Rabu, 28 Mei 2014

Happy Anniversary

“HAPPY ANNIVERSARRY”

Karya : Aninda Ocha
Cast : Alvin, Sivia, Shilla, Cakka
Genre: Romance,Friendship,Happyend

Sinar matahari masuk melalui celah – celah jendela kamar itu. Sinarnya seakan memaksa seorang gadis cantik yang masih senantiasa menikmati mimpinya. Dan kali ini mata itu terpaksa dibukanya karna silau yang menyapa matanya.
Setelah kesadarannya terkumpul, gadis cantik itu berjalan menuju gorden lalu menyibak kain berwarna ungu itu. Gadis itu juga menggeser jendela kamarnya yang disambut angin sepoi – sepoi pagi ini. “selamat pagi.” Ucapnya senang.
Gadis bernama –Sivia- itu mengambil handphonenya yang tergeletak di kasur. Membaca pesan masuk kemudian tersenyum.
From: My Boo
Sayang... baru bangun pasti ya? :p siap – siap gih, nanti aku jemput jam 8, dandan yang cantik sayang. Morning and I Love You :*
Sivia kemudian mengetik balasannya.
To: My Boo
Kamu tau aja sayang :p haha oke sip, aku tunggu sayang :* I Love You Too {}
-
Sivia yang sudah wangi dan bersih langsung menuruni anak tangga dan senyuman masih tercetak di bibirnya. Sang mama yang memperhatikannya hanya ikut tersenyum. Sudah jadi keseharian melihat Sivia tersenyum setelah bangun tidur.
“selamat pagi mama.” Sivia mencium pipi sang mama yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga itu.
“selamat pagi sayang. Anak mama rapi banget, mau jalan – jalan sama Alvin ya?” goda mama Sivia yang membuat pipi gadis itu memerah karna malu. Alvin dan mamanya sama saja –sama-sama-suka-menggoda-.
“mama masak apa?”
“nasi mawut. Yang pernah kita cobain waktu kita liburan ke Lombok itu, Vi. Yang di puji habis – habisan sama papamu.” Cerocos mama Sivia. Wanita paruh baya itu memang sangat pandai memasak. Masakan apapun yang disukai oleh anak dan suaminya akan ia buatkan khusus untuk keluarga kecilnya itu.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Sivia dan sang mama sama – sama tersenyum. Keduanya berjalan kearah pintu dan benar dugaan mereka. Alvin sudah berdiri di depan pintu.
“pagi tante. Cantik banget pagi ini.” goda Alvin. Sivia tertawa sementara sang mama memukul lengan Alvin pelan.
“kamu kok gombalin tante – tante, Vin.” Mama Sivia mengajak Alvin untuk ikut sarapan bersama.
Alvin duduk di samping Sivia yang sudah melahap makanannya. Alvin tertawa melihat cara makan Sivia seperti anak sd yang tidak mau makanannya diambil orang. “papa kamu mana, Vi?” tanya Alvin.
“papa lagi sakit. Makanya tadi mama bawain nasi sama susu ke dalem kamar.” Jawab Sivia seadanya. Gadis itu masih menikmati sarapan paginya.
Alvin kembali tertawa karna ada makanan yang sedikit belepotan di sudut bibir Sivia. Laki – laki itu mengambil tisu lalu membersihkan bibir Sivia. Gadis itu merasa pipinya sudah memerah saat ini.
“hehe, makasi sayang.”
“sama –sama sayang. Cepet gih habisin makannya, ntar jalanan keburu rame.” Suruh Alvin sambil mengelus rambut hitam Sivia.
-
-
Alvin dan Sivia dalam perjalanan yang entah kemana karna Alvin tidak memberitahu kemana mereka akan pergi. Setiap Sivia tanya, pasti jawabannya Cuma ‘nanti kamu juga tau’ atau ‘udah duduk manis aja’ dan itu cukup bikin Sivia kesal sekarang.
“sayang, jangan ngambek dong.” Bujuk Alvin.
“kamu sih nggak mau kasih tau kita mau kemana.” Sivia menikmati pemandangan luar jendela. Malas banget lihat Alvin saat ini.
“lagi bentar kita sampai kok, nanti kamu bakal tau kita kemana, sayang.”
Tak lama Alvin memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk kekasihnya yang lagi ‘ngambul’ itu. Sivia menatap taman kecil tempat mereka sekarang tanpa berkedip. Taman ini cantik sekali, pikir Sivia. Ada beberapa kertas origami berbentuk burung dan beberapa bunga mawar yang kelopaknya bertaburan di atas rumput membentuk sebuah tulisan.
‘HAPPY 5 MONTH ANNIVERSARY’
“Vin... i-ini...” Sivia menggantungkan kata – katanya. Kesal, sedih dan bahagia yang dirinya rasakan sekarang.
Alvin memeluk Sivia dari belakang. menumpukan dagunya di atas bahu Sivia. “Happy anniversary sayang. Aku harap kamu selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Bisik Alvin.
Sivia menangis haru. “m-makasi sayang. Aku harap kamu juga bakal selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun.” Sivia membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alvin yang lebih tinggi darinya. Menyalurkan semua perasaan yang ia rasakan sekarang.
“i love you, i love you more than you know.” Bisik Alvin lagi sambil mengecup puncak kepala Sivia.
Alvin melepaskan pelukan mereka. Laki – laki itu merogoh saku jaket yang ia gunakan. “ada apa, Vin?” tanya Sivia bingung.
“coba kamu balik badan terus tutup mata kamu.” Suruh Alvin –masih merogoh saku jaketnya- mencari sesuatu yang sudah ia siapkan 3 hari yang lalu.
Sivia menurut kemudian membalikkan badannya membelakangi Alvin lalu menutup matanya. Dalam hati dirinya sudah penasaran dengan kelakuan Alvin sekarang ini. walaupun Alvin sudah sering memberi kejutan untuknya.
Sivia merasa dingin menyapa lehernya. Gadis itu membuka matanya. Mendapati sebuah kalung permata di lehernya. ‘Alvin romantis banget’ batin Sivia yang tidak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
“kamu bikin aku kaya cewek terbahagia di dunia ini, Vin” celetuk Sivia.
“dan aku bakal selalu bikin kamu bahagia tiap harinya, Vi”
-
-
Setelah acara kejutan tadi, Alvin mengajak Sivia ke sebuah caffe yang tidak terlalu jauh dari taman itu. Mereka memilih duduk di sudut caffe tersebut yang dekat dengan jendela.
“mau pesan apa, sayang?”
“chocolate milkshake aja sayang, kamu apa?”
“chocolate milkshake sama cappucino coffe ya mbak.”
Alvin memberi daftar menu tadi kepada pelayan yang melayani mereka. Keduanya menatap keluar jendela yang nampak begitu ramai oleh lalu – lalang kendaraan. Jakarta benar – benar padat, pikir mereka.
Mata Sivia tidak sengaja menangkap seseorang yang berjalan kearah caffe ini, “itu Shilla ‘kan?” ucap Sivia tanpa sadar. Dan benar saja, itu adalah Shilla –sahabatnya-.
TRIINNG!!
Bel berbunyi, pertanda seorang pelanggan baru datang. Sivia segera bangkit dan menghampiri pelanggan itu. “ke caffe kok nggak bilang – bilang.” Sindir Sivia.
Shilla yang masih fokus dengan gadget miliknya mengangkat kepalanya. Mendapati sahabatnya yang manyun dan menatapnya kesal.
“eh, Sivia? Sama siapa kesini? Hehe, gue fikir jam segini lo belum bangun, Vi.” Tawa Shilla.
“lo fikir gue kebo apa! Yaudah yuk nimbrung aja sama gue dan Alvin. Biar tambah rame.” Sivia menarik atau lebih tepatnya –menggeret- Shilla ke tempatnya tadi.
Alvin yang masih bingung dengan tingkah pacarnya tadi tak lama tersenyum melihat Sivia bersama Shilla, “hoy Shil, lama nggak ketemu.” Alvin mengajak Shilla ‘high-five’.
“alah, bilang aja lo kangen sama gue, Vin. Ngomong – ngomong kalian habis darimana?”
“tempat romantis, Shil.” Ucap Sivia. Pipinya tiba – tiba memerah lagi. sementara Alvin mencubit pipi pacarnya itu gemas.
“oh iya, kalian anniv ya sekarang? Ya ampun! Selamat ya!” seru Shilla. Sivia dan Alvin tersenyum kemudian mengucapkan ‘terima-kasih’ bersamaan.
“lo mau pesan apa, Shil? Biar gue yang traktir” tanya Alvin.
“gue cappucino coffe aja.” Jawab Shilla seadanya. Alvin memanggil seorang pelayan dan memesan kembali pesanan yang Shilla minta.
Shilla masih fokus dengan handphonenya. Sedangkan Alvin masih asyik menatap keluar jendela. Lalu Sivia? Gadis itu hanya mencoba untuk tenang sekarang karna sedari tadi gadis itu terus memikirkan pesanan Alvin-Shilla yang sama.
-
“Shil, gimana kuis lo kemaren? Lancar, ‘kan?” tanya Sivia sambil menyeruput chocolate milkshake yang ia pesan.
“yah... lo tau sendiri gimana guru yang satu itu kalau ngajar. Demi apapun gue rasanya pengen pindah dari sekolah itu.” Shilla memanyunkan bibirnya kesal.
“kalau lo sampe pindah sekolah, jangan harap gue mau ngomong sama lo lagi, Shil.” Ujar Sivia. Hanya bercanda sebenarnya. Tapi itu cukup membuat Shilla tersedak karna kopi-nya.
“yaelah, lo gitu aja langsung ngambek. Lo kira gue anak presiden yang bisa pindah ke sekolah mana aja gue mau? Bisa – bisa gue di sekap dalem kamar sama bokap – nyokap gue.”
“yaelah lo gue ngomong gitu aja langsung keselek kopi.” Celetuk Sivia mengikuti gaya bicara Shilla sebelumnya. Shilla hanya tersenyum kecil melihatnya.
Alvin yang hanya diam sedari tadi akhirnya ikut nimbrung dengan kedua gadis cantik itu. Alvin mengeluarkan beberapa candaannya yang cukup membuat suasana seru diantara ketiganya.
“Shil, kapan lo bakal nyusul kita buat pacaran?” tanya Alvin.
Shilla menatap kesal kearah Alvin, “santai aja kali. Yang pacaran juga gue, kenapa jadi lo yang ngebet?”
Alvin tertawa puas menggoda Shilla yang memasang wajah cemberut andalannya. Selalu begitu, pikir Sivia. Jika Alvin dan Shilla bertemu tidak ada habisnya mereka akan bertengkar. Biasanya Alvin akan menggoda Shilla seperti tadi menyebabkan gadis cantik itu akan marah padanya.
“jodohin sama Chakka aja, Vin.” Timpal Sivia.
“tanpa lo jodohin, gue juga lagi deket sama dia, Vi.” Shilla masih memasang wajah kesalnya. Sementara Alvin dan Sivia memasang wajah ‘bodoh’ mereka. Ckck, pasangan yang serasi, pikir Shilla.
Tanpa mereka sadari bahwa salah satu dari mereka tertawa miris dalam hati.
-
-
-
Sivia dan Alvin saling bergandeng-tangan. Keduanya memasuki wilayah koridor sekolah dan berjalan beriringan. Keduanya mendapat kelas yang berbeda. Alvin yang berada satu tingkat di bawah Sivia. Tapi untungnya mereka mengambil jurusan yang sama. Jadi mereka tidak perlu susah – susah untuk bertemu karna ruangan mereka yang bisa dibilang cukup dekat itu.
Kedua orang menyapa mereka sambil tersenyum hangat, “berdua aja, ikut nimbrung dong.” Shilla menggandeng tangan laki – laki yang ada disebelahnya.
“ekhem, yang baru jadian ya. Traktiran boleh kali.” Goda Sivia.
“selamat ya Chakka, Shilla. Langgeng selalu bro.” Timpal Alvin. Shilla dan Chakka saling berpandangan kemudian mengucapkan terima kasih.
“lo berdua serasi.” Kata Alvin merangkul bahu Sivia.
“ah lo, muji pas lagi ada maunya. Tenang aja, ntar gue traktir.” Chakka memukul bahu Alvin setelah itu tertawa ringan.
Chakka adalah sahabat kecil Alvin. Mereka sering menghabiskan waktu bersama jika Alvin tidak sedang ada kencan dengan Sivia. Tapi, tidak jarang juga Alvin mengajak Chakka untuk ikut bersamanya dan Sivia.
Keempat remaja itu berjalan kekelas mereka masing – masing. Shilla dengan Sivia sementara Chakka dengan Alvin.
“kapan lo di tembak, Shil?”
“pulang dari caffe dia langsung ngajak gue ketemuan, eh nggak taunya dia nembak gue.” Shilla mengingat kejadian 2 hari yang lalu dimana Chakka menembak dia di taman kecil dekat caffe itu.
Sivia tersenyum, “semoga lo langgeng ya.”
-
‘Lo cinta sama dia?’
‘kalau gue nggak cinta, terus untuk apa gue jadiin dia pacar gue?’
‘tapi... tapi apa masih ada gue dihati lo?’
‘itu masa lalu. Lo udah lihat sendiri, ‘kan? Gue bahagia sama dia. Dan gue nggak bakal lepasin dia’
‘tapi lo sama dia kan–‘
‘gue harap lo ngerti.’
‘tapi gue suka sama lo! Dan gue mau kita kaya dulu lagi.’
‘lo nggak salah? Gue udah bilang, ‘kan. Gue cinta sama dia dan gue nggak bakal lepasin dia! Lagian lo udah sama yang lain, ‘kan?’
-
-
-
Sivia merebahkan tubuhnya dikasur. Raut wajah sedih, kecewa dan kesal tercetak di wajah cantiknya. Alvin dengan seenak jidatnya membatalkan acara kencan mereka. Padahal sudah semalaman penuh Sivia mempersiapkan pakaian untuk kencan mereka.
Gadis itu meraih ponsel yang di letakkannya di meja nakas,
From: My Boo
Sayang, aku minta maaf banget ya. Aku janji deh besok kita habisin waktu berdua seharian. Sekarang aku lagi sibuk ngurusin tugas sekolah aku.
Sivia melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Tidak ada niat sama sekali untuk membalas sms pacarnya itu. Dan wajahnya kembali kesal karna ponselnya bergetar lagi. pasti Alvin, pikirnya.
From: My Boo
Aku udah nyuruh Chakka kerumah kamu. Kamu jalan – jalan sama dia dulu aja, nggak apa – apa,  ‘kan sayang? I’m really sorry L
What the... pergi dengan Chakka? Hey! Dirinya tidak mau mencari resiko dibilang ‘perusak hubungan orang’ apalagi Chakka pacar Shilla, sahabatnya.
“dia gila atau gimana sih?” kesal Sivia.
Dan benar saja, Chakka mengirim sms ke Sivia. Menyuruh gadis itu untuk siap – siap karna ia dalam perjalanan kerumah Sivia. Damn! Sivia semakin kesal sekarang.
Dengan malas Sivia melangkah ke kamar mandi. membersihkan dirinya setelah itu berdandan seadanya. Mau cantik atau tidak toh tidak penting baginya sekarang.
From: Chakka
Gue depan rumah lo, cepet gih keluar
“bilang permisi atau assalamu’alaikum bisa kali.” Decih Sivia.
-
Sivia menyambut Chakka dengan wajah masamnya. Laki – laki itu menggunakan jaket denim biru tua dengan celana jins berwarna senada. Sok kece, pikir Sivia.
Vi, anak orang emang kece kali!
Sementara Sivia mengenakan kaos merah dengan celana jins berwarna sama seperti Chakka.
“manyun mulu, senyum biar cantik.” Tanpa ba-bi-bu Chakka menarik Sivia keluar rumah. Laki – laki itu mengenakan helm putih di kepala Sivia.
“naik!” suruh Chakka.
“biasa aja kali ngomongnya kan bisa.”
Sivia naik ke atas motor hitam milik Chakka. Setelahnya mereka melesat entah kemana, keduanya juga tidak tahu
-
“hahahaa!!” gelak tawa Sivia semakin keras mendengar lelucon yang dilontarkan Chakka tanpa henti. Keduanya sama – sama tertawa. Tidak peduli dengan tatapan orang – orang yang aneh pada mereka.
Saat ini keduanya duduk sambil memegang es krim di sebuah taman bermain. Entah karna sudah tidak ada tempat atau bagaimana, akhirnya mereka memutuskan untuk kesini.
“aduh Ka! Udah udah udah, lo bikin gue sakit perut jadinya.” Sivia memegang perutnya yang sedikit perih karna terlalu lama tertawa.
“muka lo manis kalau ketawa, Vi.”
DEG!
Sivia terdiam. Gadis itu bahkan tidak berani menatap kearah Chakka. Buru – buru di tepis fikiran aneh yang menghampiri otaknya. ‘inget Vi, dia pacar sahabat lo. Jangan terlalu ge-er. Mungkin itu pujian biasa.’
“lo di puji bukannya bilang makasi atau muji gue balik gitu.” Chakka menyentil jidat Sivia membuat sang empunya meringis.
“sialan lo! Sakit tau! Pengen banget di puji balik? Ntar yang ada Alvin marah sama gue.” Ujar Sivia. Di sendokkan es krim coklat itu kedalam mulutnya.
Suasana hening. Mereka diam dengan fikiran mereka masing masing. Sivia menatap Chakka lama. Ada satu hal yang mengganjal di fikirannya. “lo nggak sibuk, Ka?” tanya Sivia.
“kalau gue sibuk, terus ngapain gue nemenin lo?” jawab Chakka. Sivia menautkan kedua alisnya.
“bukannya lo ada tugas? Alvin aja nggak bisa nemenin gue kencan karna kerjain tugas bu Clara lo tau sendiri kan sama guru itu.”
Chakka menautkan kedua alisnya.
“kelas gue free kok. Lagian tumben banget Alvin mau ngerjain tugas kampusnya. Lo tau sendiri, ‘kan? Pacar lo paling males namanya ngerjain tugas kampus.” Jelas Chakka.
Fikiran aneh mulai berkecamuk di fikiran Sivia. Jadi, kalau tidak mengerjakan tugas kampus, terus apa? Kalau sakit, pasti Alvin akan memberitahunya. “gue jadi curiga.”
“hah?”
-
JDAR!
"Apaan tuh?" Tanya Cakka mendengar suara keras yang berasal dari  halaman rumah Sivia. Cakka langsung berlari mencari asal suara tersebut, di ikuti Sivia di belakangnya.
Cakka mengedarkan pandangannya ke segala arah di halaman rumah Sivia, berusaha mencari asal suara tersebut. Namun hasilnya nihil. Cakka melirik ke arah Sivia yang menggigit ujung bibir bawahnya penuh ketakutan. Mata Sivia pun sudah berkaca-kaca membuat Cakka menyeritkan dahinya heran. Apakah Sivia terluka?
"Via awasss" Teriak Cakka menarik Sivia kala melihat sebuah batu besar yang ingin menghantam kepala gadis itu. Sivia menunduk takut, lalu menatap Cakka yang sedang berlari kecil ke arah batu yang hampir mengenai Sivia tadi. Selalu seperti ini batin Sivia.
-
Yaa, Sebenarnya kejadian ini sudah tidak asing lagi bagi Sivia. Bagaimana tidak? Jika setiap hari dia selalu saja menerima hal-hal aneh.
Seperti mendapatkan tikus mati yang di bungkus di depan jendela kamarnya. Di takuti dengan suara-suara bising horor yang selalu mengusik tidurnya Dan masih banyak hal aneh lainnya yang di terima Sivia. tak jarang juga itu menyakiti dirinya sendiri.
Cakka terkejut bukan main saat melihat batu penuh bercak darah yang tadi hampir saja mengenai kepala Sivia. Bagaimana jika batu itu benar-benar akan mengenai Sivia? Hiih membayangkannya saja Cakka sudah merinding. Di alihkannya tatapannya ke arah gadis itu, wajahnya pucat pasi dan Oh yaampun ini pertama kalinya Cakka melihat penampilan Sivia yang acak-acakkan.
Siapa yang melakukan ini? Apakah ini sudah sering di alami Sivia? Itulah pertanyaan-pertannyan aneh yang berkecamuk di otak Cakka.
Cakka berlari kecil menghampiri Sivia, memegang pundak gadis itu yang bergetar.
"Vi, lo kenapa?" Tanya Cakka. Tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan gadis cantik ini.
Sivia menggelengkan kepalanya, tiba-tiba bibir  nya sulit mengeluarkan kata-kata dan tubuhnya bergetar hebat membuat Cakka semakin khawatir.
"Via lo kenapa?" Tanya Cakka ---lagi. Dan lagi hanya gelengan dari kepala Sivia yang di dapatkannya. Cakka yang memahami mungkin Sivia tidak ingin berbicara kemudian membawa gadis ini ke dalam rumahnya, dan membatalkan acaranya mengajak Sivia pergi.
-
Sudah 3 hari ini Sivia terbaring lemah tak berdaya di balik selimutnya. Sejak peristiwa 'batu bercak merah' itu Sivia didera depresi. Terang saja, ia sudah cukup sakit hati dan tidak tahan lagi mendapatkan hal-hal yang jauh dari pikirannya.
Sivia sudah berusaha mencari tau siapa di balik semua ini namun hasilnya tetap nihil.
Memikirkan itu membuat kepala Sivia tiba-tiba terasa seperti ditindih beton. Matanya sesekali terpejam. Dan yang Sivia rasakan dunia berjungkir balik tak karuan seperti bermain sirkus menertawakan sakitnya. Darahnya seperti terpusat pada kepala. Sakit bukan main dan perutnya sudah di obok-obok. Mual tak karuan. Yaampun ada apa dengannya??
"Via kamu ga apapakan?" Alvin berteriak, berusaha keras agar gadisnya yang sedang terbaring lemah tak berdaya bisa mendengar suaranya. Sivia tersenyum, dalam keadaan sakitpun dia sangat gembira karna mendapatkan perhatian 'khusus' dari Alvin.
Bisa tidak untuk saat ini Sivia lebih memilih sakit dari pada sehat? Alasannya simple, karna ia senang jika Alvin sudah perhatian seperti ini.  Memang sedikit Norak. Tapi...
"Nggapapa Vin, tenang aja"
Alvin menempelkan tangannya di dahi Sivia "Kamu panas banget" Serunya cemas. Sivia melihat semuanya begitu putih. Putih tanpa rasa. Tanpa dimensi.
"Kamu ga masuk  Vin?" Tanya Sivia pelan. Alvin menggelengkan kepalanya dan mengelus puncak kepala Sivia.
"Bisa gitu aku sekolah sementara kamu kaya orang sekarat gini?" Tanya Alvin lembut, dan itu semakin membuat poin Sivia untuk selalu ingin sakit bertambah.
Sivia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, ditambah lagi seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dirinya.
Tapi bagaimanapun itu dia tidak boleh egois. Dia tidak boleh membuat Alvin sangat mengkhawatirkan dirinya sampai tidak mengikuti pelajaran seperti biasanya.

"Makasih yaa" Ucap Sivia tersenyum pada Alvin. Alvin membalasnya. Ada getar hati yang membuat jalinan mereka semakin dekat, semakin aneh dan semakin susah di diskripsikan.
"Masih sakit? Sekarang kamu minum obatnya aja dulu. Abis itu istirahat. Biar cepet sembuh" Khotbah Alvin seperti ibu-ibu. Sivia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Istirahat mulu. Capek tau" Ketusnya membuat Alvin terkekeh geli. Alvin menarik hidung Sivia gemas membuatnya mau tidak mau mendapatkan pelototan dari sang gadis.
"Udah sih sipit mah sipit aja" Ledek Alvin
"Dih berasa belo gtu?" Ucap Sivia menantang. Pasalnya Alvin tidak tahu diri banget. Dia juga sipit tapi ngatain orang sipit. Dasar!
"Biarin. Aku sipit tapi tajam. Ga kaya kamu sipit tapi buta" Ledeknya lagi. Sivia menyeritkan dahinya, heran dan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Alvin barusan.
"Maksudnya Vin?" Tanya Sivia. Alvin menggeleng cepat.
-
3 hari berlalu kini keadaan Sivia makin membaik ditambah lagi penyemangatnya sang pujaan hati Alvin. Namun akhir-akhir ini Alvin sangat sulit untuk dihubungi Sivia mencoba mengerti mungkin Alvin sedang sibuk. Terroran yang sering menimpa Sivia akhir – akhir ini sudah jarang sekali. Syukurlah Sivia dapat bernafas lega
Tiin-
Suara klakson dari luar rumah Sivia.
 Segera Sivia beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu. Dari balik pintu terlihat laki-laki tampan berpostur tinggi tersenyum manis kearahnya Sivia membalasnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah ayunya
Dia Cakka sahabat Alvin sekaligus orang yang suka menemani Sivia jika Alvin sedang tidak dapat diganggu. Cakka hadir karena suruhan Alvin untuk menemaninya.
“Sore Vi” Sapa Cakka. Cakka terlihat tampan dengan jaket merah dan celana panjang yang membalut tubuhnya.
“Sore Cak. Tunggu sebentar ya gue mau ngambil tas dulu”balas Sivia. Cakka hanya mengacungkan jempol
“Vi kalau naek motor ga papa kan. Soalnya gue lagi males pake mobil”Tanya cakka.
“ya gapapa kali. Lo piker gue cewek apa pake motor aja ga mau”balas sivia dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir manisnya. Cakka tertawa sambil mengacak rambut Sivia gemas
Sivia yang mendapat perlakuan seperti itu hanya memanyunkan bibirnya tapi lama kelamaan Sivia menunduk dia teringat dengan Alvin sang kekasih yang selalu memperlakukannya seperti itu namun mengingat kesibukan Alvin. Huh… segera saja Sivia mencegah pikiran negative yang memasuki pikirannya. Dia harus berpikiran positif
Melihat itu Cakka menjadi heran. Cakka melambaikan tanggannya di depan muka Sivia.
“Vi lo kenapa?” Tanya Cakka
“hah.. enggak yaudah yuk kita jalan ntar keburu sore”Ucap Sivia sambil menaiki motor Cakka
“yaudah sok atuh neng. Makan dulu aja yuk laper nih gue belum sempet makan siang hehe”Cengir Cakka mengusap perutnya.
Sivia terkekeh geli melihatnya. “dasar lo ntar kalo lo gak makan kan sakit kasian tau Shillanya” Balas Sivia. Mengingat Shilla, Sivia berpikiran sesuatu
“Eh Cak emang Shilla gak marah lo jalan sama gue gini?”Tanya Sivia. Cakka melihat Sivia melalui kaca spion. “ya gak lah vi dia mah ngerti gue kok” Balas Cakka
-
-
“Vin, aku masih sayang sama kamu”tangis seseorang.
“Tapi shil aku harus gimana? Aku gak mungkin ninggalin Sivia gitu aja”Balas Alvin. Shilla yang tertunduk tadi langsung menatap Alvin dengan tatapan sendu. Alvin memegang tangan Shilla lembut
“Shilla. Sebenernya aku juga masih sayang sama kamu. Tapi gimana? Aku gak mungkin nentang mama shil”Ucap Alvin lembut. Shilla hanya menangis dan tak mampu memendung air mata yang sejak tadi bersarang dimatanya
“Kamu tau aku udah ngejalanin berbagai cara biar aku bisa sama kamu lagi vin. Aku nerror Sivia biar dia mau ngejauhin kamu. Aku gak bisa lepas dari kamu vin” Ucap Shilla. Mendengar itu Alvin jelas sangat kaget dan syok sama apa yang udah dilakukan Shilla terhadap Sivia.
Tangan Alvin terulur dan segera memeluk Shilla. Mereka berdua ditonton banyak orang dengan apa yang mereka lakukan. Jelas mereka heran karena mereka berpelukan dan ceweknya menangis disebuah café mungkin mereka berpikir mereka sedang dilanda masalah. Jelas masalah besar
“Maafin aku shill.oke detik ini aku bakal selalu ada buat kamu dan aku akan berjuang mertahanin kamu dan kita minta restu dari mama aku”Ucap Alvin. Mendengar itu Shilla menangis bahagia karena perjuangannya tidak sia-sia. Kita lihat saja nanti
-
-
Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulit Sivia. Berkali-kali ia membasuh keringat yang berada di keningnya lalu menuruni pipinya, hari itu begitu panas, hanya sesekali angin mendesah perlahan. Sesekali di teguknya air mineral yang sejak tadi ia genggam. Perasaannya tidak enak, ada firasat buruk yang merasuk masuk di dadanya.
Sivia menghela napas sebentar untuk menetralisikan otaknya yang entah memusingkan apa. Ia berjalan santai memasuki cafe yang biasa ia kunjungi.
Tiga sentuhan kecil yang berarti besar. Sandaran bahu yang romantis, pelukan yang manis, dan kecupan yang penuh magis.
Sivia ternganga melihat itu semua. Ada rasa sakit yang pelan-pelan tergores di dadanya. Semakin dalam, semakin panjang, semakin perih. Tak mampu untuk di jelaskan, kecemasan yang sama dan selalu berulang. Berkali-kali Sivia menatap dua orang yang ada di depannya. Saling menggenggam tangan,menatap, berpelukan.
Ia menatap 2 orang itu lagi. Berharap menemukan jawaban dari hatinya yang mulai membuncah dan menggema dengan liarnya. Dan sampai menit demi menit berlalu pun, jawaban masih belum ia dapatkan. Ia hanya mampu menerka-nerka.
Dan dalam terkaannya. Shilla menyukai Alvin. Kekasihnya sekaligus cinta pertamanya.
sejahat itukah Shilla?
Siapa yang harus disalahkan?
Sivia tidak sedang berhalusinasi. Mungkin dia memang suka berhalusinasi, tapi tidak pernah sama sekali ia menghalusinasikan keadaan ini. Sivia terisak oleh banyak pertanyaan yang tak terjawab. Wajah Shilla dan Alvin bergantian bergulat dalam otaknya juga hatinya. Lelah. Banyak teka-teki yang rasa-rasanya sulit untuk dipecahkan. Sivia merasa terbodohi. Melihat peristiwa ini, Sivia menciut, mematung, membisu. Tubuhnya seperti mengecil. Ia seperti berhenti bernapas untuk beberapa detik. Tak percaya pada peristiwa yang benar-benar menyayat hati ini. Inilah jawaban atas kecemasannya, kebingungannya, segalanya.
Maka dengan tubuh yang bergetar ia keluar dari tempat yang mungkin akan menjadi tempat terkutuk di hidupnya. Pergi dengan kepingan hati yang telah hancur karna 2 orang yang berarti dihidupnya.
 “Loh Vi lo kok masih disini kan udah gue suruh masuk tadi”Heran Cakka. Memang tadi Cakka menyuruh Sivia untuk duluan masuk ke Café karna dirinya sedang memarkirkan motornya.
Yang ditanya malah lari dengan air mata yang membanjiri pipinya. Cakka yang kaget karna Sivia berlari begitu saja karna penasaran Cakka masuk ke Café dan melihat apa yang dilihat Sivia
. “astaga vin lo masih aja ngarep sama dia jelas-jelas disini ada wanita yang udah setia sama lo”pikir Cakka
Sivia berjalan menulusuri trotoar dia menangis histeris. Dia menjambak rambutnya sendiri dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
-
-
Besoknya Sivia berangkat sekolah menggunakan mobilnya yang biasanya ia dijemput Alvin. Tapi kali ini dia menolaknya. Sivia masih sakit dengan apa yang dilihatnya kemarin matanya sembab itu menandakan bahwa dia menangis semalaman. Tadi malam pun Sivia tidak dapat menutup matanya. Namun syukur ada Cakka yang bersedia mendengar curhatan dan menghiburnya meskipun melalui telepon.
Sivia berpikir bahwa Cakka pasti merasakan hal yang sama dengannya. Pagi ini Sivia ingin mendapatkan kejelasan dari apa yang dilihatnya kemarin.
Terlihat diujung koridor terlihat wanita cantik berjalan menghampiri Sivia. Dia shilla entah Shilla masih dianggap sahabat atau tidak oleh Sivia.
“Hai Vi. Lo kenapa mata lo kenapa sembab gitu” Tanya Shilla sambil memegang pipi Sivia.
Sivia menatap benci Shilla terang saja langsung ditepisnya tangan Shilla yang berada dipipinya. Shilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatap aneh Sivia. “Loh Vi, lo kenapa sih?”Tanya Shilla

“LO GAK USAH SOK MUNA”tunjuk Sivia tepat di depan wajah Shilla. Shilla kaget ditepisnya halus tangan sivia.
“Lo mau ngerebut Alvin dari gue? HAH?”marah Sivia
“ma.. maksud lo apa? Gue gak ngerti deh”Balas Shilla.
“Alah gak usah sok suci lo. Lo kemaren ngapain berdua sama Alvin di Café hah?”Tanya Sivia. Dia menatap Shilla penuh kebencian ditambah dengan sakit yang bersarang di dadanya. Shilla mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan Sivia. Ternyata kemarin Sivia melihat itu semua. Shilla mengeluarkan senyum evilnya
“Oh jadi lo liat semuanya? Yang harusnya jadi perebut itu lo”tunjuk balik Shilla. Syukur saat mereka berantem ini keadaan koridor sekolah sedang sepi karna memang tempat ini sangat jarang dilalui oleh siswa/siswi tempat inilah yang selalu dikunjungi dua sahabatnya ini karena tempat ini langsung menghadap taman yang membuat Suasana sejuk. Ralat mungkin sekarang panas karna dua mantan sahabat ini maybe.
”Ke.. kenapa gue?”Balas Sivia.
“Iya elo. Sebelum Alvin sama lo dia pernah punya hubungan sama gue tapi karna mama lo minta ke mamanya Alvin buat jodohin lo sama Alvin. Hubungan kita jadi selesai”Balas Shilla getir.
“Tapi kan gue gak tau apa-apa. Kenapa kalian ngelibatin gue hah?”Balas Sivia ikut bergetar. Terlihat dari dua orang wanita ini sama-sama memiliki luka yang tergores.
“Ohya. Jangan lo pikir gue sahabatan sama lo karna gue mau. Ya emang awalnya gue mau lupain dendam gue ini dan mulai suka sama Cakka. Tapi apa?Cakka sukanya sama lo vi,kenapa sih semua orang selalu berpihak sama lo hah?gue sakit”Ucap Shilla keras. Sivia menutup telinganya kencang sambil menangis histeris dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
“Kalo lo gak percaya lo bisa Tanya sama Alvin. Kalo sekarang kita sama-sama mencintai yaudah lo say good bye aja sama hubungan basi lo itu”Ucap Shilla berlalu pergi meninggalkan Sivia yang menangis terjatuh di lantai.
-
-
Siang ini Sivia menyuruh Alvin untuk datang kerumahnya Sivia juga perlu penjelasan dari Alvin.
“Jadi kamu udah denger semua dari Shilla? Iya emang aku dan dia saling mencintai. Soal hubungan kita dan semua rasa sayang aku ke kamu itu Cuma pengen ngebahagiain mama aku aja”
Kata-kata itu terus tergiang dalam pikiran Sivia dia tidak menyangka dengan apa yang ia alami ternyata kata-kata manis dan kejutan kecil untuknya itu hanya palsu pemberian Alvin.
ARRGH!
Sivia melempar semua barang yang ada didepannya. Sudah seminggu sejak kejadian itu Sivia tidak pernah masuk sekolah. Tentang Cakka dan Shilla ternyata itu hanya bagian rencana Shilla untuk membuat Alvin cemburu. Sivia marah tentang pengakuan Cakka untuknya tentang hal itu. Namun berangsur-angsur ia mulai memaafkannya
Untuk Shilla dan Alvin Sivia belum berpikir untuk memaafkan mereka meski mereka belum meminta maaf. Hari-hari Sivia mulai diisi oleh Cakka namun hal itu tidak menghapus tentang Alvin dalam benak dan pikirannya.
-
-
“Sayang aa dong”Ucap Shilla. Saat ini Shilla dan Alvin sedang berada di sebuah Café untuk makan siang.
“Udah Sivia sayang aku kenyang”Ucap Alvin yang sedang memainkan handphonenya. Shilla kaget ia menggigit bibir bawahnya apa ia tidak salah dengar Alvin menyebut nama SIVIA bukan namanya. Shilla takut kalau rasa cinta Alvin sudah berubah bukan lagi untuknya.
“apa vin Sivia?”Tanya Shilla lirih. Alvin menoleh kearah Shilla. “Hah? Maksud aku Shilla sayang”Balas Alvin ia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
“Sayang aku mau ke seberang jalan dulu ya. Aku mau beliin sesuatu buat kamu”Ucap Alvin. Shilla hanya tersenyum tipis lalu mengangguki ucapan Alvin
BRAKS!
“Alviiinn…”
-
-
Dua orang itu Cakka dan Sivia berlari kearah ruang rawat seseorang. Sivia mendengus kesal disaat seperti ini dia harus menggunakan sepatu berhak pendek tapi sama saja menyulitkannya berjalan sampai akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat.
 “gimana keadaan Alvin shil?”Sivia. Shilla menangis dan segera memeluk Sivia. Sivia kaget jujur saja dia masih belum memaafkan Shilla dengan apa yang ia lakukan padanya. Namun dalam keadaan begini ia mencoba melupakannya.
Shilla menyuruh Sivia untuk masuk kedalam melihat keadaan Alvin. Awalnya Sivia ragu namun Sivia mulai mebuka knop pintu dan menutupnya kembali. Di dalam Sivia heran mengapa tidak ada seseorang pun disana. Sivia merasa kalau dia sedang dibohongi
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sivia kenal dengan wangi orang ini dan Sivia yakin sekali. Orang itu menyembunyikan wajahnya di sela-sela rambut Sivia. Sivia mulai membalikan badannya
Ia kaget dan sontak memeluk orang itu yang ternyata Alvin. Sivia menangis sekaligus lega dengan keadaan Alvin namun ada perban kecil yang menghiasi kepalanya.
“Aku seneng kamu ga papa. Kalau boleh aku bakal menjadi orang yang egois. Aku bakalan merjuangin cinta aku sama kamu meskipun aku harus dibilang orang jahat sekalipun”Sivia. Alvin tersenyum mendengar kata-kata Sivia.Alvin melepas pelukannya dan menatap Sivia.
“Kamu ga boleh jadi orang jahat karna kamu adalah malaikatku. Aku milikmu dan kamu milikku”Sivia tersenyum tapi Sivia masih tidak yakin. Alvin yang mengerti mulai menjelaskan
“Aku tau pasti kamu mau nanya kenapa sama shilla kan?. Emang bener aku sama dia pernah punya hubungan tapi mama aku nentang itu semua karna asal-usul keluarga Shilla yang gak jelas. Kakaknya buroanan dan papanya gak tau dimana. Orang tuanya bercerai”Jelas Alvin
Sivia tersentak kaget. Apakah benar itu semua? Sivia merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Shilla saat ini. “Tadi juga Shilla udah ditangkep sama polisi ternyata dia juga terlibat kasus pembunuhan yang dilakukan kakaknya. Sebenernya aku udah lama tau tapi bodohnya aku menutupinya”Lanjut Alvin.
“Apapun yang terjadi sekarang kita jadiin pelajaran. Intinya aku gak mau kehilangan kamu vin”Ucap Sivia memeluk Alvin. Diam-diam Alvin memasang Kalung yang dia beli di leher manis Sivia. Sivia kaget sekaligus tersenyum bahagia.
“Thanks Sob berkat lo gue tau pilihan gue yang tepat. Lo emang sahabat terbaik gue”Alvin menepuk bahu Cakka. Cakka menggangguk dan mengacungkan jempol memang Cakka dan Alvin sempat bertemu dan Cakka memaksa Alvin untuk memilih dua diantara wanita yang benar-benar dicintainya hingga Alvin menemukannya cintanya yang asli
“Pilih cinta sesuai kata hati lo bukan karna ego lo. Cari tau siapakah dia?”-Cakka
Happy Anniversary Alvia


[END]

Minggu, 02 Maret 2014

If You Earn Me [10]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
 


Malam ini adalah malam minggu dan Sivia hanya bisa tengkurap sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya. Seperti biasa, sivia mengetikkan alamat situs jejaring social Twitter. Kesal juga sih, ia dirumah hanya bisa main laptop sedangkan ‘pacar’nya malah ke rumah mantannya! Yah walaupun cuma kerja kelompok. Setelah membuka situs itu sivia langsung menuliskan username dan password akunnya. Sivia terlebih dulu membuka mention dan ternyata ada beberapa mention dari teman-temannya.

azizahsivia: kayak lo gak merem aja sha! RT @Keshazzahra: hee sipit follback! @azizahsivia

Setelah membalasnya, sivia langsung membuka akun dengan username keshazzahra itu. Dan benar, itu memang kesha sepupunya yang tinggal di Surabaya. Melihat foto profil kesha membuat sivia jadi kangen keluarga di Surabaya. Apalagi dengan kesha. Umur sivia dan kesha tidak jauh beda membuat sivia cukup akrab dengan kesha.

Setelah menekan tombol ‘FOLLOW’ , sivia kembali membuka mentionnya.
Azizahsivia: 3 porsi sushi duluu!!! RT @agnitri: vii gue ngopy tugas lo doongss @azizahsivia
azizahsivia:ayuuukk RT @ifyalyssa: minggu jogging yuukk @azizahsivia @aghtpricilla

azizahsivia: thankyou :) RT @gabrielstev: cantik :) RT @azizahsivia: new avaa!

Sivia tersenyum melihat mention dari Gabriel. Yah, Gabriel yang tetangga juga mantannya. sivia jadi ingat dulu sivia sangat bangga bisa berpacaran dengan Gabriel saat SMA. Siapa yang tidak bangga jika bisa menjadi pacar seorang idola sekolah. Udah ganteng, keren, kapten basket, pinter, tajir, dan segala kelebihan Gabriel lainnya membuat banyak sekali gadis-gadis yang menyukai Gabriel. sivia juga heran kenapa bisa-bisanya Gabriel malah menyukainya! sivia bahkan masih ingat ia hanya bisa melongo saat Gabriel menembaknya di taman sekolah mereka dulu. Awalnya sivia mengira Gabriel hanya ingin main-main dengannya dan mengira beberapa hari atau beberapa minggu kemudian Gabriel akan memutuskannya. Tapi kenyataannya hubungannya dengan Gabriel bahkan sampai 2 tahun. Dan Gabriel benar-benar menyayanginya hingga terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka berakhir.

Sivia geleng-geleng sambil mencoba membaca mention yang lain untuk melupakan bayang-bayang masa lalunya bersama Gabriel. Lagipula mereka sekarang juga sudah berteman baik dan tidak ada kesalahpahaman lagi.

“@ ifyalyssa oke besok gue ke rumah lo. Awas kalau masih ngeboo.” Sivia langsung menoleh ke belakang dan melihat alvin sedang membungkuk melihat layar laptopnya dan membacakan mention yang baru masuk dari ify.

“Ish ngagetin aja!” kata sivia langsung mengubah posisinya dari tengkurap menjadi duduk. Alvin pun ikut duduk di samping sivia.

“Udahan ngapelnya ke rumah mantan?” kata sivia lagi sambil sok membaca-baca timelinenya.

“Mulai deh.” Kata alvin mengambil alih laptop sivia. Alvin mengetikkan @alvinjo di kolom search dan muncullah akun twitter alvin. Alvin pun langsung menekan tombol follow.

“Oh ya, Emang mau kemana sama ifyalyssa?” Kata alvin sambil entah mengetik apa di laptop sivia.

“Jogging.” kata sivia sambil memeluk boneka kesayangannya, boneka yang di dapatkan alvin di pasar malam.

Alvin hanya bergumam sambil tetap mengetikkan sesuatu di laptop sivia.

“Ngapain sih?” tanya sivia penasaran.

“Gak. Cuma liat-liat aja.” Kata alvin.

“Ganti baju sana.” Lanjut alvin.

“Ngapain ganti baju?” tanya sivia bingung.

“Udah jangan banyak tanya. Ganti baju sana.” Kata alvin. Sivia mendengus sebal tapi menurut juga untuk mencari baju di lemarinya lalu mengganti baju di kamar mandi.

Sivia keluar dari kamar mandi sudah dengan dress selutut berwarna tosca. Sivia melirik alvin yang ternyata sudah menutup laptopnya dan kini berganti memainkan hp sivia yang tergeletak di kasur tadi.

“Ngapain??” tanya sivia menghampiri alvin. Alvin pun mendongak dan tersenyum melihat sivia memakai dress. Bagi alvin, sivia terlihat sangat manis jika memakai dress. Tapi sayangnya sivia malah jarang sekali memakai dress.

“Udah siap?” alvin malah balik bertanya.

“Bentar.” Kata sivia lalu mengambil flatshoes dengan warna senada dengan dressnya.

“Yuk.” Alvin langsung menggandeng sivia setelah melihat sivia sudah memasukkan handphone dan dompetnya ke dalam tas. Mereka pun keluar dari kamar sivia.

Setelah izin ke mama sivia, alvin dan sivia pun masuk ke mobil alvin dan pergi. Di dalam mobil sivia hanya diam sambil mengamati mobil alvin. Sivia penasaran sebenarnya ada berapa mobil alvin? Walaupun alvin jarang membawa mobil, tapi sampai saat ini alvin selalu membawa mobil yang berbeda di setiap mereka pergi bersama.

Lamunan sivia buyar begitu menyadari alvin sudah membukakan pintu mobil untuknya. Dan disinilah mereka berada, rumah makan padang yang tidak jauh dari rumah sivia. Salah satu tempat makan favorite sivia.

“Darimana kamu tau tempat ini?” tanya sivia. Sivia memang ingat kalau ia pernah menceritakan ke alvin tentang rumah makan padang favoritenya yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tapi sivia tidak pernah memberitahu nama restaurant itu bahkan memberitahu tempatnya.

“Ini satu-satunya rumah makan padang yang deket sama rumah kamu. Jadi bener ini tempat makan favorite kamu?” alvin malah balik bertanya.

Sivia hanya mengangguk untuk menjawabnya. Mereka pun masuk ke rumah makan itu. Sivia langsung memesan menu favoritenya dan langsung menyantapnya setelah pesanannya datang. Jangan heran. Sivia memang sudah lama tidak makan di tempat makan ini.

* * *

Sivia duduk di kasur sambil tersenyum. Ia baru saja selesai mengganti pakaiannya menjadi baju tidur. Beberapa menit lalu alvin mengantarnya pulang setelah puas menghabiskan masakan padang di salah satu tempat makan favoritenya itu. Sebenarnya alvin ingin mengajak sivia nonton tetapi waktunya yang tidak mendukung. Setelah selesai makan jam menunjukkan pukul delapan malam. Jadi alvin mengurungkan niatnya begitu mengingat ia sudah berjanji kepada mama sivia untuk tidak memulangkan sivia terlalu malam. Hingga pukul setengah Sembilan mereka sudah berada di rumah sivia. Alvin hanya sebentar di rumah sivia dan pamit pulang. Sivia mengantar alvin ke depan dan lagi-lagi alvin mencium kening sivia untuk kedua kalinya dalam hari ini sebelum akhirnya pulang. Dan itulah yang membuat sivia senyum-senyum sendiri sekarang ini. Entah kenapa hanya dengan mengingatnya sudah membuat wajah sivia terasa hangat.

Sivia mengambil smartphonenya untuk menghentikan aktivitas gilanya yang senyum-senyum sendiri. Seperti biasa sivia membuka aplikasi twitter dari smartphonenya sambil merebahkan diri di kasur.

Azizahsivia: :D

Sivia hanya mengetikkan emote yang mewakili perasaannya yang sedang gembira saat ini. Setelah itu sivia pun memilih untuk sekedar membaca timeline yang sangat ramai di jam-jam ini. Hingga tiba-tiba ada mention masuk membuat sivia berhenti membaca timeline dan memilih membuka mention.

Alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sivia mengerutkan keningnya. Alvinjo? Twitter alvin? Batin sivia langsung membuka akun twitter itu. Dan benar itu memang twitter alvin. Sivia heran ternyata alvin tau twitternya. Tapi sivia lebih heran bagaimana bisa mereka sudah saling follow. Tapi tidak urung sivia menyunggingkan senyum sambil membalas mention alvin.

Azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sambil menunggu balasan alvin, sivia pun memilih membuka tweets alvin. Memang sudah jadi kebiasaan sivia yang suka sekali stalking jika sedang tidak ada kegiatan.

alvinjo: Ya RT @Marshaw: thanks udah kerumah J @alvinjo

Sivia mengerutkan kening membacanya. Sivia tahu itu marsha mantan alvin tadi. Tapi yang membuat sivia kesal kenapa cuma alvin yang di mention? Bukannya kata alvin masih ada tiga orang lain yang ikut kerja kelompok? Atau alvin yang membohonginya? Perasaan sivia yang sebelumnya berbunga-bunga kini menjadi hancur kesetika.

alvinjo: Ya RT @bangtoyib: Besok kerja kelompoknya di rumah gue @bastiansteel @alvinjo @masrhaw @dianaaa

Sivia langsung lega begitu melihat tweet dari bangtoyib itu. ternyata memang benar tadi alvin kerja kelompok di rumah marsha dengan tiga orang lain. Bukan hanya berdua dengan marsha. Tapi kenapa marsha yang mention ke alvin? Itu yang masih membuat sivia bingung.

Alvinjo: besok RT @sionsimbolon: bos memory card gueee @alvinjo

Alvinjo: Cemburu ;)?

Sivia mendengus melihat tweet alvin sekitar beberapa jam lalu itu. Sivia yakin itu pasti untuk dirinya. Huh!

Alvinjo: Yes!

Sivia melihat tweet alvin itu penasaran. Tweet itu di post tanggal 1 Januari pukul 02.00. Berarti itu saat alvin pulang dari rumah tante sivia? Berarti setelah mereka . . . jadian? Sivia tersenyum sendiri mengingatnya.

Sivia berhenti membaca tweet alvin begitu ada mention masuk. Sivia pun buru-buru membukanya.

Alvinjo: Haha RT @azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Sivia pun membalasnya.

Azizahsivia: Gak lucu RT @alvinjo: Haha RT @azizahsivia: Aku gak inget pernah follow kamu -_- RT @alvinjo: ;) RT @azizahsivia: :D

Tidak ada balasan lagi dari alvin di twitter tapi cowok itu lebih memilih mengirimi sivia bbm.

Alvin Jonathan: Kenapa belum tidur?

Sivia Azizah: Belum ngantuk

Alvin Jonathan: Kenapa belum ngantuk?

Sivia Azizah: Gak tau

Alvin Jonathan: Kenapa gak tau?

Sivia Azizah: Kenapa banyak tanya? -_-

Alvin Jonathan: Kenapa kalau banyak tanya?

Sivia Azizah: Kenapa nyebelin?

Alvin Jonathan: Kenapa suka?

Sivia Azizah: Ngeselin!

Begitulah seterusnya percakapan mereka di aplikasi messenger itu. Walaupun terlihat sebal sebenarnya sivia malah senyum-senyum melihat chatnya dengan alvin.

Apalagi alvin, senyumnya tidak pernah hilang setiap melihat balasan dari sivia. Yah walaupun bukan pesan yang romantis seperti pasangan kekasih lainnya, tapi itulah yang membuat alvin senang. Semua sikap judes sivia malah membuatnya semakin menyukai cewek itu.

* * *

Sivia menatap ify yang berlari pelan di depannya. Mereka sudah berlari memutari taman kompeks perumahan sivia untuk yang ke-lima kalinya. Sivia tidak heran melihat ify yang tidak terlihat lelah sama sekali. Sahabatnya itu malah masih berlari sambil tersenyum lebar memamerkan kawat giginya yang berwarna pink. Ify memang suka olahraga. Hampir tiap minggu ify mengajak sivia untuk jogging di taman perumahan sivia. Sivia juga heran, padahal di dekat rumah ify juga ada taman yang cukup luas. Tapi ify selalu memilih taman di perumahan sivia sebagai tempat joggingnya.

“Fy, gue capek!” sivia mencoba menyusul ify yang berada beberapa langkah di depannya.

Ify menoleh ke belakang dan melihat sivia yang sudah bermandikan keringat. Ify melihat jam tangannya dan akhirnya memelankan langkahnya untuk menunggu sivia.

“Yaudah. Udah jam segini juga.” Kata ify membuat sivia tersenyum mendengarnya.

Seperti biasa, setelah jogging mereka memilih duduk di saah satu bangku di taman itu sambil minum dan beristirahat.

“Oh ya, lo udah di kabarin tentang reuni SMP?” tanya ify sambil membuang botol air mineral yang sudah kosong.

“Udah. Dua hari lalu gue di sms sama Abner.”

“Terus? Lo ikut?” tanya ify lagi.

“Kayaknya sih ikut. Udah lama kan gak ketemu anak-anak SMP. Kenapa? Lo gak ikut?”

“Kalau lo ikut ya gue juga ikut.”

“Tapi masih dua bulan lagi kan?”

“Iya. Oh ya, katanya nanti Debo juga dateng loh!”

“Debo?” tanya sivia.

“Iya. Debo Andryos!”

“Oh.” Kata sivia mengangguk, mulai mengingat. Sivia jadi tidak heran melihat ify yang sekarang tersenyum lebar. Secara, Debo Andryos mantan ify yang katanya melanjutkan kuliah di luar negeri juga turut menghadiri reuni itu. Dan yah, sivia dan ify memang teman dari SMP. Sayangnya saat SMA mereka beda sekolah tapi mereka tetap berteman dekat. Dan baru sekarang mereka melanjutkan kuliah di Universitas yang sama, walaupun berbeda jurusan.

“Hai vi.” Sivia dan ify sontak mendongak mendengar sapaan yang terdengar ambigu itu. ‘Vi’ dan ‘Fy’ memang tidak ada bedanya jika di dengar.

“Oh, hai gab!” kata ify tersenyum lebar sambil menyikut sivia pelan.

“Hai yel.” Kata sivia ikut tersenyum walaupun tidak selebar ify. Sivia hanya berdoa semoga ify tidak bertingkah aneh-aneh. Sahabatnya itu suka sekali menggodanya dengan Gabriel. Yah, cowok yang berdiri di depan mereka sekarang adalah Gabriel Steven, mantan juga tetangga sivia.

“Abis jogging juga?” tanya Gabriel menatap sivia dan ify bergantian.

“Iya nih. Lo sendiri? Sendirian aja?” tanya ify.

“Tadi sih sama adek, tapi gak tau ngilang kemana.” Jawab Gabriel.

“Yaudah gabung sini aja!” kata ify. Gabriel mengangguk lalau duduk di bangku yang ada di depan sivia dan ify. Kebetulan sivia dan ify duduk di bangku panjang yang saling berhadapan dengan sebuah meja sebagai penengah.

“Udah lama ya kita gak ketemu. Padahal dulu sering banget ketemu di rumah via.” Sivia hanya bisa memutar bola matanya begitu mendengar ify memulai obrolan. Sivia heran kenapa ify suka sekali membahas masa lalunya dengan Gabriel. Yah memang dulu mereka bertiga sering bertemu di rumah sivia. Dulu Gabriel tentu sering ke rumah sivia saat mereka masih pacaran. Apalagi rumah mereka cukup dekat. Dan ify juga lumayan sering ke rumah sivia untuk sekedar main.

“Iya ya. Udah lama gak ngobrol.” Kata Gabriel.

“Lo sih gak pernah ke rumah sivia lagi. Orang rumah kalian deket juga.” Kata ify lagi.

“Emang boleh? Nanti ada yang marah.”

“Siapa? Bokap nyokapnya sivia gak mungkin marah kan.” Jawab ify.

“Kali aja cowoknya via marah.” Kata Gabriel sambil melirik ke sivia menggoda.

“Tenang aja, sivia masih jomblo kok. Makanya lo sering-sering ke rumah via.” Sivia mendelik mendengar kata-kata ify yang mengalir begitu saja. Jomblo? Sepertinya sivia harus segera cerita tentang alvin ke ify.

“Gue gak—“ baru sivia akan membenarkan perkataan ify tiba-tiba seorang cewek datang.

“Gue cariin malah disini lo!” kata cewek itu sambil meninju lengan Gabriel membuat Gabriel meringis. Hingga cewek itu menoleh ke sivia dan ify.

“Eh ada kak sivia!” kata cewek itu tersenyum lebar.

“Hai Tania.” Balas sivia sambil tersenyum.

“Ini kak . . . ifa ya?” tanya cewek itu sambil mencoba mengingat.

“Gue ify. Lo adeknya Gabriel?” kata ify membenarkan sambil bertanya. Cewek itu mengangguk-angguk.

“Oh iya, kak ify. Hehe maaf kak abisnya udah lama ya kita ketemu dulu. Iya gue Tania, adeknya kak Gabriel.” Kata Tania duduk di samping Gabriel smabil menaruh botol air minumnya di atas meja yang ada diantara mereka.

“Iya. Dulu waktu ketemu di rumah sivia lo masih SD kan? Sekarang udah gede aja.” Kata ify memang cukup kaget melihat Tania. Dulu waktu ify mengenal Tania memang masih SD. Tapi cewek itu sekarang terihat sangat berbeda. Bahkan tinggi Tania mungkin sama seperti dirinya. Tidak heran sih, melihat Gabriel yang sangat tinggi mungkin memang keluarga Gabriel tinggi-tinggi.

“Iya ya, dulu masih kelas enam kalau gak salah.”

“Emang sekarang kelas berapa?” tanya ify.

“Udah kelas 9.”

“Wah mau unas dong. Terus mau lanjut ke mana?” tanya ify.

“SMA Cendrawasih doong!” jawab Tania semangat.

“Gak mau ke negeri?”

“Enggak ah.”

“Kenapa? Emang sih SMA Cendrawasih juga bagus. International School juga.”

“Iyaa, lagian cowok-cowok SMA Cendrawasih capek-cakep!!”

“Oh jadi itu alesannya? Bilangin mama ah.” Tiba-tiba Gabriel sudah menyahut.

“Ih kak Gabriel! Jangan bilang mama!” kata Tania mencubiti lengan kakaknya.

“Biar aja. Bukannya mikir pelajaran malah mikirin cowok mulu. Pasti mau satu sekolah sama cowok itu kan?” Kata Gabriel.

“Siapa? Alvin? Alvin udah kelas tiga sih jadi gak bakal satu sekolah. Kecuali kalau alvin gak lulus.” Sivia langsung menoleh begitu mendengar obrolan Gabriel dan Tania. Apalagi perkataan Tania tadi yang menyebut-nyebut nama alvin. Apa jangan-jangan yang dimaksud Alvin Jonathan? Tapi kan mungkin aja banyak nama alvin yang bersekolah di SMA Cendrawasih.

“Alvin?” tanya sivia akhirnya. Tania dan Gabriel pun menoleh.

“Iya. Cowok yang di taksir Tania tapi gak pernah di tanggepin.” Kata Gabriel yang langsung di hadiahi pukulan oleh Tania.

“Jahat banget sih!” kata Tania masih memukuli Gabriel.

“Emang bener kan. Lagian lo sih ngapain naksir anak SMA. Emang anak SMP gak ada yang cakep apa?”

“Gue gak naksir! Cuma ngefans aja! Lagian temen-temen gue juga banyak yang ngefans sama alvin kok!”

“Iyadeh terserah.” Kata Gabriel.

“Kalian ini masih suka berantem aja.” Kata sivia terkikik geli melihat Tania dan Gabriel yang masih sama seperti dulu, suka berantem.

“Tau nih kak Gabriel yang ngeselin!” begitulah seterusnya. Mereka pun mengobrol dan bercanda sampai tidak sadar waktu.

* * *

Alvin tiduran di kasurnya sambil beberapa kali mengecek smartphonenya. Alvin langsung menyambar ponselnya begitu merasa getaran. Wajah alvin langsung terlihat kecut melihat BBM yang masuk ternyata dari Marsha. Dengan malas alvin membuka BBM dari marsha itu. Mungkin saja ada hubungannya dengan tugas kelompok mereka.

Marsha Windya:

Vin jalan yuk? Bosen nih :(

Alvin menyerngit melihat chat dari marsha. Alvin langsung meletakkan ponselnya tanpa membalas chat dari marsha. Mood alvin benar-benar buruk pagi ini. Bagaimana tidak, ia mencoba menghubungi sivia tapi tidak pernah ada jawaban. SMS dan BBM pun tidak ada yang di balas. Alvin melihat jam digital yang ada di atas meja dekat kasurnya. Masih pukul setengah Sembilan, masa iya ia ke rumah sivia? Tapi ini terlalu pagi untuk bertamu!

Alvin mengacak rambutnya sebal. Ia pun memilih bangun dan segera masuk ke kamar mandi. Tepat pukul 08.45 ia keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaian. Setelah siap, ia pun menyambar jaket dan kunci motor lalu keluar dari kamarnya.

“Mau kemana alvin?” alvin yang baru turun dari tangga pun menoleh dan melihat mamanya sedang duduk di sofa ruang santai dengan ditemani sebuah majalah dan segelas jus. Alvin pun berjalan mendekat ke mamanya.

“Mama kapan pulang?” tanya alvin mencium pipi mamanya lalu duduk di sofa yang ada di hadapan mamanya.

“Baru aja kok. Kamu mau kemana?” tanya Ira lagi sambil menatap putra bungsunya. Wanita itu terlihat jauh lebih muda dengan umurnya yang sudah berkepala empat.

“Kerumah pacar.” Jawab alvin. Mama alvin langsung melihat jam tangannya.

“Wah, se-cantik apa pacar kamu kali ini sampai pagi-pagi udah di samperin?” gurau mama alvin. Ira memang tau putra bungsunya itu suka sekali berganti-ganti pacar. Tapi sejujurnya ia tidak pernah sekalipun tau pacar-pacar alvin satupun. Ia hanya sesekali melihat foto-foto putranya dengan beberapa gadis cantik itu lewat akun jejaring sosial alvin. Kalaupun ia meminta alvin untuk mengajak pacarnya ke rumah pasti alvin menolak. Pasti hanya bilang ‘Gak penting’.

“Paling cantik pastinya.” Kata alvin nyengir.

“Oh ya? Yang ini juga gak mau diajak main ke rumah?” Alvin terlihat diam sebentar sambil senyum-senyum mendengar pertanyaan mamanya.

“Emang mama di rumah sampai jam berapa?” alvin malah balik bertanya, karena mamanya memang sering sekali langsung pergi setelah pulang ke rumah. Beginilah nasib mempunyai orangtua yang gila kerja. Papa alvin bahkan tinggal di Amerika sibuk mengurus perusahaan disana. Papa alvin memang meneruskan bisnis keluarga yang kini sudah mempunyai beberapa perusahaan di luar negeri karena papa alvin adalah anak pertama. Sedangkan papa alvin hanya mempunyai dua adik perempuan.

Berbeda dengan suaminya, ira menggeluti usaha dalam bidang fashion. Ia memiliki beberapa butik yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Dan itulah yang membuat mama alvin itu lebih sering pulang ke rumah daripada papanya. Bahkan akhir-akhir ini mamanya terasa lebih sering dirumah daripada keluar kota.

“Seharian ini mama di rumah kok.”

“Yaudah, nanti aku ajak dia kesini.” Kata alvin sambil tersenyum. Ira yang melihatnya mulai tertarik. Baru kali ini alvin akan mengajak pacarnya kerumah.

“Mama kira kamu bakal jawab ‘Gak penting’ kayak biasanya.” Kata ira.

“Yang ini emang penting.”

“Oh ya? Jadi udah berhenti main-mainnya nih?” tanya ira menggoda, memang biasanya alvin tidak pernah serius pacaran. Ira sendiri tidak heran mengingat usia alvin yang masih remaja. Asalkan alvin tidak berbuat yang macam-macam dengan cewek-cewek itu. Walaupun tidak jarang juga alvin berkelahi membuat wajahnya memar-memar dan membuat ira khawatir. Tapi itu lebih ‘mendingan’ daripada jika ada cewek yang meminta pertanggung jawaban alvin karena sudah . . . ya begitulah. Ira bersyukur alvin bukan tipe cowok seperti itu.

“Yaudah alvin jemput sivia dulu.” Kata alvin.

“Jadi namanya sivia?” alvin hanya mengangguk untuk menjawab sambil bangkit dari duduknya.

“Alvin berangkat dulu ma.” Kata alvin pamit lalu pergi dengan motor kesayangannya.

* * *

Alvin memarkirkan motornya di halaman rumah sivia. Ia pun turun dan mengetuk pintu rumah sivia. Alvin heran tidak ada yang membukanya. Alvin pun mengetuk pintu rumah sivia beberapa kali hingga akhirnya pintu pun terbuka.

“Hai bro. Gue kirain siapa.” Ray terlihat berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Khas penampilan orang bangun tidur.

“Pada kemana?” tanya alvin sambil berjalan masuk setelah ray membukakan pintu mempersilahkan alvin masuk.

“Gak tau. Gue baru bangun.” Kata ray.

“Kakak lo mana?”

“Gak tau gue. Di kamarnya kali. Kesana aja.” Kata ray menutup pintu lalu naik ke lantai atas dengan alvin yang berjalan mengikutinya.

“Yaudah gue ke kamar. Ngantuk. Samperin aja dikamarnya. Palingan juga masih tidur.” Kata ray sebelum akhirnya masuk ke kamar dan langsung terlelap kembali begitu merasakan nyamannya kasur.

Alvin sempat geleng-geleng melihat ray dan akhirnya melangkah beberapa meter dari kamar ray hingga berdiri tepat di depan kamar sivia.

“Vi.” Alvin memanggil sivia sambil mengetuk pintu kamar cewek itu. Tapi tidak ada suara membuat alvin harus kembali mengetuk pintu kamar itu. Tapi tetap saja tidak ada suara.

Alvin pun memilih memutar knop pintu kamar sivia dan ternyata terbuka! Apa jangan-jangan sivia memang tidak ada di kamarnya? Batin alvin mulai membuka pintu lebar dan tepat saat ia baru melangkah satu langkah memasuki kamar sivia tiba-tiba pintu kamar mandi yang ada di kamar sivia juga terbuka.

Alvin berdiri kaku melihat pemandangan yang ada di depannya. Begitu juga sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. Mereka seakan menjadi patung beberapa detik sebelum akhirnya sama-sama tersadar dari keterkejutannya.

“S…sorry.” Kata alvin langsung berbalik dan buru-buru keluar dari kamar sivia.

Alvin diam sebentar di depan kamar sivia sambil mengatur nafasnya. Bayangan sivia yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk benar-benar membuat nafasnya memburu, sangat terkejut. Alvin merutuki dirinya sendiri yang seenaknya masuk ke kamar sivia. Seharusnya ia menunggu sampai sivia membukakan pintu, bukan asal masuk seperti tadi. Alvin pun turun ke bawah, memilih duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu sivia dengan wajah yang terasa panas.

Sabtu, 22 Februari 2014

If You Earn Me [9]

Title : If You Earn Me
Author : Rosita Dinni
Genre : Romance
Cast : Alvin Jonathan, Sivia Azizah and others
 
 
Sivia melihat pantulan dirinya di kaca kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Ia baru saja pulang dari kampus dan langsung menuju SMA Cendrawasih, menjemput Ray. Yah, ia terpaksa harus kembali mengantar jemput adiknya itu karena kemarin siang Ray mengalami kecelakaan dan membuat motornya harus di rawat beberapa hari di bengkel. Tapi untung saja luka Ray tidak separah motornya. Mungkin hanya beberapa lecet di tangan dan kakinya. Dan seperti beberapa bulan lalu, Ray tidak kunjung keluar dari sekolahnya. Padahal bel pulang sudah berbunyi sekitar sepuluh menit lalu.

Sivia pun mengambil ponselnya dan akan menelpon Ray sebelum ada satu BBM yang masuk terlebih dahulu.

Ray:
Bentar ya, masih nyatet pelajaran.

Sivia Azizah:
CEPET!!

Sivia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi setelah membalas pesan adiknya. Sivia pun hanya bisa duduk santai di dalam mobilnya sambil melihat sekitar untuk menghilangkan bosan. Hingga ia tidak sengaja melihat warung yang ada di depan SMA Cendrawasih. Sivia tersenyum mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Alvin.

Tok tok.
Lamunan Sivia langsung buyar begitu mendengar kaca mobilnya diketuk. Sivia pun menoleh dan kaget melihat Alvin sedang mengetuk kaca mobilnya sambil tersenyum.

“Hai.” Sapa Alvin setelah Sivia membuka kaca mobilnya.

“Hai.” Balas Sivia sambil tersenyum gugup.

“Keluar yuk.” Alvin membuka pintu mobil Sivia yang kebetulan tidak di kunci. Sivia diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan keluar dari mobilnya. Sivia lagi-lagi berdebar saat Alvin langsung saja menggandengnya setelah Sivia menutup pintu mobilnya. Tapi Sivia hanya diam sambil mengikuti Alvin menyeberang jalan dan masuk ke warung tempat mereka pertama kali bertemu dulu. Setelah masuk, Sivia melihat ada teman-teman Alvin yang waktu itu dan bahkan kini mereka sedang duduk di tempat yang sama dengan yang dulu.

“Hai iyem!” Sivia mengerutkan keningnya mendengar salah satu dari mereka menyapanya. Sivia melirik nametag cowok itu, Sion Simbolon.

“Sivia.” Kata Sivia membenarkan namanya sambil duduk di bangku yang di siapkan Alvin. Setelah Sivia duduk Alvin pun mengambil tempat di samping Sivia.

“Hai Sivia. Kita belum kenalan. Gue Cakka.” Kata seorang cowok lagi yang mengulurkan tangan kanannya ke Sivia.

“Hai.” Sivia pun membalas jabatan tangan Cakka sambil tersenyum ramah. Ia melihat Cakka yang sepertinya lebih sopan daripada cowok yang bernama Sion tadi yang daritadi cengengesan.

“Cakka!” geram Alvin langsung menjambak rambut jabrik Cakka setelah sedetik Cakka mencium punggung tangan Sivia. Sivia sendiri juga kaget dan langsung menjauhkan tangannya.

“Aw sakit boss!” Cakka langsung mengelus-elus kepalanya sendiri.

“Kalau mau gue botakin sekalian kepala lo!” Ancam Alvin sambil mengibaskan tangannya hingga beberapa helai rambut Cakka yang ada di genggaman tangannya berterbangan.

“Ketawa lo!” Cakka memukul kepala Sion yang sedang tertawa keras melihat kejadian tadi. Setelah itu Cakka pun memilih duduk lagi sambil masih mengelus kepalanya yang terasa panas.

“Gue Rio.” Sivia mendongak melihat cowok lain yang mengulurkan tangannya.

“Sivia.” Kata Sivia lagi-lagi balas menjabat tangan teman Alvin yang bernama Rio itu.

“Gue Sion!” kata Sion mendorong Rio dan langsung mengambil alih tangan Sivia. Sivia hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.

“Wah ternyata iyem ternyata lebih cantik kalau senyum ya bos!” kata Sion nyengir tanpa menyadari tatapan tajam Alvin.

“Kamu mau minum apa?” tanya Alvin ke Sivia, mengabaikan kata-kata Sion.

“Em, es campur aja.” Sivia jadi mengingat rasa es campur yang ia beli waktu itu. rasanya lumayan enak. Jadi Sivia memutuskan untuk membeli es campur lagi.

“Oke.” Alvin pun memesankan dua es campur untuk Sivia dan dirinya sendiri.

“Ngapain kesini? Nyariin aku?” tanya Alvin, sambil menunggu es campur mereka jadi.

“Gak lah. Aku jemput Ray.” jawab Sivia.

“Ngapain dijemput? Tumben?”

“Motor Ray lagi di bengkel.”

“Kenapa lagi motornya?”

“Biasa, sok-sok ngebut.” Kata Sivia sambil melihat sekeliling. Dan Sivia baru menyadari beberapa murid SMA Cendrawasih yang ada di sekitar mereka menatap ke arahnya. Menyadari itu membuat Sivia salah tingkah. Apa ada yang aneh? Batin Sivia mengamati penampilannya sendiri dari baju, sepatu, dan rambutnya.

“Vi!” Sivia langsung menoleh begitu mendengar suara Ray. Dan benar, adiknya itu sedang berjalan ke arahnya.

“Lama banget sih lo!” bentak Sivia langsung saat Ray baru saja duduk setelah menyapa Alvin dan teman-teman Alvin.

“Kenapasih? Lagian lo juga lagi asyik pacaran kan.” Kata Ray santai.

“Eh bos, gue bawa kamera nih. Gue fotoin lo sama iyem sini.” Kata Sion yang sudah membawa kamera SLR yang entah dimana ia menaruhnya sebelumnya.

“Yang bagus.” Kata Alvin langsung saja merangkul Sivia.

“Apaan sih. Gakmau ah.” kata Sivia mencoba melepaskan rangkulan Alvin.

“Sekali aja deh.” Alvin mencoba merayu Sivia. Sedangkan Sivia melihat orang-orang di sekitarnya yang masih melihatnya membuat Sivia malu.

“Enggak.” Kata Sivia. Alvin pun membisikkan sesuatu ke Sivia.

“Yaudah, sekali!” kata Sivia akhirnya setelah Alvin membisikkan sesuatu, tentu saja dengan tawaran sushi dekat taman yang super lezat! Kalau sudah dengan iming-iming begitu mana bisa Sivia menolak.

Sion nyengir lebar sambil memulai memotret Alvin dan Sivia. Sivia pun tidak mencoba melepas tangan Alvin dari pundaknya. Tapi berbeda dengan kesepakatan, mereka berfoto lebih dari sekali! Ray hanya tertawa melihatnya. Memang kakaknya itu aslinya sangat narsis, sama seperti mamanya.

Setelah puas berfoto mereka pun melihat hasilnya dan Alvin langsung merampas memori kamera Sion. Setelah itu mereka pun meminum es campur yang sudah jadi daritadi. Kecuali Sivia yang hanya meminum setengah porsi karena Ray sudah meminum setengahnya saat Sivia masih asyik berfoto.

“Eh vi, lo liat deh cewek yang di depan gerbang.” Kata Ray sambil berbisik ke Sivia. Sedangkan Alvin sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“Yang mana?” tanya Sivia jadi ikut berbisik.

“Itu, yang pake bando merah.”

“Iya iya gue liat. Kenapa?” tanya Sivia lagi, masih sambil berbisik.

“Itu mantan Alvin!” kata Ray.

“Yang rambutnya panjang itu?” tanya Sivia memastikan. Ia memang melihat cewek dengan bando merah yang sangat . . . cantik!

“Iya. Namanya Marsha.”

“Cantik banget.” kata Sivia jujur.

“Iyalah. Dia tuh kapten cheerleaders, tajir banget, dan yang paling penting seksi! Liat aja tuh roknya.”

“Dasar mesum!” Sivia langsung menggetok kepala Ray.

“Ish sakit vi! Kan emang kenyataan! Lo sih belum tau gimana macam-macam mantannya Alvin!” kata Ray sambil mengelus kepalanya yang di getok kakaknya.

“Nah lo liat juga tuh cewek yang berdiri di samping pos satpam.” Sivia langsung mengikuti arah pandang Ray, dan ia melihat tiga cewek disana.

“Yang mana?” tanya Sivia.

“Yang tengah. Namanya Dinda. Mantan Alvin juga.”

“Serius yang tengah? Gila, cantik banget!” kata Sivia sampai melongo. Bagaimana tidak, cewek yang ditunjuk Ray memang sangat cantik. Tinggi, putih, rambutnya bagus pula!

“Iyalah. Dia itu model. Lo coba buka Instagramnya deh, gila fotonya seksi-seksi abis! Kalau gak salah dia mantan terakhir Alvin sebelum sama lo.”

“Seksi-seksi mulu yang lo pikirin!” kata Sivia.

“Emang tau! Nanti deh di rumah gue bukain Instagramnya Dinda. Sekalian gue bukain instagram mantan-mantan cewek Alvin yang lain.” Baru saja Ray membisikkan itu ke Sivia, tiba-tiba cewek yang menjadi obrolan mereka sebelumnya, Marsha sudah berdiri samping mereka. Ah tidak, maksudnya berdiri di depan Alvin.

“Hai.” Sapa Marsha ke Alvin dan teman-temannya, seakan mengabaikan keberadaan Sivia dan Ray.

“Hai Marsha! Makin cantik aja.” Cakka langsung berdiri sambil ngengir.

“Hai Cakka.” Marsha balas tersenyum manis.

“Oh ya Alvin, nanti kamu ke rumah aku kan?” Sivia langsung melirik tajam ke arah mereka. Apa-apaan itu? Kamu? Aku? Jadi Alvin dan Marsha pake aku-kamu? Dan apa dia bilang tadi? Cewek itu mengajak Alvin ke rumahnya!

“Iya. “ Sivia langsung mendelik mendengar jawaban Alvin.

“Ray, ayo pulang.” Kata Sivia langsung pergi. Ray yang sedang meminum es campur nya langsung tersedak karena Sivia sudah pergi.

“Vi tungguin!” kata Ray buru-buru menyusul Sivia yang sudah masuk ke dalam mobil.

“Lo kenapa sih buru-buru pergi? gak pamit Alvin dulu lagi.” Tanya Ray melihat kakaknya yang menyetir mobil dengan wajah garang.

“Dia kira gue apaan? Mentang-mentang ada mantan pacarnya yang cantik langsung ngelupain gue! Jelas-jelas gue di sampingnya! Pergi aja sana ke rumah cewek itu! awas aja kalau berani ke rumah gue!!!” bukannya menjawab pertanyaan Ray, Sivia malah mengomel sendiri. Mendengar omelan kakaknya membuat Ray tidak bisa menahan senyumnya. Ternyata kakaknya sedang cemburu!

“Loh, iyem kemana bos?” tanya Sion yang baru sadar Sivia sudah tidak ada di tempatnya, begitu juga Ray.

“Wah iya, mobilnya juga udah gak ada bos.” Kata Cakka melihat ke arah tempat Sivia memarkirkan mobilnya tadi.

“Iyem? Siapa iyem?” tanya Marsha yang kini sudah duduk di sebelah Alvin.

“Coba telpon aja.” Kata Rio.

“Iyem siapa sih?” tanya Marsha sekali lagi, merasa di abaikan.

“Iya bos, telpon aja.” Kata Sion lagi membuat Marsha semakin kesal tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

“Di reject.” Kata Alvin mencoba menelpon Sivia.

“Yaudah gue balik dulu.” Kata Alvin bangun dari duduknya.

“Alvin, jangan lupa nanti kerumah aku!” teriak Marsha karena Alvin sudah berjalan cepat kembali masuk ke sekolah mengambil motornya.

“Ehm, pulang sama siapa Marsha? Mau gue anterin?” Cakka sudah berdiri di samping Marsha. Sedangkan Sion dan Rio hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya.

* * *

Sivia menatap layar tablet adiknya yang sedang membuka akun instagram DINDAZAFF, mantan Alvin yang kata Ray seorang model. Sivia hanya bisa melongo melihat foto-foto yang di post oleh cewek itu. Menurut Sivia, cewek bernama Dinda itu sudah seperti artis-artis korea. CANTIK!

“Nih akun instagramnya Marsha.” Kata Ray sambil mengetikkan username MARSHAW di kolom pencarian. Tidak lama muncullah akun Marsha dengan foto-foto yang tidak kalah WOW dari foto-foto Dinda tadi. Dan lagi-lagi Sivia hanya bisa melongo melihat foto-foto yang di post oleh Marsha. Bukan hanya foto dirinya tapi Marsha juga cukup sering mengupload foto barang-barang branded miliknya.

“Oh iya, kalau gak salah di akun instargramnya Mella Amelia ada fotonya Mella sama Alvin.” Kata Ray sambil mengetikkan username MELLAMELIA di kolom pencarian dan muncullah akun instagram Mella Amelia penyanyi remaja baru yang sedang naik daun.

Ray men-scroll kebawah layar tabletnya hingga ia menemukan sebuah foto dan langsung membukanya. Dan benar saja itu foto Mella Amelia yang sedang memeluk lengan Alvin. Yah, Sivia sangat yakin itu Alvin!

“Dulu ada gossip katanya Alvin sempet pacaran sama Mella Amelia. Tapi gak tau deh bener apa enggak, soalnya waktu itu Alvin lagi pacaran sama si Dinda. Tuhkan bener, foto ini di post sekitar tiga bulan lalu. Tiga bulan lalu emang Alvin masih pacaran sama Dinda.” Kata Ray terus menjelaskan ke Sivia. Sivia yang mendengarnya hanya mampu diam. Teralu shock mungkin. Bayangkan saja, Mella Amelia pernah pacaran sama Alvin! Atau selingkuhan? Ah sama saja! Tidak cukup Marsha dan Dinda yang sudah super cantik, bahkan Mella Amelia juga! Memang Sivia akui Alvin tampan. Tapi tetap saja rasanya Sivia tidak bisa percaya Mella Amelia, penyanyi baru yang super manis juga pernah jadi pacar Alvin!

“Oh iya! Kalau gak salah di instagramnya Alvin juga banyak foto dia sama mantan-mantannya.” Kata Ray.

“Alvin punya instagram?” tanya Sivia.

“Punya lah. Tapi kayaknya udah jarang upload foto deh tuh anak.” Kata Ray sambil mengetikkan username ALVINJO.

“Tuhkan masih ada.” Kata Ray akhirnya membuka satu persatu foto Alvin bersama beberapa cewek yang –jelas– sangat cantik.

“Ini namanya Regina. Temen sekelasnya Alvin. Anak cheerleaders juga. Terus yang ini namanya Mona, model juga. Katanya sih sering masuk majalah cewek gitu. Terus ini Jessica, anak kepala sekolah.” Ray terus membuka satu persatu foto yang ada di akun instagram Alvin dan menjelaskan setiap cewek yang ada di foto. Sivia tidak menyangka adiknya ternyata suka menggosip. Buktinya Ray tahu semua gossip tentang cewek-cewek yang pernah menjadi mantan Alvin.

“Udah ah!” kata Sivia akhirnya memilih tiduran. Capek juga duduk terus sambil melihat foto-foto dari tab adiknya dari satu jam lalu setelah mereka pulang dari sekolah Ray. Apalagi yang mereka lihat hanya mantan-mantan Alvin yang membuat Sivia rasanya seperti menciut jika membandingkan mantan-mantan Alvin itu dengan dirinya sendiri.

“Yah, lo belum liat semua!” kata Ray. Sedangkan Sivia memilih diam dan memejamkan matanya. Entah kenapa perasaan Sivia jadi tidak enak setelah melihat mantan-mantan Alvin. Sivia jadi heran, kenapa Alvin bisa menyukainya? Yang jelas-jelas jauh dari mantan-mantan Alvin sebelumnya. Apalagi setelah melihat Marsha yang sepertinya masih mmengharapkan Alvin. Sivia jadi yakin hubungannya dengan Alvin tidak akan bertahan lama. Apalagi jika niat Alvin hanya ingin mempermainkannya!

Ray yang melihat Sivia malah diam akhirnya memilih melihat akun instagramnya sendiri. Ray pun melihat-lihat foto yang lewat di Home nya. Ray tersenyum begitu melihat acha yang ternyata baru saja mengupload foto mereka berdua di akun instagramnya.

Sivia pun mengambil novel yang kemarin baru ia baca setengah. Tapi belum sempat Sivia menemukan halaman terakhir yang ia baca kemarin sudah terdengar suara pintu terbuka. Sivia dan Ray menghentikan aktivitas mereka dan sama-sama menoleh ke arah pintu.

“Ngapain kesini?!” kata Sivia langsung saat Alvin baru saja duduk di tepi kasurnya.

“Tadi kata tante Sherly kamu sama Ray ada di kamar kamu. Jadi aku disuruh langsung masuk kesini.”

“Maksudnya ngapain lo ke rumah gue?!” kata Sivia lagi dengan sinis. Sedangkan Alvin malah mengerutkan keningnya bingung. Apalagi Sivia tiba-tiba memakai ‘lo-gue’ lagi.

“Kenapa emang?” tanya Alvin.

“Bukannya mau ke rumah mantan?” sindir Sivia sambil pura-pura sibuk membaca novel yang ia pegang. Alvin menatap Ray meminta bantuan. Ia tidak mengerti maksud Sivia. Tapi Ray malah cengengesan. Ray benar-benar baru sekali ini melihat kakaknya cemburu.

“Marsha.” Kata Ray ke Alvin. Alvin sempat mengerutkan keningnya mendengar kata Ray. Marsha?

“Oh itu. Jadi kamu denger ya tadi?” tanya Alvin mendekat ke Sivia.

“Ngapain masih disini? Udah sana pergi! Balikan sekalian juga gak apa-apa.” Kata Sivia masih sinis. Sivia yang mendengarnya jadi ikut menahan tawa seperti Ray. Alvin malah merasa sangat senang melihat Sivia yang marah-marah seperti itu. Itu berarti Sivia sedang cemburu kan? Dan cemburu itu tanda cinta!

“Bener gak apa-apa?” tanya Alvin. Sivia langsung melirik Alvin tajam.

“Terserah!” kata Sivia makin kesal. Dan kini Alvin sudah tertawa keras! Sivia menatap Alvin tajam. Se-senang itukah Alvin bisa balikan dengan mantannya yang super cantik itu??!!!

“Ngeselin!!” kata Sivia mendorong Alvin. Alvin yang tidak punya persiapan pun langsung jatuh ke lantai.

“Aw!” Alvin bangun sambil mengelus pantatnya yang panas karena mendarat ke lantai dengan keras.

“Pergi sana!!” kata Sivia saat melihat Alvin akan kembali duduk di kasurnya.

“Hei, dengerin aku dulu.” Kata Alvin.

“Aku emang mau ke rumah Marsha. Tapi jangan salah paham dulu. Aku ke rumah Marsha buat ngerjain tugas kelompok.” Lanjut Alvin sambil menggenggam kedua tangan Sivia yang berulang kali ingin menyerangnya lagi.

“Iya kerja kelompok sambil mesra-mesraan!” kata Sivia.

“Aku gak sendirian kok. Ada tiga anak lagi yang ikut kerja kelompok di rumah Marsha.” Kata Alvin menjelaskan.

“Bener?” tanya Sivia menatap Alvin tidak yakin. Berbagai pikiran buruk masih menghantui pikirannya. Bisa saja kan gara-gara sering kerja kelompok bareng Alvin dan Marsha jadi balikan. Mungkin saja tiba-tiba Alvin menyesal putus dari cewek se-cantik Marsha.

“Sumpah sayang.”

“Bener gak cuma berdua?” tanya Sivia lagi, memastikan.

“Kalau kamu gak percaya nanti kamu ikut aja gimana?”

“Gak mau!”

“Lagian aku gak akan lama-lama disana kok. Nanti sepulang dari sana aku langsung kesini deh.” Kata Alvin memainkan rambut Sivia. Dan baru Alvin sadari ternyata rambut Sivia terasa sangat lembut.

“Yaudah.” Setidaknya Sivia merasa lebih tenang mengetahui bahwa bukan hanya Alvin yang akan ke rumah Marsha. Yah walaupun masih besar kemungkinan Alvin bisa balikan sama Marsha.

“Gak marah lagi kan?” tanya Alvin.

“Hn.” Jawab Sivia kembali sok sibuk dengan novelnya.

“Yaudah aku berangkat sekarang ya. Nanti malem aku kesini lagi.” Kata Alvin menarik kepala Sivia pelan dan mencium kening Sivia lembut.

“Bye.” Kata Alvin sekali lagi sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar Sivia.

Setelah pintu kamarnya tertutup, Sivia langsung memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Alvin baru saja mencium keningnya! Entah kenapa perasaan Sivia terasa berbunga-bunga dan membuat Sivia jadi senyum-senyum sendiri tanpa menyadari Ray yang daritadi masih berada dikamarnya.

* * *