin mengangguk pelan sambil tetap fokus dengan kemudi yang ia pegang.
“Loe sih udah punya cowok belum, Vi?” tanya Alvin tiba-tiba. Sedetik, entah kenapa jantung Via mendadak bergetar hebat mendengar pertanyaan Alvin tersebut. Mulutnya terkunci rapat. Aduh, ini gue kenapa deg-degan kayak gini? batin Via saat itu. Alvin terlihat kebingungan melihat ekspresi wajah Via yang berubah aneh.
“Nih, cowoknya ada di belakang!” timpal Cakka asalterkesan ingin mencegah sesuatu yang tidak ia inginkan. Via mengernyitkan dahi ke arah Cakka yang tiba-tiba angkat bicara.
“Oh, jadi kalian berdua pacaran?” Alvin mengangguk maklum.
“Kagak!!! Ngarang aja loe kalau ngomong, Kka! Gue sama Cakka gak pacaran kok, Vin.” bantah Via. Cakka nyengir kuda. Sedangkan Alvin memasang tampang innocent.
“Lagian gue dikacangin mulu dari tadi sama loe berdua. Ajak gue ngobrol kek sekali-kali.” Cakka memelas.
I'm so sorry, Kka. Gue tadi keasyikan flashback soalnya, jadi sampai lupa kalau ada loe di belakang. Sori, ya?” ucap Alvin menyesal.
“Suruh siapa loe sibuk sendiri?” sambung Via.
“Ya, gue cuma gak mau ganggu obrolan loe berdua aja. Makanya gue diem.”
“Alesan aja loe, Kka! Biasanya juga loe suka nimbrung gak jelas. Dasar!” cibir Via seraya melempar tisu yang sudah dibulatkan sebelumnya. Dengan sigap si Cakka langsung menangkapnya.
“Eits! Gak kena. Hahaha…” ledeknya puas.
“Awas loe, ya!” Via mengancam Cakka sembari tangannya mengepal.
“Ya udahlah, gak usah berantem! Lagian udah nyampe tempatnya, nih. Ayo turun!” ajak Alvin semangat setelah memarkirkan mobil di depan sebuah restoran yang cukup sederhana itu.

***


Cakka membanting tubuhnya ke kasur. Cukup keras. Sehingga membuat cowok yang sudah terlebih dulu menghuni kasur tesebut langsung melonjak kaget. Untungnya si cowok tersebut tidak mengidap penyakit jantung, kalau iya bisa mati di tempat tuh anak. Cakka menggeliat, lalu membuang napas berat. Sedangkan si cowok tadi masih mencoba menstabilkan detak jantungnya akibat ulah Cakka. Cowok itu Difaadiknya.
“Mau bikin aku jantungan, ya?! Bikin kaget orang aja!” tukas Difa langsung. Cakka malah tertidur.
“Pake dikacangin, lagi. Kenapa sih, Kak? Ditolak Kak Via, ya?” tanya Difa bertubi-tubiterkesan sok tau.
“Sotoy loe, Dif! Lagian siapa yang habis nembak, sih?” Cakka ikut nimbrung di samping adiknya yang sedang asyik mainan Laptop.
“Terus tuh muka kenapa? Kok lecek gitu? Habis lihat Kak Via sama cowoknya, ya? Duh, kasihan abang aku ini. Cup-cup-cup…” ledek Difa sambil menepuk pelan pundak kakaknya tersebut. Cakka menoyor kepala Difa pelan.
“Aduh! Gak usah main tangan juga, kali.”
“Lagian loe jadi orang sotoynya kebangetan, sih! Sana loe pergi dari kamar gue! Gue pengen istirahat. Cepetan, gih!” Cakka langsung memukul adiknya pakai bantal guling. Difa meringis.
“Bentar, tadi bilang apa? Ini kamar Kak Cakka? Ini kamar aku, tau! Harusnya Kak Cakka tuh yang pergi. Enak aja main ngaku-ngaku kamar orang.” protes Difa kesal.
“Sejak kapan ini jadi kamar loe, hah? Mimpi!” bela Cakka gak mau kalah.
“Sejak tadi siang! Emangnya Kak Cakka gak bisa baca, ya? Udah jelas-jelas di pintu ada tulisan, ‘Kamar Cowok GantengDifa. Orang Jelek Dilarang Masuk!’ tuh lihat, kan?” Difa menunjuk ke arah pintu. Cakka mendengus.
“Loe ngeselin juga ya lama-lama! Cepetan pergi, gue mau tidur!”
“Gak mau!”
“Pergi gak loe?!” Cakka mengancam akan membanting Laptop milik Difa yang kini berada di genggamannya.
“Silahkan aja kalau berani.” timpal Difa sembari menolak pinggang.
“Cakka, Difa! Ada apa sih ribut-ribut? Berantem aja kayak anak kecil. Malu dong sama tetangga.” omel sang Mama yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Dan itu cukup berhasil melerai pertikaian sengit antara Cakka dan Difa.
“Tuh lihat, Ma! Masa Laptop Difa mau dibanting sama Kak Cakka,” Difa mengadu manja ke Mamanya.
“Cakka, turunin Laptopnya!” perintah sang Mama. Cakka memutar bola matanya kesal.
“Terus aja dibelain!” timpalnya.
“Lagian kamu kenapa sih, Kka? Kok gak mau ngalah sama adik sendiri. Malah berantem kayak anak kecil aja.” dirangkulnya Cakka dengan penuh kasih sayang.
“Cakka kan mau istirahat, Ma. Tapi si Difa gak mau pergi dari sini. Bikin kesel!” adu Cakka ikut manjasama seperti yang dilakukan Difa sebelumnya. Dasar anak manja! umpat Difa dalam hati.
“Tapi kan ini kamar Difa, Ma!” protes Difa tetap memeluk tangan kiri Mamanya.
“Oh, iya! Mama lupa belum kasih tau Cakka kalau mulai sekarang kamar ini menjadi kamar Difa.”
“Kok gitu sih, Ma? Terus kamar Cakka di mana? Di gudang?! Ah, gak adil!” Cakka melepaskan pelukan Mamanya.
“Lebih cocok tuh di gudang!” ledek Difa. Cakka langsung menjitak kepala adiknya keras.
“Diem, loe!”
“Kamar Cakka di situ. Yang dulunya kamar Difa.” tunjuk Mama ke arah luar.
“Itu kan kamarnya sempit, Ma. Udah gitu pengap, gak ada AC.” protesnya lagi. Mama membelai lembut rambut Cakka.
“Udah Mama pasang AC, kok. Cepet gih, sana.”
“Tuh kan, Difa bilang juga apa? Gak percayaan sih jadi orang.” timpal Difa sinis.
“Ah! Rese, loe!”
“Sudah, sudah! Jangan berantem lagi, ayo baikan!” perintah Mama ke Cakka dan Difa.
“Males!” ucap Cakka langsung pergi meninggalkan Mama dan adiknya. Mama menggeleng pasrah. Difa juga ikutan, di bibirnya terbesit senyum kemenangan.
“Lain kali jangan suka bikin kesal Kakak kamu lagi ya, Sayang?”
“Baik, Ma.”
“Awas ya kalau Mama sampai lihat kalian berdua berantem lagi, Mama bakal potong uang jajan kalian.” ucapnya sambil ngeloyor pergi. Difa memelas.
“Tapi, Ma?!”
“Gak ada tapi-tapian!”
“Ayolah, Ma! Gak asyik, ih!” Difa masih memampang wajah melasnya meski Mamanya sudah jauh pergi.

***


Alvin merangkul Via dengan ragu, “Kita istirahat dulu aja ya, Vi?” ucapnya ketika melihat wajah Via yang sudah kelelahan setelah berlari pagi cukup jauh. Hari ini, hari minggu. Alvin dan Via memang berjanjian untuk lari pagi bareng.
“Udah lama gue gak lari pagi, jadi cepet capek!” Via mencoba menstabilkan napasnya. Alvin tersenyum. Lucu juga melihat Via kecapekan gitu.
“Faktor usia juga, sih.”
“Oh, jadi menurut loe gue udah tua, gitu?!” Via mencibir.
“Ya begitulah. Hehehe…”
“Sialan loe, Vin! Eh, bagi minum dong!” pinta Via dengan merebut paksa botol minuman yang digenggam Alvin.
“Tapi itu bekas gue, Vi! Gue bawa satu lagi di tas. Bentar, gue ambilin.”
“Ah, lama! Gue udah dehidrasi, nih. Toh loe juga gak punya penyakit rabies, kan?” tanya Via geli dan dengan cepat meneguk minuman hasil rebutannya dari Alvin. Alvin menggeleng maklum.
“Loe itu emang gak pernah berubah ya, Vi.”
“Gak pernah berubah? Maksudnya?” Via tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Alvin tersebut. Lalu tak sengaja matanya bertemu langsung dengan mata Alvin yang jaraknya begitu dekat. Indah. Jernih. Sempurna. Sampai Via tidak tahan untuk memandangnya lebih lama. Ia berpaling dengan segera.
“Maksudnya? Hmm… ya begitu! Kalau diomongin itu susahnya minta ampun! Sama seperti dulu,” jelas Alvin sekenanya. Via mengangguk seraya membulatkan mulut mungilnya.
“Tapi menurut gue, elo malah berubah, Vin.”
“Masa, sih? Berubah gimana?” tanyanya penasaran.
“Iya, tambah cakep dikit.” Via terkekeh geli.
“Bisa aja loe bikin orang GR.” kata Alvin salting. Disenggolnya bahu Via genit.
“Seriusan, lho! Dulu, sewaktu masih SMP loe itu sama sekali gak ada matanya, kalau sekarang sih agak mendingan. Hahaha…” sindir Via puas.
“Kalau gitu masih mending gue, dong? Daripada elo badannya tambah gendut aja.” balas Alvin sambil mencubit pipi chubby Via. Mendengar itu, Via langsung mengembungkan pipinya. Kesal.
“Aduh, jeleknya! Gitu aja kok ngambek.” goda Alvin seraya mencolek badan Via yang terbilang subur makmur.
“Siapa yang jelek? Gue kan imut! Hahaha…”
“Huh, dasar!” Alvin mencoba merangkul cewek yang duduk di sampingnya tersebut. Namun…
“Pulang yuk, Vin? Udah agak siang, nih.” Via bangkit dari duduknya. Sedetik, Alvin langsung menahan pergelangan tangan Via.
“Via?” panggilnya pelan. Bahkan mungkin sangat pelan.
“Kenapa, Vin?” balasnya dengan mengernyitkan dahi. Ia kembali duduk di samping Alvin.
“Kalau aku nembak kamu sekarang, apa kamu akan memberi jawaban yang sama seperti dulu?” tanya Alvin yang sukses membuat Via terpaku di tempat. Maksudnya apaan, sih? batinnya.
“Jujur, aku sempat sakit hati pas kamu tolak. Tapi aku coba tutupi demi kamu, dan aku juga menghargai keputusan kamu yang lebih memilih sekolah ketimbang pacaran. Namun itu bukanlah alasan untuk aku berhenti mencintai kamu, Vi.” Via terdiam, matanya begitu dalam menatap mata Alvin yang saat ini berlutut di hadapannya.
“Dan satu lagi, aku sangat bersyukur sama Tuhan karena Dia telah mempertemukan aku kembali dengan orang yang begitu aku cintai setelah kurang lebih 3 tahun tidak bertemu. Aku merasa sangat beruntung bisa ketemu sama kamu lagi, bisa berangkat dan pulang sekolah bareng lagi, dan yang paling penting aku bisa melihat wajah kamu lagi kapanpun aku mau.” Alvin tersenyum.
“Alvin,” ucap Via sedikit lirih.
“Aku tau ini terlalu cepat buat kamu, Vi. Tapi aku sudah tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini lebih lama. Maaf, bukannya aku egois.” ucap Alvin setengah menunduk. Lantas, Via mengangkat dagu cowok yang ada di pangkuannya itu perlahan. Matanya berlinang. Sendu.
“Bukan kamu aja yang merasakan hal tersebut, Vin. Aku juga sama,” ucap Via tegas seraya melangkah menjauhi Alvin yang masih terduduk.
“Perpisahan itu ternyata membuat aku menyadari dan merasakan betapa sakit dan perihnya kehilangan seseorang yang dicintai. Bahkan itu jauh lebih sakit rasanya dari penyakit apapun.” Via menatap lurus jalanan beraspal pekat itu.
“Sungguh?” tanya Alvin sembari menapakkan langkahnya mendekati Via. Via mengangguk pasti.
“Boleh aku meluk kamu, Vi?”
“Hmm… why not?” jawabnya mantap dengan merentangkan kedua tangannya lebar. Mereka pun hanyut dalam pelukan, tak menghiraukan ada berapa banyak pasang mata yang menyaksikannya sambil tersenyum serta menggelengkan kepalanya.
“Aku sayang kamu, Vi! Sampai kapanpun.” ucap Alvin pas di telinga Via. Lalu melepaskan pelukannya perlahan.
“Ini untuk yang kedua kalinya aku bilang, bolehkah aku jadi pacar kamu?” Via masih terpaku. Cukup lama. Hening. Mungkin hanya detak jantung mereka yang terdengar.
“Apa ada alasan lain untuk kamu menolak aku?” sambung Alvin penasaran.
“Entah kenapa kali ini aku kesusahan untuk mencari alasan buat nolak kamu, Vin.” jawab Via diiringi senyum manisnya.
So, jawabannya?” Alvin menatap Via penuh harap.
“Aku terima.” kata Via semangat. Mereka kembali berpelukan. Lebih mesra dari sebelumnya.

***


Koridor sekolah masih terlihat sepi. Dengan wajah penuh ceria, Via melangkahkan kakinya menyusuri beberapa ruang kelas yang masih belum berpenghuni. Namun tiba-tiba matanya memicing ketika melihat di arah depan ada seseorang yang bergaya rambut harajuku berjalan dengan santai ke arahnya. Cakka? Ngapain tuh anak? ucap Via dalam hati. Cakka merangkul dan menuntun Via ke suatu tempat tanpa suara sedikitpun. Sebentar, ini ada apa? umpat Via lagi. Ia cuma bisa memandang heran wajah Cakka yang kala itu terlihat lebih berseri dari sebelum-sebelumnya.

Sejenak, Cakka menghentikan langkahnya, ditatapnya bola mata Via dalam. Damai. Rasanya Cakka tak ingin kehilangan kesempatan ini sekejap pun. Begitu lama mereka terdiam dalam hanyut. Lalu Cakka menuntun sudut pandangan Via ke suatu tempat yang dipenuhi dengan lilin-lilin kecil berwarna putih yang tersusun rapi tanpa jeda di tengah lapang basket. Sedetik, Via menutup mulutnya rapat-rapat saat arah pandangnya tertuju pada tulisan ‘Aku Cinta Kamu, Via!’ di antara lilin-lilin putih tersebut.
“Maaf kalau kamu gak suka, Vi. Aku cuma ingin mengungkapkan perasaan aku aja sama kamu.” kata Cakka tulus. Sedangkan Via masih belum ingin menatap wajah Cakka untuk kedua kalinya. Ia terlalu takut kalau ini memang benar kenyataannya.
“Jujur, aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama. Di mana waktu MOS dulu, aku selalu memandangimu dari jauh, menatap setiap canda tawa yang kamu pancarkan saat bermain dengan teman-teman baru kamu.” ucapnya tulus. Via masih diam.
“Kamu itu terlihat beda dari yang lain, Vi. Dan sampai sekarang pun aku belum tau apa yang membedakan kamu dengan cewek-cewek lain. Aku cinta kamu, Via!” Cakka meraih kedua tangan cewek yang lama mematung di hadapannya.
“Aku mau jadi pacar kamu.”
“Tapi kenapa baru sekarang kamu bilang kalau kamu cinta sama aku, Kka?” tanya Via tegas. Matanya berubah sendu. Kini giliran Cakka yang terdiam. “Apa karena kamu takut kalau nanti aku tolak? Iya?!” tanya Via lagi dengan melepas paksa genggaman Cakka.
“Aku cari waktu yang tepat untuk semua ini, Vi. Dan aku rasa ini merupakan waktu yang sangat tepat.” jawabnya mantap.
“Maaf Kka, kamu salah, ini bukan waktu yang tepat. Aku sudah punya pacar. Dan aku gak bisa terima kamu jadi pacar aku.”
“Via, aku mohon…” lirihnya.
“Aku gak bisa, Kka!”
“Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, Vi. Aku janji bisa jauh lebih baik dari pacar kamu yang sekarang.” Cakka berlutut di kaki Via.
“Tapi aku gak bisa, Kka. Kamu ngertiin aku, dong!” bentak Via keras. Lalu ia berlari meninggalkan Cakka perlahan.
“Viiiaaa…” teriak Cakka seraya menitikan air mata. Tubuhnya penuh keringat.
“Cakka, bangun!” suara bising terdengar keras di telinga Cakka. Ia mendongakan kepalanya pelan, dilihatnya sosok tua berkaca mata sedang menolak pinggang tepat di hadapannya. Sedetik, Cakka segera bangkit dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan.
“Bapak paling gak suka kalau ada siswa yang tidur saat pelajaran Bapak berlangsung!” kata Pak Agungguru Matematika yang siang itu mengajar di kelas Cakka.
“Maaf Pak, saya ketiduran.” balas Cakka polos. Lantas membuat seisi kelas tertawa.
“Diam semuanya! Sekarang kamu keluar!” suruh Pak Agung tegas. Lantas Cakka langsung bangkit dari kursinya dengan sedikit sempoyongan. Dan sekilas ia menangkap wajah Via sebelum ia benar-benar keluar. Kelas kembali hening.
“Dan Bapak tidak akan segan-segan untuk memberi hukuman yang lebih kalau masih ada yang tidur saat pelajaran Bapak berlangsung. Mengerti?!” kata Pak Agung tegaslebih tepatnya mengancam.
“Mengerti, Pak!” koor anak-anak kompak.
“Si Cakka kayaknya habis bergadang, deh.” bisik Prissy ke teman sebangkunyaVia.
“Mana gue tau?” balas Via ikut berbisik.
“Buktinya sampe tidur di kelas gitu. Apa jangan-jangan dia lagi sakit, lagi.”
“Bisa jadi,” respon Via ogah-ogahan. Ia terlalu sibuk menyalin semua rumus Matematika yang tertera di Whiteboard.
“Sakit apa ya kira-kira?”
“Dipikirin amat sih, Pris?” sewot Via pelan.
“Dia kan sahabat kita, Vi!”
“Loe pengen dilempar penghapus sama Pak Agung?!” kata Via mengancam Prissy yang sedari tadi heboh sendiri.
“Gak mau gue!”
“Prissy, Via!!! Kalian mau keluar juga seperti Cakka?!” bentak Pak Agung saat mendengar suara Prissy yang keras.
“Nggak Pak, maaf.” ucap mereka bersalah.
“Gara-gara elo, sih!” tuduh Via dengan menyenggol pundak Prissy. Prissy menekuk wajahnya.

***


“Vi, gue suka sama loe!” Via dan Prissy yang lagi seru-serunya ngobrol di Pos Satpam pas pulang sekolah itu pun mendadak mengangkat alis heran begitu Cakka dengan tiba-tiba mengucap kalimat tersebut.
“Loe nembak Via, Kka?” Prissy memandang cowok bergaya rambut harajuku itu dengan pandangan tak biasa. Cakka mengangguk cepat. “Gila loe, ya!” tukas Prissy kemudian.
“Emang salah gue nembak Via? Bukannya loe pernah saranin gue buat nembak Via ya, Pris?” Prissy terkesiap mendengarnya.
“Tapi cara nembak loe ini nggak banget, Kka!” cibir Prissy penuh penekanan di kata-kata terakhir. Via hanya menatap dua sahabatnya itu aneh.
“Vi, loe mau kan jadi pacar gue? Gue gak bohong nih, gue beneran nembak loe.” Via menghela napas.
“Loe nembak gue gak ada romantis-romantisnya amat sih, Kka?!”
“Semua orang kan punya cara masing-masing buat nembak gebetannya. Ya, inilah cara gue.” Cakka melebarkan tangannya.
“Ya, gue tau! Dan cewek yang ditembak juga mempunyai cara masing-masing buat nerima cowok yang nembaknya itu.” jelas Via dengan melipat tangannya di dada serta memberi senyum meremehkan.
“Maksud loe?”
“Maksudnya, Via itu nolak loe secara halus, Cakka Aditya!” timpal Prissy cengengesan. Cakka mendengus.
“Bukan nanya sama loe, Badut Ancol!” Prissy melotot mendengar ledekan Cakka barusan.
“Mau kan jadi pacar gue? Ayolah,”
“Gimana, ya? Bukannya gue gak mau sih, tapi…”
“Tapi apa? Gue gak romantis? Apa gue kurang ganteng?” Cakka mengecek tubuhnya teliti.
“Jangan terima Vi, sok ganteng tuh anak.” lagi-lagi Prissy menyahut. Padahal dia sudah dibelakangi sama tubuhnya Cakka yang lumayan bidang.
“Berisik loe, Pris! Loe bukannya dukung gue, malah ngomporin orang. Dasar badut!” tukasnya.
Don't call me badut, Cakka Aditya! Gue terlalu cantik buat jadi badut.” Prissy menjitak keras kepala Cakka. Membuat cowok tersebut meringis kesakitan.
“Ini acara nembak atau acara apaan, sih?! Heran gue,” tukas Via sedikit naik darah melihat ulah Cakka dan Prissy yang mendadak kayak anjing dan kucing.
“Sori Vi, sori. Jadi gimana, nih? Loe mau jadi pacar gue atau nggak?” tanya Cakka lembut.
“Maaf ya Kka, gue gak bisa.” Via mencoba tersenyum di tengah keraguannya untuk menolak seorang Cakka. Seseorang yang selalu ada untuknya disaat semua orang menghilang. Seseorang yang sering membuatnya tersenyum meski terkadang tingkahnya itu menyebalkan. Dan seseorang yang paling bisa diandalkan dari sahabat-sahabatnya yang laintermasuk Prissy. Cakka, maafin gue! batinnya.
“Oh, ya udah gak apa-apa, kok. Dengan lapang dada gue terima. Yang penting gue udah coba ungkapin perasaan gue sama loe, itu udah cukup.” mata Cakka memancarkan sinar kekecewaan yang begitu nyata meskipun ia mencoba menutupi dengan seulas senyumnya yang manis. Tapi mata tetap tidak bisa berbohong. Tiba- tiba Via memeluknya erat.
“Maafin gue ya, Kka? Loe gak tepat waktu.” bisiknya di telinga Cakka. Apakah ini arti dari semua mimpi gue? Lalu apa arti dari kalimat gak tepat waktu? umpat Cakka dalam hati.
“Turut berduka cita ya, Kka?” ledek Prissy yang cukup lama terdiam. Ia menepuk pelan pundak cowok yang masih dipeluk Via itu.
“Sini loe peluk gue juga!” ujarnya jahil. Dalam sekejap Via dan Prissy sudah mendarat di dada bidangnya Cakka Aditya.
“Apaan, sih?!” mereka membuka paksa rangkulan Cakka. Si pelaku hanya mengangkat tangannya dibarengi dengan seringaian jahil dari mulutnya.
“Kita itu memang ditakdirkan untuk bersahabat. Dan bagi gue, sahabat itu segalanya ketimbang pacar. Iya, kan?” ucap Via bijak.
“Tapi baru kali ini lho gue ditolak cewek,” Cakka menggaruk kepalanya.
“Suer, loe? Ah, gak percaya gue.” tentang Prissy mantap.
“Mungkin cara nembak loe harus diperbaiki kembali, Kka. Harus lebih romantis! Dan satu lagi, jangan sok kegantengan kalau mau nembak cewek. Inget itu!” sindir Via sekenanya. Cakka merengut. Derajatnya turun mendadak di hadapan dua orang cewek tersebut. Lalu, mereka pun tertawa. Gak jelas. Membuat Pak Satpam yang sebelumnya tertidur pulas di ruang jaga itu terbangun dengan kagetnya. Dasar anak ABG, ganggu orang tidur aja! rutuknya dalam hatimungkin.

***


Bandung, Desember 2004.


Semesteran baru saja selesai 2 hari yang lalu. Hari ini, Sabtu, Cakka CS ditambah Alvin serta Difa menyambangi sebuah tempat yang mungkin sangat cocok untuk menghilangkan penat di otak setelah seminggu penuh mengerjakan soal-soal semesteran. Ke Pantai. MerekaAlvin, Cakka dan Difa sejak tadi sibuk memperebutkan kulit bundar yang sengaja dibawa Cakka di tepian pantai. Prissy dan Gabriel menghabiskan sesi berduaannya dengan ngobrol sambil makan-makan kecil di bebatuan yang memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga seperti tempat duduk mungil. Dan satu lagi, Via… sedari tadi menekuk wajahnya karena tulisan-tulisan cantik yang sudah susah payah ia buat itu lagi-lagi terhapus oleh sapuan ombak. Ia membuang napas kesalnya seketika.
“Sayang, lempar bolanya dong!” bola kulit berwarna cokelat tua itu menyentuh pinggang Via yang sedang duduk. Ia memegang bola itu, memandangnya, lalu melemparkan ke arah cowok yang tadi meminta bola tersebut.

Kembali, Via memandangi garis horizontal yang membatasi warna alam biru langit dan biru air laut. Lambat laun, di ujung sana terlihat satu titik putih yang semakin lama semakin membesar. Perahu nelayan. Indah sekali. Tiba-tiba Via merasa bahwa ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Difa Aditya.
“Kak Via lagi ngapain?” tanya Difa sambil menerawang pandangan Via.
“Keren ya, Dif?” Difa mengangguk setelah sebelumnya sudah mengerti apa yang dimaksud Via tersebut.
“Minum, Kak?” tawarnya. Via menggeleng, di tangannya ia tunjukan ke Difa kalau ia juga bawa minuman. Difa membulatkan mulutnya.
“Oh iya, bukannya loe lagi main bola ya, Dif? Kok ke sini?” tanya Via heran.
“Capek, ah! Lagian gak seru mainnya cuma bertiga, doang. Apalagi Kak Cakkanya curang,” Difa mencibir.
“Abang loe emang gitu, Dif. Ngeselin anaknya!” mereka berdua beralih memandangi dua orang cowok yang kini sedang asyik bermain voli. Tunggu, main voli pakai bola sepak? Aneh.
“Ternyata Kak Alvin itu orangnya asyik ya, Kak? Walaupun aku baru kenal dia hari ini, tapi berasa udah akrab aja.” pendapat Difa tentang Alvin. Via begitu serius mendengarnya.
“Terus?”
“Terus Kak Alvin itu orangnya care, humoris, dan gak pernah membeda-bedakan seseorang dengan orang lain. Pokoknya beda deh dari kakak-kakak kelas yang pernah aku kenal sebelumnya.” dilihatnya oleh Via cowok yang lagi dibahas oleh Difa barusan. Manis! umpatnya begitu melihat Alvin tertawa lepas bersama Cakka.
“Oh gitu, ya?” Via mengangguk perlahan tanpa berpaling memandang Alvin.
“Udah gitu Kak Alvin juga cakep, pantes aja Kak Via lebih memilih Kak Alvin ketimbang Kak Cakka sebagai pacar.” Difa menyenggol badan Via yang masih sibuk dalam aksi pandang memandang seorang Alvin.
“Apaan sih loe, Dif? Lagian loe bukannya baik-baikin abang loe sendiri di depan gue, malah ngejelek-jelekin dia. Dasar bocah!” Difa nyengir.
“Udah deh Kak, gak usah merah gitu mukanya. Tuh lihat Kak Alvin ke sini.” Difa menunjuk cowok berbadan tinggi yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Sekarang giliran gue ya, Dif.” kata Alvin ramah.
“Siap, Kak! Maaf ya, aku pacarin bentar tadi Kak Vianya. Kalau gitu sekarang cowok ganteng ini mau berenang dulu di laut. Bye!” pamit Difa sambil ngeloyor pergi.
“Sok ganteng loe, Dif! Awas tuh kebawa arus!” teriak Via keras. Alvin terkekeh melihat tingkah anak satu itu. Dasar bocah! batinnya.

Mendadak, suasana kembali seperti semula, jauh sebelum ada Difa datang menemani Via. Lembayung yang semakin keruh warnanya itu menjadi objek pandang Via kali ini. Cukup lama hening berkuasa di antara mereka. Hanya terdengar debur ombak yang kian melebar ke tepi pantai. Sejenak, Via menyandarkan kepalanya ke pundak Alvin. Damai. Sedangkan di sisi lain ada sepasang mata yang memandang mereka sendu. Antara cemburu, terharu, senang serta sedih. Entah apa yang sebenar-benarnya ia rasakan saat itu. Cakka.
“Gue harus buang jauh-jauh perasaan ini!” rutuknya pelan. Ia memasukkan kedua tanggannya ke dalam saku celana, kemudian berjalan mundur dan menjauh sejauh-jauhnya dari merekaAlvin dan Via yang sedang menikmati sunset yang begitu indah berduaan.
“Aku sayang sama kamu, Vi.” Alvin membelai lembut rambut cewek di sampingnya. Lalu tersenyum.
Me too! I want forever and ever with you, Alvin.” ucap Via dengan menatap lekat bola mata Alvin yang kala itu benar-benar bening.
Always together, you and me. Ku harap hanya kematianlah yang mampu memisahkan kita. Tapi aku yakin, meski kematian itu memisahkan kita, cinta kita akan selalu ada. Selamanya.” Alvin menyentuh kedua pipi Via perlahan. Rasanya nyaman sekali Alvin memandang wajah Via yang terlihat lebih mempesona dari sebelumnya. Seketika, Via merasakan sensasi hangat, lembut dan lembab mendarat di bibirnya. Bibir Alvin.

Lembayung kian menghitam. Ombak pun ikut memperlambat alirannya. Mereka ikut merasakan apa yang sedang dirasakan Alvin dan Via. Lalu, mentari tenggelam seketika di mana sebelumnya sempat memberi senyuman terakhirnya ke arah dua insan yang sedang dilanda asmara.


The End.